ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 24


__ADS_3

Keesokan harinya....


"Hoam," Alan menguap sembari perlahan membuka kedua matanya. "Aku ketiduran," sambung Alan setengah sadar, sepertinya semalam ia tertidur di lantai karena kelelahan.


"Pukul berapa sekarang?" tanya Alan sembari melihat ke arah jam weker di atas laci mejanya, yang menunjukkan pukul enam pagi.


"Sebaiknya, aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah."


...********...


Setelah selesai Alan bersiap-siap, anak itu keluar dari dalam kamarnya dengan menaiki kursi roda menuju ruang makan.


-Ruang makan.


Sesampainya Alan di sana, ia sudah disambut oleh beberapa pelayan yang telah menyiapkan lumayan banyak hidangan makanan tertata rapi di atas meja. Tapi entah kenapa, Alan merasa ada sesuatu yang kurang. Elang, dia tidak ada di sana.


"Bi Ana, dimana Kak Elang?" tanya Alan kepada wanita paruh baya yang sedang menuangkan susu vanilla di gelasnya.


Semalam ia tidak pulang ke rumah, dan sekarang pun juga dia tidak melihat keberadaan Kakaknya.


"Tuan Elang sudah berangkat bersama sekretarisnya Ken pagi tadi Tuan," jawab Bi Ana seusai menuangkan susu tersebut.


"Dari kemarin malam dan sampai sekarang, aku belum bicara sama sekali dengan kakak. Dan pagi tadi juga, tumben Kakak nggak datang ke kamar Alan dulu," batin Alan.


"Kakak Elang marah yah sama Alan?" gumam Alan merasa sedih, ia merasa tidak enak dengan Kakaknya. Perasaan seperti, asing baginya. Baru kali ini, sebelum berangkat bekerja, Elang tidak datang untuk menjenguk Alan di kamarnya terlebih dahulu. Seperti ada rasa yang hilang dan berbeda di hati Alan.


"Ke kantor yah Bi? Kayaknya penting banget sampai pagi-pagi berangkatnya," ucap Alan tersenyum kaku.


"Bukan ke kantor Tuan Alan, tapi ke bandara," jawab Bi Ana yang lantas membuat Alan terkejut mendengarnya.


"Apa?" kejut Alan.


"Ngapain Kakak Elang ke bandara bi?" sambung Alan bertanya.


"Tuan Elang dan sekretaris Ken akan pergi ke negara Z Tuan, Tuan Elang mengatakan kalau ada urusan pekerjaan penting di sana, dan mungkin akan beberapa bulan lamanya," jelas bi Ana.


"Kenapa Kakak gak pernah cerita sama Alan kalau dia akan pergi keluar negeri?" batinnya.


"Lalu...." sambung Bi Ana menjeda kalimatnya, Alan yang melihat hal itu pun mengerutkan kening.


"Lalu apa Bi?" tanya Alan penasaran, menunggu apa yang akan Bi Ana katakan.

__ADS_1


"Tuan Elang mengatakan kepada saya, selama Tuan Elang pergi ke luar negeri. Ia telah menyewa seorang bodyguard untuk menjaga anda, dan katanya dia akan datang ke rumah sekarang."


"Sudah ku duga, walaupun Kakak Elang jauh dari aku, tapi ia akan tetap memantau dan tidak akan pernah membiarkan diriku bebas," batin Alan.


/Ting tong ting tong/ terdengar suara bel rumah berbunyi.


"Tuan, sepertinya dia sudah sampai," ucap Bi Ana lalu membantu mendorong kursi roda Alan menuju pintu rumah.


"Baiklah, aku juga sudah penasaran bagaimana rupanya," batin Alan sudah tak sabar.


Sesampainya di depan pintu rumah, Bi Ana membukanya. Lalu nampak lah seorang pria yang diduga ia adalah bodyguard yang Elang sewa.


"Hallo Tuan Alan, senang bisa berjumpa dengan anda!" sapa pria tersebut dengan senyumannya.


"I-ini bodyguard yang Kak Elang sewa? Kok beda banget sama yang aku bayangin," batin Alan tak percaya dengan mulut sedikit terbuka.


Alan sudah membayangkan, kalau bodyguard yang Kakaknya itu sewa pasti lebih dewasa darinya, lebih terlihat seram layaknya bodyguard pada umumnya dengan badan berotot dan kekar. Tapi ekspetasi tak sesuai realita.


