
..."Tuhan berkata kau harus kembali."...
...********...
ELANG POV
Namaku, Erlangga Mahesa Putra. Kalian bisa memanggil ku Elang. Hanya seorang Kakak yang lemah dah payah, yang ingin terlihat kuat dihadapan Adiknya.
...#Flash back#...
-Halaman belakang rumah.
"Huwaaaa huwaaa," tangis Alan sembari memegangi lututnya, ia baru saja terjatuh disaat bermain bola hingga membuat lutut kanannya lecet dan sedikit mengeluarkan darah. Mendengar tangisan Alan yang cukup keras, membuat Elang berlari terburu-buru menghampiri Adiknya.
"Adik, kamu enggak kenapa-kenapa?" Ucap Elang jongkok di hadapan Alan, sembari memegang kepalanya. Ia merasa khawatir mendengar Adiknya menangis.
"Hiks hiks sakit Kak, bolanya nakal," balas Alan memanyunkan bibirnya, membuat Elang merasa gemas melihatnya.
"Iyah-iyah bolanya nakal," Elang hanya bisa manggut-manggut dengan apa yang Alan katakan.
"Gimana? Bisa berdiri gak?" tanya Elang.
Alan hanya bisa menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban tidak.
"Yaudah, yuk naik!" suruh Elang membelakangi Alan, menunjukkan punggungnya yang lebar.
"He em," angguk Alan, dengan segera ia naik ke atas punggung Elang, dan sang kakak itu pun menggendong Adiknya.
"Mmmm Alan berat yah kak?" tanya Alan merasa tidak enak, ia takut malah akan membuat Kakaknya itu lelah dan kecapean hanya karna harus menggendong dirinya.
"Enggak kok, malahan kamu ringan banget," balas Elang sedikit tergelak tawa.
"Haha, Kakak Elang kuat yah."
"Gimana caranya biar Alan bisa kuat seperti Kakak?" sambung Alan bertanya.
"Makan yang banyak, nanti pasti Alan jadi kuat," jawab Elang.
"Oke siap, nanti Alan makan yang banyak biar jadi kuat kayak kakak."
"Anak pintar," ucap Elang senang melihat adiknya yang sudah tidak menangis lagi.
...********...
Malam harinya, di dalam kamar Elang dan Alan.
"Kakak Kakak!" lirih Alan pelan memanggil Kakaknya yang sedang tertidur pulas.
"Hmmm," lenguh Elang.
"Alan kebelet pipis Kak," ujar Alan sembari menggoyang-goyangkan tubuh Elang, berniat untuk membangunkannya.
"Terus?" tanya Elang yang masih dengan mata tertutup.
"Anterin Alan dong Kak, Alan takut kalau sendirian," pinta Alan, membuat Elang perlahan mendudukkan badannya berusaha untuk mengumpulkan semua nyawanya terlebih dahulu.
"Iyah ayo!" balas Elang. Lalu mereka berdua pun pergi menuju ke kamar mandi, dengan Alan yang terus berjalan di belakang Elang sembari memegang ujung bajunya.
"Kakak, jalannya jangan cepet-cepet napa!" ucap Alan kepada Elang, Elang ingin sekali segera mengantarkan Adiknya ke kamar mandi dan tidur kembali di atas kasur empuk.
"Hm," deham Elang dengan mata mengantuk.
__ADS_1
"Kakak, jangan jauh-jauh dari Alan, sini deketan Alan takut!"
"Hm iyah-iyah," jawab Elang.
"Makanya, kan Kakak udah bilang jangan nonton film horor kalau emang takut," sambung Elang kepada Alan lalu mendengar tawa kecil dari Adiknya.
"Hehehe."
"Tapi Alan kan penasaran kak, pingin lihat filmnya," sambung Alan.
"Yaudah sana, cepet yah!"
"Oke," angguk Alan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menjalankan misi.
...********...
-Ruang tamu.
"Alan mainnya jangan disitu! Nanti kena sepeda motor Ayah jatuh," ucap Elang memberi peringatan kepada Adiknya yang tengah asyik bermain mainan mobil-mobilan didekat sepeda motor milik Ayah.
"Enggak kok kak, Alan mainnya hati-hati," balas Alan tak menghiraukan ucapan Kakaknya sama sekali.
"Eh mobil Alan," mainan mobil-mobilan miliknya kini masuk dan berada tepat dibawah sepeda motor milik Ayahnya. Alan berusaha untuk mengambilnya, karena tangannya yang tidak cukup panjang membuatnya kesulitan.
Hingga /bugh/ sepeda motor itu tersenggol dan hendak terjatuh.
"Aaaahhh!!!" teriak Alan langsung menaruh kedua tangannya di atas kepala.
