
Riza berjalan dengan rasa perih di bagian siku kanannya, akibat dorongan keras dari Elang membuat siku kanan Riza terluka, darahnya menembus seragam putih yang ia kenakan hingga meninggalkan bercak warna kemerahan.
"Dasar sialan! Untung gak patah tangan gua!" ucap Riza mengumpat, sesekali ia mendesis kesakitan, karena luka tersebut bergesekan dengan kain seragam yang ia kenakan, semakin menambah sensasi rasa perih dan sakit di sana.
Riza berjalan kembali menuju sekolah. Lebih tepatnya di belakang sekolah SMA Garuda sakti, ia berjalan menuju semak-semak dengan beberapa tumpukan kardus. Satu persatu Riza menyingkirkan semua kotak-kotak kardus itu untuk mengambil sebuah sepeda kayuh yang ia sembunyikan.
"Alhamdulillah, untung gak hilang," ujar Riza merasa lega, melihat sepeda kayuh kesayangannya masih utuh dan aman.
Benar, Riza memang sudah berbohong kepada Alan, ia berkata bahwa sepeda kayuhnya telah rusak parah. Itu sebabnya, ia ingin pulang bersama dengan Alan sekaligus bermain di rumahnya. Semua ini, sudah ia rencanakan dengan matang.
"Gua akan buat si Alan benci sama Kakaknya, dengan begitu, dendam gua bakalan lunas. Gua akan berbuat segala cara, agar kedua kakak beradik itu berpisah. Kalau tidak, gua gak akan pernah merasa puas."
"Tuan Elang, saya akan menunjukkan kepada anda bagaimana rasanya kehilangan seorang saudara!"
...********...
"Apa yang kau lakukan tadi Alan, kenapa kau malah melindungi dia?!" kesal Elang kepada Adiknya, Alan yang masih duduk di lantai seraya mengepal tangannya kuat. Ia sama sekali tidak mengerti akan jalan pemikiran Kakaknya itu.
"Kenapa?"
"Apa Kakak merasa kesal karena tidak bisa menghancurkan wajahnya?" lirih Alan tajam kepada Elang.
Sebenarnya, apa yang Kakaknya itu inginkan?
Ia ingin agar aku Alan adiknya bisa hidup bahagia. Tapi apa yang ia lakukan? Menembak, memukul, membunuh. Menyingkirkan semua yang berada di dekatku. Apakah dengan semua itu diriku akan merasa bahagia? Apa aku akan merasa senang melihat orang lain disiksa?
Jika kalian berada di posisi ku sekarang, apa mungkin kalian akan membenci dirinya?
Alan mencoba berdiri secara perlahan, seraya memegang kursi rodanya sebagai tumpuan. Alan ingin duduk kembali di atas kursi rodanya. Sedikit tertatih dan kesusahan, Elang yang merasa kasihan melihat Adiknya, mengulurkan kedua tangannya untuk membantu.
"Tidak perlu kak, aku bisa sendiri," tolak Alan seraya menepis tangan Elang. Ia mencoba duduk sendiri di atas kursi rodanya tanpa bantuan Kakaknya.
Perlahan-lahan akhirnya Alan berhasil mendudukkan tubuhnya di kursi roda, lalu berjalan pergi begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Elang.
Elang yang mendapat perlakuan dingin dari Adiknya, uluran tangan yang siap untuk membantu dirinya kapan saja, ditolak dan tepis begitu saja.
...#Flash back#...
"Tangan kakak Elang hebat yah, mirip sama mainan Supermannya Alan!"
"Hahaha hebat? Hebat darimana?" bingung Elang tergelak tawa mendengar perkataan Adiknya.
"Tangan kakak Elang itu hebat, tangan kakak Elang itu kuat. nanti, kalau Alan sedang dalam kesulitan, Alan mau dibantu sama tangannya Kakak Elang yah!"
__ADS_1
"Hahaha, iyah Alan," gemas Elang seraya mengacak-acak rambut Alan. "Apa sih yang enggak buat Alan?" Sambungnya.
"Hahahaha yey, jadi sekarang Alan punya Superman sungguhan!"
...#Flash back off#...
"Kau sudah tidak butuh tangan hebat Kakak Dek?" gumam Elang merasa kecewa, menatap lekat kedua telapak tangannya.
Kedua telapak tangan yang dulu dibanggakan seperti seorang pahlawan, sekarang disingkirkan seperti layaknya sampah.
