
"Tuan Alan, anda sudah pulang," ujar sekretaris Ken yang kini sedang berada di luar rumah, untuk menyambut kedatangan Alan sepulang dari sekolah.
"Iyah sekretaris Ken," jawab Alan sembari berjalan menghampiri sekretaris Ken.
"Tuan!" tegur sekretaris Ken kepada Alan, sekarang dia adalah sekretarisnya jadi tidak perlu bersikap formal seperti itu.
"Iyah, maksud aku Ken, maaf aku masih belum terbiasa," jawab Alan tersenyum malu, seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal itu.
"Iyah Tuan tidak apa-apa, mari Tuan saya bawakan tas anda!"
"Hm yah terima kasih," balas Alan lalu memberikan tas ransel hitamnya kepada sekretaris Ken.
...********...
-Di dalam rumah.
"Ken, dimana Angga? Aku tidak melihatnya," tanya Alan kepada sekretaris Ken, tidak menemukan keberadaan Angga-bodyguardnya di sana.
"Angga sedang pergi Tuan, dia berkata kalau ada urusan sebentar," jawab sekretaris Ken.
"Kalau begitu baiklah, aku akan pergi ke kamar ku untuk mengganti pakaian terlebih dahulu," pamit Alan hendak melangkah pergi, namun....
"Tuan Alan!" panggilan dari sekretaris Ken, membuat langkah kaki Alan berhenti.
"Iyah?" balas Alan sembari menoleh ke arahnya, lalu melihat sekretaris Ken perlahan berjalan menghampiri dirinya.
Sekretaris Ken meraih tangan kanan Alan, dan menaruh sebuah kunci perak di atas telapak tangannya.
"Se-sekretaris Ken, ini kunci apa?" bingung Alan melihat sebuah kunci berwarna perak yang kini tengah ia pegang.
"Anda masih ingat tentang ruangan pribadi Tuan Elang?" balas sekretaris Ken berbalik bertanya kepada Alan.
"Maksudmu, ruangan yang pernah Riza masuki waktu itu hingga membuat Kakak begitu marah?" jawab Alan mencoba untuk kembali mengingat.
"Iyah Tuan anda benar, dan kunci yang saya berikan kepada anda itu adalah kunci untuk membuka ruangan tersebut."
"Ja-jadi?" bata Alan yang masih tidak mengerti apa maksud dari perkataan sekretaris Ken.
"Sekarang ruangan itu milik anda Tuan Alan," jawab sekretaris Ken membuat Alan terkejut mendengarnya.
"A-apa! Tidak mungkin sekretaris Ken. Ruangan itu milik Kakak, dan aku tidak punya hak untuk mengambilnya," jawab Alan menolak.
"Dengarkan saya dulu Tuan!"
"Ruangan itu memang milik Tuan Elang, tetapi sebenarnya ruangan itu dibuat untuk anda. Tuan Elang pernah berkata, kalau seandainya dirinya pergi nanti, Tuan Elang ingin saya menyerahkan kunci ruangan ini kepada anda."
"Dan saya berpikir ini adalah waktu yang tepat."
"Begitu yah," gumam Alan sembari menatap lekat ke arah kunci berwarna perak itu.
"Ternyata aku masih belum mengetahui semua tentang mu Kak," batin Alan.
"Baiklah, terimakasih sekretaris Ken! Aku berjanji akan menjaga dan merawat ruangan itu dengan baik."
"Iyah Tuan, saya percayakan ruangan tersebut kepada anda," balas sekretaris Ken lalu melihat Tuannya melemparkan sebuah senyuman manis kepada dirinya sebagai jawaban "tenang saja, serahkan semua kepadaku."
__ADS_1
Alan pun pergi meninggalkan sekretaris Ken menuju kamarnya.
-Di dalam kamar Alan
Alan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk, mengistirahatkan badan serta pikirannya setelah sekolah seharian.
Sejak kembalinya kedua kaki Alan, semuanya mulai berubah. Tidak ada pembullyan lagi terhadap dirinya, bahkan sedikit demi sedikit mulai banyak murid yang menyukainya. Tapi tak banyak juga yang masih membenci dan merasa iri kepadanya.
