
..."Dulu kita tumbuh sebagai saudara, sekarang kita tumbuh sebagai teman."...
...-Elang dan Alan-...
...********...
Malam pun tiba, kegelapan datang menyelimuti angkasa. Bulan menampakkan wujudnya dengan ribuan bintang yang bercahaya.
Alan, berteman hati yang gelisah, duduk sendirian di atas ranjang kasurnya. Kedua bola mata berwarna coklat menatap lekat ke arah handphone yang sedari tadi dia pegang.
"Bagaimana kabar Kakak?" tanya Alan merasa cemas, menatap kontak bernamakan 'Kak Elang' di layar handphonenya. "Apa aku harus menelpon Kakak, untuk menanyakan kabarnya?"
"Haah," Alan memantapkan hatinya, menekan tombol panggil berwarna hijau itu.
...-Kak Elang-...
Elang: "Assalamualaikum Alan, ada apa?"
Elang: "Alan, Dek! Kamu masih di sana?"
Alan hanya diam tidak menyahuti panggilan Kakaknya, ia bingung harus berkata apa. Akhirnya mereka berdua bisa berbicara, selepas kejadian yang mengerikan waktu itu.
Alan: "Waalaikumussalam, H-halo kak!"
^^^Elang: "Iyah Alan!"^^^
Nada percakapan mereka berdua terdengar formal dan canggung, tidak sama seperti biasanya.
Alan: "Bagaimana kabar Kakak di sana?"
^^^Elang: "Kakak baik-baik saja Alan, kakak sehat."^^^
Alan: "Owh syukurlah."
^^^Elang: "Memangnya kenapa? Apa si Adik mulai merindukan Kakaknya." Sampai Elang mencoba untuk mencairkannya.^^^
Alan: "Ti-tidak, sama sekali tidak!"
"Yah Kak, Alan rindu kakak," ucapan Alan sangat berbanding terbalik dengan isi hatinya. Sebenarnya, remaja itu amat merindukan Kakaknya.
...********...
..."Seorang saudara terkadang malu untuk mengungkapkan tentang isi hatinya kepada saudara lainnya, walaupun itu hanyalah sebuah Kalimat sederhana."...
...-Alan Angkasa Putra-...
...********...
^^^Elang: "Aku senang kau menelpon ku Alan, aku kira kau akan membenciku setelah kejadian waktu itu."^^^
Alan: "Itu bukan salah Kakak, itu salah Alan. Jadi, maafin Alan yah kak!"
^^^Elang: "Buat apa kau meminta maaf, Ini mungkin sudah takdirnya. Baiklah, apa kau meneleponku malam-malam hanya untuk mengatakan hal ini?"^^^
__ADS_1
^^^Elang: "Lupakan itu Alan, berhenti memikirkan tentang itu semua. Bagaimana dengan Angga, apa dia sudah menjagamu dengan baik?"^^^
Alan: "Yah, dia bodyguard yang baik dan juga unik "
^^^Elang: "Syukurlah, aku senang mendengarnya."^^^
Alan: "Oh yah, kapan Kakak pulang?"
^^^Elang: "Soal itu, aku masih belum pasti Alan. Di sini masih ada banyak urusan yang harus aku kerjakan, tapi tenang saja."^^^
^^^Elang: "Aku akan pulang, sebelum hari ulang tahunmu."^^^
Alan: "Hm yah."
^^^Elang: "Ini sudah malam, tidurlah! Hatimu pasti sudah lega bukan, sudah berbicara dengan Kakak."^^^
Alan: "I-iyah."
^^^Elang: "Selamat malam Alan, mimpi indah."^^^
Alan: "Yah Kak, selamat malam."
/Tut Tut Tut/ panggilan diakhiri.
"Akhirnya, aku bisa tidur dengan tenang sekarang," gumam mereka berdua lalu perlahan menutup mata.
...********...
Keesokan harinya....
Alan sedang bersantai di sana dengan didampingi oleh bodyguard barunya, yah siapa lagi kalau bukan Angga.
Dia menutup kedua matanya, merasakan semilir angin sepoi-sepoi menerpa lembut kulit wajahnya, menggoyang-goyangkan riang pucuk-pucuk rambutnya.
"Angga!" panggil Alan sembari mengedarkan pandangan ke seluruh bagian taman.
"Iyah Tuan?" jawab Angga yang tengah berdiri di sampingnya.
"Mungkin sebentar lagi Kakak akan segera pulang, dan sebentar lagi ulang tahun ku juga akan datang," ucap Alan tak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Saat dia pulang, aku.... ingin memberikannya sebuah kejutan," sambung Alan yang sempat menjeda kalimatnya.
