
Beberapa hari berlalu sejak Citra tidak sadarkan diri. Reza terus terjaga si sampingnya menunggu Citra membuka mata.
"Citra... bangunlah sampai kapan kamu akan tertidur?" Hati Reza terus bertanya-tanya. Menatap dengan lembut wajah pucat pasi itu, semakin teriris hatinya melihat tubuh Citra tidak berdaya.
"Dia akan baik-baik saja!" Tepukan di pundak dengan suara berat membangunkan lamunan nya.
"Kakak....?" Melihat ke arah belakang, mengetahui Adinata datang membawa bunga di tangannya."Kapan kakak sampai?" Mengusap air mata yang tersisa di ujung mata.
"Sejak tadi..." Tersenyum dan beralih duduk di sampingnya" Sejak kamu menangis dalam diam!"
Reza terdiam sebentar dan kembali melemparkan pertanyaan"Kenapa sendiri, dimana kakak ipar?"
"Dia masih di bawah bersama Leo dan Arzana, mereka membawa Jhonson dan Jhonatan pergi membeli eskrim untuk menyenangkan mereka."
"Oh....!"
"Jangan terlalu murung, ingatlah kamu masih punya Jhonson dan Jhonatan yang harus kamu urus!"
"Iya baiklah aku mengerti!"
Mereka berbincang cukup lama mengenai banyak hal. Adinata mencoba menguatkan Reza yang terlihat hancur hatinya.
Seperti seorang kakak dengan adiknya, Adinata cukup bijaksana dalam mengatasi banyak hal.
"Aku tidak menyangka, gunung es yang dulu menurut rumor sangat di takuti banyak orang bahkan para petinggi negara asing, kini bertekuk lutut di hadapan adikku." Goda nya pada Reza.
__ADS_1
Smrik.."Aku tidak tahu, jika citra tidak hadir dalam hidupku, mungkin hidup ku akan terus terasa jemu."
Adinata menghela nafasnya, Melihat sosok yang dulu tegap dan sangat berani menghadapi dunia kini runtuh karena satu hati yang mengisi hidupnya.
"Ikutlah bersama ku!"
"Kemana?"
"Berjalan-jalan sebentar, untuk menenangkan pikiran mu sejenak!"
Reza terdiam sebentar "Tidak... aku tidak akan meninggalkan istriku sendirian disini!" Tatapannya kembali tertuju pada citra yang masih terdiam, semakin sakit hatinya melihat tubuh mungil tertusuk jarum dimana-mana, hidupnya hanya tergantung pada alat, entahapa yang membuat citra kembali koma.
"Tidak akan lama, jika kamu terus begini dan kamu sakit siapa yang akan menunggu citra dan anak-anak nanti!"
Reza hanya bisa menuruti ucapan sang kakak, mereka berjalan keluar menyusuri setiap lorong rumah sakit. Punggungnya yang lelah tampak tergambar jelas, Adinata ikut merasakan kepedihan yang Reza rasakan. Kehilangan orang yang dia cintai, kehilangan satu-satunya harapan dan semangat dalam hidup nya.
Jhonson duduk diam menatap wajah sendu sang ibu, kesedihannya tak dapat dia sembunyikan lagi, dala tatapannya seakan benyak tanya yang tak mampu dia katakan.
"Ibu... kakak janji akan belajar lebih giat lagi, kelak kakak akan menjadi dokter, aku ingin bisa menolong orang lain, tidak seperti sekarang, kakak hanya bisa melihat ibu terbaring tidak berdaya." Ucapnya dalam hati, tangan kecilnya semakin erat menggenggam citra, akhirnya jhonson tertunduk menangis dalam rangkulan tangan sang ibu.
"Ibu....!!" Teriak Jhonson saat dia merasakan tangan Citra sedikit bergerak. "Ibu....ibu mendengarkan ku...?" Tanya jhonson tidak sabar.
Citra masih terdiam, perlahan citra membuka matanya, hal pertama yang pertama dia lihat adalah cahaya, dan suara pertama yang dia dengar adalah suara jhonson putra pertamanya.
"Ibu baik-baik saja, perlu jhonson panggilkan dokter...?" matanya yang berbinar-binar membuat Citra tampak runtuh.
__ADS_1
Citra mengedipkan mata dan menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan pada jhonson untuk tidak memanggil siapapun ke ruangan itu.
"Baiklah... ibu butuh sesuatu, biar jhonson ambilkan? ibu mau minum?" Citra hanya terdiam menatap wajah putranya yang lugu itu. Tangannya bergerak ke arah pipi Jhonson, Tangan nya yang hangat mengusap lembut pipi tembam jhonson.
"Anak ibu sudah besar...!" ucap citra lirih. Jhonson mengangguk dengan pipi yang di banjiri sungai air mata.
Citra perlahan berusaha untuk bangun dan bersandar sedikit, tubuhnya terasa kaku dan Citra hanya ingin melenturkan kembali ototnya yang kaku.
Meraih tubuh jhonson dan memeluknya "anak ibu sudah besar, anak ibu sudah dewasa sekarang!"
"Ibu.....syukurlab ibu sudah sadar...ibu ingin minum?"
Citra hanya menggeleng kan kepalanya, di ukurannya tangan lentik itu mengarah ke pipi sang putra yang benar-benar kuat dan tabah. Menetes air mata di pipinya.
"Ibu baik-baik saja...? apa ada yang sakit, kenapa ibu menangis ?" Tanya Jhonson panik.
Citra hanya merangkul putranya yang terlihat sedih itu. "Anak ibu.... anak ibu yang baik... anak ibu yang pintar...!" Citra terus mengucapkan kata-kata yang sulit untuk jhonson pahami.
Hingga saat mereka tengah larut dalam pelukan dan keharuan.
"Jhonson....!" Panggil Reza dari pintu masuk, "Citra sayang....!" Berlari ke arah Citra langsung memeluknya.
"Reza ... aku merindukanmu!" .......
...****************...
__ADS_1
Bersambung......