
Hari itu di rumah keluarga Hutomo, Tuan Hutomo dan istrinya, dan juga Pak Darwis, semua orang menunggu dengan cemas.
Arzana yang terus merangkul pundak Nyonya Micela untuk menenangkan fikirannya, dan Wiliyam yang senantiasa berdiri dekat dengan Tuannya.
" Tenang lah tuan Nyonya, semua akan baik-baik saja..." Kata pak Darwis memecah suasana yang yang sunyi sepi. Suami istri itu saling pandang melihat ketenangan yang begitu dalam di wajah pak Darwis, tidak tersirat sedikitpun dari wajahnya. "Jika Reza dan anak-anak sudah turun tangan, saya percaya semua akan baik-baik saja." Tambahnya lagi sambil tangannya menepuk pundak tuan Hutomo.
"Bagaimana anda bisa setenang ini pak, sedang sesuatu terjadi pada anak anda!"
Pak Darwis hanya tersenyum melihat kekacauan hati di wajah kedua besannya. Naluri seorang ayah yang dia miliki begitu kuat, saat ini Pak Darwis memang merasa hatinya begitu tenang. Apalagi Reza telah berjanji akan membawa pulang Citra dengan selamat. Dengan janji itu pak Darwis percaya jika Reza benar-banar akan membawa citra dan anak-anak kembali.
"Tante.. om... percayalah pada pak Reza, semua akan baik-baik, kita harus mempercayai pak Reza seperti yang dilakukan ayah Darwis.... " Sahut Arzana menyakinkan sepasang suami istri itu yang dari tadi gelisah. "ini sudah begitu lama, hari juga sudah mulai gelap, bagaimana jika kita menelpon pak Reza, mungkin sudah bisa tersambung."
Nyonya Micela segera mengambil telponnya, dengan cepat jari-jarinya menekan tombol, menelpon putranya yang dari tadi pagi memang sulit untuk di hubungi.
"tut....tut.....tut....
Hallo ibu...
"Reza... syukurlah, ibu sulit menghubungi mu dari tadi pagi, ini sangat khawatir..!"
"Ibu aku baik-baik saja, anak-anak juga..."
__ADS_1
"Bagaimana dengan menantuku Citra...?" Kata nyonya menyela
"Citra baik ibu, dia sedang tertidur Bersama anak-anak di kursi belakang..."
"Apa semua berjalan dengan lancar ...? bagaimana penculik itu!?"
"Ibu.. akan Reza jelaskan nanti setelah kami sampai, dan juga apapun yang terjadi nanti ibu jangan terlalu panik okeh..."
"Apa yang akan terjadi....?"
"Sudahlah jangan terlalu ibu fikirkan, dan satu lagi ibu.... kita akan kedatangan tamu lagi tolong siapkan kamar tamu untuk nya nanti."
Nyonya Micela menutup telponnya, terlihat dari raut wajahnya kini hatinya semakin tenang. Menangis haru menatap wajah sang suami dan memeluknya.
"Mereka pulang, mereka berhasil menemukan Citra....." menangis dan larut dalam pelukan suaminya. Semua orang merasa lega setelah mendengar kabar semua telah membaik. Arzana yang kegirangan bahagia tanpa sadar memeluk Wiliyam dan Wiliyam pun membalas pelukannya.
"Sepertinya kita akan mengadakan acara pernikahan untuk dua pasangan..." Celetuk pak Darwis yang dari tadi tersenyum melihat arzana dan Wiliyam tanpa sadar berpelukan. Cepat-cepat mereka melepaskan pelukan masing-masing.
"Baiklah... Reza berkata dia juga Mambawa seorang tamu, kita harus bersiap untuk menyambut kedatangan mereka bukan...!"
"Baiklah arzana akan membantu tante di dapur...." Sahut Arzana cepat.
__ADS_1
"Baiklah nak aku akan pergi ke supermarket dulu kamu tolong bereskan kamar di ruang atas...."
"Baiklah bibi cantik..." Arzana sangat bahagia dan tersenyum lebar tidak sabar menunggu sahabat mungilnya datang. "Aku akan memulai dengan membereskan kamar, ayah dan paman Hutomo duduk di ruang tamu saja menunggu."
Semua berpencar dengan kesibukan masing-masing, Wiliyam yang kebingungan harus mengerjakan apa, akhirnya mengikuti arzana untuk membereskan kamar yang akan di tempati Adinata.
"Aku akan membantumu...!" Seru Wiliyam sambil tangannya merebut sprei baru di tangan Arzana. "Kamar mana yang harus kita bersihkan...?"
"Hey tuan.... takut bukannya anda membantu malah menambah pekerjaan ku!.... Pergilah ke bibi dan bantu dia beli beberapa bahan makanan di supermarket." Merebut kembali sprei di tangan Wiliyam. mereka saling tarik-menarik sprei dan ketika Wiliyam menarik kembali sprei itu membuat arzana terpental jatuh di pelukannya. Membuat mereka saling pandang sejenak. Degup jantung mereka terdengar begitu jelas.
"Ehemmm...." Wiliyam mendehem memecah kecanggungan, "Apa aku begitu tampan hingga kamu melihat ku tanpa berkedip" goda Wiliyam arzana cepat-cepat bangkit dan melepaskan pelukannya.
"kamu sengaja kan....!" menarik sprei dengan matanya yang melotot tajam "aaaaa .... aku tebak, apa kamu sudah jatuh cinta padaku..." Kata Arzana percaya diri, Wiliyam hanya tersenyum tipis, kakinya mulai melangkah maju mendekat pada arzana, panik arzana mulai berjalan mundur tapi sayang tembok menghalangi nya melangkah lebih jauh lagi.
"Jika ya... apa nona galak ini juga akan jatuh cinta padaku,..." Katanya menggoda, mendekati bibir arzana yang merona itu. Arzana begitu terkejut dan tak mampu berkata-kata.
"Tuan... tolong jaga sikapmu.. ini rumah paman dan bibi..." Mendorong tubuh Wiliyam yang menghimpit nya. Lebih cepat dari tangan Arzana Wiliam mencengkeram erat tangan Arzana ke atas sprei di tangannya pun berhamburan menutup mereka berdua, membuat nya benar-benar terpojok di situasi yang membuat hatinya tidak karuan.
...****************...
Bersambung.....
__ADS_1