
"Ayah, ibu, ayah mertua....!"
"Sepertinya semua orang sedang bahagia?" Kata nyonya Hutomo, menghampiri Citra "Apakah kamu sudah baikan nak?" sambungnya lagi.
"Citra baik ibu! bagaimana kabar ibu dan ayah?"
"Ibu baik, ayah juga..."
Citra hanya tersenyum, matanya terus melihat ke arah pak Darwis. Seperti ada telepati di hatinya, merasakan kesedihan di wajah ayahnya, laki-laki paruh baya yang telah dia lupakan.
Hanya melihat sorot mata putrinya, pak Darwis memahami ada rasa yang tak dapat ia pahami, membuka kedua tangannya, mengulurkan tubuh gemuknya, Citra datang perlahan kedalam pelukan nya.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, putri ayah hebat, putri ayah yang terbaik...." Memeluk dan membelai rambut putrinya "Tenanglah nak... semua akan baik-baik saja, perlahan kamu akan mengingat semuanya !" Sambungnya sambil menepuk perlahan pundak putrinya itu.
Tanpa kata Citra tak dapat membalas ucapan ayahnya, hanya linangan air mata terus mengalir deras di pipinya.
"Ibu.... jangan menangis lagi, aku akan ikut sedih" Kata Jhonatan.
"Ibu..." Kaki kecilnya menghampiri Citra, Citra pun berjongkok di hadapan putranya,Tangan kecilnya menghapus air mata di pipi citra, "Ibu tidak sendirian... ibu bersama kami" Sambung Jhonson sambil menunjuk semua orang yang hadir disana.
"Terimakasih!" Kata Citra haru, memeluk kedua putranya dengan penuh kebahagiaan.
Musibah dan ujian yang menghantam nya bergantian kini telah di tukar akan semua kebahagiaan. Memiliki suami yang pengertian, anak-anak yang genius, kakak yang baik hati, sahabat dan juga orang tua yang selalu ada untuknya.
"Istriku lihatlah putri kita.. kini dia tumbuh menjadi ibu yang bijaksana dan hebat seperti mu!" Gumam pak Darwis dalam haninya.
__ADS_1
...----------------...
Beberapa bulan berlalu, Hari pernikahan ketiganya di adakan secara bersamaan, pesta yang begitu meriah di buat, pernikahan termegah yang pernah ada.
"Lihatlah Semua Pengantin wanita terlihat sangat cantik". Ucap salah satu MUA disana.
"Ibu.. mami ... bibi...! apakah sudah selesai acara akan di mulai!" Teriak Jhonatan bersemangat.
"Baiklah tuan genius .. mami dan ibu bersama bibi akan turun dalam 15mnt."
"Okey... baiklah aku akan memberitahu ayah."
Para mempelai wanita bersiap untuk turun dan memulai acara pernikahan mereka. Satu persatu dari mereka turun, di mulai dari Nanda yang telah di anggap sebagai calon mempelai wanita dari anak tertua, di susul oleh citra dan arzana.
"Wah.. istriku sangat cantik". Celetuk Wiliyam terpesona melihat sisi feminim arzana yang sangat cantik menggunakan gaun light blue nya.
"Mereka semua sangat cantik!" Sahut Adinta
"Benar, kita semua laki-laki beruntung di dunia ini dengan pengantin wanita tercantik." Tambah Reza.
Upacara pernikahan berlangsung hikmah, awalnya semua berjalan sesuai rencana, hingga kabar buruk datang menyita semua kegembiraan.
Gedebuk....
Citra yang tiba-tiba jatuh pingsan di hadapan semua orang menjelang upacara terakhir nya, Reza lantas melompat kearah citra yang tepat di hadapannya, Tangan kuatnya merangkul menahan tubuh Citra yang hampir terjatuh di lantai. "Ra... Citra....bangun!" Panggil nya gemetar, tubuh Citra yang terus membiru dan dingin membuatnya tak mampu berkata.
__ADS_1
Anak-anak lantas berlarian ke arah Citra dan berusaha membangunkan ibunya yang terbaring tidak berdaya. "Ibu.... ibu baik-baik saja?". Jhonson menepuk ringan wajah ibunya, Jhonatan yang sontak menangis sesenggukan ikut larut dalam kecemasan."Ibu .. jangan tinggalkan kami lagi!" Sahut Jhonatan ketakutan.
Tampak cairan merah mengalir dari hidungnya. Reza panik mencoba menghapus darah yang tak berhenti menetes itu, tangannya memapah Citra, menggendong nya dan berlari membawa citra pergi.
Suasana menyenangkan kini berubah menjadi mencekam, Dua mempelai lain pun ikut merasakan kepedihan yang ada di hadapannya.
Reza dengan sekuat tenaga berlari seraya membopong tubuh mungil yang tak berdaya itu.
"Citra bertahanlah... aku akan membawamu ke rumah sakit!" Seru Reza, suara nya bergetar jati dirinya yang dingin dengan tatapan yang tajam kini runtuh, wajahnya yang pucat pasi dan putus asa jelas terlihat kala Citra tergeletak tak berdaya.
Es itu mencair karenanya, tapi kini api kehilangan cahaya. Dengan penuh dia di hatinya sepanjang jalan Reza terus menggenggam tangan mungilnya.
"Bertahanlah.... kumohon sedikit lagi... bertahan lah!"
Sampai di RS, semua dokter dan perawat berlarian, bergegas membawa citra ke UGD Reza terduduk lemas di depan ruangan itu, menunggu dengan penuh harapan...
"Tuhan... jangan bawa dia, ku mohon jangan ambil dia dari sisiku... izinkan aku menebus kesalahanku, izinkan aku membahagiakan nya.". Ucapnya dalam hati, tak berhenti dia terus mengalir dari hatinya.
Keluarga datang menghampiri Reza yang terlihat putus asa, nyonya Hutomo ibu kandung Reza mencoba menghampiri putranya yang putus asa.
"Citra anak baik.... ibu yakin citra akan baik-baik saja!" ucapnya meyakinkan Reza dan mencoba menenangkan putranya.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1