
Alan pun dengan segera masuk ke dalam pintu gerbang panti asuhan Abyakta, karena melihat keadaan yang cukup sepi dengan segera Alan pergi mengendap-endap seperti seorang maling.
Tepatnya di dekat pintu salah satu ruangan, Alan mengintip dari luar jendela yang tampak kosong dan gelap.
Mengetahui tidak ada orang di dalam sana dan juga sekelilingnya, Alan memutuskan untuk membuka pintu ruangan tersebut.
Disaat tangan Alan sudah memegang gagang pintu, dan hendak untuk membukanya. Dirinya mendengar suara ramai gelak tawa anak-anak kecil tak jauh dari tempat dirinya berada, membuat Alan mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk mencari tahu dimana asal suara tersebut.
Disebuah lapangan yang cukup luas, Alan melihat banyak sekali anak-anak kecil sedang bermain bola di sana dengan ditemani sesosok laki-laki yang sepertinya Alan sudah mengenalinya. "I-itu bukannya?" ujar Alan sembari melihat ke arah laki-laki tersebut.
Disaat Alan tengah sibuk melihat ke arah seseorang yang sedang bermain bersama dengan anak-anak kecil di sana, tiba-tiba bola yang mereka mainkan menggelinding dan mengarah ke arah Alan.
Salah satu anak lelaki berkaos biru berlari menghampiri Alan, berniat untuk mengambil bola tersebut.
"Kakak, boleh aku ambil bolanya?" pinta anak kecil itu kepada Alan yang sedang memegang bolanya.
"Hm boleh," jawab Alan lalu memberikan bola tersebut kepada anak kecil itu.
"Makasih Kak!" ujarnya dengan senyuman hangat.
"Iyah sama-sama," balas Alan membalas senyum anak tersebut, sembari mengacak gemas rambutnya.
"Oh yah, Kakak ini siapa? Aku kok nggak pernah lihat Kakak di sini sebelumnya?" tanya anak kecil berkaos biru itu, lalu seketika membuat Alan mematung dan terdiam seribu bahasa.
"Gawat, aku harus jawab apa nih?" batin Alan merasa cemas, dan tak sengaja kedua bola matanya melirik ke arah laki-laki yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Kakak temannya kak Al yah!?" ucap anak kecil tersebut selepas menyadari lirikan Alan kepada seorang lelaki bertopi hitam yang tengah berdiri di sana.
"Jadi bener itu Mas Al," batin Alan, pikirannya memang tidak salah menebak.
"Kalau Kakak temannya Kak Al, yuk kita main bareng Kak!" ajak anak kecil itu kepada Alan.
"Eh eng-enggak usah, kalian main lagi aja. Aku mau pulang," ucap Alan menolak, selepas melihat sorotan mata dingin dari Al kepada dirinya.
"Kok pulang sih Kak, ayo kak kita main bareng! Makin banyak yang ikutan makin seru!" paksa anak kecil itu sembari menarik lengan Alan untuk ikut bermain bersama mereka.
"Eh iyah-iyah!" jawab Alan yang hanya bisa pasrah tangannya ditarik oleh anak kecil berkaos biru itu.
Kini Alan sudah berkumpul bersama anak-anak panti asuhan Abyakta, dengan seorang pria bernama Al di sana.
"Wah Kakak namanya siapa, kenalin aku Caca!" sapa seorang gadis kecil berkuncir dua kepada Alan.
"Kalau aku Moza Kak!"
"Aku Ara Kakak!"
"Kalau aku Dodo Kak!" semua anak kecil itu begitu antusias memperkenalkan dirinya kepada Alan, jujur Alan merasa kewalahan dengan semua anak kecil yang sedang mengelilinginya. Tapi, di dalam hati remaja itu juga merasa senang dan bahagia.
"I-iyah-iyah, sekarang gantian giliran Kakak yang kenalan yah!" balas Alan lalu membuat semua anak itu menganggukkan kepalanya.
"Perkenalkan, nama Kakak Alan. Adik-adik yang lucu dan gemes ini bisa panggil Kakak Kak Alan, oke!" sambung Alan lalu membuat semua anak kecil itu berteriak.
"OKEEE."
__ADS_1
"Kak Alan!" panggil salah satu anak.
"Iyah?" tanya Alan.
"Kakak Alan temannya Kak Al yah?"
"Te-teman?" bingung Alan mengulang kembali perkataan anak kecil tersebut.
"Aku tidak tahu apa kita bisa disebut sebagai teman atau tidak, pertemuan aku dengan Mas Al saja serumit itu," batin Alan ragu.
"Mu-mungkin," jawab Alan.
"Sudahlah!" sahut Al kepada mereka.
"Kau Alan, anak-anak di sini sangat ingin bermain bersama dengan mu. Apa kau mau bermain bersama kami?" sambung Al dengan raut wajah cool, datar, beserta manik matanya yang tajam. Siapapun yang melihatnya pasti mengira kalau Al sedang marah. Tidak, itu memang ciri khas wajahnya.
