ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 38


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, tetapi kenangan akan Elang masih belum juga bisa terlepas dari bayang pikiran mereka. Terutama Andhika, yang hingga sampai sekarang masih belum juga bisa melupakan bahkan merelakan akan kepergian sahabatnya itu.


-Kediaman Andara.


Tepatnya di rooftop rumahnya, Andhika sedang duduk menyendiri di sana sembari merasakan semilir dinginnya angin malam.


/Wuuussshhhh/


"Kutub, udah hampir seminggu lo ninggalin kita semua. Gak kerasa yah, gua juga gak pernah nyangka."


"Kalau lo pergi, gua sama siapa?" ujar Andhika mencurahkan semua rasa kerinduannya. Ia merasa sangat kehilangan akan kepergian Elang dari hidupnya. Siapa lagi yang bisa ia jahili? Siapa lagi yang bisa ia goda? Siapa lagi yang bisa menjadi teman curhat dan mainnya sekarang?


Andhika seperti kehilangan arah, dirinya sama sekali tidak memiliki gairah dan semangat untuk menjalani kehidupan yang hampa ini.


...#Flash back#...


Semasa SMP dulu, sebelum berpindah ke negara Y, Andhika lelaki bermarga Andara itu pernah tinggal dan berpenduduk di negara A.


Negara A terkenal dengan sebuah sekolah yang cukup elit dan terkenal di sana, di tempat itulah dimana seorang Andhika Andaresta semasa remaja dulu menghabiskan waktu sekolah menengah pertamanya.


Royal university adalah salah satu sekolah elit di negara A, banyak dari anak bangsawan sekaligus anak dari perusahaan sukses menempuh ilmu di sana. Terutama Andhika, yang pada saat itu perusahaan Andara milik Ayahnya juga merupakan salah satu perusahaan tersukses.


-Kelas 8 B.


Bel sudah berbunyi sedari tadi, tapi masih belum juga ada guru yang datang ke dalam kelas tersebut.


Akibat kelas tidak ada guru, pastilah ramai dan riuh, dan para murid bisa bebas untuk melakukan apa saja.


Berbeda dengan Andhika, dia menuruti apa yang Mamanya katakan. Jika sudah bel bunyi harus duduk manis di tempat duduknya, jangan keluyuran kemana-mana.


"Ck kelas elit apanya," decak Andhika merasa terusik dengan keramaian bagaikan pasar baru di kelasnya. Menggebrak-gebrak meja, tertawa sekeras-kerasnya, keluyuran kemana-mana, tapi yang paling Andhika tidak suka para guru membiarkannya dan tidak ada yang berani untuk menasehati bahkan memarahi mereka.


"Sekolah elit dan sekolah biasa sama sekali tidak ada bedanya, hah mungkin lebih buruk."


Tak lama kemudian, akhirnya guru pun datang dengan membawa seorang murid baru di belakangnya. Anak-anak bergegas untuk segera duduk di tempat mereka masing-masing.


"Hallo anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru," ucap Bu guru bersama seorang remaja yang ia maksud.


"Weh ada anak baru nih."


"Dari keluarga mana dia, pantes gak dia sekolah di sini?"


"Ih gantengnya, namanya siapa yah?"


"Punya gua tuh," terdengar suara bisik-bisik membicarakan tentang kedatangan anak baru itu.


"Berisik!" batinnya merasa risih, ia mulai berpikir kenapa kedua orangtuanya menyekolahkan dirinya di sekolah yang seberisik dan sepanas ini.


"Baiklah Tuan, silahkan perkenalkan diri anda terlebih dahulu!" ucap Bu guru tersebut mempersilahkan kepada anak baru itu untuk memperkenalkan dirinya.


"Benar juga, ini sekolah elit bahkan guru pun harus berlaku sangat sopan seperti ini," batinnya.

__ADS_1


"Hallo semua, perkenalkan nama saya Erlangga Mahesa Putra kalian bisa memanggil ku Elang. Salam kenal," dingin Elang dengan wajah datarnya memperkenalkan diri.


"Tuan Elang berasal dari keluarga Putra, Ibu harap kalian bisa berteman dengan baik."


"Silahkan Tuan Elang, ada satu bangku kosong di sebelah Tuan Andhika anda bisa duduk di sana," sambung Ibu guru sembari menunjuk ke arah kursi kosong di samping Andhika.


"Baiklah Bu, terima kasih!" balas Elang lalu berjalan untuk segera duduk di kursi kosong samping Andhika.


"E-Elang!" bata Andhika kepada Elang yang sudah duduk di sampingnya.


"Iyah?"


"K-kau masih ingat aku? A-aku Andhika kau ingat kan?"


"Andhika?" ulang Elang berusaha untuk mengingat. "Baru juga duduk, udah disuruh maen tebak-tebakan," batin Elang.


"Iyah aku Andhika, kau ingatkan?!"


"Tidak," tukas Elang membuat hati kecil Andhika terluka.


"Yah, aku memang mudah untuk dilupakan," balas Andhika merasa kecewa.


"Bagaimana? Apa kau sudah berani untuk melawan mereka?" tanya Elang tanpa menoleh ke arah Andhika, membuat anak itu yang semula menunduk kini mengangkat kepalanya.


"I-iyah, sedikit," jawab Andhika lirih.


"Kau masih saja menjadi bocah ingusan, kapan kau bisa menjadi kuat jika tidak berani melawan."


