
Dikantornya Reza berdiskusi dengan Adinata perihal menyelidikan tentang pelaku.
" Bagaimana keadaan nya lagi ini ?"
"Baik... sekarang citra lebih banyak tersenyum karna anak-anak."
"Syukurlah... aku akan lebih tenang meninggalkan nya denganmu!"
"Maksutnya??"
"Minggu depan aku akan kembali ke Malaysia, aku titip ayah dan adikku."
"Ohh... ku kira mau kemana kamu berpamitan seperti ini?"
"Heeeey.. apa kamu berharap aku mati...??"
"Hahaha... tidak hanya cara berpamitan mu itu sedikit membuatku merinding."
Mereka mengobrol dengan asik seakan telah menjadi dua sahabat sejati, mereka malah terus membicarakan Citra bukan tentang kasus yang ingin mereka pecahkan. Hingga Wiliyam datang dengan setumpuk berkas di tangannya.
"Tuan... ini berkas yang anda minta.". Berjalan tertatih karna tumpukan dokumen itu lebih tinggi dari kepalanya. "Diletakkan dimana?"
Tertawa kecil, Reza melihat tingkah sahabatnya yang polos itu, dengan sedikit menggoda. "Sudah letakkan di meja saja" Berkata dan menahan tawanya, melihat teman nya kesusahan malah membuat sikap jahilnya muncul. "Ohh tidak tidak... bawa kemari..." Menunjuk meja kerjanya "Oh bukan disana saja berkasnya terlalu banyak!" menunjuk kembali lemari berkas, sambil menahan tawa.
Terlihat telinganya mulai memerah menandakan hatinya mulai kesal, "Yaaaaa....!" Berteriak dengan keras.
Reza menghentikan tawa kecilnya, dan "Haahaahaa ... sudah letakkan disana saja, disini tidak ada orang tidak perlu formal." melepaskan tertawanya dengan melihat tingkah lucu sahabatnya itu.
"Dasar kamu memang bajingan..." Ngedumel tidak karuan. Saat Wiliyam berbalik dan melihat Adinata yang duduk santai di samping Reza.
"DATO Adinata.". Membungkuk memberinya hormat.
"Tidak perlu seformal itu." Kata Adinata santai
__ADS_1
" Haahaahaa.....!!" Reza terus tertawa menyaksikan keadaan sahabatnya yang kewalahan.
"Untung saja kamu bossnya, jika aku bossnya...!"
"Jika kamu yang jadi boss, maka aku akan jadi pemegang saham terbesar lalu kamu bagaimana?"
"*Aaaa t**idak apa-apa*...!" Berbalik dan menggaruk kepalanya. Memang sejak awal Wiliyam tidak bisa menang melawan perdebatan dengan bos sekaligus sahabatnya Reza.
Suasana tidak terlalu tegang, membuat mereka kembali membahas tentang menyusun rencana dengan baik berharap dengan rencana yang sempurna ini, dapat menarik ikan besar tertangkap.
Reza mengangkat lengan bajunya waktu menunjukkan pukul 14:00, ia bergegas mencari ponselnya untuk menelpon seseorang....
Dirumah sepanjang pagi Citra dan anak-anak bermain dihalaman, mengadakan piknik kecil-kecil an untuk mengingat kenangan masa kecil mereka bersama Citra, Tak lupa juga Arzana ikut meramaikan pesta kecil itu.
"Ini benar-benar menyenangkan!" Ujar Citra.
"Mungkin kamu melupakan kenangan ini, percayalah kamu akan mengingatnya suatu hari nanti tentang hal-hal indah kita!" Senyuman terlukis penuh harapan sambil menatap citra " Percayalah, ini juga tidak buruk jika kamu melupakan semua hal-ha menyakitkan.". Memeluk erat tubuh mungil citra.
"Bukan apa-apa, Tuhan mengambil ingatanmu juga jadi keuntungan bagiku....!"
"Keuntungan?"