/Bruk/ "Hiks hiks," tangis Alan sembari menutup kedua matanya.
"Alan enggak kenapa-kenapa?"
"Iyah, kamu enggak kenapa-kenapa kan?" tanya Elang sekali lagi.
"A-Alan enggak kenapa-kenapa kok Kak,"
"Syukurlah," ucap Elang tersenyum simpul.
"Ka-Kakak enggak kenapa-kenapa?" ucap Alan berbalik bertanya.
"Tenang, Kakak baik-baik aja kok, Kakak kan kuat," jawab Elang.
Jujur saja, sebenarnya Elang merasakan sesuatu bagian dari sepeda motor itu menghantam punggungnya, hingga meninggalkan rasa nyeri di sana.
"Main di tempat lain aja yuk!" ajak Elang kepada adiknya, sembari membetulkan posisi sepeda motor milik Ayahnya.
"I-iyah Kak," angguk Alan.
-Di dalam kamar mandi.
Elang berdiri di hadapan sebuah cermin, ia ingin memeriksa bagaimana keadaan punggungnya.
"Haahh, ternyata dugaan ku benar. Punggungku memar," hela Elang yang melihat punggungnya memar agak keunguan di cermin kamar mandinya.
Sekali lagi ku katakan, aku hanyalah lelaki yang lemah dan payah yang ingin terlihat kuat di hadapan adiknya.
Ini semua ku lakukan agar Alan tidak takut dan merasa aman dibawah perlindunganku. Jika aku terlihat lemah di hadapannya, lalu siapa yang akan melindunginya?
...********...
"KAKAAAKKKK!!!" teriak Alan yang langsung terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran.
__ADS_1
Ia merasakan hangat dibagian dahinya, "Ini seperti nyata," ucap Alan kembali sadar.
"Mati? Apa benar kakak Elang akan mati?"
"Hiks hiks."
"Enggak-enggak, Kakak Elang gak boleh mati, Kakak Elang gak boleh ninggalin Alan!" tangis Alan sembari meremas erat dadanya.
/Drrrtt drrrtt drrrtt/ bunyi getar ponsel Alan yang terletak di atas laci meja, mendengar handphonenya berbunyi membuat Alan dengan lekas mengambilnya.
Ibunda is calling you...
"Bun-Bunda, ngapain Bunda telpon Alan malam-malam?" bingung Alan, lalu segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
...-Ibunda-...
Alan: "Assalamualaikum Bunda!"
^^^Ibunda: "Waalaikumussalam Alan hiks hiks."^^^
"Loh Bunda kok nangis?" batin Alan merasa bingung bercampur rasa takut.
Alan: "Bun-Bunda, Bunda kenapa nangis semuanya baik-baik aja kan?"
^^^Ibunda: "Alan hiks, Kakak kamu Alan, dia..."^^^
Alan: "Kakak, Kakak Elang kenapa Bunda? Dia baik-baik aja kan Bunda?"
^^^Ibunda: "Kakakmu Elang kritis Nak hiks, dokter sedang sibuk menangani Kakak kamu sekarang, Bunda takut Alan hiks hiks."^^^
"A-APA, apa benar mimpi itu akan menjadi nyata?" batin Alan dengan keringat dingin.
Alan: "Bunda tenang yah Bunda, Kakak Elang pasti baik-baik aja. Tunggu Alan, Alan segera ke sana."
^^^Ibunda: "Iyah Alan, cepat yah!"^^^
Alan: "Iyah Bunda, assalamualaikum!"
^^^Ibunda: "Waalaikumussalam."^^^
/Tut/ menutup telepon.
Dengan segera Alan langsung bergegas keluar dari dalam rumahnya dan segera mengendarai mobil. Dengan secepatnya pergi ke rumah sakit negara Y.
-Rumah sakit negara Y.
Sesampainya di sana, Alan terburu-buru memarkirkan mobilnya. Berlari secepat-cepatnya masuk ke dalam rumah sakit, bergegas menuju ke kamar pasien Kakaknya.
Diluar kamar pasien, Alan sudah melihat Ibunda, ayah, sekretaris Ken dan Andhika sudah berkumpul di sana. Mereka semua mengkhawatirkan tentang kondisi Elang.
"Bunda!" ucap Alan yang langsung berlari menghampiri Ibundanya.
"Alan!" sang Ibunda langsung memeluk tubuh anak bungsunya itu.
Alan bisa merasakan tangan wanita itu gemetar, serta basah mengeluarkan keringat dingin, mata Ibunda juga sembab akibat menangis.
"Bagaimana keadaan Kakak Bun?" tanya Alan merasa cemas.
"Kakak kamu sedang ditangani dokter di dalam Alan, bunda... bunda tidak tahu."
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1