
..."Hari yang spesial, tanpa ada hadirnya."...
...********...
Keesokan harinya.....
Alan telah bangun dari tidurnya, dengan mengenakan kaos putih dan bawahan celana pendek, ia berjalan keluar dari dalam kamar untuk mencari udara segar.
Ketika hendak menuruni sebuah anak tangga, Alan dibuat terkejut dengan pemandangan apa yang ada di bawah sana. "A-apa ini?"
Seluruh tempat dipenuhi akan dekorasi yang indah, semuanya terlihat bersih dan rapi, sudah ditata dengan baik.
Dengan lekas Alan turun ke bawah, berlari menuju beberapa orang yang sudah berkumpul di ruang tengah.
"Bun-Bunda Ayah, ini ada apa?" tanya Alan dengan pandangan yang tak hentinya menyorot ke seluruh bagian ruangan.
"Happy birthday anak Bunda sayang!" ucap sang Ibunda sembari langsung memeluk hangat anak kesayangannya itu.
"Selamat ulang tahun yah Alan!" tambah sang Ayah yang ikut mengacak gemas rambut hitam anaknya.
"Selamat ulang tahun Tuan Alan!" tambah sekretaris Ken dan Angga bersama.
"I-iyah terima kasih," balas Alan.
"Lepasin Alan Bunda, Alan gak bisa napas!" pinta Alan kepada Ibunda yang masih memeluk erat dirinya, pelukan itu terlalu erat untuknya.
"Huh Iyah-iyah," balas Ibunda mendengus sebal, lalu melepaskan pelukannya. Emang peluk anak sendiri gak boleh?
"Kapan kalian dekor semua ini? Perasaan kemarin Alan lihat nggak ada tuh," ujar Alan bertanya.
"Ih Bunda mah pinter, Bunda yang udah merencanakan semua ini. Dibantu sama Angga dan sekretaris Ken juga," jawab Ibunda.
"Ayah juga dong Bunda!" sebal sang Ayah karena namanya tidak juga disebutkan.
"Iyah deh iyah, Ayah ikut bantu juga," sahut Ibunda. "Gitu aja ngambek," batinnya.
"Owh gitu yah," balas Alan terkekeh kecil melihat tingkah laku lucu kedua orang tuanya itu.
"Kakak, Kakak Elang nggak mau ngucapin selamat ulang tahun juga buat Alan?" batin Alan teringat kembali akan almarhum Kakaknya, Alan ingin sekali dia juga berada di sini bersama dengan dirinya.
"Alan!" panggil Ibunda sambil menepuk pundak Alan, membuat remaja itu terbangun dari lamunannya.
"Kita cari baju yang cocok buat kamu yuk, buat dipakai nanti pas acara ulang tahun kamu," sambung Ibunda, ia tak ingin anaknya terus memikirkan tentang Kakaknya, dan berlarut-larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Iyah bunda," angguk Alan.
...*******...
-Toko baju negara Y.
"Hai hai apa kabar Nyonya putra dan Tuan putra, selamat datang di toko baju kami!" sambut hangat sang pemilik toko. Siapa yang tidak kenal dengan keluarga putra? Seluruh negara Y mengenalnya, bahkan sampai keluar negeri pun tahu siapa mereka.
"Iyah, lama kami tidak berkunjung ke sini, oh yah tolong carikan baju terbaik untuk anak tersayang ku ini!" pinta Ibunda sambil mengeluarkan kartu black card-nya.
"Hoho baik Nyonya putra, mari Tuan tampan saya carikan baju yang paling mewah dan pas untuk anda!" balas si pemilik toko itu lalu mengajak Alan pergi untuk dicarikan sebuah baju.
...********...
-Di ruang ganti baju.
"Tuan Alan bagaimana dengan baju ini? Kulit anda sungguh bagus dan lembut. Sangat cocok apabila anda mengenakannya," ujar si pemilik toko sembari menunjukkan setelan baju pilihan mereka.
"Kulit mulus dia kata, ini mau pilihin baju apa acara salon sih?" batin Alan.
"Te-terserah kalian, apapun pilihan kalian itu pasti yang terbaik," jawab Alan.
"Uwaahhh hiks Tuan Alan, anda memang anak yang baik dan penurut yah. Anak dari keluarga putra memang sopan," balas si pemilik toko seraya menghapus sebulir air matanya, ia merasa terharu sekaligus kagum dengan sikap sopan Alan.
