
Pukul 03:00 Reza sampai di kota balikpapan bersama wiliyam dan Ayah mertuanya, sampainya mereka di rumah sakit, langkahnya tiba-tiba terhenti, semua orang terkejut melihat para penjaga yang di utusnya bergelimpangan di lantai, Reza panik dilempar tas yang dia bawa, berlari sekuat tenaga, mendobrak pintu ke pintu, melihat arzana yang tidak sadarkan diri di lantai.
"Arzana... bangun... Za!" Teriak Reza, tangannya mengangkat tubuh arzana yang tidak berdaya di lantai, beberapa menit berlalu Reza menungggu dengan cemas, arzana tersadar dan saat dia bangun melihat Citra yang sudah tidak ada di tempat.
"Apa yan terjadi disini? dimana Citra?!" Tanya Reza tidak sabar.
Arzana merasa sangat bersalah, menangis sejadi-jadinya.
"Maaf... maafkan aku, aku tidak bisa menjaganya dengan baik...!"
"Bagaimana ini bisa terjadi.." nada bicaranya yang semakin tinggi membuat arzana semakin gemetar, melihat wajah ayunya yang begitu ketakutan wiliyam sepontan memeluknya.
"Ini bukan salahmu, ini salah ku yang tidak bisa mengatur para pengawal, tenangkan dirimu lalu bisakah kamu ceritakan pada kami, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Aku hanya ingat dokter datang untuk kunjungan malam, memeriksa keadaan Citra setelah itu aku tidak tahu agi, aku hanya kebelakang sana sebentar dan aku tidak inat lagi...." terhenti berkata-kata, arzana menangis sejadi-jadinya.
Mereka saling menyalahkan diri mereka sendiri, Reza yang semakin tampak menyesali diri karna telah meninggalkan Citra begitu lama. Pak darwis hatinya semalin kalut,
"Sudahlah ini bukan waktunya kita saling menyalahkan..."menepuk punak Reza "yang paling penting adalah menemukan Putriku secepatnya." kata Pak Darwis yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Periksa semua rekaman cctv di setiap sudut rumah sakit ini!" Perintah Reza
Semua pengawal yang ada berpencar, melaksanakkan tugas mereka masing-masing, mencari jejak dari seseorang yang telah membawa Citra.
Terlihat jelas rasa putus asa di wajah Reza, baru sebentar dia merasakan kebahagiaan yang dia inginkan selama ini. Namun takdir mengatakan hal lainnya.
__ADS_1
"Citra..... bertahanlah aku akan menjemputmu." kata Reza dalam hati. Pikirannya kacau, bagaimana dia akan memberi tahu tentang apa yang terjadi pada ibu mereka.
Arzana semakin tidak sangggup untuk menemui anak-anak, tapi bagaimana pun anak-anak berhak tau tentang hal ini.
...Pukul 05:30pagi.......
"Ibu... apa anak-anak sudah bangun?...." ucap reza dengan suara gemetar.
"Apa yang terjadi nak? Jhonson dan Jhonatan baru saja bangun, mereka seang mandi, mereka sangat tidak sabar untuk menemui ibunya di rumah sakit."
"Ibu....." suaranya semakin geetar, terdengar jelas oleh Nyonya Micela jika Reza menangis.
"Ada apa? apa yang terjadi padamu...." merasa cemas,buru-buru Nyonya Micela pergi dari ruangan anak-anak, untuk pertama kali Reza menangis di hadapannya, membuat hati seorang ibu hancur berantakan"kenapa menangis, apa sudah bertemu dengan ayah calon istrimu, kesulitan apa yang kamu hadapi cerita kan pada ibu..!"
"Apa yang terjadi pada menantuku...?"
"Seseorang menyakiti arzana dan membawa paksa citra pergi di tengah ******malam******."
"Apa....!!!?" Reza menceritakan apa yang terjadi, mereka bahkan tidak dapat melacak wajah pelaku, siapa yang sangat berani membawa Citra pergi.
...Brakkkk......
Suara pintu tertutup dengan keras, Nyonya Micela menengok ke belakang, melihat Jhonson sudah berlari jauh meminta salah satu sopir segera mengantarnya ke rumah sakit, dari awal percakapan ibu dan anak itu sudah di dengar oleh Jhonson. Merasa dia adalah anak sulung yang memiliki tanggung jawab menjada adik dan ibunya. Tanpa pikir panjang jhonson berlalu pergi.
"Jhonson pergi, bagaimana ini Reza..."
__ADS_1
"Biarlah ibu dia akan kemari mencari tahu tentang ibunya!" Reza menutup teleponnya mempersiapkan hati dan pikirannya untuk berhadapan langsung dengan anak sulungnya. Berharap Jhonson tidak akan membenci dirinya yang ceroboh dan tidak bisa menjada orang-rang yang dia cintai.
Wajah pelaku tidak dapat di identifikasi, seakan pelaku itu salah pemain profesional dan mengerti tentang situasi atau kondisi yang ada. Hanya ada satu petunjuk dari semua usaha yang dia cari yaitu mobil vios hitam yang sama persis saat Citra kecelakaan. Reza kesal karna plat yang dia ingat adalah plas palsu, dengan segala cara mereka melacak keberadaan mobil Vios hitam.
"Ayah...apa yang terjadi?" Jhonson datang dengan buru-buru mendekati ke arah Reza di ruang keamanan.
"Maafkan ayah nak, ayah tidak mampu menjaga ibumu dengan baik." memeluk Jhonson erat.
"Ini bukan saat nya bersedih." Mendorong jauh tubuh Reza yang memeluknya. Bocah itu angsung duduk di hadapan komputer yang ada disana. "Apa hanya mobil ini saja petunjuk kita?....." Menuntuj ke arah mobil vios di layar monitor. Reza menganggukan kepalanya heran, "baiklah itu hal mudah."
Jari-jari kecilnya sangat lihai memainkan keyboard di hadapannya, titik satelit cepat berpindah, tangan mungilnya begituk cekatan menginput angka-angka yang bahkan orang dewasa tidak mengerti.
"Ketemu...."Teriak Jhonson, menunjuk ke sebuah lokasi terakhir mobil itu berada "*B**erangkat sekarang atau kita akan kehilangan ibu untuk selamanya*..." wajah nya masih terlihat sangat tegar, namun kesedihan di matanya tak bisa di sembunyikan.
Dengan cepat menggunakan jaz nya melangkah Reza mengangkat tubuh Jhonson yang kecil dan menggendongnya, mereka bergegas pergi ke lokasi terakhir mobil vios hitam itu.
"Nenek... dimana kakak?"
"Kakak ada urusan sebentar, jadi kita ke rumah sakit menunggu kakak pulang sebentar agi oke..."
...****************...
Bersambung......
__ADS_1