
...#Flash back#...
Beberapa tahun yang lalu, di rumah kediaman keluarga putra. Tepatnya di ruang keluarga, terdapat sepasang kakak beradik yang sedang bermain bersama.
"Ka-Kak, E lang pi ngin ma-em!" pinta Elang kepada Garuda yang masih bayi berusia enam bulan, dengan nada terbata-bata.
"Adek Elang pingin maem?" tanya Al sedikit kesulitan untuk mengerti ucapan yang Adiknya itu katakan.
"He em, ma-em," balas Elang manggut-manggut.
"Ya udah, tunggu di sini sebentar yah, Kakak Garuda ambilin maem dulu buat Elang," jawab Al lalu berdiri, dan berjalan menuju ke dapur untuk mengambilkan makanan.
Beberapa saat kemudian....
Al kembali ke ruang keluarga dengan membawa semangkok bubur bayi untuk Adiknya.
Melihat kedatangan Kakaknya dengan membawa makanan yang Elang inginkan, membuat anak kecil itu tersenyum senang hingga nampak sederet dua gigi kelinci putih.
"Ka-Kakak maem," ujar Elang dengan kedua sudut bibir yang mengembang, dirinya sudah tidak sabar untuk segera disuapi oleh Kakaknya.
"Iyah maem," balas Al manggut-manggut, Adiknya itu memang sungguh menggemaskan.
Al mengambil sesendok bubur dari mangkok tersebut, lalu disuapkan ke dalam mulut Elang yang sudah terbuka lebar.
"Emm," senang Elang menikmati bubur bayi buatan Kakaknya itu.
"Enak?" tanya Al kepada Adiknya, dia merasa takut karena ini adalah kali pertama dirinya membuatkan bubur untuk sang Adik.
"Em em em," angguk Elang dengan beberapa sisa bubur di bibir dan pipinya.
"Alhamdulillah," lega Al.
"Ayo buka mulut lagi! Pesawatnya sudah datang wuuusss."
"Aeemmm," sesendok bubur nikmat itu mendarat dengan selamat di dalam mulut Elang, dan mereka berdua pun tertawa bersama.
...#Flash back off#...
...********...
"Adik kakak, apa kau masih ingat dengan Kakak Garuda?" gumam Al teringat kembali kenangan masa lalunya bersama Elang.
"Apa kau masih ingat kenangan waktu kita kecil dulu Elang, apa sekarang kau masih mengingat wajah Kakak Garuda mu ini?"
"Aku ingin bertemu dengan dirimu lagi, aku ingin kita bermain dan berbicara seperti dulu lagi," ucapnya sembari melihat ke arah sebuah foto yang terdapat Al tengah menggendong Elang. Hanya foto itu yang dia punya untuk mengobati rasa rindunya selama ini.
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang aku pergi, aku pasti bisa menemui Elang di sana," sambung Al, lalu mengambil sebuah topi dan jaket hitam miliknya, untuk segera berangkat dengan tujuan bisa menemui Elang.
...********...
Al pun pergi dengan menaiki sepeda kayuhnya, mengayuh melewati keramaian kota menuju ke sebuah tempat dengan harapan bisa menuntaskan semua rasa kerinduannya, dan bertemu kembali dengan orang tercinta.
Sesampainya di sana, di sebuah perusahaan Putra. Perusahaan yang begitu besar dengan bangunan tinggi milik keluarga Putra. Al segera masuk untuk memarkirkan sepeda kayuhnya.
Al pernah mendengar isu bahwa Elang lah yang memegang perusahaan tersebut, jadi dirinya berpikir kalau ia pasti bisa bertemu dengan Elang di sini.
"Adik, Kakak kembali," ucap Al tersenyum merekah, dia sudah tidak sabar untuk bisa bertemu kembali dengan Adiknya. Selepas memarkirkan sepeda kayuhnya, dengan segera Al berjalan memasuki perusahaan tersebut.
Tepatnya di pintu perusahaan, seorang security melarang laki-laki itu untuk masuk. Dirinya menahan pintu tersebut hingga Al tidak bisa membukanya.
"Maaf Mas, apa yang anda lakukan di sini? Kalau mau mengamen atau meminta uang silahkan cari di tempat lain!" ucap si security dengan nada mengusir, membuat Al yang mendengarnya menjadi marah. Ia mengepal kuat kedua tangannya, kalau mau sekarang juga dia bisa saja menghabisi orang tersebut. Tapi laki-laki itu lebih memilih untuk meredam emosinya.
"Cih, andai dirinya tahu siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya sekarang. Sang pewaris pertama keluarga Putra. Haha, tapi status itu tidak penting untuk saat ini," batin Al tersenyum sinis.
"Mas! Apa anda mendengar apa yang saya katakan?" ucap security itu sedikit meninggikan nada suaranya.
"Apa begini caramu bekerja?" balas Al dengan sorot mata tajam tertuju kepada lawan bicaranya.
