ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 9


__ADS_3

"Kami pulang dulu yah, Bunda Ayah!" pamit Elang dengan Alan kepada kedua orang tua mereka.


"Iyah, minggu depan jangan lupa kesini lagi yah!" balas Ibunda.


"Iyah bunda," angguk Alan.


"Ya udah, hati-hati yah!" sahut Ayah lalu bergantian memeluk kedua putranya.


"Hati-hati yah!" tambah Ibunda.


"Ayah Bunda, kami berdua pamit. Assalamualaikum!" salam mereka berdua lalu beranjak pergi menuju mobil.


"Waalaikumussalam!"


...********...


Sesampainya di kediaman Elang....


-Di dalam rumah.


"Alan, kamu bilang teman barumu mau datang, kapan?" tanya Elang


"Emmmm seharusnya sih sekarang, mungkin di jalan lagi macet Kak makanya lama," jawab Alan.


"Baiklah, kalau kau butuh makanan atau minuman mintalah kepada Bi Ana untuk membuatkan."


"Baik kak," angguk Alan.


"Dan juga, kalau seumpama kau membutuhkan Kakak panggil saja."


"Siap kak!" jawab Alan sekali lagi.


"Ayo sekretaris Ken!" ucap Elang kepada sekretaris Ken lalu berjalan pergi.


"Baik tuan," balas sekretaris Ken mengikuti.


"Yess, sekarang Alan mau siapin semuanya dulu," ucap Alan bersemangat, ia amat tidak sabar untuk segera bekerja kelompok dengan teman barunya, dan bahkan juga untuk mengenal dirinya lebih dalam.


...********...


"Hosh hosh hosh!" ujar Riza ngos-ngosan mengayuh sepeda kayuhnya, sambil sesekali ia menyeka keringat di keningnya. Jarak rumah Riza dengan rumah Alan lumayan jauh. "Kalau gini ujungnya, mending kerja kelompoknya dirumah gua aja," batin Riza sedikit menyesali keputusannya.


Kalian tahu kan, Riza itu tipe anak yang pemalas, tetapi demi nilai dan demi menghindar dari amukan si guru tirex di sekolah, ia harus rela melakukan ini semua.


Akhirnya, dia telah sampai di depan rumah dengan sebuah gerbang yang begitu besar. Mata Riza membulat melihat rumah megah yang kini berada di hadapannya. "Ini beneran rumahnya Alan?" gumam Riza tak percaya.


Berkali-kali Riza mencocokkan alamat yang Alan tuliskan disebuah kertas, dengan nomor rumah yang terpampang di sana.

__ADS_1


"Nomornya cocok kok," ujar Riza menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, dirinya masih tidak percaya bahwa ini adalah rumah temannya, Alan.


"Permisi Dek, cari siapa yah?" tanya seorang Pak satpam penasaran.


"Eh-eeehhh, itu pak! Saya mau ke rumah teman saya Alan."


"Bapak tahu gak, rumahnya dimana?" sambung Riza bertanya.


"Owh tuan Alan, ini rumahnya Dek, silahkan masuk, biar Bapak bukakan gerbangnya," balas pak satpam, lalu pergi untuk membukakan pintu gerbang.


"Tu-Tuan Alan?" kejut Riza mendengar kata Tuan.


Pintu gerbang pun terbuka, Pak satpam mempersilahkan Riza untuk masuk ke dalam. Riza menganggukkan kepala, lalu mengayuh sepeda kayuhnya.


Sesampainya di depan rumah Alan, Riza memarkirkan sepeda kayuhnya di teras. Lalu bergegas menuju pintu rumah dengan menaiki tangga-tangga kecil di sana.


/Tok tok tok/ mengetuk pintu.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, nampak seorang pelayan laki-laki tua dengan kumis tipis putihnya, sedang berdiri di hadapan Riza.


"Apakah anda yang bernama Riza?" tanya pelayanan lelaki tua tersebut yang sontak membuat Riza sedikit terkejut.


"Kok dia tahu nama gua sih? Perasaan gua gak pernah kenalan sama nih kakek-kakek," batin Riza bingung.


"I-iyah, itu saya," angguk Riza menunjuk dirinya sendiri.


"Kalau begitu silahkan masuk, Tuan Alan sudah menunggu anda," ucap pelayan lelaki tua itu mempersilahkan.


Riza pun melangkahkan kakinya memasuki rumah, pandangannya tak henti-hentinya menyorot ke seluruh sudut ruangan. Ia hanya bisa berpikir, ini rumah apa istana? Lalu, tukangnya nggak capek apa bangun rumah sebesar ini?


