
..."Berusaha untuk merelakan."...
...********...
-Tempat pemakaman.
Pemakaman Elang pun dilangsungkan, banyak sekali orang yang datang dari pihak keluarga, teman, kerabat, dan sekaligus para karyawan kantor di perusahaannya. Suasananya begitu terasa sedih dan berduka, mereka semua sama-sama merasa kehilangan sesosok yang amat berharga di hati mereka.
Mereka semua tidak pernah menyangka bahwa Elang akan meninggalkan mereka semua secepat ini.
Terutama Alan, yang sedari tadi tidak bisa berhenti untuk menatap ke arah batu nisan Kakaknya itu.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya acara pemakaman Elang telah selesai dilaksanakan satu persatu dari mereka mulai pergi meninggalkan area pemakaman.
Berbeda dengan Alan, sang Adik masih tetap berdiri di sana di samping pemakaman Kakaknya dengan membawa sebuket bunga mawar putih ditangan kanannya, menggenggamnya dengan erat.
Dengan perlahan, Alan berjongkok di samping makam Kakaknya, kedua bola mata Alan menatap lekat ke arah batu nisan yang terukir sebuah nama 'Erlangga Mahesa Putra' di sana. Ia tidak pernah menyangka, bahwa ini adalah akhir dari kisah persaudaraan mereka.
"Kakak Elang, aku di sini. Adik Kakak yang paling kakak Elang sayang ada di sini," ujar Alan berucap sendiri.
"Alan bawain bunga mawar putih buat Kakak, ini bunga kesukaan Kakak Elang kan. Alan masih ingat, dulu Kak Elang pernah bilang kalau Kakak suka bunga mawar putih," ucap Alan berusaha untuk menahan agar bulir air matanya tidak keluar.
"Tapi Alan gak pernah nyangka, kalau bunga ini akan Alan taruh di atas makam Kakak Elang."
"Kenapa Tuhan tidak berlaku adil kepada kita Kak? Apa ini yang dinamakan dengan takdir? Tapi kenapa begitu terasa pahit dan pedih."
Wuuussshhhh, angin berhembus berderu dengan merdunya, membuat beberapa dedaunan kering berguguran.
"Selamat tinggal Kakak Elang," ujar Alan mengucap kata perpisahan, sembari mengelus dan mencium batu nisan Elang dengan berandai bahwa itu adalah dirinya.
Alan berdiri menegapkan tubuhnya, selang beberapa detik ia memandang makam Elang dengan memberikan sebuah senyuman tipis di sana, hatinya berasa begitu berat untuk melangkah meninggalkan makam Elang.
Alan menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan, ia berusaha untuk memantapkan, dan menguatkan hatinya untuk berjalan pergi meninggalkan area pemakaman.
..."Mungkin keberadaan mu sudah hilang dari dunia. Tapi untuk di hati Alan masih terbuka luas untuk Kakak, selamanya."...
...-Alan Angkasa Putra-...
...********...
-Di depan pintu tempat pemakaman.
"Sekretaris Ken, kau masih ada di sini," ucap Alan cukup terkejut melihat keberadaan sekretaris Ken. Ia berpikir semua orang pasti sudah pulang, dan hanya tinggal dirinya seorang.
__ADS_1
"Iyah Tuan," jawab sekretaris Ken sedikit menundukkan kepala.
"Saya sedari tadi berada di sini menunggu anda Tuan, untuk mengantarkan anda pulang," sambung sekretaris Ken.
"Bagaimana, apakah perasaan anda sudah merasa sedikit tenang?"
"Yah sedikit, walaupun itu sangat sulit," jawab Alan tersenyum kaku.
"Baiklah sekretaris Ken, mari kita pulang!" ajak Alan yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Mmm Tuan Alan!" panggil sekretaris Ken yang lantas membuat Alan mengurungkan niatnya, lalu memandang ke arah wajah sekretaris Kakaknya itu.
"Iyah?" tanya Alan.
"Mulai sekarang cukup panggil nama saya saja Tuan, karena mulai dari sekarang saya adalah sekretaris anda."
"A-apa? Sekretaris Ken bagaimana bisa kau adalah sekretaris Kakak Elang, dan tidak ada yang bisa menggantikannya," balas Alan.
"Saya tahu Tuan, tapi waktu itu Tuan Elang pernah mengatakan kepada saya kalau seandainya beliau pergi, maka saya harus menggantikannya untuk menjaga anda. Ini amanah dari beliau Tuan," ucap sekretaris Ken membuat Alan terdiam sejenak.