"Kenapa? Apa hanya orang yang berjas dan berpakaian rapi serta berbau wangi saja yang boleh masuk ke dalam perusahaan ini? Sedangkan orang yang berpenampilan biasa seperti diriku tidak pantas, apakah begitu?"
Al tidak menghiraukannya, dia dengan segera membuka pintu tersebut dan lekas masuk ke dalam sana.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan wanita tersebut dengan nada ramah.
"Saya mau bertemu dengan atasan anda, apakah bisa?" balas Al.
"Atasan?" ulang karyawan wanita itu dengan raut wajah ragu.
"Iyah, dia bernama Tuan Elang. Dia pemilik perusahaan ini bukan?" balas Al merasa bingung dengan sikap karyawan wanita tersebut.
"Emmm emmm," dehamnya mencoba untuk berpikir, lalu dengan waktu yang bersamaan karyawan wanita itu melihat sekretaris Ken sedang berjalan, dengan segera ia pun memanggilnya.
"Pak Ken!" panggilnya, membuat sekretaris Ken menoleh ke arah sumber suara, lalu berjalan menghampiri mereka berdua.
"Iyah ada apa?" tanya sekretaris Ken.
"Begini Pak, orang ini ingin bertemu dengan Tuan Elang, da-" belum sempat karyawan wanita itu menyelesaikan kalimatnya, sekretaris Ken langsung memotong pembicaraan.
"Baiklah," balas sekretaris Ken mengedipkan kedua matanya, sebagai kode untuk menyerahkan urusan ini kepada dirinya.
"Anda ingin bertemu dengan Tuan saya?" tanya sekretaris Ken kepada Al.
__ADS_1
"Iyah, aku ingin bertemu dengan dia. Dimana aku bisa menemuinya?" balas Al yang sudah tidak sabar.
"Ikut saya!" suruh sekretaris Ken lalu mengajaknya pergi keluar dari dalam perusahaan, menuju ke sebuah mobil yang sudah disiapkan di luar.
-Di luar perusahaan Putra.
"Mari masuk!" ajak sekretaris Ken kepada Al, sembari membukakan pintu mobil untuknya.
Al mengerenyitkan dahinya, dirinya merasa seperti sedang dipermainkan. "Untuk apa? Tuanmu ada di dalam sana bukan? Kenapa kau tidak membiarkanku bertemu dengan dia?" tanya Al merasa kesal.
"Anda ingin bertemu dengan Tuan Elang kan, kalau begitu turuti saja apa yang saya katakan, saya akan membawa anda untuk pergi menemui Tuan saya," balas sekretaris Ken lalu membuat Al terdiam.
Melihat keseriusan dari raut wajah sekretaris Ken, membuat Al percaya dan menuruti kemauannya untuk masuk kedalam mobil tersebut.
Akhirnya, mereka berdua pun berangkat menuju ke suatu tempat.
...********...
Sesampainya di sana....
Al dan sekretaris Ken turun dari dalam mobil, laki-laki itu semakin dibuat bingung, bercampur rasa emosi yang kian tersulut. "Untuk apa orang ini mengajak dirinya kemari?"
-Tempat pemakaman.
"Untuk apa kau mengajakku ke sini? Aku ingin bertemu dengan Elang, bukan ke tempat pemakaman seperti ini," marah Al.
"Tadi aku hanya diam karna aku menghargai keseriusan mu untuk mengajakku bertemu dengan dirinya, tapi kemana tempat kau membawaku sekarang. Kalau kau hanya berniat untuk mempermainkan ku katakan saja!"
Sekretaris Ken tidak menghiraukan apa yang Al katakan, dirinya langsung bergegas masuk ke dalam tempat pemakaman. "Hei, apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan!" teriak Al lalu bergegas berlari menyusul sekretaris Ken.
Di dalam sana, dirinya melihat sekretaris Ken sedang berdiri di depan sebuah makam dengan tatapan sendu menunduk ke bawah.
Dengan rasa penasaran, Al pun dengan segera pergi menghampiri dirinya.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Al kepada sekretaris Ken yang pandangannya sedang fokus ke arah sebuah batu nisan, lalu menolehkan kepalanya menghadap ke arah laki-laki bertopi itu.
"Anda ingin bertemu dengan Tuan saya bukan?" tanya sekretaris Ken dengan tatapan sayu.
"I-iyah," jawab Al.
"Sekarang beliau sudah berada di hadapan anda," sambungnya dengan senyuman kaku.
"Be-berada di hadapan ku?," batin Al merasa terkejut, dan langsung menolehkan kepalanya menghadap ke arah makam tersebut.
"Er-langga Ma.... Mahesa P-Putra," dengan nada gemetar dan kedua mata terbelalak, Al membaca sebuah nama yang tertulis di atas batu nisan itu.
__ADS_1
"A-Adik," batinnya dengan setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...