
Lebih dari ratusan bodyguard nya di kerahkan, banyak petugas di sebar ke bandara, terminal dan pelabuhan, bahkan stasiun kereta tak luput dari para pengawal Reza.
"Awasi setiap tempat, dalam dan luar kota. Aku tidak ingin kalian melewatkan satu tempat pun!" Perintah Reza, nada bicaranya kini semakin terlihat jelas akan kemarahan di hatinya.
Reza dan Jhonson menuju tempat utama lokasi terakhir Vios hitam berada, pelabuhan terdekat di pinggiran kota. Harap harap cemas terus menyelimuti hati mereka, Ayah dan anak itu kompak saling menggenggam, menguatkan tanpa saling berkata.
Spedometer mobil terus meningkat kecepatannya, semakin cepat semakin besar peluang untuk mereka cepat menemukan jejak Citra, yang mereka miliki kini melampaui batas, Wiliyam yang biasa tenang kini ikut menjadi gusar.
"Jarak dari target hanya semakin dekat tuan."
"Percepat lagi, aku tidak ingin terlambat."
ciiittttt....... Rem mobil berdecit keras, sang sopir menghentikan laju mobilnya, terlihat mobil Vios hitam di hadapan mereka, Reza keluar dari mobil nya dan berlari, pistol di tangan kanannya sudah siap membidik target. Diacungkan senjata itu ke arah jendela Vios hitam.
"Brengsek.... mereka mengelabuhi kita!"
Teriaknya kesal, tangan kanan nya berlumuran darah setelah menghantam dan memecahkan kaca mobil Vios hitam itu.
"Bagaimana keadaan ibu ayah....?" Melongok ke bagian dalam mobil, matanya beralih lagi ke kursi belakang, namun tidak ada satupun seseorang di sana, hanya ada gelang pemberian Jhonson untuk ibunya citra tergantung di kaca depan"Ibu... apa yang terjadi padamu, kenapa ibu harus melepas gelang ibu di saat begini!" Jhonson putus asa, memeluk gelang milik ibunya.
"Ayah disini, kuatkan dirimu kita cari ibu bersama kemanapun mereka lari akan ayah kejar meskipun ke neraka." Memeluk dan meremas erat kepala anaknya, menguatkan putra sulung nya, meski saat ini hatinya juga hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Di rumah...
Jhonatan baru saja selesai merapikan diri dan keluar dari kamarnya, dari tadi mencari sang kakak yang tak kunjung ketemu.
"Nenek... dimana kakak?...." Matanya terus menelusuri sudut ruang, mencari bayangan kakak sulung nya. "Dari tadi aku mencari Jhonson, tapi dia terus menghilang tanpa jejak."
"Kakak mu sedang ada urusan bersama ayah di kantor, mami sedang menjaga ibumu di rumah sakit, jadi hari ini kami istirahat dirumah bersama nenek!" Menghampiri jhonson, menepuk ringan pundak kecil nya. "Sebentar lagi waktu jam sarapan, ayo kita turun dan makan bubur kesukaanmu." Mengangkat dan menggendong cucu kecilnya, Nyonya Micela tampak begitu tegar, dan Jhonatan kecil tak memiliki rasa curiga akan apa yang terjadi hari ini. Meletakkan cucu kesayangan di kursi Nyonya pergi menuju dapur belakang mempersiapkan sarapan untuk Jhonatan.
"Apa yang harus aku katakan Tuhan... bagaimana aku menyampaikan kabar buruk ini untuk hati kecilnya!?" Kata Nyonya dalam hati, kedua tanggannya menutup mulut agar suara tangisnya tak terdengar oleh Jhonatan.
Bibi, pembantu rumah tangga Nyonya Nyang telah lama bersama mereka bahkan sejak Reza masih kecil pun ikut merasakan kesedihan yang ada dirumah besar itu.
"Nyonya.... biar saya saja yang menyajikan sarapan untuk tuan muda." Mengambil beberapa makanan untuk disajikan di meja makan. Berjalan mendekat ke arah Jhonatan, tampak dari jauh bahu kecilnya. Rasa memelas terus hadir di hati bibi itu, "Semoga kamu akan tumbuh menjadi anak kuat seperti ayahmu tuan muda!" Katanya dalam hati. "Silahkan tuan muda, ini adalah menu sarapan spesial yang bibi siapkan untuk tuan muda." Ucap bibi, meletakkan makanan di hadapan Jhonatan dengan senyuman lebar membingkai di wajah bibi.
Berlinang airmata di pipi wanita senja itu, melihat tatapan mata sang tuan muda yang begitu tulus. Bibi baik berbalik badan dan pergi tak kuasa menahan tangisnya di hadapan Jhonatan.
Melangkah menuju dapur utama, Melihat Nyonya besar masih terduduk di sudut ruangan, Bibi baik menghampirinya dengan banyak keraguan.
"Nyonya...Kuatkan diri anda.." Mengelus pundak sang majikan "Jika nyonya lemah bagaimana dengan Tuan muda disana"
"Apa yang akan aku katakan lagi bi, bagaimana aku akn mencari alasan untuk kepergian Citra Yang mendadak ini, bagaimana hati kecil nya meneri...."
Praaaaang... suara ppiring jatuh pecah, Bibi dan Nyonya Micela berbalik melihat ke arah pintu, makhluk kecil itu sudah berdiri disana.
__ADS_1
"Nenek... apa yang terjadi pada ibuku..?" nada bicaranya yang ketakutan dan lemah.
Nyonya micela bingung harus berkata apa pada anak kecil kesayangannya itu. Melihat kearah asisten rumah tanggganya, mencari alasan.
"Nyonya cantik saat ini sedang dalam masa prawatan tuan muda, saat ini ayah Tuan muda sedang membawa nyonya Canti pergi berobat ke rumah sakit yang lebih canggih!" Jawab Bibi baik.
"Yah.. betul ayah sedang membawa ibu pergi ke luar negri untuk perawatan sayang!" tergagap.
"Bukankah Rumah sakit itu sudah yan terbaik di negara ini?" Sahut jhonatan lagi, hati kecilnya mulai merasa curiga akan gelagat nenek dan bibi baiknya.
Nyonya micela menghampiri Jhonatan dan menggendongnya, "Bukankah Jhonatan ingin ibu lekas sembuh?" Jhonatan mengangguk "jadi ayah, kaka, dan kakek sedang membawa ibu pergi ke luarnegri untuk berobat, agar ibu lekas sehat dan bermain bersama kalian."
"Okey baiklah... Jhonatan ingin pergi ke kamar dan beristrirahat."
"Emmm,,, baiklah, Jhonatan anak yang baik." Kata nyonya Micela sambil mengecup keningnya.
Jhonatan turun dari gendongan sang nenek, melangkah keluar menuju kamarnya, Namun instingnya terlalu tajam, diam-diam di kamarnya Jhonatan mmbuka komputer dan melacak keberadaan Kakak dan ayahnya.
"Baiklah, jika semua orang tetap diam aku yang akan mecari tahu tentang apa yang terjadi." Katanya dalam hati.
...****************...
Bersambung.....
__ADS_1
Terimakasih untuk like dan komennya 🙏🙏🤗