Bodyguard kini yang sedang berdiri di hadapannya, terlihat lebih muda dan tidak terasa aura menyeramkan sama sekali dari dalam dirinya.


"Ini yakin Kakak Elang yang sewa?" gumamnya.


"Hallo Tuan, selamat datang!" sambut hangat Bi Ana.


"Mari tuan Alan! Saya akan mengantarkan anda pergi ke sekolah," sambungnya.


"Ba-baiklah," balas Alan.


Alan pun masuk ke dalam mobilnya, dengan dibantu oleh bodyguard barunya itu.


-Di dalam mobil.


Suasananya begitu hening, Alan dan bodyguard barunya itu tidak saling berbicara satu sama lain.


"Ini terlalu baru untuk ku, baru kali ini aku duduk berdampingan dengan orang yang baru saja aku temui," batin Alan merasa gugup.


"Ayolah Alan kau harus berani! Sampai kapan kau harus begini terus," batin Alan sekali lagi, ia berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbicara dengan seseorang yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.


"K-kau, aku harus memanggil mu apa?" tanya Alan merasa gugup, kedua telapak tangan remaja itu sudah mengeluarkan keringat dingin. Padahal hanya menanyakan sebuah nama tapi serasa seperti mau mati saja.


"Panggil saja saya Angga Tuan," balas pria tersebut sambil menoleh ke arah Alan.

__ADS_1


"Baiklah Angga, a-apa aku boleh tahu be-berapa umurmu?" tanya Alan sekali lagi.


"Aaahhh Alan apa yang kau tanyakan, itu sama sekali tidak sopan!" batin Alan menjerit


"E-eeehhh kau... kau tidak mau menjawabnya? Ti-tidak apa-apa pertanyaan ku memang tidak sopan, maaf!" ucap Alan merasa tak enak, karena sedari tadi Angga bodyguardnya hanya diam saja.


"Umur saya 20 tahun Tuan," balas Angga.


"Anda tidak perlu meminta maaf Tuan Alan, seharusnya saya yang mengatakannya karena telah lama menjawab pertanyaan anda," sambungnya.


"Ti-tidak, tidak apa-apa," balas Alan.


"20 tahun yah, bukannya itu bisa dibilang masih muda. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini pertama kalinya aku berbicara cukup panjang dengan orang lain setelah.... dia," batinnya tiba-tiba teringat kembali akan Riza.


Lama mereka berbincang akhirnya sampailah di depan gerbang sekolah SMA Garuda Sakti.


"Baiklah Tuan, kita sudah sampai," ucap Angga lalu melihat Tuannya Alan mengangguk sebagai jawaban.


Angga membantu Alan untuk turun dari dalam mobil, dan membantu mendudukkan badannya di kursi rodanya.


"Angga, kenapa kau masih berdiri disini? Kau tidak pulang?" tanya Alan kepada sang bodyguard yang masih berdiri di hadapannya dengan membawa tas hitam.


"Saya akan ikut bersekolah di sini bersama anda Tuan," jawab Angga sontak membuat Alan terkejut mendengarnya.


"Apa?!" kejut Alan dengan mata membelalak.


"Ba-bagaiman bisa? Status kau di sini sebagai bodyguard, dan identitas mu yang lainnya juga...." ucapan Alan berhenti seketika, saat Angga menunjukkan apa isi dari tas hitam yang ia bawa.


"Tuan Elang sudah mengurus semuanya Tuan, dan saya juga sudah diberi seragam dan buku-buku pelajarannya," ucap Angga.


"A-apa, se-sejak kapan?"


"Kak Elang, jadi kau sudah merencanakan ini semua dari awal," batin Alan sedikit merasa kesal kepada Kakaknya.


"Tuan Alan!" panggil Angga.


"Iyah?"


"Bisakah anda mengantarkan saya ke toilet, saya ingin mengganti pakaian ini terlebih dahulu. Tidak mungkin kan saya pergi ke kelas dengan menggunakan jas," pinta Angga kepada Alan.


"Ba-baiklah, ayo!" balas Alan mengiyakan.

__ADS_1


"Satu sekolah bersama bodyguard sendiri, bencana apa yang sudah kau siapkan untukku Kak!" batin Alan merasa cemas.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2