
..."Rahasia yang terungkap."...
...********...
Alan menancapkan gas, remaja itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi agar bisa segera sampai di rumah sakit negara Y. "Tunggu aku Kak!"
-Rumah sakit negara Y.
Sesampainya di sana, Alan langsung memarkirkan mobilnya, dan bergegas untuk masuk ke dalam.
-Lobi rumah sakit negara Y.
"Permisi suster, apa ada pasien yang bernama Erlangga Mahesa Putra? Ia baru saja mengalami kecelakaan," ucap Alan dengan nada terburu-buru.
"Ada Tuan, apakah anda dari pihak keluarga?" tanya sang suster.
"Iyah sus, saya adiknya," jawab Alan, lalu segera diantarkan oleh suster menuju tempat dimana Kakaknya tengah dirawat.
-Ruang ICU.
Kedua mata Alan terbelalak jantungnya semakin berdegup kencang, dirinya merasa terkejut dengan ruangan dimana Kakaknya sedang dirawat. "A-apa, ruang ICU!"
"Separah itu kah lukanya, sampai harus dirawat di ruang ICU?" batin Alan.
"Saudara anda sedang dirawat didalam, mohon untuk menunggu diluar!" Ucap sang suster kepada Alan, lalu segera pergi dari sana untuk melanjutkan tugasnya.
"Baik suster, terima kasih," Balas Alan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruang ICU yang masih tertutup rapat dengan tatapan cemas dan khawatir. "Semoga, Kakak baik-baik saja," gumam Alan berharap kalau Elang Kakaknya baik-baik saja di dalam sana.
"ALAANNN!!!" teriak suara seorang wanita yang sangat familiar di telinga Alan, dirinya yang sedang duduk di kursi tunggu seketika menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Alan melihat Ibundanya yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri dirinya, disusul dengan sang Ayah dan sekretaris Ken di belakang.
"Hiks Alan, dimana.... dimana Kakak kamu sayang?" panik Ibunda khawatir akan kondisi anaknya dengan mata berwarna merah dan bibir yang kering, dengan melihatnya saja Alan bisa tahu, wanita itu pasti habis menangis setelah mendengar kabar tentang kecelakaan Elang.
Seorang Ibu memiliki sebuah kasih sayang penuh dan tulus untuk anaknya, dan mengkhawatirkan mu melebihi siapapun.
"Tenang Bunda tenang, Kakak sedang dirawat di dalam sekarang," jawab Alan mencoba untuk menenangkan Ibundanya, menuntunnya untuk duduk di atas kursi tunggu.
"Kenapa ini bisa terjadi kepada Kakak mu Alan, kenapa?! Kenapa ini bisa terjadi dengannya," ucap Ibunda yang masih terisak tangis. Sang ayah yang hanya bisa diam, merasa sedih melihat keadaan anak dan istrinya, hingga dia memutuskan untuk duduk di samping istrinya, merangkul pundaknya, berniat untuk menenangkannya.
"Tenang yah Bunda, lebih baik sekarang kita berdoa semoga Elang baik-baik saja," ucap sang Ayah.
__ADS_1
...*******...
Sekitar dua jam mereka menunggu di luar ruang ICU dengan rasa khawatir bercampur rasa takut sembari terus-menerus berdoa.
Hingga terdengar suara pintu ruang ICU terbuka, nampak seorang dokter keluar dari dalam sana. Membuat Alan dan lainnya bergegas menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan tentang kondisi Elang.
"Dok, bagaimana dengan kondisi kakak saya dok?" tanya Alan.
"Iyah dok, bagaimana keadaan anak saya Elang dok!?" tambah Ibunda.
"Sebentar Nyonya, Tuan! Biarkan dokter mengatakan sesuatu dulu," ucap sekretaris Ken.
"Haah jadi begini, untuk saat ini kondisi saudara Elang dia...." ucap sang dokter lalu menjeda perkataannya, semakin menambah sensasi rasa tegang dan cemas.
"Apa dok apa! Bagaimana kondisi anak saya!?" ucap sang Ibunda sudah tidak sabar.
"Untuk saat ini saudara Elang sedang mengalami koma," jawab sang dokter dengan raut wajah sedih.
"Ko-koma?" gumam Alan tertegun mendengarnya.
"Koma! Apa maksud anda anak saya mengalami koma! Anda jangan membuat lelucon dokter, anak saya Elang baik-baik saja," balas sang Ayah tak terima, dirinya yang hendak mencengkeram kerah baju dokter tersebut, dan langsung ditahan oleh sekretaris Ken.
