
..."Isyarat mimpi."...
...********...
Beberapa hari telah berlalu, akan tetapi pria dengan ciri khas sorot mata tajamnya itu masih belum juga terbangun dari komanya.
Alan yang selalu menjenguk dan menemaninya di sana, anak itu selalu berharap disaat ia membuka pintu kamar pasien sang Kakak. Elang sudah bangun dan sadar, dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya dan mengatakan, "Alan, kau datang menjenguk Kakak."
Tapi apa kenyataannya, Kakaknya masih saja tertidur dan tak kunjung bangun juga.
Ia seperti nyaman dan tentram dalam tidurnya, tak ingin membuka kedua matanya sebentar saja hanya untuk menyapa kami semua yang sudah sangat merindukannya.
"Kakak, bangunlah! Buka matamu sebentar saja, Alan rindu Kakak Elang."
...********...
Alan kembali pulang ke kediamannya, untuk hari ini dia harus tidur di rumah karena keesokan harinya ia harus kembali pergi ke sekolah, sudah beberapa hari Alan meminta izin dari sekolah untuk menemani Kakaknya. Sedangkan di sana, ada Ibunda, Ayah dan sekretaris Ken yang sedang menemani Elang saat ini.
-Di dalam kamar Alan.
Waktu sudah hampir tengah malam, tapi Alan masih belum juga bisa tertidur. Ia terus memikirkan tentang keadaan Elang, bagaimana jika Kakak Elang terbangun dari komanya dan sedangkan dirinya tidak ada di sana.
"Sudahlah Alan, tidurlah! Besok kau harus pergi ke sekolah, tenang saja besok pasti Kak Elang akan sadar dan kami semua merasa sangat senang," ucap Alan dengan kedua sudut bibir yang mengembang. Lalu menenggelamkan kepalanya di bantal, dan perlahan menutup mata.
...*********...
Aku merasakan semilir angin sepoi-sepoi berhembus dengan sejuknya, menggoyang-goyangkan pucuk rambutku dengan riangnya, terasa begitu hangat dan nyaman. Aku serasa tidur di padang rumput hijau yang luas, samar-samar diriku mendengar suara seseorang memanggil namaku, suaranya begitu hangat dan lembut.
"Alan Alan!" suara panggilan itu lama-kelamaan semakin terdengar dan mendekat, suara yang sangat familiar dan sangat aku rindukan. Hingga ku putuskan untuk membuka mata.
"Akhirnya kau bangun juga Adikku," ucapnya tersenyum manis, sorot mata yang tajam itu, suara itu, tangan itu, tubuh itu, apa semua ini?
"Ka-Kakak, ka-kau disini?!" kejut Alan merasa tak percaya, seketika pelupuk mata anak itu memanas.
Apa yang aku lihat saat ini? Bukankah sekarang Kakak Elang sedang mengalami koma dan terbaring lemah di rumah sakit, bukankah seharusnya ia sekarang berada di sana. Tapi... tapi kenapa sekarang ia malah sedang duduk disamping ku dengan senyum dan raut wajah bahagia, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Yah Alan, aku di sini," jawab Elang tersenyum kepada Adiknya, lalu kembali berdiri menegakkan badan.
"Ikut Kakak jalan-jalan bentar yuk!" ajak Elang sembari mengulurkan tangan bantuannya, Alan hanya bisa mengangguk dan menurut apa yang Elang katakan. Dirinya sama sekali tidak bisa menolak.
Alan merasa sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama dengan Kakaknya, kedua kakak beradik itu mensejajarkan langkah mengelilingi sebuah tempat yang Alan sama sekali tidak mengetahui itu dimana. Padang rumput yang luas, dengan beberapa bunga yang indah, angin berhembus dengan lembutnya, sungguh sebuah tempat yang nyaman.
Tapi entah kenapa, jauh di dalam lubuk hati Alan ia merasakan rasa sesak dan sedih yang sangat. Banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya.
Sebenarnya, tempat apa ini? Bagaimana Kakak Elang bisa berada di sini? Bukankah seharusnya sekarang ia dirawat di rumah sakit? Kenapa aku bisa berada di sini dan berjalan bersama dengan Kakak? Dan juga, kenapa wajah kakak terlihat begitu bahagia?
"Eh Alan, kenapa?" tanya Elang merasa heran kepada Adiknya, tiba-tiba saja Alan menghentikan langkahnya.
"Ini aneh Kak," ucap Alan sembari menatap wajah Elang.
"Aneh? Aneh apanya?" tanya Elang sekali lagi dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Kakak, bagaimana Kakak Elang bisa ada di sini? Bukankah seharusnya Kakak sekarang berada di rumah sakit."
"Kakak masih ada di sana kok Dek," jawab Elang, semakin membuat Alan bingung mendengarnya.
"Mak-maksud Kakak Elang apa!?"
