
..."Kado terindah yang pernah Tuhan berikan, ialah disaat aku terlahir di dalam keluarga dan memiliki kakak yang sempurna seperti Kak Elang."...
...-Alan Angkasa putra-...
...*******...
"TUAN ANDHIKA, TOLONG BANTU SAYA!!!" teriak sekretaris Ken meminta bantuan, Elang yang sudah lemah sembari mencengkeram dadanya erat, dirinya terus mengerang kesakitan. Membuat Andhika lekas berlari menghampiri mereka berdua, untuk membantu memapah Elang menuju kamarnya.
"Kak Elang?!" batin Alan syok mematung ditempat, ia masih tidak paham dengan pemandangan apa yang barusan dirinya lihat, Kak Elang kenapa? Baru kali ini Alan melihat wajah Kakaknya yang pucat dan lemah.
...********...
Selang tak begitu lama, akhirnya dokter pun datang, lalu bergegas masuk ke dalam kamar Elang untuk memeriksa keadaannya. Dan sedangkan Alan masih harus menunggu di luar kamar Kakaknya dengan perasaan yang cemas.
"Separah itu kah sakit Kakak, hingga harus memanggil dokter ke rumah?" gumam Alan gelisah, kedua matanya terus menerawang ke arah pintu coklat di hadapannya, berharap Kakaknya Elang baik-baik saja di dalam sana.
Apa kalian tahu? Semarah-marahnya seorang Adik kepada Kakaknya, ataupun seorang Kakak kepada Adiknya. Mereka tetaplah saudara, yang akan merasa takut untuk kehilangan satu sama lain.
Beberapa menit kemudian akhirnya pintu pun terbuka, dokter berjalan keluar disusul dengan sekretaris Ken dan Andhika di belakangnya.
"Bagaimana keadaan Kakak saya dok?" tanya Alan cemas.
"Kakak kamu baik-baik saja, dia cuman butuh waktu untuk istirahat," balas sang dokter kepada Alan dengan raut wajah ketakutannya.
"Sebenarnya, Kakak saya sakit apa?" tanya Alan sekali lagi.
"Tuan Elang-"
"Maaf kalau saya menyela," ucap sekretaris Ken tiba-tiba memotong ucapan sang dokter. Sekretaris Ken terpaksa melakukannya, karna ia harus menjaga amanah dari Tuannya, jangan sampai Alan Adiknya tahu mengenai soal penyakit yang di derita oleh dirinya.
"Tuan Alan, sebaiknya kalau anda khawatir akan keadaan Tuan Elang, temui saja beliau di dalam," sambung sekretaris Ken.
"Baiklah," angguk Alan lalu berjalan dengan menaiki kursi rodanya, masuk ke dalam kamar Kakaknya.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan-Tuan!" pamit sang dokter kepada kedua lelaki di hadapannya.
"Yah dokter, silahkan! Dan terima kasih atas bantuannya," balas Andhika mempersilahkan, lalu dokter itupun keluar dengan diantar salah satu pelayan.
"Sekretaris Ken!" panggil Andhika.
"Iyah Tuan?"
"Kenapa kau menyela perkataan dokter tadi?" tanya Andhika penasaran.
"Karena, saya hanya ingin menjaga amanah dari Tuan Elang," balas sekretaris Ken kepada Andhika.
"Haahh begitu yah," ucap Andhika menghela napas.
"Elang Elang, dasar si kutub utara, kau terlalu memanjakan adik mu itu kawan," batin Andhika.
__ADS_1
...********...
Sedangkan di dalam kamar Elang, Alan berjalan dengan kursi rodanya, menghampiri sang Kakak yang tengah terbaring di atas kasur dengan mata setengah terbuka.
"Kakak," lirih Alan memanggil Elang dengan raut wajah kasihan.
"Alan," balas Elang menoleh, menatap wajah Adiknya yang sudah berada di samping kiri kasur.
"Kamu ngapain disini?" sambung Elang bertanya dengan suara yang sedikit serak.
"Bagaimana keadaan kakak?" tanya Alan.
"Kakak baik-baik aja kok, kamu gak perlu khawatir," balas Elang seraya mengangkat tangan kanannya, lalu mendaratkannya tepat di atas kepala Alan.
"Sebenarnya Kakak Elang sakit apa?" tanya Alan, tanpa sadar setetes air mata itu jatuh membasahi pipinya.
Kenapa aku menangis? Remaja itu pun juga tidak mengerti, apa alasan dirinya meneteskan sebulir air mata itu. Tapi.... melihat Kakaknya dalam kondisi seperti ini, pemandangan ini tidak biasa untuknya.
