
..."Kumohon bangunlah, kami semua merindukanmu."...
...********...
Keesokan harinya....
-Di rumah sakit negara Y.
Di dalam ruang pasien, Elang masih saja tertidur dengan mata terpejam, terbaring lemah diatas kasur. Pria itu masih belum juga bangun dari komanya.
"Hoam," Alan menguap sembari meregangkan kedua tangannya, semalaman ia tertidur di samping tempat tidur Kakaknya untuk menemani laki-laki itu.
"Kakak," pandangan Alan seketika berubah menjadi sendu, disaat menatap ke arah wajah Kakaknya yang masih belum juga membuka kedua matanya. "Kakak, kumohon bangunlah!" gumam Alan merasa sedih sembari memegang tangan Elang yang terpasang infus.
"Hiks, bangun Kak bangunlah! Kumohon bangun kak, lihat Alan ada di sini, Alan di sini di samping Kakak," tangis Alan melihat Elang, sembari menaruh telapak tangan Kakaknya di pipinya.
Entah kenapa, untuk saat ini aku rindu akan suaranya.
Aku rindu akan tatapan kedua matanya, aku rindu akan belain tangannya.
Aku rindu akan kembali hadirnya.
"Hiks bangun Kak, Kakak Elang nggak mau lihat Alan, Kakak Elang nggak mau hapus air mata di pipi Alan, kakak Elang nggak mau tenangin Alan?"
"Kenapa Kakak gak pernah jujur sama Alan kalau Kakak punya penyakit kanker? Kenapa Kakak selalu simpan semua beban Kakak sendiri?"
"Hiks, Alan ini Adik Kakak, kita ini saudara. Bunda selalu bilang kalau kita harus saling membantu, dan Alan juga ingin bantu Kakak dan buat Kakak bahagia," sambung Alan yang masih menangis sembari menatap ke arah wajah Kakaknya.
Apa kau sudah gila Alan? Berbicara sendiri dengan orang yang sedang mengalami koma.
Apa kau yakin Kakak mu bisa mendengarnya? Yah, berharap. Aku hanya bisa berharap Kakak Elang dapat mendengar semua apa yang Alan katakan.
/Tok tok tok/ terdengar suara ketukan pintu membuat Alan sedikit terkejut, dengan segera ia menghapus air matanya dan bergegas untuk membukakan pintu tersebut.
Alan membuka pintu dan disambut oleh kedatangan Andhika, dengan membawa sebuah kresek kecil ditangan kanannya.
"Kak Andhika," ucap Alan kepada Andhika yang kini sedang berdiri di hadapannya.
"Mata dia sembap," batin Andhika sembari menatap mata Alan yang sedikit bengkak.
"Iyah," jawab Andhika.
"Dimana Elang?" tanya Andhika.
__ADS_1
"Kakak ada di dalam," balas Alan.
"Apa dia sudah bangun?"
"Mmm," jawab Alan menggeleng pelan dengan kepala menunduk.
"Haaah baiklah, apa kau sudah makan?" hela Andhika lalu bertanya sambil memegang pundak Alan.
"Be-belum kak," jawab Alan.
"Kalau begitu ini, makanlah! Aku tahu kau pasti merasa sangat sedih akan kondisi Elang sekarang. Tapi kau juga harus menjaga kesehatan mu Alan, jangan sampai ketika Kakak mu sadar nanti melihat Adiknya menjadi kurus karena terlalu sering menangis," balas Andhika sembari menyodorkan sebuah kresek kecil berisi makanan kepada Alan.
"Iyah Kak, terima kasih!" ujar Alan sedikit merasa tidak enak.
"Sama-sama," balas Andhika.
"Kalau begitu, Alan makannya di sana aja yah kak," ucap Alan kepada Andhika lalu dibalas anggukan olehnya.
"Yah."
Selepas kepergian Alan, Andhika bergegas masuk ke dalam kamar pasien, tempat dimana Elang dirawat.
-Di dalam kamar pasien.
Andhika mendapati sahabatnya yang sedang terbaring lemah di atas kasur sembari masih menutup kedua matanya, dengan sebuah infus dan alat ventilator yang terpasang di hidungnya.
Suasananya begitu hening, tidak berisik seperti biasanya. Andhika yang selalu menggoda Elang, dan Elang yang selalu merasa kesal dengan kelakuan sahabat gilanya itu, mereka berdua tidak pernah bisa akur.