"Haaahhh," Alan menghela napas berat.
"Kunci ruangan pribadi Kakak," Ucap Alan sembari menatap kunci berwarna perak yang sedang ia pegang.
"Yah, sebentar lagi aku akan segera mengetahui semuanya," batin Alan lalu perlahan menutup mata, dan tertidur dengan masih mengenakan baju seragam putih abu-abu itu.
...********...
-Di ruang tamu.
"Angga, kau darimana saja?" tanya sekretaris Ken kepada bodyguard Alan yang baru saja pulang.
"Dan kantong plastik sebanyak itu, kau habis berbelanja?"
"Iyah, memangnya kenapa? Apa itu menjadi masalah?" balas Angga dengan masih memegang beberapa kantong plastik ditangannya.
"Haahh, jadi kau meminta izin kepadaku untuk keluar hanya untuk berbelanja kebutuhan mu sendiri begitu," ucap sekretaris Ken.
"Tidak sekretaris Ken, ini bukan untukku tapi untuk Tuan Alan."
"Tu-Tuan Alan?" ulang sekretaris Ken memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iyah benar Tuan Alan, apa kau tidak ingat sekretaris Ken besok Tuan kita berulang tahun, dan aku sudah membeli semua kebutuhannya untuk merayakannya."
"Tapi...."
"Tapi apa?" tanya Angga kepada sekretaris Ken yang menjeda perkataannya.
"Tuan Alan pasti ingin disaat ulang tahunnya nanti, Tuan Elang juga ada di sana bukan?"
"Dia pasti merasa sedih, karena Kakaknya tidak ada di sana untuk merayakan ulang tahunnya bersama dirinya," sambung sekretaris Ken merasa sedih.
"Yah sekretaris Ken, aku juga mengerti. Tapi, kita harus membuat Tuan Alan bahagia bukan? Dengan merayakan hari ulang tahunnya ia pasti merasa senang. Aku tahu, kita tidak mungkin bisa menggantikan posisi Tuan Elang dihatinya, tetapi setidaknya kita harus membuat Tuan Alan bahagia."
"Haha, bodyguard pilihan Tuan Elang memang tidak bisa diragukan yah," tawa sekretaris Ken, melihat ke arah bodyguard Tuannya yang mampu menghidupkan kembali suasana.
"Tentu saja," jawab Angga tersenyum lebar.
...*******...
/Krriiiingggg/ bunyi dering jam weker yang cukup keras, membuat Alan menggeliat terbangun dari tidurnya. Dengan mata mengantuk dan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, perlahan Alan mencoba duduk.
Ia mengambil jam weker tersebut yang terletak di atas laci mejanya, untuk melihat pukul berapa sekarang.
"Pukul satu, hoam," ucap Alan lalu menguap, ia masih sangat mengantuk sekarang dan tidurnya harus terganggu karena suara jam weker yang minim akhlak.
"Tunggu dulu, aku belum ganti baju?" ujar Alan tersenyum, dia baru menyadari kalau masih mengenakan baju seragam sekolah sewaktu ia tidur. "Konyol!" pikir Alan.
__ADS_1
/Drrrtt drrrtt/ mendengar suara getar berasal dari handphone, dengan segera Alan mengambilnya.
Alan yang mengira mendapatkan pesan atau telepon penting dari seseorang, dirinya malah mendapatkan sebuah notifikasi dari asisten google, yang mampu membuat Alan terkejut melihatnya.
Notifikasi pesan: Selamat Alan, hari ini adalah hari ulang tahun anda, happy birthday to you!
Membaca notifikasi pesan tersebut, membuat Alan tersenyum tipis melihatnya. Hari ulang tahunnya hari ini terasa begitu biasa-biasa saja, hambar, tidak ada yang istimewa.
"Kakak, hari ini Adikmu berulang tahun."
"Apa kau tidak mau mengucapkan kata selamat untukku?" ucap Alan sembari memandang ke arah jendela dengan tatapan sayu.
