
...Mendobrak semua kepalsuan, menghancurkan semua pengkhianatan, dan membongkar seluruh rahasia yang teramat menyakitkan....
...********...
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya sang Ayah dengan nada tajam kepada Al.
"Begini Kah caramu datang ke rumah orang tua mu sendiri? Dimana etika dan sopan santun mu, apakah begini cara kami mendidik dirimu sewaktu kecil dulu," sambungnya.
"Hah mendidik?" ucap Al tersenyum sinis lalu tertawa geli.
"Kapan kalian mendidik diriku?" tanya Al sembari menatap ke arah Tuan putra dan Nyonya putra.
"KAPAN KALIAN MENDIDIK DIRIKU, KALAU SEWAKTU KECIL DULU AKU SUDAH KALIAN BUANG KE PANTI ASUHAN!!!" bentaknya meluapkan semua emosi.
"Bahkan aku hanya sebentar bisa merasakan belaian kasih sayang orang tua, aku tidak pernah tahu bagaimana rasa menjalani kehidupan dibawah naungan kalian berdua. Aku sendirian, dulu di setiap malam aku selalu menangis hingga mataku kering dan memerah."
"Waktu diriku remaja, aku merasa cemburu dengan semua anak di luar sana, berangkat sekolah diantar oleh Ayahnya, dikecup manis keningnya oleh Ibu mereka. Ia bisa merasakan nikmatnya hidup dan bertemu dengan teman-temannya di sekolah."
"Tapi aku? Aku harus bekerja keras banting tulang untuk mencari uang. Padahal aku berasal dari keluarga terkaya di kota ini, tapi hidupku sangat menderita."
"Aku memiliki orang tua, tapi rasanya seperti tidak mempunyai siapa-siapa. Kenapa Ayah, Bunda? Kenapa kalian harus melahirkan diriku ke dunia ini jika hanya derita yang bisa kurasakan. Kenapa kalian tidak membunuhku saja sewaktu aku bayi!?" Al menumpahkan seluruh isi hatinya yang selama ini telah ia pendam selama bertahun-tahun.
Ibunda yang mendengarnya hanya bisa menangis, dirinya merasa bersalah telah berbuat seperti itu kepada anak sulungnya. "Garuda," isaknya.
"Jaga kata-kata mu Garuda! Kami tetap orang tua mu sampai saat ini," bentak sang Ayah.
"Tidak ada Ayah di dunia ini yang tega melakukan hal itu kepada anak putranya sendiri," balas Al.
"Dimana Elang? Dia sudah tiada bukan? Kenapa kalian tidak pernah memberitahu ku kalau Elang sudah meninggal. Kalian boleh tidak menganggap ku sebagai anak dari keluarga putra. Tapi jangan pernah memisahkan hubungan antara diriku dan Elang."
"Sudah lama aku merindukan dirinya, ingin sekali aku bisa menemui Adikku sendiri. Tapi apa yang aku temui tadi? Hanya sebuah makam dengan batu nisan yang bertuliskan namanya. Apa kalian tahu ini semua karena siapa? KARNA KALIAN!!!"
"GARUDA!" murka sang Ayah.
"Tu-Tuan Putra, anda kenapa Tuan?" kejut sekretaris Ken kepada Tuan putra dengan raut wajah kesakitan mencengkeram erat dadanya.
"Ayah!" panik sang Ibunda melihat keadaan suaminya yang sudah duduk di bawah sembari mengerang kesakitan.
"A-Ayah!" kejut Al tertegun melihat keadaan Ayah kandungnya.
"Sekretaris Ken, tolong cepat hubungi ambulans!" suruh sang Ibunda.
__ADS_1
"Baik Nyonya," angguk sekretaris Ken lalu dengan lekas mengeluarkan sebuah handphone dari dalam saku celananya, dan menelpon ambulans.
...********...
Sedangkan di sisi lain, Alan baru saja selesai belajar di perpustakaan pribadinya, sekarang dirinya sedang berjalan menuju ruang tengah.
"Permisi Bi!" ucap Alan kepada Bi Ana yang sedang membersihkan beberapa perabotan rumah.
"Iyah Tuan?" tanya Bi Ana sembari menoleh ke arah Tuannya.
"Kemana sekretaris Ken Bi? Dari tadi nggak kelihatan," ujar Alan bertanya.
"Owh Pak Ken, beliau tadi pamit ke saya untuk pergi ke kantor perusahaan sebentar Tuan, untuk memeriksa keadaan di sana," jawab Bi Ana menjelaskan.