"Yah untung saja kamu tidak mengingat hal-hal buruk tentang ku." Mencubit pipi Citra.
"Ibu... Mami dulu sering sekali mencuri makanan mu di kulkas dan juga dia sering sekali kentut dan itu sangat bau." Jhonatan menyela.
"Ya... dasar setan kecil...!" Mengajar Jhonatan yang berlari cepat setelah menggodanya. Langkahnya terhenti saat Citra menarik tangan Arzana.
"Ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan!" Dengan nada penuh harapan.
Menghela nafasnya panjang "Baiklah... apa yang ingin adik kecilku tanyakan."
"Mengapa anak-anak memanggil mu mami, dan kenapa mereka memanggil ibu padaku ?"
__ADS_1
Arzana lantas menjelaskan jika dulu saat citra melahirkan mereka, citra takut tidak mampu mengurus anak-anak sendirian, jadi citra meminta persetujuan mantan suaminya (Adinata) untuk mengangkat arzana sebagai ibu angkat dari anak-anak. "Dan kenapa mereka malah memanggil ku mami kenapa mereka memanggil mu ibu? itu karna ....."
Citra spontan memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat menyakitkan, jari-jari tangannya mencengkram rambut dengan kuat.
"Ra.... kamu kenapa?".
Seketika Citra jatuh pingsan di halaman, merek memanggil beberapa orang penjaga untuk membawa Citra ke ruangannya.
Siang itu memang sedikt terik, tepat pukul 14:15 Jhonson dan Jhonatan yang melihat ibunya jatuh pingsan langsung menghubungi orang-rang terdekat. Jhonatan bertugas menelpon kakek dan nenek yang sibuk di kantor mereka, sedangkan Jhonson bertugas menelpon ayah dan papanya....
Dikantor saat Reza bolak-balik menatap layar ponselnya, mengunggu seseorang menghubunginya, beberapa saat setelah Reza mematikan layar telponnya, telponnya kembali berdering dan melihat notifikasi bahwa Jhonson menelpon nya.
"Halo.. bagaiman rencananya? ayah menunggu telpon mu dari tadi!"
"Yah rencana untuk malam ini gagal, sebaliknya ayah dan papa Adinata harus cepat pulang.!"
Hanya mendengar ucapannya, Reza sangat yakin ada hal buruk menimpa Citra, mereka harus bergegas kembali ke rumah.
Menarik Jaz yang tergantung mereka berlari berpacu dengan waktu, mereka berdua berlari sekuat tenaga seakan sedang mengikuti lomba...
"Pak Reza..... ini dokumen...". Salah satu sekertaris wanita Reza ingin menghentikan dan memberi dokumen yang Reza minta, namun apa daya Reza berlari terlalu cepat seperti topan yang menerjang.
"Haaah... haaahh... haaa..." Wiliyam Nyang berlari di belakang berhenti, nafasnya tersengal tidak sanggup mengikuti langkah kaki Reza dan Adinata yang seperti melayang. "Berikan saja padaku dokumennya!"
Berbalik dan melihat Wiliyam begitu kelelahan. "Baik pak... ini dokumen tentang perusahaan properti yang belum lama ini pak Reza akusisi...". Ragu-ragu bertanya "Apa yang membuat pak Reza berlari seperti di kejar setan itu? dan siapa yang bersamanya?".
Wiliyam menegakkan tubuhnya, menepuk pundak sekertaris cantik itu, "Nyonya sedang dalam masalah dirumah, jadi tuan kalangkabut untuk pulang. Dan laki-laki di sebelahnya adalah kakak laki-laki dari nyonya, bisa di bilang kakak ipar pak Reza.". Menepuk dadanya yang masih sulit bernafas.."***Sudah jangan fikirkan, kembali bekerja seperti arahan ku, aku akan mengikutinya!".
"Baik pak***...!" Membungkuk an badannya memberikan hormat. "Sepertinya aku mengenal laki-laki disebelah pak Reza!". Ucapnya dalam hati....
...****************...
Bersambung...
__ADS_1