"Oh yah kunci Kakak," Alan yang teringat akan benda kecil itu, dengan segera ia mengambilnya yang tergeletak di atas meja dan lekas pergi keluar dari dalam kamar, menuju ke ruangan pribadi Elang.
Sesampainya di sana, sekarang Alan sudah berdiri tepat di depan pintu tersebut. Sebuah ruangan yang sama sekali Alan tidak mengetahui apa isi dari ruangan itu.
Dengan tangan yang sudah tidak sabar, Alan membuka pintu ruangan tersebut dengan sebuah kunci yang sekretaris Ken berikan kepadanya.
Akhirnya pintu pun terbuka, dengan langkah kaki ragu Alan masuk ke dalam sana. Ruangan yang cukup gelap, tetapi masih bisa terlihat sebab ada cahaya rembulan yang masuk melalui sela-sela jendela.
Ruangan yang cukup bersih dan rapi, sepertinya Elang selalu merawat dan membersihkan ruangan ini setiap hari, semasa dirinya masih hidup.
"Eh kursi roda ini," kejut Alan melihat sebuah kursi roda yang waktu itu Elang belikan untuknya sebagai hadiah.
Tak sampai di situ saja, Alan juga menemukan sebuah mainan mobil-mobilan berwarna merah yang dulu sewaktu kecil ia dan Elang sangat senang memainkannya.
"Kakak, kau masih menyimpannya," ucap Alan teringat kembali akan masa lalunya.
Buku-buku, mainan, lukisan, Alan menemukan semuanya di dalam sana, ia menemukan kembali semua benda-benda yang pernah ia mainkan bersama dengan Kakaknya, kenangan yang begitu indah.
Dirinya mulai mengerti, kenapa Elang sangat marah ketika Riza memasuki ruangan ini dan dengan yakinnya ia mengatakan kalau ruangan ini begitu berarti bagi dirinya.
Karena di ruangan inilah, Elang menyimpan kembali semua kenangan masa kecilnya yang ia ukir bersama Adiknya.
"Hiks hiks Kakak," tangis Alan seketika pecah, sembari memeluk sebuah mainan mobil-mobilan berwarna merah kesayangan Kakaknya.
"Maaf.... maafin Alan Kak!" dulu Alan terlalu sibuk dengan kondisi lumpuhnya, hingga dia tidak memikirkan tentang hal lain kecuali itu.
Sekarang dia mendapatkannya, dia berhasil mendapatkan kembali kedua kakinya. Tetapi Alan merasa amat menyesal, walaupun kedua kakinya telah kembali pulih, sebagai bayarannya Kakaknya Elang lah yang harus pergi.
"Apa itu?" pandangan Alan tertarik dengan sebuah kotak kardus di sudut ruangan, dengan langkah penasaran Alan memutuskan untuk menghampiri sebuah kotak kardus tersebut lalu membukanya.
Sebuah kotak kardus yang terlihat masih bagus dan tertutup rapi.
"I... ini mainannya siapa?" gumam Alan bertanya-tanya dengan semua mainan yang cukup banyak di dalam kardus tersebut. "Kak Elang gak pernah punya mainan seperti ini."
Sewaktu kecil dulu, Elang selalu membagi semua mainannya bersama dengan dirinya. Jadi Alan hafal dengan mainan yang Kakaknya itu punya. Tapi, semua mainan yang terdapat di dalam kardus tersebut terlalu asing untuknya.
"Mainan ini, punya siapa?"
"Eh ada foto," kejut Alan melihat selembar foto yang terdapat gambar satu keluarga putra di sana. Foto yang cukup tua, tetapi masih terlihat jelas gambarnya.
"Haha ini foto satu keluarga ternyata," gelak Alan melihat foto tersebut.
"Ini Ayah ini Ibunda, dan yang ini...." perkataan Alan seketika berhenti, ketika kedua bola mata remaja tersebut menyadari akan sesuatu. Bahwa dirinya tidak ada dalam foto itu.
__ADS_1
"Ka... kalau ini kak Elang, lalu dia siapa?" kejut Alan bercampur rasa penasaran, mendapati Elang Kakaknya yang masih kecil digendong oleh sesosok remaja yang Alan sama sekali tidak mengenali siapa dia.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...