ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 27


__ADS_3

Sesampainya di kediaman ****Elang****.


Alan turun dari dalam mobilnya, tentu saja dengan dibantu Angga si bodyguard barunya, dan sang sopir.


Setelah selesai, Angga membantu Alan untuk mendorong kursi rodanya menuju masuk ke dalam rumah. Saat memasuki rumah, kedatangan mereka sudah disambut oleh beberapa pelayan yang sudah berbaris rapi di sana.


"Selamat datang Tuan Alan!" sambut mereka dengan menundukkan kepala.


"I-iyah," jawab Alan sedikit merasa canggung dengan ini semua.


"Tuan Alan, mau saya siapkan makanan?" tawar Bi Ana.


"M-mmmm, tidak dulu Bi saya masih kenyang, nanti saja!" balas Alan sopan.


"Kalau begitu, saya pergi ke kamar dulu yah Bi," sambungnya pamit.


"Baik Tuan," angguk Bi Ana, lalu melihat kepergian Alan dengan dibantu Angga untuk mendorong kursi rodanya.


"Kehidupan anda seperti pangeran yah Tuan," ucap Angga dalam perjalanan menuju kamar Alan.


"Pangeran apanya?" tanya Alan merasa bingung dengan kalimat yang Angga lontarkan kepada dirinya.


"Kehidupan anda seperti pangeran di dunia nyata, disambut saat memasuki rumah dengan para pelayan yang sudah berbaris rapi di sana, ditawarkan sebuah makanan, rumah yang besar, dan hal enak lainnya."


"Tidak sama seperti saya yang setiap hari makannya cuman mie instan, ditambah lagi Ibu kost galak," sambung Angga mencurahkan isi hatinya, hingga membuat Alan tertawa kecil.


"Anda tertawa tuan?"


"Maaf-maaf, hanya saja ceritamu sungguh lucu Angga," balas Alan yang masih tidak bisa berhenti tertawa.


"Aku mulai mengerti Kak, kenapa Kakak memilih Angga untuk menjadi bodyguard Alan," batin Alan.


"Itu karena, Kakak ingin Angga bukan hanya sekedar untuk menjadi seseorang yang menjaga dan mengawasi ku ketika Kakak Elang pergi, tapi juga untuk menjadi seorang teman supaya Alan tidak merasa kesepian."


"Baiklah Tuan, kita sudah sampai," ucap Angga yang sudah sampai di depan pintu kamar Alan lalu membukanya.


-Di dalam kamar Alan.


"Tuan!" panggil Angga.


"Iyah?" tanya Alan.


"Boleh saya bertanya sesuatu kepada anda?"


"Hm yah, apa?" balas Alan mengiyakan, menunggu apa yang akan Angga tanyakan.


"Gay itu apa?" ucap Angga menanyakan sesuatu yang membuat Alan melotot mendengarnya.


"G-gay itu anu, namanya Pak satpam disekolah kita," jawab Alan.


"Kenapa Angga tiba-tiba menanyakan hal seperti ini?" batin Alan.


"Jadi gitu yah Tuan, saya baru tahu kalau nama Pak satpam disekolah kita itu gay," ucap Angga cengengesan.


"Dia ini polos atau apa sih?" batin Alan menatap curiga ke arah bodyguardnya itu.


"Kalau sudah tidak ada lagi hal yang ingin kau tanyakan, pergilah!" ujar Alan lalu menjalankan kursi rodanya sendiri menggunakan kedua tangannya.

__ADS_1


"Anda mau kemana Tuan?" tanya Angga kepada Alan yang sedang menuju ke salah pintu di dalam kamarnya.


"Aku mau mandi, memangnya kenapa?" balas Alan sembari menoleh kepada Angga.


"Saya ikut Tuan!" seru Angga.


"APA!!!" kejut Alan.


"A-apa maksudmu Angga!" sambung Alan terbata dengan pipi merona merah.


"Tuan Elang berkata, kalau saya harus selalu berada di sisi anda dan mengawasi semua yang sedang anda lakukan, lalu melaporkannya kepada Tuan Elang," jawab Angga dengan polosnya.


"Tapi itu hanya sebuah kamar mandi Angga. Di sana hanya ada air dan beberapa peralatan mandi, tidak mungkin kan, kalau itu semua bisa mencekik ataupun sampai membunuh ku," ucap Alan tajam membuat Angga menelan ludah, Tuannya begitu menakutkan.


"Ba-baik tuan, saya paham," jawab Angga terbata, lalu melihat Alan pergi masuk ke dalam kamar mandi.


"Menakutkan," batin Angga.


...********...


Elang yang masih sibuk berkutik dengan laptopnya, kini menyandarkan belakang kepalanya kepada kursi kerja.


"Haaahhh," hela Elang membuang napas panjang.


"Apa dia baik-baik saja?" batin Elang yang masih sempat memikirkan tentang Adiknya, sudah dari kemarin ia masih belum berbicara dengan Alan. Bahkan sampai sekarang, mereka masih belum bertukar kabar.


