ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 47


__ADS_3

"A-Angga," ucap Alan yang kini sudah berdiri di hadapan Angga yang masih dengan posisi menjambak rambut Bima.


"A-apa yang kau lakukan?" sambung Alan syok, sembari melihat sekelilingnya. Menatap ketiga orang anak yang sudah terkapar penuh luka, dan Bima dengan posisi duduk yang rambutnya tengah Angga jambak.


"Mereka berempat sudah menyakiti anda Tuan, dan saya harus memberi mereka sebuah pelajaran," jawab Angga.


"Bagaimana Tuan, anda puas? Atau masih ada sesuatu yang perlu saya lakukan kepada mereka untuk anda, kebetulan saya membawa sebuah pisau lipat di dalam saku celana saya. Anda bisa menggunakannya," sambungnya.


"A-apa?" batin Alan, "Apa benar dia Angga?" Alan pun tak percaya, apakah dia Angga atau orang lain, Angga yang tengah berdiri di hadapannya sekarang terlihat lebih bengis dan kejam sama persis seperti Kakaknya Elang.


"Hei kau, cepat minta maaf!" suruh Angga kepada Bima yang tengah tertunduk ke bawah.


Bima hanya diam, tidak mau menuruti apa yang Angga itu minta. "Hah, minta maaf?" lirihnya tersenyum sinis.


"LO DENGER OMONGAN GUA APA ENGGAK!!!" bentak Angga yang hendak melayangkan pukulannya lagi. Akan tetapi....


"Hentikan!" suruh Alan membuat tangan Angga terhenti seketika.


"Lepaskan dia Angga!" sambungnya penuh penekanan.


"Tapi tuan Alan-"


"Kubilang lepaskan!" potong Alan sedikit membentak, melihat Tuannya seperti itu membuat Angga terpaksa melepaskan Bima.


"Ayo kita pulang!" ajak Alan sembari langsung menarik tangan Angga mengajaknya untuk segera pergi dari sana.


Bima yang masih dengan posisi tertunduk dengan perlahan menolehkan kepalanya, melihat ke arah kepergian mereka berdua. "Dasar sialan, sampai kapanpun gua gak bakal ngemis maaf ke lo," marah Bima sambil mengepal erat kedua tangannya.


"Cupu, bantai temen-temen gua pake kekuatan orang lain, haha cewek apa cowok lo," pungkasnya sembari melihat ke arah ketiga temannya.


...*******...


Alan langsung menyuruh Angga untuk segera masuk ke dalam mobil jemputannya, yang sudah menunggu di depan pintu gerbang sekolah.


-Di dalam mobil.


Keadaannya sungguh hening dan sepi, tidak terdengar suara perbincangan antara Alan dan Angga. Mereka berdua saling diam satu sama lain.


Melihat keadaan Tuannya yang sedari tadi mendiamkan dirinya, membuat Angga tidak kuat dan terpaksa untuk angkat bicara. "Tuan Alan!" panggil Angga kepada Alan yang sedari tadi hanya sibuk melihat kearah luar kaca mobil.


"Hm," deham Alan menyahut.

__ADS_1


"Apa anda marah kepada saya?"


"Kalau iya, saya minta maaf!" sambung Angga.


"Kenapa kau memukuli mereka Angga?" ujar Alan yang masih menatap ke arah luar kaca mobil.


"Mereka berempat tidak salah, tapi aku lah yang salah. Aku yang pertama mencari gara-gara dengan mereka, dengan menjadi sok jagoan demi bisa menolong gadis itu, yang bahkan aku sama sekali tidak bisa membantunya."


"Tu-Tuan Alan," batin Angga merasa sedih, membiarkan Tuannya menceritakan semua kejadian tadi kepada dirinya.


Bagaimana sih rasanya menjadi orang lemah? Menjadi orang yang selalu merasa pengecut dan ketakutan di setiap waktu. Berusaha untuk melawan tetapi tetap saja tidak berdaya.


Yah, itulah yang Alan rasakan saat ini. Selama ini dirinya selalu dilindungi oleh sebuah benteng yang kuat, tetapi sekarang benteng yang kokoh itu telah runtuh dan hancur. Sehingga membuat Alan harus merasakan bagaimana kerasnya dunia yang sesungguhnya.


