ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 49


__ADS_3

-Di depan rumah kediaman putra.


Setelah cukup lama berkunjung dan bermain di sana, akhirnya Alan memutuskan untuk kembali pulang.


"Ayah, Alan pulang dulu yah!" pamit Alan kepada sang Ayah yang berdiri di hadapannya.


"Iyah, hati-hati yah!" balas sang Ayah sambil memeluk singkat tubuh Alan.


"Assalamualaikum!" salam Alan sembari mencium telapak tangan pria tersebut, lalu berjalan pergi sambil melambaikan tangan, dan masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati Yah Alan!" ujar sang Ayah sedikit keras sambil melambaikan tangannya, melihat mobil itu berlalu pergi keluar menunju pintu gerbang.


Selang beberapa detik, Ibunda keluar dari dalam rumah sembari mengenakan sweater rajut kesayangannya.


"Bunda," ucap sang Ayah menoleh, melihat kedatangan istrinya yang sedang berjalan menghampiri dirinya.


"Alan sudah pulang Yah?" tanya Ibunda.


"Iyah Bunda sudah, baru aja Alan pulang," jawab sang Ayah.


"Bunda tadi kemana aja? Tumben-tumbenan gak mau ketemu sama Alan dulu sebelum dia pulang."


"Ayah!" panggil Ibunda.


"Iyah Bunda?" balas sang Ayah.


"Bunda curiga, kalau Alan sudah tahu soal..."


...********...


-Di dalam mobil.


"Tidak ada Alan."


"Anak yang kau katakan itu tidak ada, Ibunda tidak pernah mengenal siapa dia."


Sedari masuk mobil sampai sekarang, Alan masih terus saja memikirkan tentang apa yang Ibundanya tadi katakan kepada dirinya.


"Bagaimana mungkin Bunda tidak mengenali siapa anak laki-laki itu," batin Alan menaruh rasa curiga, dia merasa seperti ada sesuatu yang janggal.


Anak itu berada di dalam foto keluarga putra, kalaupun anak itu bukan siapa-siapa. Lalu bagaimana bisa, dirinya ambil bagian dalam sebuah foto penting seperti itu. Itulah yang sedang menjadi tanda tanya besar di dalam pikiran Alan.


"Foto itu hanya berisikan anggota keluarga, anak itu pasti memiliki peran penting di dalamnya," batin Alan.


"Tuan Alan!" panggil sekretaris Ken yang posisi duduknya di depan, samping Pak sopir.


"Tuan!" panggilnya sekali lagi.

__ADS_1


"Eh iyah?" tanya Alan tersadar dari lamunannya.


"Kita sudah sampai Tuan," ucap sekretaris Ken.


"Benarkah?" balas Alan, dirinya tidak sadar kalau sudah tiba di rumah. Alan terlalu sibuk memikirkan soal foto itu, hingga lupa dengan keadaan sekelilingnya.


"Tuan Alan, apa anda baik-baik saja? Dari awal masuk mobil tadi, hingga sekarang anda hanya melamun saja Tuan," tanya Angga merasa khawatir.


"Apa ada masalah yang sedang anda pikirkan?" sambungnya.


"Ti-tidak ada Angga," jawab Alan.


"Mungkin aku terlalu lelah sehabis pulang dari rumah Ayah dan Ibunda, istirahat sebentar akan membuat tubuh dan pikiran ku pulih kembali."


"Baiklah Tuan," jawab Angga, lalu segera keluar dari dalam mobil untuk membukakan pintu Tuannya.


Akhirnya, Alan dan kedua pria itu berjalan menuju pintu rumah dan masuk ke dalam. Seperti biasa, seluruh pelayan sudah berbaris rapi di sana sembari menundukkan kepalanya untuk menyambut kedatangan Alan.


"Tuan Alan, apa anda ingin langsung pergi ke kamar anda untuk beristirahat?" tanya sekretaris Ken.


"Iyah Ken, aku mau langsung pergi ke kamar untuk istirahat. Nanti saja aku makan, perutku masih kenyang."


"Baik Tuan, saya mengerti," balas sekretaris Ken sedikit menundukkan kepalanya, lalu melihat Tuannya Alan berjalan pergi menuju ke kamar.


...********...


-Di dalam kamar Alan.


Alan mengerjap-japkan kedua matanya, menatap ke arah jam dinding dengan pandangan buram.


"Pukul empat sore," ucapnya sedikit serak.


"Achhss kepalaku," sambung Alan merasakan pusing di bagian kepalanya, mungkin akibat Alan tidur dalam keadaan lelah dan terlalu memikirkan sesuatu sampai membebani pikirannya.