"Semoga Angga bisa menjaganya," disaat-saat Elang sedang sibuk mengistirahatkan pikiran, tiba-tiba saja telinganya mendengar nada dering berasal dari handphonenya.


/Drrrtt drrrtt drrrtt/ dengan segera Elang mengambil benda pipih tersebut lalu mengangkatnya, ia merasa begitu antusias dan berpikir itu pasti dari Alan.


^^^**Ibunda**: "Apa, Alan? Ini bunda Elang!"^^^


"Achss, ku kira Alan," batin Elang merasa kecewa.


Elang: "Iyah Bunda, ada apa telepon Elang?"


^^^Ibunda: "Dih, nadanya kok balik jadi datar lagi, mana antusiasnya tadi?"^^^


^^^Ibunda: "Mentang-mentang ini bukan si Alan, jadi dingin gitu sama Bunda."^^^


Elang: "Enggak kok Bunda, Elang nggak akan bisa dingin sama Bunda."


"Anak baik harus nurut sama Bunda, yah!"


^^^Ibunda: "Hm iyah deh."^^^


^^^Ibunda: "Kamu dimana sekarang?"^^^


Elang: "Elang seka-"


^^^Ibunda: "Kenapa gak izin dulu sama Bunda kalau mau pergi keluar negeri! Terus Alan Adik kamu siapa yang jagain? Walau kamu sudah gede tapi juga harus-"^^^


"Elang sudah izin kok Bun sama Ayah," potong Ayah Elang mendengar istrinya yang nyerocos menceramahi anaknya.


"Terus kenapa Ayah nggak bilang sama Bunda! Harusnya Ayah kan bilang dulu sama Bunda, kalau seperti ini gimana, Bunda jadi gak tahu kabar kan!" sebal Bunda kepada suaminya, dan sedangkan Elang hanya bisa mendengar pertengkaran mereka di panggilan telepon yang masih menyala.


"Astaga," batin Elang memijat keningnya, saat Ibunda marah, Ayah ataupun Elang sama sekali tidak bisa melawan.

__ADS_1


"Iyah Bunda maaf, Ayah lupa," ucap ayah khilaf.


"Lupa-lupa," ledek Ibunda.


^^^Ibunda: "Elang!"^^^


Elang: "Iyah Bunda?"


^^^Ibunda: "Kalau kamu pulang, Bunda mau kamu bawa oleh-oleh buat Bunda!"^^^


Elang: "Iyah Bunda, memang Bunda mau Elang bawain apa?"


Elang: "Baju, makanan, kosmetik?"


^^^Ibunda: "Bukan."^^^


Elang: "Terus bunda maunya apa?"


Ibunda: "Calon mantu!"


"Astagfirullah, kuatkanlah hambamu ini ya Allah," batin Elang mencoba untuk sabar.


Elang: "Kalau urusan itu nanti aja Bunda, Elang masih belum kepikiran."


^^^Ibunda: "Terus mau sampai kapan? Kapan kamu kawinnya Elang?!"^^^


Elang: "Bunda, Elang lanjut kerja dulu yah, bye Bunda assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!"


/Tut Tut Tut/ menutup telepon.


"Eh malah dimatiin. Dasar, Ayah sama anak sama aja," sebal Ibunda sambil memegang erat handphonenya.


"Ayah dari tadi diem loh bunda."


...********...


"Astaga," ucap Elang membuang napas panjang, menaruh kembali handphonenya di atas meja kerja. Akhirnya ia bisa kabur dari pertanyaan yang amat tidak dirinya sukai. Bukannya benci, hanya saja ia masih belum menemukan jawabannya untuk saat ini.


/Tok tok tok/ "Tuan Elang!" panggil sekretaris Ken sambil mengetuk pintu.


"Masuklah!" balas Elang, lalu melihat sekretarisnya berjalan memasuki ruangan.


"Ini beberapa data yang anda inginkan Tuan," ucap sekretaris Ken membawa berkas-berkas yang Elang minta.


"Baiklah, taruh di atas meja!" titah Elang, lalu dibalas anggukan oleh sekretaris Ken dan menaruhnya.


"Ada apa dengan anda Tuan? Apa anda merasa kurang sehat?" tanya sekretaris Ken khawatir kepada Tuannya.


"Tidak Ken, hanya saja aku mendapat tagihan pertanyaan itu lagi."


"Haha, mungkin Nyonya sudah tidak sabar untuk menjadi seorang nenek Tuan," balas sekretaris Ken yang sudah mengerti mengenai 'pertanyaan' yang Tuannya itu maksud.


"Aku masih belum menemukan jawabannya," ucap Elang lalu memutar kursi kerjanya, menghadap ke arah jendela besar yang nampak pemandangan seluruh kota.


"Aku malah berharap, itu adalah panggilan dari Alan," sambungnya sembari menatap langit jingga bercampur kuning keemasan, sebagai bentuk perpisahan kalau sebentar lagi malam akan tiba.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2