
Tibanya Citra dan Jhonatan dirumah.
"Arzana!!! dimana kamu? keluarlah aku tau kalian bersembunyi."
Arzana dan Jhonson bersembunyi di kamar Jhonson berpura-pura sakit.
"Mami akan di bunuh oleh ibumu kali ini kamu harus membuat amarah ibuku reda mengerti!"
Jhonson mengedipkan mata kepada arzana dia berperan sebagai anak yang malang sedangkan arzana yang berpura-pura menangis, kegeniusan nya membuat citra percaya bahwa Jhonson benar-benar sakit, membuat tubuhnya terasa panas untuk sementara hanya dengan beberapa bahan dapur saja.
"Arza.... ada apa ini? apakah demam dimana yang sakit?" mengecek dahi anaknya yang sedikit terasa panas.
"Ibu aku baik-baik saja hanya kurang hati-hati saat makan." Memegang perutnya yang pura-pura sakit, memainkan mata dengan arzana kompak membuat Citra tidak berdaya.
"Kamu membuat ibu terkejut, sudahlah hari ini istirahat dengan benar adik jaga kakak disini! ibu akan keluar sebentar dengan mami."
Citra menarik tangan sahabatnya bergegas meninggalkan Jhonson dan Jhonatan dikamar. Arzana membuat isyarat pada Jhonson berharap dia tidak akan di bunuh oleh Citra.
Diruang tamu citra duduk berhadapan dengan arzana, seakan menghadiri sidang yang sangat menegangkan. Keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya.
"Arzana, apa yang kamu lakukan kenapa kamu memberitahukan tentang laki-laki itu kepada anak-anak."
"Maafkan aku citra aku tidak ingin mengkhianati mu, tapi aku lebih tidak tega melihat anak-anak."
"Kamu tahun masalah besar apa yang Jhonatan berikan padaku di kantor."
Arzana melihat wajah sahabatnya yang begitu tegang ada ketakutan yang selama ini dia simpan sendirian. Memeluknya memastikan semua akan baik-baik saja asalkan mereka tetep terus bersama.
"Citra sudah saatnya mereka tahu kebenarannya, Jhonatan tidak membuat masalah dia hanya ingin membantumu dia hanya seorang anak yang ingin bertemu ayahnya."
Citra duduk termenung, apa yang harus dia lalukan laki-laki yang paling berkuasa dan yang paling dia takuti telah mengetahui kebenaran ini, bagaimana jika nanti keluarga mereka merebut Jhonson dan Jhonatan darinya.
__ADS_1
Apa yang harus dia lakukan dan katakan pada ayahnya jika dia kembali tanpa anak-anak. Semakin kalut di buatnya perasaan Citra.
"Ra jangan khawatir tidak akan ada yang merebut mereka darimu."
"Za, dia adalah orang yang sangat berkuasa, jangankan aku, perusahaan ku saja telah di akusisi oleh laki-laki itu dalam hitungan menit bagaimana dengan hidupku?" menangis sejadi-jadinya, citra seperti menemukan jalan buntu di hadapannya.
"Percayalah pada kedua putramu, mereka tidak akan meninggalkan mu, kalian saling melengkapi selama ini."
Dibalik pintu kamar Jhonson dan Jhonatan menguping pembicaraan mami dan ibunya, merasa bersalah atas apa yang terjadi hari ini. Dan mencari solusi selanjutnya cara bagaimana menyatukan ayah dan ibunya.
"Hei kakak sepertinya kali ini kita membuat ibu sedih, rencana kedua harus di lakukan."
"Kita harus menyatukan ayah dan ibu secepatnya."
"Bagaimana caranya?"
"Serahkan pada kakak." (senyum licik)
...----------------...
Sementara itu di kantor Reza diam-diam datang seorang wanita dengan bajunya yang sangat seksi memeluk Reza dari belakang.
"Reza...!" Suara nya yang di buat-buat manja, Reza merasa geli dengan keberadaan nya, dengan cepat melepaskan pelukan wanita itu.
"Kapan kamu pulang datang kesini?"
"*K**enapa? sudah sangat merindukan ku ya*?" Merangkul pundak Reza bersikap manja dan mencium pipinya. Reza yang risih melempar nya hingga jatuh tersungkur di hadapan Wiliyam, Wiliyam mencoba menahan tawanya.
"Reza!!! Kenapa kamu begitu dingin padaku, orang tuamu telah setuju menjodohkan kita dan telah menentukan hari pertunangan kita." Berteriak kesal, Reza yang tidak menanggapi nya sama sekali, dan pergi begitu saja bersama Wiliyam.
"Wiliyam siapkan mobil."
__ADS_1
"Baik."
"Reza mau kemana? Reza!!!" Mengejar langkah Reza yang semakin cepat. Reza segera pergi meninggalkan Renata sendiri di ruangannya.
Wiliyam membawa mobil tanpa arah tujuan, melihat atasan nya sangat gelisah. Bingung kemana dia harus membawa tuanya itu.
"Tuan....."
"Tidak ada orang disini panggil seperti biasa saja."
"Oke oke, kenapa lagi Rez?"
"Belum selesai satu masalah dan datang lagi wanita tidak tahu malu itu membawa masalah baru, entah apa yang di buatnya hingga ibuku sangat menyukainya."
Wiliyam tertawa kecil melihat Reza teman sekaligus atasannya, yang begitu terlihat kuat tak terkalahkan kini bisa mengeluh hanya karna seorang wanita.
Reza meminta Wiliyam putar arah menuju apartemen tempat tinggal citra,
"Siapa saja yang tinggal di rumahnya?"
"Ada empat orang Rez, Kekasihmu dan kedua anaknya, dan satu lagi adalah sahabat citra dari SMA namanya Arzana."
"Hmmm, Kekasih panggilan itu terdengar bagus."
Sampai di apartemen citra.....
...****************...
Terimakasih untuk like dan komennya Ardia sangat berterimakasih atas kritik dan saran dari teman-teman, tetep stay ya tunggu update selanjutnya
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1