ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 17


__ADS_3

Andhika: "Assalamualaikum Elang, apa sepulang kerja kau ada waktu, karna ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu."


^^^Elang: "Waalaikumussalam, sepulang kerja aku akan langsung pulang ke rumah, kalau kau ingin bertemu denganku datang saja ke rumah."^^^


Andhika: "Beres."


^^^Elang: "Kalau aku boleh tahu, sesuatu apa yang kau maksud?"^^^


Andhika: "Nanti kau juga akan tahu, baiklah aku tutup dulu yah, masih ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan, sampai jumpa di rumah mu. Assalamualaikum!"


^^^Elang: "Waalaikumussalam."^^^


/Tut/ menutup telepon.


"Telepon dari Tuan Andhika lagi tuan?"


"Iyah," jawab Elang sembari meletakkan ponselnya.


"Saya hanya merasa heran saja, kenapa Tuan Andhika begitu tertarik mengenai informasi tentang temannya Tuan Alan."


"Biarlah Ken, terserah dia mau apa, ayo kita pulang! Andhika juga berkata kalau sepulang kerja dia mau berkunjung ke rumah."


"Baik Tuan," jawab sekretaris Ken.


...********...


-Sekolah SMA Garuda Sakti.


//Krriiinggggg// bel pulang akhirnya berbunyi, suara emas kemenangan yang ditunggu-tunggu oleh semua para manusia penghuni SMA menggelegar di seluruh sekolah.


Waktu bunyi bel pulang memang saat paling nikmat, betul?!


-Di depan gerbang sekolah SMA Garuda Sakti.


Mobil jemputan dengan sang sopir sudah siap, menunggu Alan di depan gerbang sekolahnya.


"Mari Tuan Alan, saya bantu," ucap sang sopir sembari membukakan pintu mobil.


"Iyah," angguk Alan tersenyum, komplit dengan dua lesung manis di pipinya.


Sang sopir hendak membantu Alan untuk masuk ke dalam mobil akan tetapi, "Alaaaannnn!!!" suara teriakan yang memanggil namanya, membuat Alan menoleh ke arah sumber suara.


Nampak seorang remaja yang berlari terburu-buru menghampiri dirinya, sembari terus-menerus memanggil namanya.


"Sebentar yah pak," ucap Alan kepada Pak sopir.


"Baik Tuan."


"Haahh haahh Alan, tunggu sebentar!" ucap remaja itu ngos-ngosan sembari berusaha untuk mengatur nafasnya.


"Iyah," balas Alan.


"Lo.... lo mau pulang?"


"Iyah, aku mau pulang. Memang kenapa?" balas Alan berbalik bertanya.

__ADS_1


"Gua... gua boleh bareng gak?" pinta seorang remaja lelaki itu merasa malu.


"Boleh aja kok Za, kita kan teman," balas Alan, mengiyakan permintaan temannya yang bernama Riza itu.


"Makasih yah Alan, hehe jadi ngerepotin nih," ucap Riza cengengesan.


"Enggak kenapa-kenapa kok Za, yuk masuk!" balas Alan mengajak Riza untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Iyah."


-Di dalam mobil.


"Oh yah, memang sepeda kamu kemana?" tanya Alan kepada Riza yang sedang duduk di sebelahnya.


"Sepeda gua rusak Alan, tadi waktu mau berangkat ke sekolah aja gua harus naik angkot dulu, mana rumah gua lumayan jauh lagi," balas Riza dengan nada memelas, sehingga membuat Alan merasa empati mendengarnya.


Salah satu kelemahan Alan adalah mudah merasa kasihan, serta sikapnya yang terlalu baik kepada orang lain. Elang selalu memperingatkan kepada Adiknya untuk selalu bisa mengendalikan sifat baiknya itu, karena orang lain bisa saja memanfaatkan dirinya.


"Terus, kamu mau aku langsung anterin pulang?" tanya Alan.


"Eemmm, gi-gini Alan. Sebenarnya, di rumah gua lagi gak ada orang jadi gua sendirian, kalau gua main ke rumah lo boleh gak?"


"Beneran kamu mau main ke rumah aku? Kakak aku ada di rumah, emang kamu nggak gak masalah?" tanya balik Alan kepada Riza. Ia masih mengingat jelas tentang kejadian pertama kalinya Riza datang ke rumahnya, dan tentang bagaimana Kakaknya memperlakukan temannya.


"Iyah, nggak apa-apa kok," jawab Riza.


"Oke."


...********...


Sesampainya di sana, lelaki itu langsung masuk ke dalam dengan membawa sesuatu yang ingin ia tunjukkan kepada Elang.


-Ruang tamu.


Elang yang sudah cukup lama menunggu kedatangan temannya, serta dirinya yang terus memikirkan, tentang sesuatu apa yang ingin sahabatnya itu tunjukkan.


"Tuan Elang, Tuan Andhika sudah datang," ucap sekretaris kepada Tuannya yang sedang duduk membaca koran.


Elang kembali mengangkat kepalanya, kedua manik mata tajam itu melirik ke arah Andhika yang sudah berdiri di hadapan dirinya.


"Duduklah!" titah Elang.


"Hm," deham Andhika, lalu mengikuti apa yang Elang katakan. Ia duduk di sebuah sofa dekat Elang.


