
/Tok tok tok/ suara ketuk pintu.
"Alan, apa kau di dalam?" panggil Elang dari luar kamar Alan.
"Alan!" panggil Elang sekali lagi, tapi tak ada jawaban dari sang Adik.
"Apa dia sudah tidur?" batin Elang.
"Kakak masuk," sambungnya, lalu membuka pintu kamar Alan dan melangkah masuk ke dalam sana, ia melihat Adiknya yang sudah tertidur dengan berbalut selimut.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Elang kepada Alan, untuk memastikan apakah ia masih bangun atau tidak.
"Sepertinya begitu," sambung Elang menghela napas, kedua bola matanya menerawang ke arah punggung Alan.
"Kakak tidak tahu, apa saat ini kau sedang mendengarnya atau tidak. Alan, Kakak hanya ingin mengatakan bahwa Riza itu bukan teman yang baik untuk mu."
"Kakak ingin kau menjaga jarak dengannya, dan bahkan lebih baik jika kau menjauh darinya, Kakak mohon Alan turuti apa kata Kakak. Dia bukan anak yang baik Alan, bukannya kakak melarang mu dalam hal berteman, tapi... ini semua demi kebaikan mu sendiri dek," pungkas Elang, lalu setelah beberapa saat kemudian ia berjalan menuju pintu kamar.
"Kalau begitu, selamat malam!" ucap Elang lalu menutup pintu dan pergi.
"Cih," decak Alan kesal sembari meremas bantalnya kuat-kuat, anak itu tidak benar-benar sedang tertidur. Ia hanya berpura-pura saja dan mendengar semua apa yang Kakaknya tadi katakan.
"Demi kebaikan ego kakak sendiri kah?"
...********...
Tak terasa malam pun tiba, Alan yang sudah membuat janji dengan Riza untuk keluar bersama. Walaupun sang Kakak Elang sudah melarangnya, tapi Alan tetap bersikukuh untuk tetap pergi menemui temannya.
"Maafkan Alan Kak, aku juga ingin pergi keluar dan bermain bersama teman, kalau memang Kakak sayang sama Alan. Kakak pasti paham akan apa yang Alan rasakan," ucap Alan sembari memakai jaket dan topinya, dengan perlahan ia keluar dari pintu kamar berusaha untuk tidak membuat suara.
Alan berjalan dengan menaiki kursi rodanya, menuju keluar melewati pintu belakang rumah.
"Sudah kuduga, kau pasti tidak akan mendengarkan ku Alan," ujar Elang sembari memperhatikan Alan dari jendela kamarnya, ia melihat Alan Adiknya yang sudah pergi dengan sopir.
Elang menggerogoh saku celananya, mengambil sebuah handphone dari dalam sana. Dari handphone Elang ia dapat melacak keberadaan Alan dari ponsel miliknya.
"Kemanapun kau pergi Alan, kakak akan ada di sana untuk melindungi mu."
"Sekretaris Ken!" panggil Elang kepada sekretaris Ken.
"Iyah Tuan?" tanya sekretaris Ken yang sudah berada di belakangnya.
"Aku akan pergi sebentar, ada hal penting yang mesti ku urus, aku serahkan urusan rumah kepadamu, aku akan segera kembali," balas Elang kepada sekretarisnya lalu segera pergi keluar menuju garasi.
"Baik Tuan," jawab sekretaris Ken.
__ADS_1
-Di dalam mobil Alan.
Riza: "Apa lo sudah berangkat Alan?"
^^^Alan: "Sudah Za, aku dalam perjalanan menuju ke sana."^^^
Riza: "Oke, gua tunggu."
^^^Alan: "Yah."^^^
"Akhirnya, untuk hari ini aku bisa bebas," gumam Alan senang dengan senyuman lebar.
Elang bergegas keluar dengan mobil pribadinya, ia pergi mengikuti Alan dengan melacak handphone nya untuk mengetahui dimana lokasi Alan.
Sebab keadaan jalan yang lumayan sepi, Elang mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Ia takut kalau sampai terlambat dan terjadi sesuatu dengan Alan.
/Drrrtt drrrtt/ getar ponsel Elang.
^^^Elang: "Assalamualaikum Andhika ada apa?"^^^
Andhika: "Waalaikumussalam, Yoo bro kenapa nada suaramu terburu-buru?"
^^^Elang: "Aku sedang ada urusan, katakan kau mau apa?"^^^
Andhika: "Tidak, tidak ada apa-apa, memangnya kau sedang ada urusan apa? Sepertinya itu sangat penting."
