ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 8


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Elang.....


Elang dan sekretaris Ken turun dari dalam mobil lalu berjalan menuju rumahnya, dan yang benar saja, di sana sudah ada Alan di depan pintu rumah menunggu kedatangan kakaknya.


Elang dan sekretaris Ken berjalan menghampiri Alan dengan melewati tangga-tangga kecil. "Apa kau sudah menunggu ku lama?" tanya Elang kepada Alan.


"Lumayan kak, tapi enggak apa-apa kok."


"Tumben Kakak telat? biasanya kakak duluan yang datang, sekarang malah Alan duluan yang sampai," sambung Alan bertanya.


"Kakak tadi ada rapat mendadak, makanya lama," jawab Elang membuat sekretaris Ken menatap kasihan ke arah Tuannya.


Kalau seandainya apa yang dokter itu katakan benar. Bagaimana Alan akan melanjutkan hidupnya? Apa dia akan baik-baik saja?


"Owh hihihi," balas Alan tertawa kecil.


"Kamu kenapa sih? Daritadi wajahnya kok seneng banget?" tanya Elang heran melihat sikap Adiknya.


"Hehehe nggak kenapa-kenapa kok kak."


"Iyah deh iyah, yuk kita berangkat!" ajak Elang sembari menepuk pelan kepala Alan.


...********...


Akhirnya, mereka berdua pun berangkat menuju kediaman orang tua mereka.


-Di dalam mobil.


"Oh yah Kak, sekarang Alan seneng banget, soalnya Alan habis dapet temen baru," ucap Alan menceritakannya kepada Elang, yang masih dengan kedua sudut bibir mengembang.


"Tadi katanya nggak apa-apa, gak mau kasih tahu kakak," sindir Elang.


"Kakak Elang ngambek yah!"


"Enggak," jawab Elang.


"Puft, ternyata Kakak Elang nggak pernah berubah yah, dari kecil dulu sampai gede masih ngambekan orangnya," ledek Alan tertawa kecil.


"Siapa yang ngambek Alan?! Oh yah, emang nama temen baru kamu siapa?"


"Nanti Kakak juga bakalan tahu sendiri kok, entar anaknya dateng ke rumah buat kerja kelompok sama Alan."


"Hm," deham Elang mengangguk.


"Tuan, kita sudah sampai," ucap sekretaris Ken yang duduk di kursi depan samping Pak sopir, memberitahu bahwa mereka sudah sampai di kediaman keluarga putra.


Pak satpam membukakan pintu gerbang, memberikan jalan untuk mobil Elang masuk ke dalam sana. Rumah yang besar bahkan lebih besar dari rumah Elang.


Nampak seorang wanita tua yang masih terlihat cantik nan anggun. Dia adalah sang Ibunda, sedang berdiri di depan rumah. Dengan ditemani sang Ayah sembari melingkarkan tangannya ke pundak Ibunda.


Mereka berdua berdiri di sana, untuk menyambut kedatangan anak-anaknya.


Elang dan Alan turun dari dalam mobil. Sang Kakak membantu Adiknya untuk mendudukkan di kursi rodanya.


Senyuman kedua orang tua itu semakin terukir jelas, ketika Elang berjalan menghampiri Ayah dan Ibunda sembari membantu mendorong kursi roda Alan.


"Ayah, bunda!" sapa Elang dan Alan sembari mencium punggung tangan kedua orang tua mereka.


"Iyah," angguk Ibunda lalu mencium kening kedua putranya.


"Wah, Alan masih imut aja," gemas Ibunda mencubit pipi Alan.


"Alan gak imut Bunda!" cebik Alan memanyunkan bibirnya. "Alan itu ganteng."


"Nah yang ini nih, jagoan Ayah udah makin gede aja, sukses yah perusahaannya," bangga sang Ayah seraya menepuk-nepuk pundak Elang.


"Ini semua juga karna ayah kok," jawab Elang kepada pria berkumis tebal itu.

__ADS_1


"Ya sudah, kita masuk yuk! Bunda sudah siapin makanan spesial buat kalian, yuk!" ajak Ibunda lalu mendorong kursi roda Alan, mengajak semua anggota keluarganya untuk masuk ke dalam rumah.


...********...


Mereka masuk ke dalam rumah, menuju ruang makan yang mewah. Beribu hidangan makanan sudah berjajar rapi tersedia di atas meja.


"Makanannya kok banyak banget Bunda?" tanya Alan menelan ludah, cukup melihatnya saja kedua kakak beradik itu sudah merasa kenyang.


"Itu sedikit Alan, Bunda siapin semua ini untuk kedua putra kesayangan Bunda."


"Kesayangannya Ayah juga dong!" sahut sang Ayah tak mau kalah.


"Iyah Ayah iyah, ya sudah yuk makan! Sekretaris Ken ikut makan juga yah!"


"Tidak usah repot-repot Nyonya, saya sudah kenyang," tolak sekretaris Ken sopan.


"Ih kenyang apanya, badan masih kurus gitu kok dibilang kenyang. Emang kamu di rumah anak saya dikasih makan apa, udah ayo ikut makan!" balas Ibunda memaksa.


"Ternyata Bunda dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah yah, terutama mulutnya," batin Elang hanya bisa mengelus dada.


Mereka semua duduk di kursi makan, harum makanan lezat menyeruak masuk ke dalam indra penciuman, membuat perut ikut bergejolak tak sabar untuk menyantap hidangan di sana.


