
"Kenapa terdiam.... bukankah kamu terlalu cerewet dan berisik tadi..?" bisik Wiliyam lirih di telinga arzana, hembusan nafas di telinganya membuat arzana merasa panik, takut Wiliyam akan mendengar detak jantungnya yang cepat, wajah mereka terlalu dekat di tambah dengan sprei yang menutupi tubuh mereka berdua.
"Hei tuan sok tampan ini bukan caran......." Belum juga arzana menyelesaikan kalimatnya kecupan manis mendarat di bibir manisnya. Terkejut membuat bola mata arzana tampak akan keluar dari matanya seketika.
"Jangan lari lagi dari perasaan mu sendiri... "
Setelah mencuri ciuman pertama arzana, Wiliyam pergi ke kamar dengan senyuman puas tampak terukir jelas di wajahnya.
Melihat bayangan Wiliyam yang semakin sirna di ujung ruangan, arzana hanya bisa diam dan menyentuh bibirnya yang baru saja dicuri oleh buaya darat. "Inikan ciuman pertamaku..! dasar buaya.." Celoteh Arzana dalam hati "Tapi jantung ku benar-benar terasa ingin lompat keluar... laki-laki sialan.." Sepanjang jalan arzana terus menggerutu dan mengutuk Wiliyam.
Semakin berantakan hati dan fikiran nya, ciuman beberapa detik itu membuatnya tidak karuan, kini Wiliyam semakin sering menunjukkan rasa sukanya pada arzana tanpa rasa malu sedikit pun.
"Ahhh... otakku terlalu banyak treveling... sadarlah arza... dia itu laki-laki buaya..." Mengomel dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Selesai membereskan kamar, arzana bergegas turun ke dapur untuk membantu Nyonya Michael. Namun yang dia lihat hanyalah pak Darwis.
"Ayah....! dimana Tante Micela?" Melihat sekeliling yang kosong.
"Ohh... mereka kembali ke supermarket bersama tuan Hutomo dan Wiliyam untuk membeli beberapa barang yang tertinggal."
"Ayah masak apa?…. biar arzana bantu..." Merebut pisau yang di gunakan pak Darwis untuk memotong sayur.
"Sudahlah berikan pekerjaan dapur padaku, lebih baik kamu mandi dan bersiap mungkin tidak lama lagi mereka pulang..!". Arzana hanya bisa menuruti ucapan pak Darwis laki-laki parubaya yang baik hati lebih daripada orang tuanya sendiri, sejak arzana melahirkan Jhonson dan Jhonatan, pak Darwis meminta arzana untuk ikut memanggil nya ayah seperti yang biasa Citra lakukan.
Hari semakin larut, semua makanan siap di meja makan yang amat panjang, hampir semua jenis makanan tersedia di meja. Bolak-balik pak Darwis menatap jam tangannya.
__ADS_1
"Ayah... sabarlah sebentar lagi kita akan melihat citra..". Ucap arzana memecah kekhawatiran pak Darwis saat itu.
"Iya besan, minum segelas air ini..." Sahut Nyonya Micela sambil mengulurkan segelas air putih pada pak Darwis, "Tadi anda adalah orang yang paling tenang, sekarang anda lebih khawatir dari kami semua " Tambahnya.
"Sudah sayang,,, jangan menggoda pak Darwis wajar jika dia khawatir, setelah bertahun-tahun tidak bertemu malah mendapati anak nya kini dalam keadaan seperti ini .."
......................
Dijalan Reza dan Adinata bersiap, jarak rumah hanya tinggal beberapa puluh meter lagi, Reza membangunkan Citra dan anak-anaknya dengan lembut.
"Sayang bangun kita sampai.." Membelainya lembut "anak-anak..., kita sudah sampai di rumah nenek cantik!" Menepuk pelan pantat mereka.
Jhonson dan Jhonatan terbangun mengucek kedua matanya yang silau. Menatap wajah ibunya yang bersinar, lantar mereka memeluk nya erat.
"Ibu... jangan tinggalkan kami lagi.. aku janji.. aku dan kakak akan patuh pada ibu.."
Reza menatap mereka sambil berkaca-kaca matanya, penyesalan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. "Sudah jangan buat ibu bersedih, hapus air mata kalian. Dan bersiap kita sudah sampai."
Citra yang telah kehilangan ingatannya kini seperti datang ke ruang yang baru, hidup yang baru keluarga yang begitu asing, namun hatinya tetap mencoba untuk menerimanya. "Tenanglah Citra mereka keluarga yang kebetulan kami lupakan, jangan gugup." Katanya dalam hati,
Reza mengerti betul kegelisahan yang ada pada hati istrinya itu. "Tenanglah ada aku disini, jangan terlalu gugup mereka adalah keluargamu." Merangkul citra dan mengecup keningnya.
"Heiii... aku masih disini, aku seperti obat nyamuk dari tadi!" Celetuk Adinata yang keberatan dengan kemesraan mereka.
"Papa... papah masih punya kami..!" Jhonatan Melompat dalam gendongan Adinata.
__ADS_1
"Astaga kalian semakin berat, bisa bisa pinggang papa kalian ini patah."
"Papah ... aku dan adik tidak seberat itu, papa saja yang semakin tua." Sahut Jhonson
Meraka terus bercandang sepanjang halaman, Fila Reza memang begitu luas, memiliki fasilitas yang begitu lengkap dan nyaman. Sampai saat mereka berdiri di depan pintu utama. Wajah Citra nampak semakin gugup, keringan dingin mulai mengalir d wajahnya, Reza meraih tangan citra yang sedikit gemetar dari tadi memegang Reza yang terus memperhatikan Citra, menguatkan dan meyakinkan semua akan baik-baik saja.
"Jangan gugup, percayalah padaku semua akan baik-baik saja." Tatapan dan kata-kata yang lembut menenangkan Citra saat itu juga.
Jhonson dan Jhonatan turun dari gendongan sang papa, mereka berlari masuk dan terus berteriak.
" Nenek .... Kakek... kami pulang..." Berlari dengan cepat Jhonatan yang langsung nemplok pada sang kakek tuan Hutomo, dan Jhonson masih dengan sopan mencium tangan pak Darwis. Nyonya Micela begitu bahagia melihat kehadiran cucu-cucu nya yang lucu. Merekapun beralih memeluk nenek cantiknya.
Disusul dari arah belakang Reza masuk dan terus menggandeng tangan citra yang sedikit gemetar.
"*K**ami pulang*....!!" Membungkuk dan memberi salam untuk orang tuanya di ikuti dengan cita yang tampak seperti orang linglung.
"Ayah merindukan mu nak...." Pak Darwis yang langsung memeluk putri semata wayangnya nya, semua orang tampak bahagia, arzana Wiliyam dan yang lainnya ikut haru akan peristiwa yang saat ini.
"Papah, kami membawa tamu istimewa.." berbalik dan mempersilahkan Adinata masuk..
"Kamu.....!!!"
...****************...
Bersambung......
__ADS_1