
Berjalan di tangga menuju lantai dua kamar kecil mereka. "Ibu... sebelum tidur bisakah kita bercerita dulu...?" Tanya Jhonatan polos, tangan kecilnya tidak lepas dari genggaman citra. "Aku ingin bercerita tentang diriku yang genius agar ibu mengingat semua kenangan itu lagi !"
"Baiklah...."
Jhonson berhenti di ujung tangga dan langsung meringkuk memeluk kaki Citra "Ibu... maaf aku tidak menemukan mu lebih awal, jika adik tidak menemukan mu entahlah apa yang akan aku lakukan...." Menangis terisak. Citra berjongkok dan mencoba menenangkan.
"Bukan salah mu..." Mengangkat tubuh kecil Jhonson "Aku sangat bangga jika aku benar-benar menjadi ibu kalian. Kalian adalah anak-anak yang baik dan sangat genius, betapa beruntungnya aku menjadi ibu kalian.." Mengusap air mata di ujung kelopak mata Jhonson "Sebaiknya kita pergi ke kamar dan bercerita tentang hal yang menyenangkan, jika terus duduk disini aku takut kita akan jatuh bersama kebawah."
Jhonson dan Jhonatan begitu penurut, tinggal petakilan (lincah) yang biasa Jhonatan miliki kini mulai sirna, semua seakan berubah dan hilang begitu saja. Ibu di hadapannya tapi kehangatan hatinya entah kemana.
Didalam kamar Citra merapikan tempat tidur mereka dan mulai beristirahat sambil bercerita tentang masa lalu agar citra sedikit mengingat tentang kisah mereka dulu.
"***Ibu... apakah ibu ingat ketika kakak berhasil mengerjakan soal ujian untuk SMA. Semua guru tercengang melihat nilai kakak yang sempurna!"
"Benarkah...? Wah kamu memang sangat genius***..." Mengelus kepala Jhonson.
"***Ya ... dan apakah ibu ingat jika adikku yang genius itu pernah mengompol hanya karna di dekati wanita kecil yang cantik teman sekolah."
"Hahaha... benarkah itu... lalu bagaimana dengan teman wanitamu***... !" Citra tertawa lepas, membuat nya merasa semua baik-baik saja, tidak ada hal buruk yang terjadi.
"Kakak jangan membuatku malu...!!"
Mereka sangat menikmati obrolan itu, hingga waktu semakin larut, citra menemani anak-anak sampai mereka tertidur. Menyanyikan lagu tidur yang biasa dia nyanyikan untuk Jhonson dan Jhonatan.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa mengingat nyanyian tidur itu...!" Tanya citra dalam hati. Sambil menepuk lembut tubuh kedua malaikat kecilnya citra terus memandang wajah mereka yang polos.
"Ku harap ingatan ku akan cepat kembali dan mengingat kalian yang berharga ini. Maaf jika aku yang kalian panggil ibu ini, sama sekali tak dapat mengingat kalian Jhonson dan Jhonatan." Ucapnya sambari merapikan selimut dan mengecup kening anak-anak nya.
Duduk di samping mereka begitu lama, terus melihat wajah mereka yang begitu polos membuat hatinya terasa begitu sakit. Tak lama Citra tertidur di sisi tempat tidur mereka.
...----------------...
Masih di ruang tengah, di meja makan suasana tegang masih terasa.
"Siapa yang kamu maksut. ..?" Tambah tuan Hutomo penasaran.
"***Mereka seperti organisasi tersembunyi, sasaran mereka tidak hanya citra...."
"Lalu***...." Sahut Arzana.
"Benar! Aku merasa ada yang janggal di setiap kejadian...". Lantas Adinata menceritakan hari dimna dia membawa pergi Citra.
...~Flashback on~ ...
Saat itu, Adinata mendapatkan kabar dari beberapa mata-mata yang selalu ia tempatkan di sisi Citra. Setelah mendengar kabar bahwa citra berada dirumah sakit, Adinata berencana menjenguknya. Namun saat Adinata sampai di depan ruangan Citra semua para penjaga sudah bergelimpangan di lantai. Adinata pun bergegas lari ke ruangan Citra dan menemukan beberapa orang dengan pakaian lab mencoba memasangkan alat misterius pada citra. Melihat arzana yang juga sudah tidak sadarkan diri dengan sekuat tenaga, dengan bela dirinya yang tidak terlalu mahir mengalahkan orang-orang misterius itu dan membawa Citra pergi. Namun anehnya orang orang itu tidak terlihat satupun dari rekaman cctv hanya adinta yang terlihat saat dia menggendong citra keluar ruangan.
...~***Flashback off~ ...
__ADS_1
"Memang aneh, rumah sakit itu adalah milik keluarga kami, apa mungkin ada mata-mata di sekitar kita***?". Kata Reza .
"*B**aikalah kita akan menyelidiki ini dengan hati-hati, waktu semakin larut. Sebaiknya anda beristirahat*!". Sahut Tuan Hutomo,
"***Benar.. anda terlihat lelah anak muda, beristirahat kah di kamar atas tepat di kiri tangga, arzana akan mengantarkan anda."
"Terimakasih nyonya***.". Adinata lekas pergi, disusul nyonya dan tuan Hutomo, pak Darwis yang juga menuju kamar dan beristirahat tubuh rentan nya kini tidak begitu kuat menerima tekanan yang begitu besar.
"Ayah biar aku mengantarmu...!" Kata Arzana sambil mendekat dan memapah tubuh gendut pak Darwis.
"Aku akan bantu..." Wiliyam menyusul dan ikut memapah tubuh gendut oak Darwis, melihat tingkah mereka hatinya sedikit terhibur.
"Baiklah-baiklah,."
Reza dan Adinata menaiki tangga bersama menuju kamar masing masing, dalam perjalanan mereka masih tetap bertukar pikiran untuk menyelidiki orang-orang misterius itu.
"***Baiklah selamat beristirahat, dan terimakasih anda telah menjaga istriku."
"Terimakasih, dia adalah adikku sudah tugasku menjaganya***."
Mereka berpisah dengan saling menghormati satu sama lain, Reza berjalan menuju kamar anak-anak dan menebak jika citra juga masih disana.
Langkahnya pelan, dengan hati-hati Reza membuka pintu, melihat peri kecilnya tertidur pulas disisi ranjang anak-anak nya. Pelan-pelan mengangkat tubuh kecilnya dan membawa nya pergi ke kamar.
__ADS_1
"Ternyata tubuh kecilmu berat juga...!!" Bisik Reza.
...****************...