"Angga!" lirihnya memanggil.
"Iyah Tuan?"
"Apa penyakit lumpuh bisa disembuhkan?" tanya Alan menoleh ke arah Angga.
"A-APA, ja-jangan bilang kalau..."
"Yah Angga, aku ingin ketika Kakak datang. Aku sedang berdiri di hadapannya dan mengatakan kalau Adiknya sudah kembali seperti dulu kala," ujar Alan memotong kalimat Angga yang masih dengan raut wajah terkejutnya.
"Kejutan yang menarik bukan?"
__ADS_1
"Tapi Tuan, apakah anda sudah memikirkannya matang-matang? Bagaimana kalau Tuan Elang marah?" khawatir Angga akan apa yang Alan inginkan.
"Tenanglah Angga, tidak mungkin dia marah. Dia pasti senang, dengan kembalinya kedua kakiku ini aku pasti tidak akan merepotkan Kakak lagi, dan hubungan kami akan kembali seperti dulu lagi," jawab Alan yang sudah bisa membayangkan semuanya di dalam pikirannya.
"Jadi tolong Angga, carikan seorang dokter untukku. Kumohon, bantu aku!" sambung Alan memohon kepada Angga, dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Tapi Tuan, saya ditugaskan hanya untuk menjaga dan mengawasi anda selama Tuan Elang pergi, bukan untuk membantu mengembalikan kedua kaki anda," jawab Angga menolak, ia tidak mau melakukan sesuatu di luar kehendaknya.
"Tapi, membuatku bahagia dan menuruti apa yang aku inginkan itu juga bagian dari tugasmu bukan?" ujar Alan.
"Benar Tuan, tapi kan..."
"Kumohon Angga, sekali ini saja. Lakukan apa yang aku inginkan, carikan aku seorang dokter, kumohon!"
Angga yang tak kuasa melihat Tuannya memohon di hadapan dirinya, ia merasa tak tega. "Baiklah Tuan, saya coba," balas Angga terpaksa, lalu dibalas senyuman lebar oleh Alan.
"Terimakasih Angga, terimakasih banyak!"
...********...
-Rumah sakit negara Y.
Angga dan Alan kini sedang berada di ruang tunggu, menunggu nama mereka untuk segera dipanggil ke dalam.
"Sebaiknya anda memikirkannya sekali lagi Tuan, sebelum kita masuk ke dalam," ucap Angga masih merasa gelisah, dengan keputusan yang Alan buat.
"Aku yakin Angga, keputusan ku sudah bulat. Kalau seumpama sekarang kau sedang berada diposisi ku, kau pasti akan mengerti bagaimana perasaanku," jawaban Alan seketika membuat mulut Angga terbungkam, ia tidak melarang Tuannya berkeinginan untuk sembuh dari lumpuhnya. Hanya saja, bukankah keluarga juga harus mengetahuinya.
"Untuk yang satu ini, saya merasa khawatir. Semoga saja, Tuan Elang senang dan mau mengerti," batin Angga.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya nama mereka pun dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan.
Disaat mereka berdua memasuki ruangan, sudah disambut dengan seorang dokter yang tengah duduk di kursinya, dengan mengenakan jas putih serta stetoskop yang melingkar di lehernya.
"Hallo Tuan, selamat datang!" sambut sang dokter hangat, lalu dibalas dengan senyuman oleh keduanya.
Angga menempatkan kursi roda Alan, tepat di hadapan sang dokter.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang dokter.
"Dokter, saya ingin sembuh," jawab Alan lalu membuat dokter itu mengangguk paham. Ia mengerti apa yang pasiennya itu maksud.
"Apa yang menyebabkan kaki anda lumpuh?" tanya sang dokter.
"Karena sebuah kecelakaan dok. Tapi, ini bisa disembuhkan kan dokter?"
"Mmm," deham dokter berpikir.
"Kemungkinan saja bisa, tapi membutuhkan waktu yang cukup lama, dan disamping itu semua, anda juga perlu melatih kaki anda untuk bergerak," sambung sang dokter membuat Alan tersenyum kecil mendengarnya. Ia merasa ada sebuah harapan untuk pulih kembali.
"Yah dok, lakukan apapun untuk membuat kaki saya pulih kembali," balas Alan sudah tak sabar, untuk merasakan kembali kedua kakinya.
Dengan kembalinya kedua kaki ku ini, Kakak Elang yang dulu akan kembali lagi.
__ADS_1
Dengan kembalinya kedua kaki ku ini, kakak Elang tidak perlu repot untuk melindungi dan menjagaku lagi, dan kehidupan ku yang bahagia akan kembali.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...