ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 61


__ADS_3

...Angan ku sudah terbayang betapa indahnya pertemuan kita nanti....


...Imajinasi ku sudah tergambar bagaimana rupa bahagia mu 'Adik'....


...Hati sudah ku persiapkan tentang bagaimana perasaan saat bertemu denganmu lagi....


...Tapi ternyata itu hanyalah ilusi, dan ekspektasi yang terlalu tinggi...


...-Garuda Alvian Putra-...


...********...


"E-Elang," ucap Al syok, detak jantungnya berhenti sesaat, pandangannya menatap kosong ke bawah, hatinya serasa remuk dan hancur diwaktu yang bersamaan.


Kaki dan badannya seketika menjadi lemas, tubuh Al langsung bersimpuh di hadapan makam Adiknya. Bendungan air mata seketika pecah begitu saja, kedua tangannya mengepal kuat.


"Adik," batin Al menangis.


Mengapa takdir begitu jahat.


Mengapa ia menyuguhkan makamnya yang bertaburkan bunga, bukan malah dirinya yang bisa ku peluk dengan penuh cinta.


Mengapa ia harus menyuguhkan tangis bukan malah senyuman bahagia.


"Kenapa Bunda dan Ayah tidak pernah mengatakan ataupun memberitahu kepadaku kalau Elang sudah meninggal? Kenapa mereka harus memisahkan antara diriku dan Elang?" batinnya.


Ketika kita memiliki orang yang sangat kita sayang, orang yang sangat kita cinta, orang yang paling berharga dalam hidup kita.


Tetapi, disaat-saat terakhir dirinya akan pergi, kita tidak berada di sisinya. Untuk membuat sebuah kenangan terakhir dan terindah, Bagaimana perasaan kalian?


"Elang... dia meninggal karena apa?" tanya Al yang masih dengan posisi sama.


"Tuan Elang meninggal karena penyakit kanker yang selama ini dirinya derita," balas sekretaris Ken menunduk ke bawah melihat ke arah Al.


"Kalau boleh tahu, siapa anda dalam kehidupan Tuan saya?" sambung sekretaris Ken bertanya.


"Aku?" balas Al sembari menghapus air mata di pipinya, lalu perlahan berdiri kembali berdiri.


"Aku orang yang dulu selalu ada untuknya, aku orang yang dulu selalu menghibur dan membuat dia tertawa, aku orang yang selalu berusaha untuk melindungi dan membuat dia bahagia," sambung Al membuat sekretaris Ken merasa bingung mendengarnya.


"Aku adalah orang yang selalu merindukan dirinya," pandangan Al masih terus tertuju kepada batu nisan yang bertuliskan nama Elang itu. Rasa tak percaya bercampur sebuah penyesalan menjadi satu di dalamnya.


"Hei kau!" panggil Al sembari menoleh menghadap sekretaris Ken.

__ADS_1


"Iyah?" tanya sekretaris Ken.


"Kau sekretaris dari Elang bukan?"


"Iyah, anda benar," jawab sekretaris Ken.


"Apa boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" pinta Al kepada sekretaris Ken.


"Sesuatu? Apa?"


"Tolong antarkan aku ke rumah Nyonya putra dan Tuan putra, kau pasti tahu bukan dimana tempatnya?" balas Al.


"Saya tahu dimana tempatnya, tapi... untuk apa anda meminta saya untuk mengantarkan anda ke sana?" bingung sekretaris Ken.


"Antarkan aku ke sana! Maka kau akan mengetahui segalanya," jawab Al sembari berjalan mendahului sekretaris Ken keluar dari area pemakaman.


"Hari ini juga, aku akan membongkar semua rahasia keluarga Putra," batin Al dengan tatapan serius.


...********...


Pada akhirnya, sekretaris Ken menuruti apa yang Al itu minta kepada dirinya, mereka berdua pun berangkat menuju ke kediaman putra.


Sesampainya di sana....


"Bukakan gerbangnya!" pinta Al berdiri di hadapan satpam dengan nada marah.


"Maaf, Tuan putra dan Nyonya putra sedang tidak ingin diganggu untuk sekarang. Mereka berdua sudah menitipkan pesan kepada saya untuk menolak semua tamu yang ingin masuk," balas Pak satpam.


"Sudahlah, sepertinya kita tidak diizinkan untuk bertemu dengan mereka. Sebaiknya kita pulang saja!" ujar sekretaris Ken yang tengah berdiri di belakang Al.


"Pulang? Apa aku harus pulang dan menyerah begitu saja? Sudah sekian lama diriku bersabar, membiarkan mereka berdua mengambil semua hak yang aku punya. Tapi untuk yang satu ini.... aku tidak akan membiarkannya!" batin Al membulatkan tekad.