Dari arah luar, terdengar suara seseorang sedang menyapu di dekat jendela kamar Alan. Membuat remaja itu mengintip, memeriksa ke arah luar jendela.


"Bi Ana," ujar Alan, melihat seorang wanita paruh baya tengah menyapu dedaunan kering di taman kecil.


"Apa aku tanya sama Bi Ana aja yah?" gumam Alan berpikir sejenak.


"Bi Ana sudah merawat serta menjaga Alan dan Kakak dari kecil, dia pasti sudah bekerja lama di sini. Bi Ana pasti tahu soal anak kecil itu," batinnya, lalu dengan segera pergi keluar kamar untuk menghampiri Bi Ana.


Sesampainya di sebuah taman kecil dekat kamar Alan berada, Bi Ana masih menyapu di sana. Dirinya terlihat sibuk melakukan pekerjaannya.


"Bi Ana!" panggil Alan yang kini sudah berdiri di hadapan wanita paruh baya tersebut.


"Iyah Tuan?" balas Bi Ana melihat ke arah Tuannya, sembari masih memegang sebuah sapu taman di tangannya.

__ADS_1


"Alan boleh tanya sesuatu gak Bi?"


"Iyah Tuan, silahkan!" jawab Bi Ana menganggukkan kepala.


"Tapi.... bi Ana harus jawab jujur yah, jangan bohong sama Alan!"


"Iyah Tuan, saya akan jawab semampu yang saya bisa," ucap Bi Ana, lalu menunggu apa yang akan Tuannya itu tanyakan.


"Bi Ana kerja sama keluarga putra sudah lama kan?" ujar Alan mulai mengeluarkan pertanyaannya.


"Iyah Tuan, sudah lama saya bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Tuan," jawab bi Ana.


"Mmmm kalau Alan boleh tahu, berapa lama yah Bi?" tanya Alan sekali lagi.


"Sejak Tuan Alan dan almarhum kakak Tuan masih kecil, sejak saat itu saya mulai bekerja sebagai pembantu di keluarga Tuan," jawab bi Ana.


"Kalau Bi Ana baru bekerja di sini waktu Alan masih kecil, berarti Bi Ana tidak tahu tentang anak laki-laki itu. Karena difoto itu, dia sudah ada sejak Kakak masih bayi," batin Alan merasa tidak puas, karena tidak mendapatkan sebuah jawaban yang dirinya inginkan.


"Baik Bi, terima kasih!" balas Alan kepada bi Ana.


"Kalau begitu, Alan masuk ke dalem dulu yah Bi, semangat Bi!" pungkasnya tersenyum manis, lalu segera pergi meninggalkan bi Ana.


"Baik tuan," jawab Bi Ana sembari melihat kepergian Alan.


//Ddrrtt ddrrtt// getar handphone yang berasal dari dalam saku rok milik Bi Ana, membuat wanita paruh baya itu mengambil benda pipih tersebut lalu mengangkatnya.


^^^Nyonya putra: "Assalamualaikum, halo Bi!"^^^


Bi Ana: "Waalaikumussalam, iyah Nyonya?"


^^^Nyonya putra: "Gimana Bi? Sudah Bi Ana laksanakan apa yang saya minta?"^^^


Bi Ana: "Sudah Nyonya, ternyata benar apa yang Nyonya katakan. Tuan Alan tadi datang menghampiri saya, dan bertanya berapa lama saya bekerja di keluarga putra."


^^^Nyonya putra: "Lalu, Bi Ana menjawab apa?"^^^


Bi Ana: "Saya menjawab, kalau saya bekerja di keluarga putra mulai Tuan Alan masih kecil Nyonya."


^^^Nyonya putra: "Bagus Bi. Saya mohon yah Bi, kalau seumpama nanti Alan bertanya lagi soal hal itu. Pura-pura saja Bi Ana tidak tahu, atau alihkan dengan pembicaraan lain."^^^


Bi Ana: "Baik nyonya, saya mengerti."


^^^Nyonya putra: "Terima kasih Bi, kalau begitu saya tutup dulu telponnya. Assalamualaikum!"^^^


Bi Ana: "Waalaikumussalam Nyonya."


/Tut Tut Tut/ panggilan diakhiri.

__ADS_1


"Alan, tidak aku sangka anak itu sangat serius menanggapi soal ini semua," ucap Ibunda. "Tapi tenang saja, tidak semudah itu kau bisa mengetahui semuanya Nak, tidak akan Bunda biarkan."


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2