Anak Genius Ayahku Sangat Tampan Dan Kaya

Anak Genius Ayahku Sangat Tampan Dan Kaya
eps1.45 Tokoh Utama Sang Genius


__ADS_3

"**Mami**...!"


"Yah....! ada apa Jhonson sayang?"


"Kakak sudah memutuskan akan mengambil studi kedokteran."


"Haa...." Arzana melompat dari sofa tempat dia duduk dan melemparkan majalah di tangannya, menghampiri Jhonson di meja belajarnya, " Lalu bagaiman dengan impian mu?"


"Aku masih bisa membuka bisnis setelah lulus kedokteran, Aku ingin menyembuhkan orang lain, sangat sakit melihat orang yang kita sayang terluka..." Menatap ibu angkatnya dengan penuh harapan. "Aku tidak ingin hal yang sama terjadi pada ibu orang lain, aku tidak ingin ada anak lain yang di lupakan oleh ibunya." Mata kecil itu berkaca-kaca lalu meneteskan ke pedihan di hatinya, kesedihan yang dia tahan sendiri kini meluap di antara air mata.


Arzana segera memeluk putra kecilnya "Baiklah apapun impian kakak, lakukan yang terbaik, mami akan terus mendukung mu" Mengusap wajahnya yang basah banjir air mata. " Ibu akan mengingat kamu dan adik lagi, percayalah pada **mami**!" Seraya mencium kening nya.


Jhonatan ikut memeluk kakak dan maminya yang menangis, mereka memenuhi ruangan itu dengan air mata "Kakak masih memiliki ku disini... ayo kita buat ibu mengingat kita **lagi**!" semakin runtuh kekuatan Arzana saat ini, dia memeluk dua malaikat kecil itu, mereka adalah anak genius, tapi mereka juga masih anak-anak yang benar-benar membutuhkan sosok ibu.


"Baiklah... sekarang kita belajar bersama, agar kakak bisa masuk ke universitas kedokteran."


" Mami... "Mengeluarkan selembar dokumen berlogo dan stample resmi kenegaraan "Ini adalah surat resmi yang menyatakan kakak lulus Ujian tingkat atas..." Mata Arzana terbelalak " Kakak akan masuk universitas setelah kakak masuk usia 11thn!"


"Benarkah....! " Membolak-balikkan dokumen itu dengan rasa tidak percaya, anak usia yang bahkan belum genap 8thn itu sudah mampu melewati ujian nasional tingkat SMA "Anak mami benar-benar genius, Lalu apa yang akan kakak lakukan selama tiga tahun untuk menunggu?"


"Aku akan ke perusahaan belajar bisnis bersama kakek." Menunjukkan senyuman bangga matanya yang polos penuh dengan impian,

__ADS_1


"Kakak ku memang yang terbaik...!!" Memeluk Jhonson bangga.


......................


"Apakah aku ibu yang jahat....? aku melupakan mereka??" Tanpa mereka sadari, saat mereka membicarakan tentang Citra yang melupakan mereka. Citra masih berdiri di sisi luar pintu kamar, dia mendengar semua keluh dalam hati anak-anak nya. Citra berbalik, berlari menuruni tangga dengan cepat, tanggannya menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar.


Reza yang baru saja akan naik ke lantai atas melihat istrinya turun dengan terburu-buru "Citra....!!" Menahan langkahnya yang tidak stabil takut dia akan terjun dari tangga "apa yang terjadi padamu? kenapa menangis ?" Segera tubuh tegap berotot itu memeluknya.


"Bagaimana ini.... apa yang harus aku lakukan??... ini juga bukan mau ku!" Berkata penuh teka-teki.


Reza lekas menggendong nya keluar, Citra meringkup meluapkan tangis nya dalam dekapan Reza. Sampai di taman rumah Reza menurunkan Citra pelan, mengusap pipinya yang masih penuh dengan sungai air mata.


"Katakan apa yang membuat mu sedih?" Menatap Citra penuh tanya, kekhawatiran tampak jelas di mata laki-laki itu, bagaiman tidak Citra yang baru saja pulih kini energi nya terkuras lagi karena terlalu banyak menangis.


"Ini bukan salahmu....tananglah anak-anak akan baik-baik saja!". Mengecup keningnya "Apakah kamu tahu jika anak-anak lebih tangguh dari yang kita fikirkan" Reza bercerita tentang anak-anak sambil memeluknya. "Aku beruntung memilikimu dan anak-anak, tahukah kamu jika anak-anak sanggup untuk tidak tidur dua malam hanya demi menemani mu?" Citra mendongak keatas melihat wajah Reza yang berbinar menceritakan anak-anaknya. "ya... mereka tangguh jika itu berurusan dengan keadaan mu?"


"***Ada apa denganku?"


"Sebelum kamu hilang ingatan, kamu pernah sakit selama dua hari di rumah sakit, selama kamu tidak sadarkan diri anak-anak tetao setia menemani di samping mu***?" Reza mengubah sedikit cerita tentang apa yang terjadi agar Citra tidak lagi mengingat tentang kejadian kelam yang menimpanya.


"Mereka yang terbaik...." Citra merasa dirinya tidak berguna "Apa yang harus aku lakukan?" Menangis dalam pelukan Reza, semakin erat tangannya merangkul pundak Reza.

__ADS_1


"hemmm ...." Menghela nafasnya "Ibu peri juga bisa menangis...." Membelai rambut hitam panjang citra, melepaskan pelukannya, kedua tangan kekar itu memegang wajah citra yang kecil, mata mereka saling bertatapan. "Meskipun kamu tidak bisa mengingat mereka... cobalah untuk menjadi sosok itu seperti biasa, cobalah menerima mereka di hatimu. Mungkin kamu akan menikmati peran mu sebagai ibu dan lambat laun ingatan mu akan kembali." Citra hanya mengangguk mendengar nasehat dari laki-laki rupawan itu, pelukannya, kata-kata nya, senyumnya membuat citra merasa tenang dan nyaman. Rasa cinta yang memang sudah ada di hatinya kini semakin bergejolak.


"Mungkin ini adalah imbalan untuk ingatanku yang hilang, Tuhan mengirim sosok laki-laki dingin namun hangat ini untuk ku." Katanya dalam hati....


"***Ayo ... !"


"Kemana???"


"Bertemu anak-anak***."


Reza menggandeng tangan kecilnya, citra mengikuti langkah Reza menuju kamar anak-anak, sepanjang jalan dia mencoba menguatkan hatinya.


Tiba-tiba langkahnya terhenti "Tunggu..." Menahan langkah Reza "Apakah kita punya stok coklat? aku akan buat kue untuk anak-anak."


Smrik "Baiklah.... akan ku bantu, kita ke dapur belakang."


Langkah mereka beralih menuju dapur, merasa bersalah citra ingin mencoba memperbaiki hubungannya dengan anak-anak.


...-------...


...****************...

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2