ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 30


__ADS_3

..."Sesuatu yang tidak berarti."...


...********...


"A-Alan!" kejut Elang yang masih berdiri mematung di tempat, melihat Adiknya Alan yang sedang berdiri dengan kedua kakinya, tanpa memerlukan bantuan kursi roda.


Dengan perlahan Alan berjalan menghampiri Kakaknya, dengan senyuman yang terus mengembang dikedua sudut bibirnya. "Aku pasti sudah berhasil membuat kakak terkejut," pikir Alan senang.


"Apa yang telah kau lakukan selama aku pergi Alan?" lirih Elang tajam kepada Alan, yang kini sudah berdiri di hadapan dirinya.


"Ka-kakak kenapa?" batin Alan merasa bingung dengan sikap Elang.


Bukankah seharusnya ia terlihat senang dengan melihat diriku kembali pulih?


Bukankah seharusnya sekarang ia memelukku dan mengucapkan kata selamat kepadaku?


Alan yang berpikir, Kakaknya itu akan senang melihat dirinya kembali pulih dan bisa berjalan dengan kedua kakinya lagi. Tetapi, raut wajah penuh amarah itulah yang Alan lihat saat ini.


"ANGGAAA!!!" teriak Elang memanggil nama Angga, membuat remaja itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri Tuannya.


"I-iyah Tuan Elang?" ucap Angga yang kini sudah berdiri di hadapan Elang, dengan sedikit keringat di bagian pelipisnya.


/PAK/ tanpa aba-aba, Elang langsung menampar pipi Angga dengan keras, suara tamparan itu seketika memenuhi ruangan. Semua orang dibuat terkejut dengan apa yang Elang lakukan, terutama Alan.


"Achhss," desis Angga kesakitan, ia bisa merasakan rasa darah dibagian dalam mulutnya. Tamparan keras Elang membekas di pipi Angga, hingga meninggalkan jejak warna merah kebiruan di sana.


"Kakak, apa yang Kakak lakukan!" ujar Alan terkejut dengan apa yang Elang lakukan.


Tak sampai disitu saja, Elang langsung melayangkan pukulannya tepat di wajah Angga, lalu mencengkeram erat kerah bajunya. Membuat wajah mereka saling berdekatan.


"Apa yang ku perintahkan kepadamu hah!?" bentak Elang tepat di wajah Angga, yang sudah mengeluarkan darah dibagian bibir dan hidungnya.


"Me-menjaga Tuan Alan, dan mengawasinya Tuan," jawab Angga kesulitan untuk berbicara, dirinya merasakan pusing dan sakit dibagian kepalanya.


"Lalu apa yang kulihat, APA YANG KULIHAT SEKARANG!!!" marah Elang sembari menuding ke arah Alan.


"Ku Suruh kau untuk menjaga dan mengawasinya, hanya itu saja!"


"Tidak untuk menyembuhkan penyakit lumpuhnya!" sambung Elang yang masih mencengkeram erat kerah baju Angga, lalu melepasnya dengan kasar.


Elang berbalik badan, dirinya hendak pergi dari sana, akan tetapi Alan langsung memegang lengan Elang, berniat untuk menghentikan Kakaknya.


"Sebenarnya ada apa dengan Kakak? Kenapa Kakak marah dan memukul Angga?" tanya Alan kepada Elang, yang masih diam tidak menjawab.

__ADS_1


"Kak jawab Alan!"


"Seharusnya Kakak yang bertanya, kenapa kau melakukan ini semua Alan?" lirih Elang kepada Alan membuat remaja itu terdiam dengan tangan yang bergemetar.


"Kakak kecewa kepadamu Alan," sambung Elang lalu menepis tangan Alan dan berjalan pergi dari sana.


"Ke-kecewa?" batin Alan tertegun sembari melihat punggung Kakaknya yang mulai menjauh.


Ku kira dengan kembalinya kedua kakiku ini, kehidupan ku yang bahagia akan kembali lagi.


Ku kira dengan kembalinya kedua kakiku ini, kakak Elang Ku yang dulu akan kembali lagi.


Tapi apa kenyatannya, ternyata anganku saja yang terlalu tinggi.


"Angga, apa kau tidak apa-apa?" tanya Alan merasa khawatir kepada Angga, melihat dirinya yang penuh akan luka lebam.


"Sa-saya tidak apa-apa Tuan," jawab Angga sembari sesekali meringis kesakitan dengan memegang wajahnya.


"Bi-Bi Ana, tolong obati Angga yah Bi!" pinta Alan kepada Bi Ana, yang sedari tadi juga berdiri dan menyaksikan itu semua.