"Ken, tolong buatkan minuman!" suruh Elang kepada sekretaris Ken.


"Baik tuan," Balas sekretaris Ken.


"Baiklah, sekarang katakan tentang sesuatu yang kau maksud itu," pinta Elang sudah tak sabar.


"Ini, bacalah!" balas Andhika seraya menyodorkan sebuah map berisikan beberapa data tentang Riza.


Elang menghela napas berat sembari menerima map yang Andhika sodorkan. Ia berpikir, kenapa tidak langsung terus terang saja. Kenapa dirinya harus malah disuruh untuk membaca map yang Andhika berikan.


"Lihat sendiri dan bacalah, aku terlalu malas untuk menjelaskannya panjang lebar," ujar Andhika lalu melihat Elang yang tengah sibuk membaca isi map yang ia berikan.

__ADS_1


Satu persatu Elang mulai membaca isi dari map itu, "Sebenarnya, apa yang Andhika maksud?" batin Elang yang masih belum menemukan informasi apapun dari dalam map itu.


"Ini sama persis dengan data yang kuberikan padanya, tapi...." ucapan Elang berhenti seketika, netra matanya membulat. Dia merasa terkejut dengan sebuah nama yang tercantum di dalam map.


"Bagai... bagaimana bisa?" batin Elang merasa tak percaya.


"Bagaimana, menarik bukan? Data yang kau berikan kepadaku kurang lengkap, jadi aku berusaha mencarinya lebih dalam dan berhasil menemukan nama itu," ujar Andhika menyunggingkan senyum, ia merasa senang dengan raut wajah terkejut yang Elang tunjukkan selepas membaca data di dalam isi map tersebut.


"Adikmu Alan berteman dengan Riza yang memiliki seorang saudara, yang kala itu pernah kau habisi nyawanya," sambung Andhika membuat Elang teringat kembali akan peristiwa lampau.


"Apa kau tidak takut Elang, kalau anak itu mungkin mempunyai rasa balas dendam? Apa Adikmu Alan aman?" ucap Andhika.


"Aku juga pernah berada di posisi seperti itu Elang, kehilangan orang yang paling kita sayang itu tidaklah mudah."


"Cih, apa ini!" batin Elang geram bercampur menyesal. Ia meremas erat sebuah map yang sedang ia pegang. Bagaimana bisa dirinya tidak mengetahui bahwa selama ini Adiknya berteman dengan seseorang yang memiliki saudara, yang pernah dia habisi nyawanya.


"Tuan Alan, anda sudah pulang," sambut seorang pelayan kepada Alan dengan temannya Riza berdiri di belakangnya.


Elang yang mendengar Adiknya telah datang, dengan segera ia menghampiri Alan disusul dengan Andhika mengekor di belakang.


"Kakak," sapa Alan kepada Elang yang kini sudah berdiri di depannya. "Kak Andhika juga datang."


"Yoo Alan," balas Andhika.


Elang melirik tajam ke arah Riza, "Alan, jauhi dia, kau tidak boleh lagi berteman dengannya!" lirih Elang penuh penekanan, membuat Alan merasa bingung dengan perubahan sikap sang Kakak.


"Kenapa Alan tidak boleh berteman dengan saya, Tuan Elang?" tanya Riza.


"Cih, kau!!!" ujar Elang menarik kuat kerah baju Riza dengan kuat, mengakibatkan wajah mereka berdua saling berdekatan.


"Kau tidak usah membual dan membuat drama bocah! Katakan saja apa tujuan mu sebenarnya!" bentak Elang tepat di wajah Riza, lalu mendorongnya kasar hingga tersungkur ke lantai.


"Auch," desis Riza merasakan sakit di bagian siku.


"Ck, apa dia sudah tahu siapa gua sebenarnya," batin Riza.


"Kakak, apa yang Kakak lakukan!" sahut Alan terkejut dengan perilaku kasar Elang, ia langsung turun dari kursi rodanya untuk melindungi Riza dari amukan Elang.


"Menyingkir lah Alan, aku ingin memberinya pelajaran!"


"CUKUP KAKAK!!!" bentak Alan.


"Sudah Alan, gua baik-baik aja kok," ucap Riza kepada Alan, sembari memegang siku kanannya yang berdarah.


"Tapi za-"


"Sudah, ini cuman luka kecil, kalau gua memang nggak diterima disini nggak masalah kok, lain kali aja yah mainnya, gua pulang dulu!" ujar Riza memotong perkataan Alan.


"Maaf yah!" balas Alan merasa sangat bersalah dengan apa yang Kakaknya itu lakukan. Kedua kali Riza datang ke rumahnya, dan untuk kedua kalinya juga mendapat perlakuan yang sama.


"Iyah, gua pulang dulu yah Alan, permisi!" pamit Riza lalu berdiri dan berjalan pergi.


"Cih, dasar sialan!" batin Elang masih kesal, seraya melihat punggung Riza yang mulai menjauh keluar dari gerbang rumahnya.


"Lo mau apa Tuan Elang, melukai gua? Haha tidak bisa, sebab Adik lo Alan sudah berada di bawah kendali gua. Dengan melukai gua, sama saja seperti melukai Adik lo sendiri," batin Riza tersenyum licik.

__ADS_1


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2