
"Adinata.....!!" Kata pak Darwis terkejut melihat putra angkatnya kembali, lantas laki-laki parubaya itu Menghampiri pria tampan itu dan memeluknya. "Kenapa tidak memberi ayah kabar selama ini...?"
"Kamu....." Pekik Tuan Hutomo.
"Hallo tuan apa kabar ?". Menjabat tangannya.
"Kalian saling kenal?" Sahut pak Darwis heran, Tuan Hutomo membalas jabatan tangannya dan menjelaskan bagaimana mereka saling kenal.
"Tentu saja, dia adalah pewaris utama perusahaan terbesar di Malaysia, bahkan dia telah memiliki gelar ******DATO******, perusahaan ku pun bekerjasama dengan perusahaannya"
Pak Darwis begitu terkejut akan status mantan menantunya yang begitu tinggi. Dulu dia hanya tahu jika Adinata adalah karyawan nya yang begitu rajin, baik dan sangat patuh.
"Baiklah kita seharusnya melanjutkan obrolan ini sambil makan, jika tidak hidangan di atas meja akan dingin.". Ucap Nyonya Micela sambil merangkul Citra dan membawanya berjalan menuju ruang makan bersama.
"Jangan terlalu tegang sayang, anggap rumah ini juga adalah rumahmu.". Katanya lembut pada menantu cantiknya. Semua orang belum mengetahui tentang Citra yang hilang ingatan.
Semua masih hanyut dalam kebahagiaan akan kembalinya Citra ke rumah, Reza dan Adinata bersama anak-anak akan berbicara pada mereka setelah Citra tidak ada, itu akan mengurangi rasa canggung di hatinya.
Arzana terus menambahkan makanan ke dalam piring citra yang hampir penuh..
"Nona ... aku tidak makan sebanyak itu..!" seketika setelah Citra mengatakan kalimat itu semua orang terdiam, Nona sejak kapan citra memanggil arzana dengan kata nona? dengan cepat Reza mengalihkan pembicaraan.
"Za.. perut kecil sahabat karib mu ini tidak akan sanggup menampung begitu banyak makanan.." Sambil dia mengedipkan matanya pada Citra, memberinya isyarat untuk bekerja sama.
__ADS_1
"Ohh.. ya benar kata suami ku, lebih baik aku makan saja makanan yang sedikit lunak agar mudah di cerna!"
"Ya... sejak kapan kamu memanggil dia suami mu!!!" Kata Arzana sewot karna kemesraan mereka.
"Nona jangan cemburu, jika ingin bermesraan kamu juga bisa memanggil ku suamimu." Goda Wiliyam memecahkan suasana yang hampir kacau. Seketika pipinya merona, membuat semua orang yang ada ikut tergelak tawa, begitu bahagia suasana saat itu, hingga saat makan malam selesai. anak-anak membawa Citra ke kamarnya untuk beristirahat.
"Ibu... aku dan adik sangat lelah hari ini, ayo kita istirahat lebih awal." Ajak Jhonson di sambut dengan Jhonatan yang langsung menarik tangan citra dan pergi. Selepas anak-anak membawa Citra pergi, raut wajah Reza dan Adinata berubah menjadi begitu serius dan penuh dengan kegelisahan.
"Ada apa nak Reza, wajah mu terlihat khawatir?..." Tanya pak Darwis. Adinata hanya memandang ke arah Reza dan mantan ayah mertuanya itu. Hingga saat Reza mengawali percakapan yang menegangkan.
"Ayah ibu, dan ayah mertua ada yang ingin Reza sampaikan...." Menghela nafasnya panjang. Semua orang kebingungan termasuk arzana, dia melihat ke arah samping, wiliyam yang duduk di dekatnya begitu tenang, arzana Kun mengira Wiliyam pasti sudah mengetahui situasi saat ini. "Cidera yang ada di kepala citra mengalami kegagalan untuk mengingat memori, setelah operasi apa yang dokter khawatirkan telah terjadi..."
"Jadi citra lupa ingatan...." Teriak arzana menyela pembicaraan Reza, Wiliyam mencoba menenangkan arzana dan membuatnya duduk kembali. Terlihat jelas mata pak Darwis yang mulai berkaca-kaca, Tuan Hutomo yang ikut merasa ibu serta Nyonya Micela yang langsung meneteskan air mata.
"Cucuku yang malang...." Sahut Nyonya Micela,"Bagaimana sekarang...?". Tanya nya lagi.
"Saat ini yang terbaik adalah untuk tidak mengungkit masa lalunya yang menakutkan, itu akan memicu trauma yang semakin dalam dan memicu penyakit kronis lainnya ." Tambah Adinata.
Seketika semua orang terdiam hanyut dalam kesedihan. Kabar yang bahagia kini berubah menjadi duka, semua orang kini hanya bisa berpura-pura Citra baik-baik saja, begitu juga Citra yang sejak awal telah menerima saran dari Adinata.
...~Flashback on~...
"Kakak apa yang harus aku lakukan dirumah sana nanti?"
__ADS_1
"Bersikap lah seperti biasa, seakan kalian telah mengingat semuanya, berpura-pura baik-baik agar ayah tidak menghawatirkan mu."
"Kenapa kamu begitu baik padaku Hingga saat ini...?" sambil menatapnya tajam menelusuri setiap jengkal pandangan Adinata mencoba menyelami apa yang ada di matanya. "Betapa beruntungnya aku yang dulu memiliki mu sebagai kakak.". Lalu menundukkan kepalanya.
"Dasar bodoh ...." Memukul pelan kepalanya " saat ini aku pun tetap kakak mu! ingatlah pesan dariku ini oke... maka semua akan baik-baik saja." Memeluk citra mengecup sedikit di ujung kepala nya, cinta yang dulu ada kini menjadi sayang seorang kakak untuk adiknya.
...~Flashback off~...
"Apakah Putriku akan baik-baik saja, jika dia harus berpura-pura semua tidak terjadi apa-apa?". Tanya pak Darwis cemas
"Ayah... tenanglah, Citra kita adalah wanita yang tangguh, dia akan lebih terluka jika melihatku khawatir terhadapnya." Nasehat Adinata kepada ayah angkat sekaligus mantan mertuanya itu.
"Saya sedikit penasaran dengan apa yang terjadi malam itu... saat citra di bawa lari oleh mu...?" Kata Tuan Hutomo, mengalihkan semua fikiran orang orang di sana
"Kebetulan sekali Tuan bertanya... memang sejak awal aku ingin menjelaskan tentang ini...!"
Semua orang terdiam penasaran tidak terkecuali Reza, bagaimana mungkin dengan tubuh Adinata yang biasa-biasa saja mampu melumpuhkan puluhan penjaga yang sangat terlatih.
" Musuh yang sebenarnya masih ada di sekitar kita....!"
"Maksut kamu....??" Sahut Reza cepat.
"Dalang di balik kekacauan ini lebih kuat dari yang kita bayangkan..!".
__ADS_1
...****************...