"Haaahh ini mungkin sudah menjadi takdir ku," hela Alan lalu tersenyum kaku.


"Lihatlah dirimu sekarang. Dasi melorot, dua kancing atas baju terbuka, lengan baju di gulung. Mau jadi preman juga nih, iyah?" sambung Alan sembari melihat kondisi pakaian Angga.


"Ma-maaf Tuan! Saya tadi terlalu terbawa suasana," jawab Angga mengalihkan pandangan, kini pipinya sudah merona merah, dan dengan segera kembali merapikan bajunya yang berantakan.


"Haha iyah," tawa Alan melihat tingkah laku lucu bodyguardnya itu.


"Tetaplah seperti ini Angga, jadilah bodyguard yang selalu ku kenal. Jangan sampai kau berubah sikap hanya karna ambisi untuk melindungi ku," batin Alan.


...********...


Dengan segera, Pak satpam membukakan gerbang pintu rumah, untuk memberikan jalan masuk mobil Tuannya ke dalam.


"Tuan Alan, kita sudah sampai," ucap Angga sembari membukakan pintu mobil untuk Tuannya.


"Iyah Angga, terima kasih," jawab Alan sembari keluar dari dalam mobil tersebut.


Tepatnya di depan pintu rumah, sudah ada sekretaris Ken yang sedang berdiri di sana untuk menyambut kedatangan Tuannya.


"Selamat datang Tuan Alan!" sambut sekretaris Ken.


"Iyah Ken," jawab Alan.


"Angga, ada apa dengan baju seragam mu? Sampai berantakan seperti itu," tanya sekretaris Ken kepada Angga, melihat kondisi baju seragam Angga tidak dimasukkan ke dalam celana.


"Tadi ada acara bersih-bersih di sekolah Ken," sahut Alan, membuat Angga bernapas lega.

__ADS_1


"Owh begitu. Baiklah, mari Tuan Alan biar saya bawakan tas sekolah anda," balas sekretaris Ken, lalu mengajak Alan dan Angga untuk masuk ke dalam rumah.


...********...


-Di dalam rumah.


"Kalau begitu, aku pergi ke kamar dulu untuk bersih-bersih," ucap Alan hendak pergi.


"Baik Tuan Alan," jawab sekretaris Ken.


"Oh yah Tuan, jangan lupa anda hari ini harus pergi ke kediaman orang tua anda," sambung sekretaris Ken mengingatkan.


"Hm baiklah, aku akan bersih-bersih sebentar, dan kita bisa segera berangkat," jawab Alan lalu berjalan pergi menuju ke kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar Alan.


Dengan lekas Alan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Hingga, beberapa saat kemudian....


Setelah selesai, Alan langsung mengenakan baju pilihannya yang dirinya ambil dari dalam lemari.


/Bug/


"Auchsss," tak sengaja siku kanan Alan menyenggol sebuah laci meja di sampingnya, dan membuat beberapa buku terjatuh.


"Alan, sampai kapan kau harus terus bersikap ceroboh seperti ini," ucapnya lalu dengan segera membereskan buku-buku yang berserakan itu.


Disaat-saat Alan tengah sibuk untuk membereskan buku-buku tersebut, "Eh foto ini kan," gumam Alan menemukan selembar foto itu lagi terselip diantara sebuah buku.


"Siapa dia?" batinnya merasa penasaran.


"Hari ini aku akan pergi ke rumah Ayah dan Ibunda, apa sebaiknya aku menanyakan soal foto ini juga kepada mereka?"


"Tuan Alan, apa anda sudah siap?" tanya sekretaris Ken dari luar kamar Alan.


"Iyah Ken, aku sudah selesai," jawab Alan sembari memasukkan selembar foto itu ke dalam saku celananya, dan berjalan untuk membukakan pintu.


"Mari tuan, kita berangkat!" ajak sekretaris Ken kepada Alan.


"Baik, ayo!" balas Alan mengangguk.


"Yah, aku harus meminta penjelasan dari Ayah dan Ibunda mengenai foto ini," batin Alan.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah, Alan segera masuk ke dalam mobilnya dengan ditemani sekretaris Ken dan bodyguardnya Angga. Lalu pergi menuju ke rumah kediaman putra.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2