"Aku bilang buka pintu gerbangnya!" suruh Al sekali lagi, sekarang disertai dengan sorot mata tajam ditambah aura mencekam yang berasal dari dalam dirinya.


"Ti-tidak!" tolak Pak satpam, dirinya merasa takut dengan raut wajah dan nada suara yang laki-laki itu ciptakan.


"Sudah saya katakan, kalau Tuan putra dan Nyonya putra tidak bisa diganggu untuk saat ini," sambungnya.


"Tidak?" lirih Al mengulang kembali apa yang Pak satpam itu katakan, mendengar sebuah kata penolakan membuat kemarahan Al semakin memuncak.


//BRAKKK//


Al tidak pikir panjang, ia langsung mendobrak pintu gerbang tersebut sekuat tenaga menggunakan kakinya. Sampai membuatnya terbuka, dengan bengkok di bagian dimana kaki Al menendang.

__ADS_1


"HEI, APA YANG KAU LAKUKAN!!!" marah Pak satpam tak percaya apa yang Al perbuat, dirinya langsung mengambil sebuah handphone dan menelpon bagian keamanan kalau ada seseorang yang telah menerobos masuk ke dalam.


"Tuan, anda mau pergi kemana?!" panggil sekretaris Ken cukup terkejut dengan ulah pria tersebut, dirinya terbilang cukup nekat melakukan ini semua.


Setelah pintu gerbang terbuka, Al dengan segera bergegas masuk ke dalam sana. Belum sampai di depan pintu rumah, masih setengah perjalanan dirinya sudah dihadang oleh beberapa penjaga keamanan dengan badan mereka yang cukup besar dan juga berotot.


"Ini rumahku, tapi rasanya seperti dianggap seorang penjahat," batin Al tersenyum sinis.


"Bunda Ayah, begini kah cara kalian menyambut anak kalian yang akhirnya kembali setelah sekian lama pergi?"


...********...


Sedangkan di dalam rumah kediaman putra, lebih tepatnya di ruang keluarga.


"Ayah!" panggil Ibunda kepada Ayah yang tengah duduk santai sambil sibuk membaca koran.


"Iyah Bunda?" tanya sang Ayah menatap wajah Ibunda. Terlihat ekspresi gelisah bercampur rasa cemas di sana.


"Bunda kenapa? Kok wajahnya kelihatan ketakutan gitu?" sambung sang Ayah.


"Ayah! Bunda tadi mendapat telpon dari Pak satpam, katanya ada orang yang tidak dikenal memaksa masuk sampai mendobrak pintu gerbang. Sekarang sedang ada keributan di luar."


"Siapa dia? Berani-beraninya dia mengganggu ketenangan di rumah kita. Ayo Bunda, kita pergi keluar dan temui orang itu! Sekalian, Ayah juga mau melaporkan dia ke pihak yang berwenang," ujar sang Ayah lalu dengan lekas pergi berjalan keluar disusul dengan Ibunda di belakangnya.


Sesampainya di luar rumah, yang benar saja mereka berdua melihat pria itu sedang sibuk menghajar semua penjaga keamanan. Terdengar suara pukulan dan hantaman yang cukup keras.


"Sekretaris Ken, ada apa ini?" tanya sang Ayah yang melihat sekretaris Ken juga berada di sana menyaksikan perkelahian tersebut.


"Tuan putra, Nyonya putra. Saya mohon, anda berdua jangan marah dulu. Saya juga tidak mengerti siapa laki-laki ini, dia hanya meminta kepada saya untuk diantarkan kemari. Dan saya tidak pernah mengira kalau ini semua akan terjadi," jelas sekretaris Ken.


"HEI KAU, UNTUK APA DIRIMU MEMBUAT KERIBUTAN DIRUMAH SAYA???" teriak sang Ayah begitu keras, membuat pria yang sedang sibuk berkelahi itu menghentikan aktivitasnya. Semua penjaga keamanan telah tumbang sehabis melawan dirinya.


Al dengan perlahan menolehkan kepalanya, menghadap ke arah Tuan putra.


"K-kau, Ga-ruda!" kejut sang Ayah dengan kedua mata membulat dan nada terbata-bata.


"Tu-Tuan putra mengenali siapa dia?" batin sekretaris Ken.


"Hai Ayah, aku pulang. Anak yang dulu kalian buang ke panti asuhan telah kembali," ucap Al.


"Ayah? A-apa sebenarnya semua ini?" batin sekretaris Ken semakin dibuat bingung.


"Begini Kah cara kalian menyambut kedatangan anak pertama kalian? Kenapa Ayah? Apa kau tidak suka melihat aku pulang?"

__ADS_1


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2