ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 13


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini? Sekarang belum waktunya kau kembali ke negara Y kan?" tanya Elang kepada Andhika sembari masih sibuk berkutik dengan laptopnya.


"Memangnya kenapa? Rapat diajukan, jadi aku bisa pulang lebih cepat. Lain kali coba lah beri aku proyek yang lebih mudah, apa kau tidak merasa kasihan kepada temanmu yang tampan ini?"


"Tidak, tidak sama sekali," tukas Elang dengan wajah datarnya.


"Malahan aku berharap agar kau lebih lama di sana, supaya suasana kantorku jauh lebih tenang dan tidak berisik, akibat ulahmu yang tidak bisa berhenti dengan aksi sok tebar pesona mu itu," sambung Elang.


"Ayolah kawan! Bukankah suara-suara sorakan itu begitu indah? Lagi pula, aku hanya ingin menghidupkan suasana di kantor perusahaan mu ini saja, agar tidak seram dan tegang akibat boss mereka yang dingin dan menyeramkan," balas Andhika menyindir Elang.


/Tok tok tok/ suara ketukan pintu.


"Ken!" ucap Elang kepada sekretaris Ken, memintanya untuk membukakan pintu.


Sekretaris Ken menganggukkan kepala, lalu berjalan menuju pintu dan membukanya.


Nampak seorang karyawan wanita dengan membawa secangkir kopi hitam.


"Eh Dedek manis," ucap Andhika kepada karyawan wanita tersebut, yang tadi ia suruh untuk membuatkannya secangkir kopi.


"Tu-Tuan Andhika, ini kopi anda," ujar karyawan wanita tersebut gemetar, ia merasa takut dengan Elang atasannya. Elang sama sekali tidak suka, dengan siapapun yang berani meninggalkan pekerjaan sebelum selesai sepenuhnya.


"Sini cantik!" suruh Andhika sembari melambaikan tangan.


Karyawan wanita tersebut hanya bisa mengangguk dan menelan ludah, sembari berjalan penuh keraguan dan ketakutan menuju Andhika.


"I-ini Tuan," ujarnya sembari memberikan secangkir kopi hitam tersebut kepada Andhika.


"Terima kasih Dek manis," balas Andhika lalu menerima minuman tersebut.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Elang kepada karyawannya, membuat wanita itu semakin ketakutan.


"Sa... saya membawakan kopi untuk Tuan Andhika, Tuan Elang," jawabnya seraya menunduk, tidak berani menatap wajah Elang yang sudah memerah.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Elang.


"Tu... Tuan Andhika," jawab karyawan wanita tersebut semakin takut, jantungnya berdegup tak karuan, dengan kedua telapak tangannya yang basah mengeluarkan keringat dingin.


"Siapa boss mu? Apakah Tuan Andhika pemilik perusahaan ini? Apa dia yang berkuasa di sini, hingga bisa memerintah mu melakukan apapun sampai meninggalkan urusan pekerjaanmu?!"


"Ti... tidak tuan, anda adalah..."


"Yo yo sudahlah kalian berdua, ayolah! Apakah hanya karna segelas kopi hitam membuat kalian bertengkar?"


"Yuk Dek keluar dulu, kamu pasti gak mau kan liat boss Tuan Elang yang ganteng ini ngamuk," sambung Andhika mencoba melerai, lalu berdiri mengantarkan karyawan wanita tersebut menuju pintu keluar. Sebenarnya, Andhika sendiripun juga mulai merasa takut dengan sikap Elang.

__ADS_1


Setelah kepergian karyawan wanita itu, akhirnya Andhika bisa bernafas lega.


"Ayolah Elang, apa begitu sikapmu kepada wanita?" tanya Andhika heran, berjalan menghampiri Elang.


"Aku melakukan apa yang menurutku benar, meninggalkan pekerjaan penting hanya untuk membuatkan segelas kopi tanpa perintah dari atasannya, dan lebih mementingkan orang asing, bagaimana jika itu dirimu?"


"Yaaahhh, pasti aku juga akan merasa kesal dan marah sepertimu," balas Andhika sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu.


"Tuan Elang, tapi Andhika imut ini bukan orang asing kan?" sambung Andhika bertanya.


"Hm," deham Elang.


"Sekretaris Ken apa kau lapar?" tanya Andhika kepada sekretaris Ken tiba-tiba.


"Ti-"


"Elang, sekretaris mu ini lapar! Apa kau tidak merasa kasihan?" ucap Andhika memotong perkataan sekretaris Ken.


"Ti... tidak Tuan, saya...."


