
Sesampainya di rumah kediaman putra.
Mobil putih itu masuk ke dalam sana melewati pintu gerbang rumah yang begitu besar. Dengan Tuan putra yang sudah menunggu kedatangan anaknya.
"Assalamualaikum, Ayah!" salam Alan sembari mencium punggung tangan sang Ayah.
"Iyah sayang," balas Ayah senang.
"Ya udah, langsung masuk aja yuk! Bunda kamu sudah nungguin kamu dari tadi," sambungnya lalu mengajak Alan dan kedua laki-laki yang datang bersama dengan dirinya untuk masuk ke dalam rumah.
...********...
-Di dalam rumah.
"Ayah, dimana Bunda?" tanya Alan yang tidak melihat keberadaan Ibundanya di sana.
"Bunda kamu lagi ada di kamar Alan, samperin gih!"
"Oke," angguk Alan.
"Ken Angga, aku pergi ke kamar Bunda dulu yah," sambung Alan kepada mereka berdua.
"Baik Tuan Alan," jawab sekretaris Ken dan Angga bersamaan lalu melihat Alan berjalan pergi dari sana.
"Yosh baiklah Tuan-Tuan, sekarang apa yang mau kalian berdua lakukan?" tanya Tuan putra kepada sekretaris Ken dan Angga.
"Mu-mungkin kami akan menunggu di sini, sampai Tuan Alan selesai menemui Nyonya putra," jawab Angga.
"Hoho, daripada kalian berdua di sini tidak melakukan apapun, lebih baik bantu aku. Ada pekerjaan seorang pria yang sedang menunggu kalian di belakang rumah."
"Pe-pekerjaan seorang pria?" ulang Angga, "Pekerjaan macam apa itu Tuan?" sambungnya penasaran.
"Jangan terlalu banyak bertanya, lebih baik ikut aku cepat!" ajak Tuan putra lalu membawa kedua pria itu pergi bersamanya.
...********...
Sedangkan di sisi lain, sekarang Alan sudah sampai di depan pintu kamar Ibunda. Dan dengan perlahan, mulai membuka pintu kamar tersebut.
/Kreeekkkk/
Alan membuka pintu kamar itu dengan sangat pelan sehingga tidak terdengar suara decitan, dirinya melihat Ibundanya tengah duduk di kursi kesayangannya sembari membaca sebuah buku menghadap ke arah jendela. Merasakan semilir angin lembut yang masuk dari sana.
Alan berjalan mengendap-endap layaknya seorang maling sambil sedikit menjinjit.
Kini, Alan sudah berdiri tepat di belakang Ibunda, lalu mengangkat kedua tangannya dan menutup kedua mata Ibunda. "Eh, ini siapa?" kaget Ibunda sembari memegang telapak tangan yang masih menutupi kedua matanya itu.
Alam hanya diam, dirinya tidak mau menjawab. Sembari berusaha untuk menahan tawa.
__ADS_1
"Hayo ini siapa?" tanya Ibunda sekali lagi sambil meraba telapak tangan tersebut. "Hmmm ini Alan yah," sambungnya mencoba menebak sambil mengembangkan senyumnya.
"Yaaahhh Bunda kok tahu sih kalau ini Alan," ujar Alan menjauhkan telapak tangannya dari mata Ibunda.
"Yah tahu dong sayang, kamu kan anaknya Bunda," jawab wanita itu sambil mencubit gemas pipi Alan.
"Iyah deh iyah," ujar Alan sedikit merasa kesal karena rencananya gagal untuk mengejutkan Ibundanya.
"Sini duduk di samping Bunda!" pinta Ibunda menyuruh Alan untuk duduk di sebuah kursi di samping dirinya.
Alan mengiyakan apa yang Ibundanya itu katakan, dia lalu duduk di sebuah kursi samping wanita cantik tersebut.
"Bunda lagi baca buku apa?" tanya Alan melihat Ibundanya memegang sebuah buku yang cukup tebal.
"Enggak ada kok, Bunda lagi iseng aja pingin baca," jawab ibunda.
"Owh," balas Alan, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian sudut kamar.
Semuanya masih tampak sama, tidak banyak yang berubah. Warna dinding, ukiran, hingga perabotan-perabotan pun masih berada di tempat yang sama seperti dulu.
Alan tersenyum simpul ketika pandangannya tertuju ke arah sebuah lemari tua. Dia kembali teringat akan masa kecilnya, itulah tempat favorit dimana biasanya dulu sewaktu kecil Alan dan Elang bersembunyi ketika bermain petak umpet bersama.
Di kamar itu juga terlihat beberapa foto keluarga yang terpajang, foto kebersamaan keluarga putra, dan foto masa kecil Elang dan Alan.
"Dulu itu.... seru banget yah," batin Alan, kemudian teringat akan sesuatu yang ingin dirinya tanyakan kepada Ibunda. "Oh yah, foto itu."
"Iyah?" balas Ibunda sembari menoleh kearahnya Alan.