"Mari saya antar!"


"I... iyah!" jawab Riza manggut-manggut.


Ruangan demi ruangan, lorong demi lorong Riza lalui, bersama dengan seorang pelayan tua yang mengantarkan dirinya.


Hingga, langkah mereka akhirnya terhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu coklat yang tertutup.


/Tok tok tok/ pelayan lelaki tua itu mengetuk pintu, "Tuan Alan, teman anda sudah datang!"


"Persilahkan dia masuk Pak!" sahut Alan dari dalam.


"Masuklah, Tuan Alan sudah menunggu anda," ucap pelayan tua tersebut sembari membukakan pintu.


"Baik, terima kasih," angguk Riza lalu berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.


...********...

__ADS_1


"Selamat datang Riza!" sambut Alan dengan senyum manis disertai kedua lesung dipipinya, merasa senang dengan kedatangan teman barunya.


Riza tak menyahuti perkataan Alan, "Perpustakaan pribadi, yang benar saja!" batin Riza memandang banyaknya rak-rak buku besar di sana. Sudah berkali-kali ia dibuat terkejut dengan rumah temannya.


"Riza!" panggil Alan.


"Eh, iyah?"


"Sini duduk!" suruh Alan.


"Oke," balas Riza, lalu berjalan menghampiri Alan. Mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi semeja dengan Alan.


"Kamu kesulitan nggak cari rumah aku?" tanya Alan.


"Enggak kok, alamat yang lo tulis jelas, alhamdulillah gak nyasar."


"Oke, mau minum dulu gak? Kelihatannya kamu kecapean."


"Hehehehe nggak usah makasih, entar aja kalau tugasnya sudah selesai," tolak Riza cengengesan.


"Ya udah, yuk mulai!" balas Alan, lalu mengerjakan tugas kerja kelompoknya bersama Riza.


Tempat yang nyaman, buku yang lengkap, hembusan angin sepoi-sepoi, serta pemandangan dari luar jendela yang tak kala indah. Sungguh membuat siapapun betah berada di sana. "Kutu buku menangis melihat ini," pikir Riza.


"Jadi dia teman barumu Alan," gumam Elang melihat Adiknya Alan bersama dengan temannya dari layar cctv. Ia tidak bisa melepas sedikitpun pengawasannya dari Adiknya, walaupun saat ini dia sedang bekerja.


"Tuan, ini sesuatu yang anda minta," Ucap sekretaris Ken menaruh sebuah berkas yang Elang minta di atas meja kerjanya.


"Baiklah," jawab Elang dan memeriksa berkas tersebut.


"Nama Riza, umur 17 tahun, asal sekolah SMA Garuda sakti," Elang membaca semua data tentang teman Alan, entah dengan alasan apa ia menginginkan itu semua.


"Kerja bagus Ken," ucap Elang sambil menaruh kembali berkas tersebut, lalu kembali fokus berkutik dengan laptopnya.


"Tuan, bagaimana kalau sampai tuan Alan tahu kalau anda sekarang sedang mengawasinya?" tanya sekretaris Ken.


"Biarkan saja, lagipula aku melakukan ini semua hanya demi melindunginya," jawab Elang.


"Aku harus tahu Alan berteman dengan siapa, darimana dia, dan apa latar belakangnya. Aku tidak peduli kalau sampai dia tidak suka, toh nanti dia pasti akan mengerti, kenapa Kakaknya melakukan semua ini," batin Elang, melirik ke arah sebuah bingkai foto kecil di atas meja. Terdapat foto Elang dan Alan yang begitu dekat.


Elang mengulurkan tangannya, mengambil bingkai foto tersebut. "Tak lain dan tak bukan, Kakaknya melakukan ini semua, hanya karna rasa sayang kepada Adiknya," ujar Elang tersenyum sambil memandangi bingkai foto itu.


"Yah tuan, semoga tuan Alan paham akan maksud baik anda," batin sekretaris Ken senang melihat senyuman kecil di bibir Tuannya.


Saya hanya takut, kalau niat baik anda malah dianggap sebaliknya oleh adik anda.


Siapa yang tidak mau di sayang atau bahkan dilindungi mati-matian oleh seseorang? Sebagian besar orang pasti mau bukan. Tapi, rasa sesak layaknya tercekik dan tersiksa, itulah yang Alan rasakan di bawah lindungan Kakaknya.

__ADS_1


Melindungi dengan cara yang salah, mungkin itulah maksudnya.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2