Tapi sekarang berbeda, Andhika hanya bisa diam tidak ada lagi orang yang bisa ia goda dan jahili. Karena saat ini, sahabatnya sedang tertidur dalam koma.
"Hai bro!" sapa Andhika kepada Elang, tapi kali ini ia hanya diam.
"Hai kutub, lo gak mau sambut sahabat lo yang tampan dan penuh akan pesona ini?" ucap Andhika sekali lagi ,tapi Elang masih saja diam.
Kedua bola matanya melihat ke arah tangan sahabatnya yang terpasang infus. Hatinya merasa sakit dan sesak, ia merasa sangat sedih melihat keadaan sahabatnya seperti ini.
...********...
Beberapa bulan yang lalu....
-Cafe Y.
Sepulang dari kerja, Andhika dan Elang menyempatkan untuk meminum kopi bersama, selain untuk melepas penat, mereka juga ingin mengobrol bersama.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat Andhika?" lirih Elang kepada Andhika sembari meminum secangkir kopi hitam.
"Minum kopi mu dulu, nanti keburu dingin," sambung Elang yang masih tidak mendapat jawaban dari Andhika. Anak itu masih saja sibuk memandangi ke arah objek yang menurutnya sangat menarik.
"Ck, anak nih anak kenapa sih?" batin Elang merasa sebal, ia seperti berbicara dengan sebuah patung bukannya manusia.
"Bro, cantik yah," ucap Andhika yang akhirnya membuka suara, tapi masih tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Eh patung bisa bicara ternyata," batin Elang yang lalu mengikuti kemana arah pandangan Andhika pergi.
"Haha, dasar buaya," ujar Elang meledek sahabatnya itu. Jadi sedari tadi dia hanya sibuk memandangi salah satu pelayan wanita di sana. Menyebalkan!
"Bukan buaya, cuman wajah ku saja yang terlalu tampan, makanya banyak yang suka," balas Andhika dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa.
"Memangnya kenapa? Iri yah?!"
"Nggak, kenapa harus iri. Gak ada yang bisa dibanggain," balas Elang kembali menyeruput kopi hitamnya.
"Hoho dasar Mas kutub. Oh yah, katanya kemarin kau habis dijodohin sama cewe cantik, sampai dibawa ke rumah lagi. Cieee Mas kutub dapet jodoh," goda Andhika.
"Dia aku tolak," jawab Elang santai.
"What? Kenapa ditolak bro! Itu namanya rezeki, gak baik," balas Andhika tiba-tiba menjadi kesal, andai itu dirinya pasti nggak bakalan ditolak.
"Aku tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu," dingin Elang.
"Maksud mu, jodoh tidak penting?" tanya Andhika.
"Bukannya tidak penting, tapi untuk sekarang Alan lebih penting," jawab Elang, si Kakak itu lebih mementingkan Adiknya dari segalanya.
"Kau sudah tahukan mengenai penyakit kanker yang sedang ku derita?" sambung Elang membuat Andhika manggut-manggut sebagai jawabannya.
"Dokter mengatakan kalau hidupku bisa dihitung dengan jari, mungkin tak lama lagi aku akan segera pergi. Jadi, aku ingin menghabiskan sisa-sisa hidupku hanya untuk membahagiakan Adikku."
"Tapi, aku juga tidak bisa terlalu percaya dengan apa yang dokter itu katakan. Aku hanya bisa melakukan apa yang ku bisa, membuat Alan merasa aman dan bahagia di sisiku itu sudah cukup, dan aku akan mati dengan tanpa rasa bersalah dan menyesal," sambung Elang.
"Terserah apa yang kau katakan, tapi jangan mengatakan kata mati di hadapan ku Elang, itu serasa kau ingin meninggalkan kami secepatnya," ucap Andhika.
"Haha, apa kau takut buaya? Tenang saja, aku tidak akan menyerah semudah itu," balas Elang.
...********...
"Waktu itu kau mengatakan, kau tidak akan pernah mencoba untuk membuat Alan menangis bukan?" ucap Andhika.
__ADS_1
"Tapi tadi aku melihat dirinya menangis Elang, dia menangis melihat Kakaknya yang tak kunjung bangun juga dari koma. Aku yakin Elang, kau tidak akan menyerah begitu saja, kau akan bangun dan berkumpul lagi bersama kami semua," sambung Andhika sembari membelai lembut kepala Elang.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...