
Pesta perayaan dimulai malam itu, acara di selenggarakan secara meriah. Pengenalan anggota keluarga bagi Hutomo pada semua jajaran penting di perusahaan. Adinata dengan latar belakang yang tidak biasa pun menjadi sorotan. Bangkit nya Nama Darwis Group, nama yang hampir saja sirna oleh waktu kini kembali ke tempat semula.
Kedai kecil miliknya telah di wariskan kepada salah satu karyawan kepercayaan Pak Darwis di Jogja.
Hamil muda tidak bisa membuat arzana begitu leluasa, mudah lelah dan sering merasa pening di kepala membuatnya tidak bisa hadir sepenuhnya di pesta.
"Apakah kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Wiliyam khawatir.
"Yah .. sedikit kurang baik... aku hanya tidak bisa mencium aroma yang sangat menyengat di area pesta."
Wiliyam menghampirinya dan berkata dengan lembut sambil membelai perut sang istri "Ayo kita ke taman sebentar dan menenangkan fikiranmu sejenak, mungkin si kecil tidak nyaman dengan keramaian."
Arzana mengangguk dan menuruti perkataan Wiliyam. Sang suami yang penyayang memapah istrinya yang berjalan sempoyongan.
"Ahhh..apa yang kamu lakukan?" Arzana terkejut pada suaminya Wiliyam yang tiba-tiba saja menggendong nya.
"Diamlah bumil, aku sangat tidak tega melihat mu bejalan tertatih." Jawabnya sambil tersenyum, bibirnya mengecup kening sang istri dengan lembut.
"Paman tampan... mau bawa mamiku kemana?"
Tanya Jhonatan yang tiba-tiba hadir mengejutkan mereka berdua.
"Astaga....!! jangan buat paman terkejut, untung saja paman tidak menjatuhkan mami mu !" Sahut Wiliyam dengan nada sedikit kesal.
"Ahh..maaf paman!" Wajahnya langsung murung dan merasa sangat menyesal.
Merasa bersalah pada anak genius yang menggemaskan itu "Sudah sudah....ayo ikut paman dan mami ke taman untuk bermain dengan adik kecil."
Jhonatan mengangguk tangan kecilnya memegang ujung Jaz paman tampannya dan mengikuti langkah Wiliyam.
Sampai nya di taman, mereka bertiga duduk melihat bintang yang bertaburan di langit malam. Lama-lama Arzana tertidur begitu nyaman di pangkuan sang suami. Wiliyam dan Jhonatan mengobrol layaknya teman dekat.
"Paman.....!"
__ADS_1
"Hemmm... " Memandang sang genius, jari telunjuknya tersemat di bibir dan berkata lagi "Ssssttttt ......kecil kan sedikit suaramu nak..."
"Apa aku juga bisa punya adik dari ibuku ?" (Suaranya sangat pelan bahkan terdengar seperti berbisik)
"Kamu bicara apa paman tidak dengar ?" Bicara pelan.
"Tadi paman bilang pelan kan **suaraku**!" Menggoda wiliyam.
"Tapi tidak berbisik juga! dasar anak nakal!"
"Heehee ... paman apa aku bisa punya adik dari ibu juga ?'"
Wiliyam tertegun sejenak, melihat wajah polos itu, "Tentu saja ... jika punya adik, kamu ingin adik laki-laki atau perempuan?'
Jhonatan terdiam sebentar dan berfikir "Aku sudah punya adik kecil laki-laki dari mama Nanda, jadi aku ingin adik perempuan dari ibu dan mami..." Mengatakan kalimat itu dengan penuh semangat, "Atau adik kembar lagi juga **boleh, aku akan jadi kakak tertua ke dua**," Mengatakan dengan bangga.
"Haahaahaa....Jangan terlalu serakah, mengasuh adik perempuan bukan hal mudah!"
"Tuhan... terimakasih atas kebahagiaan ini!" Ucapnya lirih...
"Sedang apa ?" tanya citra mengejutkan lamunannya
"Melihat kebahagiaan!" Meraih pinggang citra dan merangkulnya.
"Jemput anakmu, jangan merepotkan yang lain..." Sambil mengusap lembut wajah suaminya.
"Lihatlah betapa manjanya dia dengan semua ayahnya, sepertinya dia juga sangat nyaman berteman dengan Wiliyam." Menyandarkan kepalanya di bahu Reza.
"Oke Nyonya Reza.... tapi dimana Jhonson? aku tidak melihatnya sejak di pesta ?"
"Dia sedang asik bersama papanya di ruang atas untuk belajar, Anak itu sangat tidak suka keramaian."
"Baiklah jemput Jhonson untuk beristirahat juga?"
__ADS_1
"Baiklah.." berpamitan dengan suaminya dengan kecupan selamat malam di keningnya.
Reza datang menghampiri Wiliyam yang terlihat kebingungan. "Sedang mencari apa?"
"Wah .. syukurlah... aku bingung cara membawa mereka bagaimana? barusaja aku ingin menelpon mu'" Menunjukkan dua orang yang begitu nyaman tertidur berbantal kan paha di pangkuannya .
"Pffftt..." Reza mencoba menahan tawa.
"Cepat angkat pangeran kecilmu ini, sepertinya dia kedinginan."
Reza lekas melepaskan Jaz nya dan menyelimuti tubuh kecil Jhonatan yang meringkup kedinginan. "Terimakasih sudah menjaganya.... Selamat beristirahat!"
"Tidak masalah... kita sahabat yang sudah seperti saudara... kamu bahkan tidak terlihat seperti atasanku! selamat malam juga,... semoga apa yang kita harapkan akan bertahan selamanya."
Reza tersenyum mendengar ucapan Wiliyam, "**Semoga** ." Katanya dalam hati, namun terlihat ada ketakutan di matanya itu tentang "semoga bertahan selamanya!" Reza sangat takut hal yang sama terulang lagi, setelah kebahagiaan akan ada kesedihan lagi menghampiri hidup mereka.
Disisi lain..."Jhonson.... ibu boleh masuk?" mengetuk pintu.
"Ibu.... "
"Pesta sudah selesai, malam semakin larut sebaiknya kita beristirahat, ...." Mengusap kepala Jhonson "Dan biarkan papa beristirahat juga bersama mama dan adik Leo di kamar."
"Oke Bu.. " Berbalik dan berpamitan pada Adinata "Papa terimakasih pelajaran hari ini, selamat malam semoga papa mimpi indah, salam untuk adik Leo dan mama."
"Baiklah pangeran kecil."
Citra dan jhonson kembali ke kamar untuk beristirahat bersama Jhonatan dikamar, Reza dan citra kembali ke kamar setelah mengantar anak-anak untuk beristirahat, mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama untuk malam ini, bercerita sebelum tidur dan hal-hal menyenangkan lainnya yang di lakukan oleh pasangan lain pada umumnya.
Adinata berjalan menyusuri lorong ruangan. Perasaan nya campur aduk antara bahagia dan khawatir akan kehadiran. Apakah Leo akan menerima kehadiran nya atau.....
...****************...
Bersambung....
__ADS_1