Andhika: "WHAAATTT!!!"
Andhika: "Hahahaha, mungkin dia depresi karena telah tinggal serumah bersama Kakaknya yang mengerikan, kalau aku menjadi Alan mungkin aku akan melakukan hal yang sama, ups."
^^^Elang: "Ini bukan main-main Andhika, dia pergi untuk menemui Riza."^^^
Andhika: "WHAATTT!!!"
^^^Elang: "Bisa kau berhenti dengan sikapmu yang sok lebay itu?!"^^^
Andhika: "Boleh aku ikut? Ini pasti akan sangat seru."
Andhika: "Apakah kau tidak mau memberi temanmu ini bagian, untuk membuat sebuah karya seni diwajahnya?"
^^^Elang: "Haahh, baiklah aku akan segera mengirimkan lokasinya kepadamu, tapi ingat, jangan mengacau!"^^^
Andhika: "Siap."
"Ini pasti akan sangat menyenangkan bukan?" gumam Andhika dengan senyum kecilnya.
__ADS_1
Watak Elang dan Andhika hampir sama. Cuman Andhika sedikit berbeda, dari luar ia tampak begitu ceria dan bahkan suka tebar pesona, tidak dengan Elang yang dingin dan tertutup.
Tapi, kalau berbicara tentang kekejaman dan kebengisan mereka berdua tidak ada bedanya.
Akhirnya, Alan telah sampai ditempat dimana ia telah membuat janji dengan Riza temannya. Alan turun dari dalam mobil dengan dibantu sopir.
-Di dekat hutan kota.
"Apa saya harus menunggu di sini Tuan? Untuk menemani anda?" tanya Pak sopir kepada Alan, mereka berdua tidak melihat keberadaan Riza.
"M-mmmm, tidak apa-apa kok pak, anda pulang dulu saja, teman saya sebentar lagi pasti datang," jawab Alan.
"Apa anda yakin Tuan? Ini sudah malam, dan keadaannya juga lumayan sepi, saya takut kalau nanti akan terjadi sesuatu kepada anda," ucap Pak sopir merasa khawatir.
"Tidak perlu khawatir pak, saya baik-baik saja."
"Baiklah Tuan kalau itu memang mau anda, kalau begitu saya pergi dulu, kalau anda sudah selesai silahkan hubungi saya," ujar Pak sopir.
"Baik Pak, terima kasih," balas Alan, lalu melihat sopirnya masuk kembali ke dalam mobil dan berlalu pergi.
"Riza dimana?" gumam Alan bertanya, ia tidak melihat siapapun di sana, hanya dirinya seorang. Ditemani dengan lampu-lampu kota dan cahaya kuningnya, disertai desiran angin yang begitu menusuk kulit, walaupun sudah memakai jaket.
Sudah beberapa menit berlalu, tapi Riza belum juga menampakkan wujudnya. "Apa aku harus menelpon dia?" bingung Alan, ini sudah terlalu lama.
/Tak tak tak/ samar-samar Alan mendengar suara langkah kaki dari arah belakang sedang menghampiri dirinya.
"Riza!" antusias Alan sembari menoleh ke belakang, akan tetapi /dep/ mulut dan hidung Alan serasa dibungkam oleh sesuatu, membuat dirinya sulit untuk berteriak bahkan bernafas. Hingga perlahan-lahan pandangannya menghitam.
...********...
Sedikit demi sedikit Alan mulai membuka kedua matanya, ia sontak terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang. "Aku.... aku dimana?" ucap Alan ketakutan, di sepanjang pengelihatannya hanya ada pepohonan lebat dan semak-semak. Serta kedua tangannya yang diikat.
"Aku... aku dimana?" gumam Alan ketakutan melihat sekelilingnya.
"Kau sudah sadar Tuan Alan," terdengar suara seseorang sedang bersandar disalah satu pohon di sana dengan mengenakan sebuah topeng.
"Siapa kau!" tanya Alan.
"Siapa aku?" balas orang itu menunjuk dirinya sendiri, lalu berjalan menghampiri Alan.
Kedua tangan Alan bergemetar, dengan keringat dingin yang bercucuran di keningnya, "siapa orang asing ini?"
Kini orang itu telah berdiri di hadapan Alan, dengan perlahan ia mulai membuka topengnya, Alan sudah amat tidak sabar untuk segera melihat bagaimana bentuk rupanya.
"Hallo Tuan Alan!"
__ADS_1
"Ti.... tidak mungkin," cengang Alan terkejut hebat, dengan kedua bola mata yang membulat.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...