"Ya... yah kapan-kapan, lagian aku juga tidak pandai beladiri seperti kau. Bagaimana bisa aku melawan mereka?" jawab Andhika.


"Siap, serahkan semuanya kepadaku," jawab Andhika antusias. Dengan adanya Elang sekarang, akhirnya ia memiliki tujuan dan hal menyenangkan di sekolah.


...*******...


Waktu terus berlalu, hingga jam istirahat pun berbunyi. Semua murid bergegas keluar dari dalam kelas, untuk segera pergi ke kantin mengisi perut mereka yang sudah meronta kelaparan.


Tepatnya di lorong sekolah, sedang berlangsung perkelahian di sana, mungkin lebih tepatnya disebut sebuah penindasan. Semua murid tengah sibuk untuk menonton peristiwa tersebut, mereka semua sama sekali tidak mau untuk ikut campur.


/Bag bug bag bug/


suara pukulan itu seketika memenuhi lorong sekolah, seorang remaja laki-laki tak berdaya dengan dipenuhi luka lebam di wajahnya. Dirinya dikeroyok oleh tiga orang sekaligus.


Andhika dan Elang yang sedang dalam perjalanan menuju ke kantin, dan kebetulan melewati lorong sekolah yang sudah dipenuhi oleh para siswa-siswi.


"Eh ada apa tuh?" ucap Andhika merasa penasaran menyaksikan kerumunan yang cukup besar.


"Udahlah yuk, aku laper nih!" sahut Elang yang sudah tak kuat dengan perutnya keroncongan.


Elang yang hendak pergi meninggalkan area tersebut, lengannya langsung ditarik oleh Andhika menuju ke tempat kerumunan itu. "Nanti aja makannya, kita lihat dulu yuk di sana ada apa," sahut Andhika sembari menarik lengan Elang.


"Ini cowok kepoan banget sih," batin Elang sebal, sembari merasa pasrah lengannya ditarik oleh Andhika.

__ADS_1


"Uang saku lo mana hah!" ucap seorang siswa membentak, ke arah seorang anak yang sudah puas dia pukuli hingga meninggalkan bekas warna biru diwajahnya.


"Ka-kan sudah kamu ambil semua," jawabnya bergemetar dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"KURANG!!!" bentaknya keras tepat anak tersebut, "uang segini mana cukup buat bayar utang keluarga lo ke keluarga gua."


"Keluarga lo itu miskin tahu gak, sudah gak cocok sampah macam lo sekolah di Royal university ini," cercanya pedas, sedangkan kedua temannya hanya bisa tertawa. Dan siswa-siswi yang sedang menyaksikan kejadian itu mereka hanya bisa diam, menatap kasihan ke arah korban.


Apa yang bisa mereka lakukan? Saat ini, anak yang berada di depannya adalah anak yang berasal dari keluarga terkaya dan berpengaruh di negara A.


"Lebih baik lo bayar utang keluarga lo sekarang, atau...."


"Atau apa?" dirinya yang hendak menendang wajah anak tersebut seketika berhenti, setelah mendengar suara seruan dari arah lain.


/Tak tak tak/ Elang berjalan menghampiri keempat anak itu, dengan wajah dingin serta ciri khas sorot mata tajamnya.


"Sshhhtt Elang balik!" bisik Andhika menyuruh.


"Apa, lo berani sama gua?" ucap anak tersebut menantang, seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Elang tidak menghiraukan apa yang anak sialan itu katakan, dia lebih memilih membantu si korban. "Lo nggak kenapa-kenapa?" tanya Elang kepadanya.


"A-aku...."


"ANDHIKA!!!" teriak Elang memanggil nama temannya.


"A-apa?" tanya Andhika sedikit merasa ketakutan.


"Kemarilah, bawa dia sama lo! Ajak dia ke ruang UKS untuk mengobati lukanya," suruh Elang sembari membantu anak tersebut untuk berdiri, dan menyerahkannya kepada Andhika.


"Hey bocah!"


"Yang nyuruh lo bawa anak itu ke UKS siapa? Ngajak tawuran?" sambung anak itu tidak terima sembari menyingsingkan kedua lengan bajunya.


"Gua gak butuh perintah lo buat tolong orang lain," lirih Elang tajam, sembari menoleh menatap wajah anak tersebut.


"Ck lama-lama lo belagu juga yah," kesalnya yang sudah memuncak, pukulan keras langsung dilayangkan ke arah wajah Elang, tetapi dengan mudahnya Elang langsung dapat menghentikannya dan memitingnya.


"Aaahh," Teriaknya mengerang kesakitan.


"Dengerin gua!" ujar Elang berbisik dengan masih memiting tangan remaja itu.


"Gak usah sok jagoan, kalau masih sembunyi di balik ketenaran dan nama besar keluarga lo. Malu-maluin tahu gak," ucap Elang seraya mengeratkan ikatannya, membuat anak tersebut semakin mengerang kesakitan.


"Ma-maaf, plis lepasin gua!" pintanya.


"Tadi lo bilang apa? Mau nantang gua tawuran? Sorry kita beda level. Gua tendang dikit rontok tulang lo semua," sambung Elang lalu melepas kasar pitingannya, lalu kembali berdiri.


"Uhuk uhuk," akhirnya dia bisa menghirup udara segar, tapi masih merasakan sakit dibagian lehernya.


"Cih jijik gua," pungkas Elang, lalu segera berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Sekolah elit apanya," batin Elang.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2