"Kakak nggak sakit apa-apa, cuman butuh istirahat aja," balas Elang dengan senyum simpulnya lalu menurunkan tangannya.
"Kakak!" panggil Alan.
"Iyah?" tanya Elang.
"Alan hari ini tidur sama Kakak yah," pinta Alan tiba-tiba, membuat Elang terkejut mendengarnya.
"Memangnya kenapa, kamu takut tidur sendirian?"
Alan perlahan bangkit dari kursi rodanya, lalu pelan-pelan merebahkan tubuhnya di samping Elang.
"Tidurlah!" suruh Elang seraya membelai lembut kepala Adiknya.
"Iyah," angguk Alan lalu memeluk erat tubuh Kakaknya, ia ingin merasakan kembali kehangatan dan kasih sayangnya.
"Cukup satu hari ini saja, jadilah Kakak Elang ku yang dulu."
Elang mengerti tentang perasaan Adiknya, ia membalas pelukan itu dengan rasa penuh kasih sayang.
Kakak sebenarnya sakit apa?
Kenapa Kakak tidak mau jujur?
Kenapa kakak tidak mau mengungkapkan semua isi hati, dan bahkan derita Kakak kepada Alan.
"Alan tahu, sebenarnya saat ini kakak Elang sedang lelah. Cuman kakak tidak mau terlihat lemah di hadapan adiknya," batin Alan yang masih dalam dekapan Elang, remaja itu dengan perlahan menutup matanya.
"Alan, jika seandainya apa yang dokter itu katakan benar. Aku mohon, peluklah aku seperti apa yang sedang kau lakukan sekarang, peluklah aku dengan penuh kasih sayang dan kehangatan, tepat di saat hari itu tiba," batin Elang lalu perlahan menutup matanya.
...********...
__ADS_1
-Ruang tamu.
"Aku hanya bisa berharap, agar kedua kakak beradik itu terus bersama. Aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika mereka berdua sampai terpisah," ucap Andhika yang sedang duduk santai di sofa ruang tamu.
"Bukannya aku memuji Elang, hanya saja, jika seandainya sekarang aku sedang berada di posisinya, aku tidak akan sanggup Ken," sambung Andhika sembari menoleh kearah sekretaris Ken yang sedang berdiri di sampingnya.
"Bagaimana anda bisa tahu, kalau anda tidak mungkin sanggup?" tanya sekretaris Ken.
"Tentu saja, tentu saja aku tahu, karena aku mengerti apa yang sedang Elang rasakan saat ini," balas Andhika.
"Apa Tuan memiliki orang yang terkasih?"
"Yah, Tentu saja ada," jawab Andhika seraya berdiri menegakkan badannya, merapikan jas yang ia kenakan.
"Seorang laki-laki?"
"Bukan, dia wanita," jawab Andhika.
"Apa dia sesosok wanita yang spesial dihidup anda?"
"Bukan spesial.... tapi sangat spesial."
"Sudahlah, aku mau pulang, titipkan salam ku kepada Elang dan Alan," sambung Andhika lalu pergi berjalan keluar rumah dari kediaman Elang.
Dirinya menghampiri sebuah mobil hitam dengan seorang sopir yang sudah menunggu untuk menjemputnya.
"Silahkan Tuan!" ucap sang sopir membukakan pintu mobil untuk Andhika.
"Antarkan aku ke tempat biasanya!" suruh Andhika kepada sopirnya.
"Baik Tuan," jawab sang sopir yang sudah mengerti kemana tujuan yang Tuannya itu maksud.
...********...
Sesampainya di tempat tujuan, Andhika turun dari dalam mobilnya, seraya membawa keranjang dengan isian bunga mawar di dalamnya.
Andhika terus melangkah menyusuri jalan, hingga sampailah ia di sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama Aqila Putri Andara di sana.
Andhika berjongkok di samping makam tersebut, lalu menatap lekat-lekat nama yang tertulis di atas batu nisan itu. Ia memegang nya dan mengelusnya, dengan membayangkan bahwa batu nisan itu adalah orang yang sedang ia rindukan.
"Adek, Kakak di sini," ucap Andhika menatap sendu ke arah makam itu.
Siapa wanita yang paling spesial bagi hidup Andhika?
Bukan wanita yang berparas cantik dengan senyum manisnya, tapi seorang anak kecil yang imut dengan tingkah lakunya yang menggemaskan. Membuat Andhika rindu akan kembali hadirnya.
..."Pecahnya hati seorang kakak, ialah disaat adiknya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya."...
...-Andhika Andaresta-...
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...