"Adik, maafin Kakak yah kalau selama ini belum bisa membuat kamu bahagia, kalau cara Kakak melindungi dan menjaga kamu selama ini itu salah, maafin Kakak karena selalu buat kamu menangis, dengan semua apa yang telah kakak lakukan, ini semua Kakak lakukan hanya karena Kakak sayang padamu Alan," ucap Elang sembari sendu menatap wajah Adiknya.
Pelupuk mata Alan semakin memanas, ia tidak bisa menahan bulir-bulir air mata itu untuk jatuh. Hatinya merasakan sedih dan juga sakit. Ini bukan terdengar seperti sebuah ucapan maaf, akan tetapi lebih seperti sebuah kata perpisahan.
"Kakak Elang ngomong apa!?" ucap Alan sedikit membentak.
"Aku mengatakan apa yang bisa kukatakan, Alan, Kakak pamit yah!"
"A-APA, pa-pamit?" batin Alan.
Tanpa pikir panjang, Alan langsung menarik lengan Elang, ia ingin sekali mengajak Kakaknya untuk segera pergi dari sana.
"Enggak! Alan akan bawa Kakak pergi dari sini," ucap Alan sembari menarik paksa lengan Kakaknya. Tapi Elang hanya diam, menahan Alan untuk tidak membawanya pergi bersamanya. Lalu dengan perlahan, ia melepas genggaman tangan Alan.
__ADS_1
"Alan, ini dunia Kakak. Sekarang, ini tempat Kakak."
"Maksud Kakak Elang itu apa? Kakak mau pergi ninggalin kita semua, kakak mau ninggalin Ayah, Ibunda, sekretaris Ken, dan Kak Andhika. Kakak udah gak sayang lagi sama kita. Kakak udah gak sayang lagi sama Alan," ucap Alan merasa kesal.
"Sayang?" ulang Elang sembari berjalan menghampiri Alan. Lalu /puk/ ia mendaratkan tangannya tepat di atas kepala Adiknya.
"Sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah bisa berhenti untuk menyayangi kalian semua, terutama dirimu Alan," usapan Elang semakin terasa hangat di kepala Alan, remaja itu semakin tidak bisa menahan air matanya untuk keluar. Senyuman yang Elang ciptakan semakin menambah rasa sakit di hati Alan.
"Kaka," Alan langsung memeluk tubuh Kakaknya dengan erat, dan Elang membalas pelukan Adiknya.
"Hiks jangan, jangan tinggalin kami semua Kak, jangan tinggalin Alan!" tangis Alan dalam pelukan Elang.
"Alan janji akan turutin semua kemauan Kakak, Alan janji akan jadi Adik yang baik buat Kakak, Alan janji akan buat Kakak bahagia, tolong yah kak jangan pergi tinggalin Alan!"
Dengan perlahan Elang melepaskan pelukannya, ia mengangkat tangannya untuk menghapus air mata di pipi Alan.
"Adik, ingat kata Ayah, laki-laki itu gak boleh nangis," ujar Elang sembari menghapus bulir air mata di pipi Alan. Usapan yang hangat bukan?
"Hiks, Alan mohon Kak jangan tinggalin Alan, jangan pergi Kak!" ujar Alan menempelkan telapak tangan Kakaknya di pipinya, Elang tidak bisa memberikan sebuah jawaban selain hanya sebuah gelengan kepala.
"Adik Kakak sudah besar, sebentar lagi Alan akan bebas, tidak akan ada lagi yang bisa membuat Alan menangis, Alan akan bebas berteman dengan siapa saja. Alan akan dapat banyak teman dan tidak ada lagi yang membenci Alan."
"Enggak-enggak! Hiks Alan bahagia dibawah lindungan kakak, Alan senang dijaga sama Kakak Elang. Alan gak perduli punya teman ataupun tidak, Alan tidak perduli harus dibenci dengan siapapun juga, asalkan ada Kakak disisi Alan, Alan bahagia."
"Hiks, jangan pergi yah Kak!"
"Rasa bersalah Kakak kini sudah hilang, karena sekarang kau sudah kembali pulih dan bisa berlari bebas dengan kedua kakimu lagi. Selamat yah adik, kau telah kembali pulih," memang ucapan selamat itu yang Alan inginkan, tapi tidak dengan kondisi seperti ini.
Elang mendekatkan wajahnya kepada wajah Alan, menempelkan dahinya dengan dahi Alan.
"Ingat kata-kata Kakak, tetap jadi seorang Adik yang kakak kenal, jaga Ayah jaga Ibunda, wujudkan mimpi mu untuk menjadi seorang atlit terkenal," ucap Elang kepada Alan dengan dahi mereka yang masih menempel.
Dengan perlahan Elang mendekat ke arah telinga Adiknya, lalu membisikkan seuntai kata. "Selamat tinggal Adikku Alan!"
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1