"I-iyah Tuan," jawab Bi Ana lalu membantu Angga berdiri, dan membawanya untuk diobati.


...********...


/Brak brak brak/ Alan melempar semua barang-barang yang berada di sana untuk meluapkan semua kekesalannya.


"Aaarrrgggghhhh!!!" teriak Alan sembari terus melempar semua benda yang berada di dekatnya.


"Kenapa Kak kenapa!"


"Sebenarnya apa yang Kakak mau dari Alan!?"


"Kakak ingin Alan bahagia bukan, sekarang Alan bahagia dengan kembalinya kedua kaki Alan."


"Tapi kenapa Kakak malah marah dan tidak suka dengan ini semua."


"Hiks, sebenarnya ada apa dengan Kakak, kini Alan senang karna sudah bisa kembali berjalan, dan Alan pikir Kakak juga akan merasa senang melihatnya dan menjadi sebuah kejutan yang menarik untuk kakak."


"Tapi... hiks tapi kenapa Kakak malah benci, kenapa Kakak malah tidak suka. Perjuangan ku selama berbulan-bulan ini sia-sia bukan, aku berharap bisa melihat Kakak tersenyum dengan mengatakan, lihatlah, dia Adikku Alan sudah pulih seperti sedia kala, Adikku yang kucinta telah kembali sehat."


...********...


-Ruang tamu.

__ADS_1


Akhirnya malam pun tiba, tapi Elang belum juga kembali ke rumahnya, entah dimana keberadaannya sekarang.


Alan yang sedari tadi melihat sekretaris Ken gelisah mondar-mandir kesana-kemari dengan terus-menerus berusaha untuk menghubungi ponsel Tuannya. Tapi belum juga ada jawaban.


"Tuan, dimana anda sekarang?" cemas sekretaris Ken sembari terus mencoba untuk menghubungi ponselnya. Malam semakin larut, ia takut kalau sampai terjadi sesuatu dengan dirinya.


Sedangkan disisi lain, Alan yang hanya bisa duduk diam melihat kecemasan dari sekretaris Ken. Jujur saja, dia juga merasa gelisah dan cemas akan dimana keberadaan Kakaknya sekarang.


Tapi, dia mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif. Alan berharap, Kakaknya sekarang hanya pergi sebentar untuk menenangkan pikiran, dan tak lama lagi pasti akan pulang.


Lama mereka berdua diselimuti oleh rasa gelisah dan cemas akan dimana keberadaan Elang, hingga akhirnya telepon rumah berbunyi.


"Biar saya saja yang mengangkatnya Tuan!" ucap sekretaris Ken kepada Alan yang hendak beranjak untuk mengangkat telepon tersebut.


"Baiklah," jawab Alan, lalu sekretaris Ken berjalan menghampiri telepon rumah yang masih berdering itu.


Sekretaris Ken mengambilnya dan mengangkatnya.


Sekretaris Ken: "Hallo, dengan siapa?"


^^^Orang asing: "Iyah, permisi saya mau bertanya, apa benar ini nomor rumah dari kediaman Elang?"^^^


Sekretaris Ken: "Yah anda benar, saya sekretarisnya. Tapi, kalau anda sedang ada perlu dengan Tuan saya maaf, beliau sekarang sedang tidak ada di rumah."


Alan hanya diam, fokus untuk mendengar pembicaraan mereka.


^^^Orang asing: "Bukan, bukan itu maksud saya. Kalau memang benar ini nomor rumah dari kediaman Elang, sebaiknya anda segera pergi ke rumah sakit negara Y sekarang juga!"^^^


"Ru-rumah sakit?" batin Alan dengan mata terbelalak.


Sekretaris Ken: "Rumah sakit? maksud anda apa? Memangnya ada masalah apa sehingga kami disuruh untuk segera pergi ke sana?"


Sedangkan sekretaris Ken, masih mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif. Ia berusaha untuk membuang semua praduga buruk tentang Tuannya di dalam pikirannya.


^^^Orang asing: "Pria yang bernama Erlangga Mahesa Putra, baru saja mengalami kecelakaan parah dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit negara Y, jadi tolong untuk pihak keluarga untuk segera datang kemari!"^^^


Sekretaris Ken: "Tidak mungkin, sebenarnya apa yang kalian maksud!"


"Tu-tuan Alan!" teriak sekretaris Ken kepada Alan, yang sudah berlari keluar rumah segera pergi untuk menemui Kakaknya.


"Kakak, sebenarnya kau ini kenapa?!" batin Alan dengan setetes air mata mengalir di pipinya. Remaja itu langsung masuk ke dalam mobil, dan segera menuju ke rumah sakit negara Y.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2