"Kok pada diem? Ayo dimakan ayo, sini-sini Bunda ambilin!" ucap Ibunda menyiapkan piring untuk kedua putranya. Jujur saja, Ibunda begitu senang sekaligus rindu, ia teringat kembali akan masa kecil mereka.


Mereka semua memakan makanan yang lezat, dengan sedikit terselip canda tawa di dalamnya. Sekretaris Ken yang ikut duduk dan makan bersama, walaupun ia bukan bagian dari keluarga putra. Tetapi ia bisa merasakan rasa hangat dan kasih sayang mereka.


"Elang gak mau cari jodoh?" tanya Ibunda tiba-tiba sontak membuat Elang tersedak.


"Ehem," Elang langsung mengambil segelas air putih dan meneguknya sampai tandas.


"Kenapa? Masih butuh waktu lagi? Atau masih belum ada yang cocok? Kalau begitu terus kapan kamu kawinnya sayang?!" ucap Ibunda membuat Alan, Ayah, dan sekretaris Ken tertawa kecil.


"Elang masih males Bun," jawab Elang.


"Setiap ke sini yang ditanya nikah mulu, gak ada pertanyaan lain apa?" batin Elang risih.


"Iyah deh iyah, bunda percaya kok sama Elang, apapun pilihan Elang bunda dukung, tapi kalau kelamaan biar bunda sendiri yang cariin, harus mau!"


"Oke Elang!"


"Iyah Bunda," jawab Elang pasrah.


"Oh yah Bun, ayunan yang di belakang rumah masih ada?" tanya Alan.


"Masih kok, emang kenapa?" jawab Bunda balik bertanya.


"Kak Elang, ke sana yuk!" ajak Alan kepada Elang antusias.


"Iyah," balas Elang mengiyakan, lalu berdiri berjalan menghampiri Alan, membantu untuk mendorong kursi rodanya.


"Kita ke sana dulu yah Bunda, Ayah!" pamit Alan.


"Iyah, hati-hati yah!" balas sang Ayah.


"Mereka cepet besar yah, perasaan baru kemarin Bunda gendong mereka. Sekarang sudah gede aja," batin Ibunda.


...********...


Sesampainya di halaman belakang rumah, di sana terdapat ayunan tua tempat bermain Elang dan Alan sewaktu mereka kecil dulu.


"Wah kak masih ada!" senang Alan sembari menunjuk ke arah ayunan tua tersebut.


"Naik yuk kak!" ajak Alan.


"Naik? Yakin kamu gak bakal nangis lagi?" goda Elang sebab sewaktu kecil dulu.


...#Flash back#...

__ADS_1


Kala itu disaat Alan masih berusia sembilan tahun dengan Kakaknya Elang yang masih berusia tiga belas tahun.


-Halaman belakang rumah.


"Kak naik ayunan yuk!" ajak Alan.


"Emang kamu berani?" tanya Elang.


"Yah beranilah, itu kan cuman ayunan kecil," balas Alan lalu berlari mendudukkan badannya di ayunan tersebut.


"Beneran yah, awas kalau nangis!"


"Iyah-iyah," angguk Alan.


Beberapa menit kemudian....


"Huwaaaa huwaaa jangan tinggi-tinggi kak!" tangis Alan sejadi-jadinya dengan Elang yang masih mendorong ayunannya.


"Katanya gak takut, nih kurang tinggi!" balas Elang yang jahilnya kelewatan, terus mendorong dengan keras ayunan tersebut.


"Enggak Kak enggak, Alan kapok deh kapok, berhenti kak berhenti! Alan takut hiks!"


/Dep/ Elang langsung memberhentikan ayunannya, ia bisa melihat tangan Alan yang


gemetar, dan samar-samar terdengar kalau Adiknya masih menangis.


"Alan maafin kakak yah!" pinta Elang mengulurkan tangannya.


"Hiks kakak Elang jahat!"


"Yah, kakak Elang minta maaf!" pinta Elang sekali lagi, yang masih mengulurkan tangan permintaan maafnya.


"He em," angguk Alan.


"Ya udah, Kakak dorongnya pelan-pelan aja yah."


"Iyah," jawab Alan.


...#Flash back off#...


...********...


"Ih itukan cuman masa lalu, sekarang mah Alan sudah berani," ucap Alan setelah mendengar cerita dongeng dari Elang.


"Beneran, ya udah yuk buktiin!" tantang Elang.


"Oke," jawab Alan.


Akhirnya, Alan pun duduk di atas kursi ayunan dengan dibantu oleh Elang.


"Siap? Pegangan yang erat yah!"


"Siap!" mantap Alan.


/Wuuussshhhh/ Elang mendorong ayunan itu dengan keras, tinggi ayunan itu mengayun begitu tinggi. Tapi Alan tak menangis layaknya anak kecil. Alan yang sekarang begitu senang dan menikmati.


"Hahahaha, ternyata seru banget yah kak!" senang Alan tak henti-hentinya tertawa, ia mulai berpikir lagi, kenapa sewaktu kecil dulu ia harus menangis? Padahal ini sangatlah menyenangkan.


"Kau sudah besar Alan," batin Elang tersenyum kecil.


...********...


..."Tersenyum.... teruslah tersenyum wahai Adikku Alan, teruslah bahagia. Meskipun nanti, aku masih bisa menemanimu atau tidak."...


...-Erlangga Mahesa Putra-...


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2