"Baiklah kalau begitu, karna anda begitu sopan dan baik. Maka kami berjanji memberikan pelayanan yang terbaik, serta menunjukkan semua koleksi desain baju terbaik kami untuk anda."
"Sis! Cepat ambilkan semua koleksi baju terbaik kita untuk Tuan Alan yang tampan ini!" sambungnya menyuruh salah satu pegawai tokonya.
"Siap pak," jawabnya pegawai toko wanita itu, lalu lekas pergi melaksanakan perintah atasannya.
Lima menit kemudian, pegawai toko tersebut kembali bersama beberapa pegawai lainnya, sambil membawa setumpuk baju di tangan mereka. "Ini pak, semua koleksi baju terbaik kita."
"Bagus, mari kita coba dulu Tuan Alan!" ucap si pemilik toko tersenyum manis.
"Fiks, ini bencana," batin Alan menatap ragu ke arah semua tumpukan baju yang sudah menunggu untuk dirinya coba itu.
...********...
"Alan mana sih Bunda? Masa cobain baju aja butuh waktu berjam-jam," tanya sang Ayah mulai merasa bosan.
"Udahlah Ayah tunggu aja!" balas sang Ibunda.
Hingga tak lama kemudian....
__ADS_1
"Maaf sudah menunggu lama," ujar si pemilik toko dengan membawa Alan di sisinya.
"Bagaimana menurut kalian? Baju ini cocok bukan?"
"Bun-Bunda," gugup Alan memalingkan wajahnya, ia merasa malu dengan baju yang sekarang tengah dirinya pakai. Hal itu dapat terlihat jelas dari rona merah di pipinya.
Sedangkan mereka semua hanya terdiam, kedua bola mata mereka tengah sibuk melihat ke arah Alan. Alan yang terkenal memiliki sifat polos dan sedikit kekanak-kanakan, kini dengan baju itu terlihat lebih tegas dan layaknya seorang pria.
"K-kok pada lihatin aku terus sih?" batin Alan semakin merasa malu.
"Ba-baju nya gak cocok yah sama Alan? Kalau gak cocok Alan bisa ganti kok," sambung Alan terbata dengan pipi yang semakin merona merah, ia merasa tak tahan dengan semua sorotan mata itu.
"Tidak Tuan Alan," balas sekretaris Ken.
"Sejujurnya, saya sangat menyukai dengan baju yang anda pakai. Anda terlihat persis seperti Tuan Elang," Sambung sekretaris Ken dengan senyum simpulnya.
"Sama seperti kakak," batin Alan terkejut mendengarnya, dan tanpa sadar kedua sudut bibir anak itu mengembang.
"Iyah Alan sayang, Bunda sama Ayah suka kok lihat kamu pake baju itu, anak Bunda terlihat seperti seorang pria sejati sekarang," tambah Ibunda, dan dibalas anggukan oleh sang Ayah.
"Iyah, Bunda kamu benar Alan."
"Iyah Tuan, anda terlihat sangat keren dengan baju itu," sahut Angga.
"Tapi, kalau kamu tidak suka dengan baju itu, tidak apa-apa, Bunda bisa carikan yang lain."
"Enggak kok Bunda, Alan suka sama baju ini, Alan mau pakai baju ini di acara ulang tahun Alan nanti," balas Alan menjawab dengan cepat perkataan Ibundanya.
"Haahh iyah-iyah, terserah kamu," hela Ibunda setelah mendengar jawaban antusias dari putra kesayangannya itu.
"Jadi orang kok plin plan, Alan Alan," batin Ibunda tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau dengan memakai baju ini membuat Alan mirip sama Kakak Elang, Alan suka. Alan senang, selama itu berhubungan dengan kakak," batin Alan merasa gembira dengan baju yang ia kenakan.
"Hoho apa yang saya bilang, baju ini pasti sangat pas dan cocok untuk Tuan Alan," ucap si pemilik toko.
"Pilihan saya memang tidak pernah salah bukan," sambungnya merasa bangga.
"Baiklah, kami ambil baju itu," jawab Ibunda sembari memberikan kartu black card-nya.
"Siap Nyonya," balas senang si pemilik toko.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1