"Andhika, apa yang aku lakukan tadi salah?" tanya Elang kepada temannya.
"Menurut ku tidak, tapi kalau menurut Alan kau sudah salah besar."
"Riza baru saja datang, dan kau langsung memarahinya dan bahkan mendorongnya sampai ia terluka, apa kau tidak bisa santai sedikit jadi orang?"
"Bukankah ini yang kau inginkan, kau ingin aku mengetahui tentang data yang kau berikan, lalu memarahinya bukan?" balas Elang.
"Ti-tidak, aku hanya ingin kau mengetahui soal data itu secara lengkap, tapi untuk soal emosi mu itu aku tidak pernah menduganya," ucap Andhika terbata.
"Tapi, sebelum dirimu mengurus lebih lanjut tentang bocah yang bernama Riza itu, sebaiknya kau perbaiki dulu hubungan mu dengan Adikmu," sambung Andhika membuat Elang mengangguk paham.
"Baiklah," balas Elang.
"Yah, terimakasih atas data yang kau berikan, kalau aku sampai tidak mengetahui ini semua lebih awal, aku tidak akan tahu apa yang akan anak itu lakukan."
"Sama-sama."
"Aku akan memberi mu kabar jika ada info menarik lainnya tentang Riza," sambung Andhika seraya pergi melambaikan tangan.
"Terimakasih kawan," batin Elang.
Seperti yang Andhika tadi katakan, Elang memutuskan untuk pergi ke kamar Alan untuk menemui Adiknya.
-Di dalam kamar Alan.
Remaja itu duduk meringkuk di atas kasur sembari menatap sebuah handphone yang tergeletak dekat bantal. "Apa aku harus menelpon Riza?" pikir Alan cemas, ia ingin meminta maaf kepadanya.
Cukup lama Alan memandang benda pipih tersebut, beberapa detik kemudian muncul sebuah notifikasi pesan dari seseorang, seketika Alan antusias dan lekas memeriksa nya.
"Riza," ucap Alan senang, akhirnya mendapatkan pesan dari orang yang sedari tadi ia tunggu.
Riza: "Assalamualaikum Alan!"
__ADS_1
^^^Alan: "Waalaikumussalam Riza, gimana keadaan tangan kanan kamu?"^^^
Riza: "Nggak apa-apa kok Alan, udah diobati jadi gak sakit lagi."
^^^Alan: "Iyah alhamdulilah, sekali lagi aku minta maaf yah za, Kakak aku udah bikin kamu terluka."^^^
Riza: "Santai aja kok Alan, ini semua juga salah gua kok, gua terlalu ngebet pingin main ke rumah lo, padahal dari awal lo sudah bilang jangan dulu."
^^^Alan: "Iyah."^^^
"Kamu memang teman yang baik Riza," batin Alan.
Riza: "Oh yah, entar malem main yuk!"
Riza: "Kita keluar jalan-jalan bareng cari angin, gua ada tempat bagus loh, lo mau kan?"
"Gimana yah?" bingung Alan. "Waktu itu Riza juga pernah ajak, tapi aku tolak karena takut Kakak marah, tapi kalau sekarang?"
Riza: "Alan, mau apa enggak?"
^^^Alan: "Yah, aku mau!"^^^
Alan menerima ajakan dari Riza, selain karna ia ingin keluar main bersama temannya, tapi juga karna rasa tak enak dengan kejadian tadi yang menimpa mereka berdua.
Riza: "Sip, entar gua kasih tahu yah dimana lokasinya."
^^^Alan: "Iyah."^^^
^^^Alan: "Sekali lagi, aku minta maaf yah Za!"^^^
Riza: "Udahlah Alan santai aja, aku off duluan yah, assalamualaikum!"
^^^Alan: "Waalaikumussalam!"^^^
"Sebaiknya aku pergi tanpa kasih beri tahu Kakak. Kumohon kak, satu hari ini saja biarkan aku melakukan apa yang Alan mau."
...********...
-Kamar Riza.
"Datanglah Alan, gua sudah menyiapkan sebuah kejutan yang menarik buat lo di sana," ujar Riza tersenyum licik.
"Setelah sekian lama, akhirnya rencana ku akan berhasil Kak, dengan begini kau akan merasa tenang di sana," sambungnya, seraya menatap ke arah sebuah bingkai foto.
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...