"Owh begitu, baik Bi terima kasih!"
"Iyah Tuan, sama-sama," jawab Bi Ana lalu pamit kepada Alan untuk pergi melanjutkan tugasnya.
/Drrrtt ddrrtt/ bunyi getar handphone di dalam saku celana Alan, dengan segera ia mengambilnya lalu mengangkatnya.
"Hm sekretaris Ken," ucap Alan melihat nama panggilan dari sekretaris Ken di layar handphone.
...-Sekretaris Ken-...
Alan: "Waalaikumussalam Ken, ada apa dengan nada bicaramu? Apa kau baik-baik saja?"
^^^Sekretaris Ken: "Tolong cepat pergi ke rumah sakit negara Y Tuan! Tuan putra sedang dirawat sekarang."^^^
Alan: "A-APA?"
Alan: "Apa yang terjadi dengan Ayah?"
^^^Sekretaris Ken: "Saya tidak bisa menjelaskannya ditelepon Tuan, sebaiknya anda segera pergi ke sini sekarang juga!"^^^
Alan: "Baiklah Ken, aku dalam perjalanan menuju ke sana."
/Tut Tut Tut/ Panggilan pun diakhiri, Alan dengan segera pergi untuk mengambil kunci mobilnya untuk segera berangkat menuju ke rumah sakit negara Y.
-Rumah sakit negara Y.
Sesampainya di rumah sakit negara Y, Alan langsung memarkirkan mobilnya, dan bergegas untuk masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju ruangan dimana Ayahnya sedang dirawat, sepanjang jalan Alan terus berlari mempercepat langkahnya.
Hingga, sampailah dirinya di depan sebuah ruangan ICU, di sana Alan juga melihat sekretaris Ken dan Ibundanya berdiri dengan ekspresi wajah cemas. Tetapi anehnya, dirinya juga melihat Al bergabung bersama mereka.
"Loh, Kak Al kok juga ada di sini?" batin Alan merasa bingung.
"Bunda!" panggil Alan langsung berjalan menghampiri Ibundanya, melihat kedatangan anak bungsunya itu, wanita tersebut spontan langsung memeluk tubuh Alan.
"Alan, Ayah kamu sayang," tangis Ibunda di dalam pelukan Alan.
"Iyah Bunda iyah, tenang! Ayah pasti baik-baik saja," balas Alan sembari mengelus punggung Ibundanya.
"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi dengan Ayah?" sambung Alan bertanya.
"Sepertinya, penyakit yang diderita oleh Tuan putra sedang kambuh Tuan," jawab sekretaris Ken dan tak lama kemudian pintu ruang ICU pun terbuka. Nampak seorang dokter keluar dari dalam sana.
"Dok, bagaimana kondisi suami saya dok?" tanya Ibunda.
"Begini Bu, sepertinya telah terjadi pembengkakan pada jantung suami anda. Ini semua bisa diakibatkan karena terlalu banyak pikiran, emosi, ataupun darah tinggi," jelas sang dokter.
"Lalu, bagaimana cara mengatasinya dokter?" sahut Alan.
"Sekarang dia sedang memerlukan transfusi darah, kami membutuhkan darah yang cocok untuknya," jawab sang dokter.
"Tran-tranfusi darah. Tapi... setahuku darah ku tidak sama dengan milik Ayah, dan begitupun juga dengan Alan," batin Ibunda.
"Kecuali," gumamnya sembari melirik kearah Al.
"Biar saya saja dokter, ambil saja darah saya sebanyak yang anda perlukan," ucap Alan.
"Darah yang dimiliki oleh ayah anda adalah darah berjenis golongan AB. Apakah anda termasuk jenis golongan darah itu?" tanya sang dokter.
"Golongan darah AB. Tidak dokter, saya golongan darah A," jawab Alan lalu memasang wajah kusam. Dirinya merasa sedih karna tidak bisa menolong Ayahnya.
"Maaf, kalau begitu kami tidak bisa mengambil darah anda, karena tidak cocok dengan milik pasien," ucap sang dokter.
"Kalau begitu ambil saja darah saya dokter!" sahut Al membuat semua orang terkejut mendengarnya, terutama Ibunda.
"Garuda!" batinnya.
"Baiklah, biar kami periksa dulu apa jenis golongan darah anda," balas sang dokter lalu mengajak Al untuk mengecek jenis golongan darahnya.
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...