Anak Genius Ayahku Sangat Tampan Dan Kaya

Anak Genius Ayahku Sangat Tampan Dan Kaya
eps1.33 Citra yang kembali sadar


__ADS_3

Hari semakin siang, mereka yang kemarin belum makan apapun merasa sangat lapar. Makan bersama di meja yang begitu besar dengan banyak makanan.


"Ayah... kenapa tidak makan, tubuhku akan sakit jika terus tidak makan!?" Kata Jhonatan tegas pada ayahnya.


"Sudahlah jangan pikirkan ayah, kalian makan dengan baik ayah sudah sangat senang."


"Ayah .... jika ingin terus menjaga ibu, ayah juga harus bisa menjaga diri sendiri." Ujar Jhonson


Reza hanya tersenyum ringan di hadapan anak-anaknya, kegelisahan hatinya tidak bisa ia tutupi, kekhawatiran yang terus mengusiknya.


Jhonson begitu memahami hati sang ayah yang begitu gelisah, terus memperhatikan kelopak matanya yang terus ia pertahankan tegak dan menahan kantuk selama berhari-hari.


"Ayah... jangan paksakan dirimu..." Tangan kecil Jhonson menarik Reza untuk meninggalkan ruang makan nya, meninggalkan Jhonatan sendiri yang masih lahap makan.


"Ada apa nak? kenapa membawa ayah kemari."


Jhonson tidak menjawab pertanyaan ayahnya itu, hanya terus menarik nya dan membawanya duduk ndi Atar ranjang, membuatnya berbaring sejenak dan melepaskan sepatunya.


"Yah... tidurlah sebentar aku akan berjaga menunggu kabar dari ibu, tenanglah ayah bisa mengandalkan ku." Berkata dengan bangga dan menepuk dadanya, menunjukkan bahwa dia adalah anak sulung yang bisa di andalkan.


"Baiklah, jika kamu sudah berkata seperti itu ayah akan sangat tenang." Mengusap kepala Jhonson dengan lembut, hatinya begitu bangga melihat sangat baik didikan Citra selama ini, rasa menyesal pun juga ikut larut dihatinya, kenapa tidak dari dulu dia mencoba terus mencari Citra.


Senjata semakin menghampiri, Jhonson dan Jhonatan masih mondar-mandir di depan komputer miliknya, entah sudah berapa kali mereka membuka ponsel melihat apakah Adinata papa mereka akan menelpon.


Malam kini beranjak, mata kecil mereka pun mulai terasa lelah, saat mereka terkantuk-kantuk, deringan ponsel membangunkan mereka kembali.

__ADS_1


"Papah.....!" Teriak Jhonatan keras, Jhonson segera bangkit dari kursinya. "Halo papah..! bagaimana kabarmu? apakah ibu sudah siuman?" Tanya Jhonatan tidak sabar.


"Papa sangat baik, bagaimana kalian tahu ibu bersama papa?" Tertawa kecil.


"Hei... kaki adalah anak genius, siapa yang bisa membuka gelang ibu jika bukan pencipta nya?"


"Baiklah, baiklah ibu sangat baik, kata dokter besok ibu akan siuman, jadi papa berencana menjemput kalian di dermaga pinggir kota."


"Kenapa??!"


"Kenapa apanya jhonson!?"


"Kenapa papah tidak menjemput kami dirumah saja, mami dan ayah sangat khawatir dengan ibu."


Mereka bertiga terus saja berdebat tentang perbedaan pendapat itu, akhir dari sebuah perdebatan adalah kesepakatan, mereka telah sepakat bertemu bersama dengan ayah mereka , dengan syarat Reza harus menghormati keputusan Citra apapun yang terjadi nanti.


"Oke.. kita akan bertemu di dermaga pukul 09.45 pagi, sampai jumpa papah!"


"Oke sampai jumpa nak." Adinata memang tidak akan bisa menang melawan perdebatan di antara mereka.


"Cepat beritahu ayah, jika besok kita akan bertemu ibu." Jhonson dan Jhonatan berlari menghampiri Reza yang masih terbaring di ranjang beristirahat, sangat tidak sabar menunggu hari esok, melihat ibu yang mereka rindukan selama beberapa hari terakhir.


"Ayah... bangun, besok kita akan bertemu ibu...." Kata Jhonatan


"Benarkah!!!" Langsung membuka mata, semangatnya kembali membara "Dimana?" Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Papah meminta kita menunggu di dermaga pinggir kota pukul 09.45 besok pagi."


Mereka sangat bersemangat menunggu hari esok, hari dimana mereka akan melihat wajah sendu nan damai yang Citra miliki.


...----------------...


"Apakah kamu juga bahagia? besok anak-anak akan datang." Menatap dalam wajah sendu itu, menjaganya sepenuh hati.


Sepanjang malam Adinata terus terjaga di samping Citra, hingga hari kini menjelang pagi, Adinata malah terlelap di samping tempat tidur Citra. Citra mulai bangun dari koma, membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya yang berat.


Melihat sosok yang tertidur di dekatnya, tangannya terbangun meraih kepala itu dan membelai nya, Seketika adinata terbangun dari tidurnya oleh sentuhan citra.


"Citra....!" Meraih dan menggenggam tangan Citra yang hangat "Apa yang kamu rasakan.... bagian mana yang sakit ...?"


Citra hanya terdiam tanpa kata, matanya terlihat menulusuri setiap sudut ruang, diamnya membuat Adinata begitu ketakutan...


..."Citra.... katakan sesuatu aku begitu menghawatirkan mu...!"...


Yang tampak hanya buliran bening menetes di pipinya. Melepaskan tangannya yang dari tadi dalam genggaman adinata.


Adinata hanya bisa terdiam dan melihat Citra yang tanpa respon sedikit pun. Hatinya benar-benar hancur...


...****************...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2