"Apa kau lapar?" tanya Elang seraya menatap ke arah sekretarisnya.


"Saya...." jawab sekretaris Ken menjeda kalimatnya, ia bingung harus menjawab apa.


Elang hanya diam menatap sekretaris Ken, dari gelagatnya ia sudah paham kalau sekretarisnya memang lapar, tapi ia tidak ingin mengatakannya.


"Ya udah yuk berangkat, untuk hari ini biar Tuan Andhika yang traktir kalian!" balas Andhika, dan mereka bertiga pun pergi keluar untuk mencari tempat makan.


...********...


Sesampainya di restoran.


Mereka bertiga masuk ke dalam sana, lalu duduk dan memesan makanan.


"Oh yah Elang, ngomong-ngomong bagaimana kabar Alan?" tanya Andhika.


"Dia baik-baik saja," jawab Elang.


"Apa dia sudah punya teman?"


"Punya, satu dan itu pun juga masih dibilang baru."


"Haahh sudah kuduga, Adikmu akan sulit untuk mendapatkan teman, kenapa? Apa ini karna ulahmu yang sudah menakuti mereka semua?" tanya Andhika tidak merasa terkejut dengan ini semua. Andhika sudah paham dengan sifat kasar dan tegas Elang, bahkan ia juga sudah pernah melihatnya sendiri.


"Aku hanya ingin melindunginya saja," lirih Elang.

__ADS_1


"Aku tahu kalau kau amat menyayanginya, tapi Alan juga butuh teman Elang, kau sebagai Kakaknya saja tidak cukup untuknya, dia juga butuh orang lain dihidupnya."


Wajah Elang seketika menjadi muram, "Apa aku saja tidak cukup untuknya?" pikir Elang.


Aku tidak pernah melarangmu untuk berteman.


Hanya saja aku takut Alan, kalau kau akan melupakan Kakak, dan lebih mementingkan temanmu itu.


"Lihat Tuan! Makanannya sudah datang," ucap sekretaris Ken mencoba mengubah topik pembicaraan, ketika pelayan restoran berjalan menghampiri dengan membawakan makanan yang telah mereka pesan, ia merasa kasihan dengan keadaan Tuannya.


"Selamat menikmati Tuan-Tuan!" ujar seorang pelayan tersebut setelah menyiapkan makanan, lalu berjalan pergi.


"Baiklah, terima kasih," balas Andhika.


"Kaakaakk, siniin ayam gorengnya Aska!" terdengar suara anak kecil merengek kepada Kakaknya, tak jauh dari tempat duduk mereka.


Elang yang mendengar suara rengekan tersebut tertarik untuk mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara tersebut.


"Kakak gak ngambil kok dek," balas si Kakak anak kecil tersebut, yang masih memandang wajah dirinya dengan bibir manyun. Ia terus menanyakan dimana ayam gorengnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mana ayam goreng Aska Kak!"


"Kakak gak ngambil ayam goreng kamu Dek!"


"Mamaaa, Kakak Raka ambil ayam goreng Aska, hiks hiks hiks," ujar anak kecil tersebut mengadu kepada Mamanya dengan tangis yang mengalir begitu saja.


Elang yang sedang sibuk memperhatikan pertengkaran kecil mereka, tanpa sadar membuat kedua sudut bibirnya mengembang.


"Ssht sekretaris Ken, itu si Elang kenapa senyum-senyum sendiri?" bisik Andhika bertanya disela-sela makan.


"Biarkan saja Tuan Andhika, sebaiknya anda jangan menggangu tuan saya!" jawab bisik sekretaris Ken.


"Kakak! Ayo kembalikan ayam goreng Adik kamu! Jangan usil jadi orang, lihat tuh si Aska sampai nangis," ujar sang Mama kedua kakak beradik itu.


"Iyah Ma iyah," angguk si Kakak mulai mengalah.


"Nih Dek Kakak kembaliin ayam gorengnya!" ujar si kakak mengembalikan ayam goreng yang tadi ia sembunyikan dari Adiknya.


"Maafin Kakak yah!" pinta si kakak sembari mengacak gemas rambut Adiknya.


"Lain kali jangan gitu lagi yah Kak!" balas angguk si Adik memaafkan Kakaknya.


"Iyah."


"Mereka berdua sama persis seperti kita saat kecil Alan. aku yang jahil, lalu kau yang menangis, dan Bunda yang marah serta ayah yang hanya bisa tertawa," gumam Elang tiba-tiba mengingat kembali masa kecilnya.

__ADS_1


"Apa kita bisa seperti dulu lagi Alan?" batin Elang berharap.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2