
Rumah keluarga Reza
Jhonson duduk di sofa panjang berwarna cream itu, terlihat wajahnya yang putus asa, salah satu lengannya menutup sebagian wajah nya, buliran bening mengalir perlahan melewati pipi.
Citra yang hadir hanya bisa melihatnya dari jauh, "Sayang apa yang harus ibu lakukan untuk mu nak?" Katanya begitu perih di dalam hati. Bagaimana tidak setelah mendengar bahwa salsa adalah adik kandung dari gadis yang putra nya cintai. "Jadi gadis yang menolong ibu, dengan gadis yang kamu cintai adalah orang yang sama, beruntung nya ibu bertemu dengan gadis sebaik dan secantik dia, pantas anak ibu sangat mencintai nya." Citra yang terus bergumam dalam hatinya. Memandang wajah Jhonson yang setengah tertutup lengan. "Apa sebaiknya ibu memberitahu mu Jhonson? jika jantung orang yang paling kamu cintai masih ada di dunia ini, dan memberi kehidupan bagi orang lain."
Keraguan di dalam hatinya menggunung, langkah mana yang harus ia ambil, apa kabar itu akan berdampak baik bagi putranya atau bahkan sebaliknya?
Saat dia ingin melangkah pergi, Jhonson menyadari kehadirannya. Menegakkan tubuhnya dan memanggil citra seperti anak-anak yang merengek"Ibu....!!" ☹️ , citra yang ingin melangkah pergi kini berbalik mengarah ke sumber suara.
Citra tersenyum tipis di ambang pintu, kakinya perlahan menghampiri Jhonson yang duduk di sofa itu. "Apa ibu tidak menganggu?!" Jhonson yang menggeleng tanpa kata, Citra pun duduk di sampingnya, membelai lembut kepala sang putra.
Mengambil nafas dalam, kedua tangan cintra merengkuh pundaknya. Kini mereka duduk berhadapan, Citra menatap dalam mata putranya yang pilu"Tidak apa-apa, sesekali orang dewasa harus menangis." Kalimat itu keluar dari mulutnya dengan lembut, kedua tangannya terbuka, membuat Jhonson langsung menjatuhkan dirinya dalam pelukan ibu.
Tangisnya kini terdengar, raungan tangis itu semakin meremukkan hati citra. Semakin ciut hati nya untuk mengungkapkan kebenaran yang ada. "Tunggu waktu yang tepat nak, ibu akan mengatakan semua yang ibu tahu."
__ADS_1
"Ibu... aku gagal menjadi dokter!"
Citra tertegun dengan matanya yang membulat "Kenapa bicara seperti itu?" Katanya sendu pada sang putra sambil tangan yang tak henti membelainya.
"***Bahkan aku tidak bisa melindungi wanita yang aku cintai!"
"Tidak, itu bukan salah putra ibu! mungkin takdir memang senang bercanda dengan kita sayang. Percayalah di balik semua kepahitan yang kamu rasakan saat ini akan ada hal manis di penghujung jalan***."
Kedua orang itu saling merengkuh, memeluk satu sama lain, dan saling menguatkan.
......................
Matanya yang tak teralih, terus memandang wajah ayu yang pucat itu. "Kapan kamu akan membuka matamu cantik." Katanya sambil membelai lembut rambut panjang bergelombang salsa.
"Apa kakak menyukainya?"
__ADS_1
Suara Malda yang keras mengejutkan nya dari lamunan, "Dasar lampir!....." Celotehnya "Kapan kamu datang?"
"Aku membuka pintu itu saja cukup berisik dan kakak tidak mendengar nya! Dasar laki-laki kalau sudah jatuh cinta buta dan tuli." Malda terus mengomel pada Jhonatan. "Ini ruang ICU kak, kamu tidak di izinkan terlalu lama di ruangan ini."
"Iya iya bawel!!"
"***Aku bawa roti dan kopi kegemaran kakak."
"Oke kita minum di luar sana***."
Mereka hanya berdiri menyandar pada tembok di lorong rumah sakit, menikmati segelas kopi dan roti isi.
"Kakak benar-benar mencintai gadis itu?!"
...----------------...
__ADS_1
Bersambung...