"Maaf dokter, apa bisa anda menjelaskan apa yang telah terjadi dengan Tuan saya?" Sambung sekretaris Ken.
"Jadi begini, akibat benturan keras yang terjadi kepada kepala saudara Elang, membuat dirinya kehilangan banyak darah sehingga membuatnya mengalami koma, dan selain itu juga..." balas sang dokter yang sekali lagi menjeda perkataannya.
"Juga apa dok?" tanya sekretaris Ken menunggu apa yang akan dokter itu katakan.
"Selain itu, ini juga akibat dari penyakit lama yang sudah diderita oleh saudara Elang!"
"Pe-penyakit lama? Kakak saya tidak pernah memiliki riwayat penyakit dok, dia sehat," balas Alan merasa aneh dengan apa yang dokter itu katakan.
"Saudara Elang mempunyai riwayat penyakit, anda saudaranya bukan? Seharusnya anda juga sudah mengetahui tentang hal ini."
"Tidak, saya tidak pernah tahu kalau Kakak saya memiliki riwayat penyakit," balas Alan mengerutkan kening. Ibunda semakin resah dengan berbagai pertanyaan yang terus Alan lontarkan kepada dokter.
"Su-sudahlah Alan, baiklah dokter terima kasih anda boleh pergi."
"Ada apa dengan Bunda?" batin Alan semakin dibuat curiga.
"Tidak dokter, anda tidak boleh pergi sebelum anda mengatakan kepada saya penyakit apa yang diderita oleh Kakak saya," tahan Alan kepada dokter.
__ADS_1
"Sa-"
"Dokter terima kasih, sekretaris Ken tolong antarkan dokter pergi!" ucap Ibunda yang langsung memotong perkataan sang dokter, tidak memberinya kesempatan sedikitpun untuk berbicara.
"Baik Nyonya," angguk sekretaris Ken lalu mengantarkan dokter tersebut pergi dari sana. Sedangkan Alan dibuat kesal dan marah dengan apa yang Ibundanya itu lakukan.
"Bunda, apa yang Bunda lakukan! Kenapa Bunda tidak mau memberikan kesempatan kepada dokter untuk memberitahu soal penyakit Kakak," kesal Alan.
"Kau tidak perlu tahu Alan," lirih Ibunda.
"A-apa?" ucap Alan tertegun.
"Memangnya kenapa kalau Alan tahu Bunda? Alan Adiknya kan?"
"Alan saudara kandung Kak Elang kan!? Kenapa Alan tidak boleh tahu tentang penyakit Kakak?"
"Alan sebagai saudara wajib tahu tentang penyakit apa yang Kak Elang derita, Alan juga bagian dari keluarga, Alan juga wajib tahu mengenai ini semua!"
"KAKAKMU MENDERITA KANKER ALAN!!!" bentak Ibunda tepat di wajah Alan, ia sudah tak tahan dengan semua tekanan yang anaknya Alan itu berikan.
"Bun-Bunda," cengang sang Ayah.
"A-apa, ka-kanker," batin Alan amat terkejut mendengarnya.
Kakak selalu terlihat kuat di hadapan Alan.
Kakak selalu terlihat seakan semuanya baik-baik saja di hadapan Alan.
Wajah dingin Kakak, sifat kejam dan kerasnya. Badan kekar, tubuh proporsional semuanya tampak normal.
Tapi sebagai seorang Adik, Alan tidak pernah mengetahui kalau jauh di dalam diri Kakak yang sebenarnya, hanyalah seorang pria yang rapuh dan lemah.
"Dia tidak ingin mengatakannya Alan, dia menyuruh kami semua untuk merahasiakannya," ucap Ibunda dengan bulir air mata yang meluncur deras begitu saja.
"Karena Elang melihat dirimu yang sudah cukup menderita dengan kelumpuhan mu, itu sebabnya, ia tidak ingin menambah kesedihanmu lagi dengan mengetahui penyakit yang sedang ia alami," tambah sang Ayah.
"Kakak Elang, dia...." ucap Alan sembari menoleh ke arah jendela pintu ruang ICU, terlihat Kakaknya Elang yang sedang mengalami koma terbaring lemah di dalam sana.
"Kakak, maaf-maafin Alan kak!" batin Alan, tanpa sadar bulir-bulir air mata itu mengalir deras melewati pipinya.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1