"Baiklah, kalau memang itu kemauan dari Kakak. Tetapi, untuk memanggil langsung dengan nama asli, maaf sekretaris Ken mungkin aku harus pelan-pelan dulu," balas Alan membuat sekretaris Ken tersenyum simpul mendengarnya.
"Iyah Tuan, itu tidak masalah. Mari Tuan, saya antar anda untuk pulang," ujar sekretaris Ken lalu membukakan pintu mobil untuk Alan.
...********...
-Kediaman Elang.
Sesampainya di sana, Pak satpam membukakan pintu gerbang untuk memberikan jalan mobil Tuannya agar bisa masuk ke dalam.
"Kita sudah sampai Tuan," ucap sekretaris Ken lalu turun dari dalam mobil, dan segera membukakan pintu untuk Tuan barunya itu.
"I-iyah terima kasih," Balas Alan sedikit gugup lalu segera keluar dari dalam mobil.
"Sekretaris Ken begitu cekatan dan profesional, pantas Kakak begitu mengandalkan dirinya," batin Alan.
"Mari Tuan!" ucap sekretaris Ken, lalu berjalan bersama-sama menuju pintu rumah dan segera masuk ke dalam, yang sudah disambut oleh beberapa pelayan berbaris rapi menyambut kedatangan Tuannya.
"Selamat datang Tuan Alan!" sambut para pelayan dengan menundukkan kepala.
"Iyah," jawab Alan, cepat atau lambat dirinya harus bisa beradaptasi dengan ini semua. "Kau sungguh hebat Kakak," batin Alan yang mulai bisa merasakan bagaimana dunia Elang.
"Angga!" panggil Alan melihat bodyguardnya membawa sebuah koper.
__ADS_1
"Tuan Alan," jawab Angga dengan sedikit membungkukkan badan, memberi hormat kepada Tuannya.
Sekilas Alan melirik ke arah koper besar yang dibawa oleh Angga. "Itu koper siapa?" tanya Alan.
"Ini koper saya Tuan," jawab Angga.
"Loh, koper kamu? Memang kamu mau pergi kemana Angga?"
"Saya harus kembali ke kehidupan lama saya Tuan, saya sudah cukup membuat kekacauan di sini. Akibat saya, Tuan Elang..."
"Tidak Angga," potong Alan.
"Ini semua bukan salahmu, ini salahku karena sudah memaksa dirimu untuk membantuku, padahal kau sudah mencoba untuk memperingatkannya."
"Kumohon Angga jangan pergi, aku sudah sangat sedih dengan kepergian Kakak Elang dan aku tidak ingin menambah kesedihan ku lagi dengan kepergian dirimu dari rumah ini. Kau bukan hanya seorang bodyguard yang Kakak Elang kirimkan untukku, tetapi kau juga seorang teman yang amat berharga bagiku."
"Tu-Tuan Alan," ucap Angga dengan mata berkaca-kaca, merasa terharu akan kata-kata dari Alan.
"Jangan pergi Angga, tetaplah di sini bersama kami menjadi bagian dari keluarga ini," ujar Alan.
"Iyah Tuan, saya berjanji akan menjadi seorang bodyguard dan teman yang setia untuk anda," balas Angga membuat Alan tersenyum bahagia.
"Satu sekretaris dan satu bodyguard, Tuan Elang pasti merasa sangat senang melihat ini semua," sahut sekretaris Ken.
"Hm yah," jawab Alan.
"Tapi tetap saja, rumah ini sekarang akan sepi tanpa hadirnya Kakak," sambung Alan sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Tapi aku tidak boleh sedih, kalau aku terus bersedih pasti Kakak tidak akan merasa tenang di sana, dan dia akan berpikir bahwa Adiknya Alan tidak pernah bisa tumbuh dewasa. Aku harus kuat dengan begitu Kakak merasa senang," sambung Alan berusaha untuk tersenyum semampu yang dirinya bisa.
"Baiklah, aku harus pergi ke kamar untuk mengganti pakaian," pamit Alan lalu segera pergi menuju kamarnya.
"Baik Tuan," balas sekretaris Ken dan Angga bersamaan.
"Anda sudah tidak perlu khawatir Tuan, adik anda kini sudah dewasa," batin sekretaris tersenyum kecil.
...********...
..."Kakak akan selalu ada di hati Adiknya, begitupun juga sebaliknya."...
...-Elang dan Alan-...
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1