"Eemmm eemmm ada sesuatu yang mau Alan tanyain sama Bunda," ujar Alan lalu dibalas anggukan oleh Ibundanya.
"Iyah, apa?"
"Dulu waktu kecil Kakak Elang gimana sih Bunda?" ucap Alan bertanya, lalu mendengar gelak tawa dari wanita itu.
"Hahahaha, Alan Alan. Kamu ini, Bunda kira kamu mau nanya apa kok tegang banget wajahnya. Ternyata cuman penasaran tentang Kakak kamu waktu kecil toh."
"Begini, Kakak kamu waktu kecil itu gemes banget deh pokoknya. Walau gedenya kelihatan dingin cuek, tapi padahal kecilnya itu cengeng. Bunda sering tuh gendong Kakak kamu kesana-kemari buat tenangin dia supaya diem," sambung Ibunda bercerita dan Alan berusaha mendengarkannya dengan seksama.
"Kenapa Bunda tidak menceritakan soal anak laki-laki itu juga?" batin Alan.
"Bunda!" panggil Alan.
"Iyah Alan?"
"Kakak Elang waktu bayi punya teman kan?"
"Teman?" ucap ibunda mengulang kembali apa yang Alan katakan.
__ADS_1
"Iyah teman, dia laki-laki kalau tidak salah umurnya waktu itu kisaran sembilan atau sepuluh tahun. Dan sorot matanya juga sama seperti Kakak," tambah Alan mencoba untuk menjelaskan tentang ciri-ciri anak kecil yang dirinya lihat di dalam foto tersebut.
"Tidak ada Alan," dingin Ibunda, nada bicara yang semula antusias dan senang, kini berubah.
"Anak yang kau katakan itu tidak ada, Ibunda tidak pernah mengenal siapa dia," sambung Ibunda sembari mengalihkan pandangannya.
"T-tapi Bunda."
"Sudahlah Alan, tidak baik kalau kita terus-menerus mengenang tentang Kakakmu. Ayahmu sedang merenovasi taman belakang rumah, pergilah ke sana bantu dia! Bunda mau istirahat sebentar," ucap Ibunda memotong perkataan Alan.
"I-iyah Bunda," Alan tidak bisa menjawab apapun lagi selain iya, melihat raut wajah yang Ibunda tunjukkan membuat hati Alan merasa bersalah.
"Alan pergi dulu Bunda," pamit Alan sembari mencium punggung tangan Ibundanya, lalu beranjak pergi dari sana.
"Ini semua semakin terasa aneh," batin Alan semakin ingin mencari kebenaran yang sesungguhnya dibalik selembar foto itu.
Akhirnya, anak itu pun pergi ke taman belakang rumah seperti yang Ibundanya suruh kepada dirinya.
"Waahhh," cengang Alan merasa terkejut sekaligus terkesima, taman yang ia lihat nampak begitu cantik dan indah.
"Halo Alan, gimana? Udah selesai ketemu sama Bunda?" tanya sang Ayah sembari berjalan menghampiri Alan dan disusul sekretaris Ken serta Angga di belakangnya.
"Iyah Ayah sudah, Alan ke sini mau lihat taman belakang rumah," jawab Alan. "Ken, Angga. Ada apa dengan kalian berdua?" sambungnya bertanya kepada dua laki-laki itu, Alan melihat deraian keringat yang membasahi dahi mereka serta sisa-sisa tanah yang membekas di kedua tangannya. Seperti telah melakukan sebuah pekerjaan yang berat.
"Kami berdua baru saja membantu Tuan putra untuk merenovasi taman ini Tuan," jawab sekretaris Ken.
"Tuan Alan, ayah anda menyiksa saya Tuan," sahut Angga merengek layaknya anak kecil.
"Ayah!" panggil Alan kepada Ayahnya, dengan tatapan kesal.
"Mereka ini bukan tukang kebun ayah. Ken itu sekretarisnya Alan, dan Angga itu bodyguardnya Alan. Ini bukan pekerjaan mereka berdua," sambungnya.
"Sudahlah Alan, memang apa salahnya jika ayah memanfaatkan kemampuan mereka berdua. Lihatlah taman ini sekarang, jadi lebih indah bukan?"
"Taman ini menjadi lebih indah karena Ken membantu untuk merancangnya dengan otak pintarnya, dan kau lihat patung dengan beberapa batu di sana!" sambung sang Ayah sembari menunjuk ke arah sebuah patung taman dengan beberapa batu di sebelahnya.
"Iyah," jawab Alan.
"Angga yang mengangkatnya."
"Astaga Ayah," batin Alan sembari menatap wajah Ayahnya yang tidak bersalah, dirinya memang pandai untuk menggunakan kemampuan orang lain.
"Huh baiklah, Ken Angga. Kalian berdua beristirahatlah terlebih dahulu, aku tahu kalian berdua pasti merasa sangat lelah sehabis melakukan pekerjaan yang berat," suruh Alan kepada sekretaris Ken dan Angga.
"Baik tuan Alan," balas mereka bersama.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1