"Baiklah, aku mau," balas Alan manggut-manggut.
"Dan juga, berhenti memanggilku Mas!" sambung Al sembari menoleh ke arah Alan.
"Ka-kalau begitu, aku harus panggil apa? Kakak?"
"Dia marah yah, masa sih marah perasaan aku enggak buat salah," batin Alan salah mengartikan ekspresi wajah dari Al.
Akhirnya mereka semua pun bermain bersama, rasanya begitu seru dan juga menyenangkan. Anak-anak kecil itu memang membawa kegembiraan di hati Alan.
Begitupun juga dengan Al, sesekali pria dengan ciri khas satu tahi lalat dibawah mata kanannya itu memperlihatkan senyumnya.
Setelah selesai dan merasa lelah setelah bermain bersama, akhirnya Al dan Alan menyuruh anak-anak kecil itu untuk beristirahat.
"Ini, minumlah! Kau pasti lelah bukan?" ucap Al sembari menyodorkan sebotol air mineral kepada Alan.
"Terima kasih!" jawab Alan menerima sebotol air mineral tersebut.
"Oh yah, apa aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh," jawab Alan selepas selesai meneguk botol air minumnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kedatangan mu kemari untuk mengunjungi seseorang?" tanya Al kepada Alan.
"Waduh gawat, aku harus jawab apa nih?" batin Alan merasa gelisah.
"Enggak ada apa-apa kok, aku cuman pingin ketemu sama anak-anak panti asuhan ini aja," jawab Alan dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Aku cuman mau main sama mereka," sambungnya.
"Owh," balas Al singkat.
"Emmm Kak Al sudah makan?" tanya Alan mencoba untuk mengganti topik pembicaraan sekaligus mencairkan suasana.
"Belum," jawab Al.
"Kalau begitu ikut ke rumah Alan aja yuk! Kita makan bareng di sana," ajak Alan mengundang Al untuk makan bersama di rumahnya.
__ADS_1
"Memangnya kamu yakin, anak orang kaya kayak kamu ngundang orang biasa kayak aku?" tanya Al mencoba memastikan kembali akan ajakan dari Alan.
"Yah yakin dong Kak! Kak Al kan temannya Alan, kan sudah Alan bilang kalau Alan gak seperti yang Kak Al pikirkan. Orang kaya dan orang biasa, mereka tidak ada bedanya Kak, mereka tetap sama-sama manusia," balas Alan lalu membuat Al berpikir sejenak.
"Oke baiklah," angguk Al setuju akan ajakan dari Alan.
"Siap!" balas Alan lalu lekas menelpon sopirnya untuk segera pergi menjemputnya.
Tak lama kemudian, akhirnya mobil jemputan Alan pun sudah datang. Dengan segera, Alan dan Al masuk ke dalam sana dan kembali menuju pulang ke rumah.
Sesampainya di kediaman Elang.
Alan dan Al segera turun dari dalam mobil tersebut, dan berjalan memasuki rumah.
-Di dalam rumah.
"Tuan, anda sudah pulang?" tanya sekretaris Ken melihat kepulangan Tuannya dengan seorang lelaki di sisinya.
"I-iyah Ken, guru-guru di sekolah sedang ada rapat jadi sekolah dipulangkan lebih awal," jawab Alan sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Owh baiklah Tuan," balas sekretaris Ken.
"Oh yah Ken, perkenalkan dia Al. Temanku," ucap Alan memperkenalkan seorang pria yang sedang berdiri di sampingnya.
"Halo Al, perkenalkan saya Ken, sekretaris dari Tuan Alan," balas sekretaris Ken sopan.
"Yah, salam kenal juga," ucap Al dingin.
"Baiklah, Al dan Tuan Alan silahkan duduk terlebih dahulu! Biar saya siapkan makan siang untuk kalian berdua," ujar sekretaris Ken.
"Baik Ken," balas Alan.
"Saya permisi dulu Tuan-Tuan!" pamit sekretaris Ken lalu segera pergi dari sana.
"Alan!" panggil Al.
"Iyah?" tanya Alan.
"Aku mau pergi ke kamar mandi sebentar buang air kecil."
"Baiklah, mau Alan anterin?" tawar Alan.
"Tidak usah, bilang aja tempatnya dimana?"
"Owh, beneran nih Kak Al nggak mau Alan anterin?" tanya Alan sekali lagi.
"Udahlah, entar malah keluar di sini lagi kalau kelamaan," balas Al merasa kesal.
"Kau tidak perlu mengantarkan ku, aku bisa pergi ke sana sendiri," sambungnya lalu berjalan pergi menuju ke kamar mandi.
"Padahal niat Alan kan baik," gumam Alan sembari menatap ke arah punggung Al yang mulai menjauh. "Eh, Alan belum kasih tahu kamar mandi nya dimana!"
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1