
Keesokan harinya....
-SMA Garuda Sakti.
/Kriiinggg/ Bel pulang sekolah berbunyi, pertanda bahwa pembelajaran sekolah telah berakhir. Seluruh murid mulai berjalan keluar dari dalam kelas mereka masing-masing.
-Taman sekolah SMA Garuda Sakti.
Terdapat seorang pria bertopi hitam di sana, sedang memegang sapu taman untuk membersihkan dedaunan kering. Yah, siapa lagi kalau bukan Al, dia seorang pekerja serabutan. Pekerjaan apapun rela dirinya lakukan untuk mencari uang, asalkan pekerjaan itu benar dan juga halal.
"Haaahhh padahal gua anak pertama dari keluarga putra, haha tapi nasib apa yang gua dapat," Al tersenyum sinis sembari sibuk melakukan pekerjaannya.
Ternyata hidup sebagai anak orang kaya tidak sama seperti apa yang Al lihat di film-film layar kaca televisi.
Mereka hidup dengan bahagia dan penuh kemewahan, bergelimang harta serta diperlakukan dengan cara yang istimewa. Berbanding terbalik dengan kehidupannya, ia adalah pewaris pertama keluarga putra tetapi kehidupannya tak sebaik yang ia pikirkan. Bahkan, dirinya harus berjuang cukup keras untuk mendapatkan sesuap nasi.
"Kak Al!" terdengar suara seseorang memanggil dirinya, Al menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Alan," ucap Al mendapati Alan sedang berdiri di hadapannya.
"Kau tidak pulang? Bel sekolah sudah bunyi dari tadi," sambungnya.
"Iyah, Alan mau pulang tapi mobil jemputannya Alan masih belum datang. Makanya Alan masuk lagi ke sekolah, terus kebetulan lihat ada kak Al di sini," balas Alan.
"Owh," respon Al singkat.
"Kak Al kerja di sekolah Alan juga yah, wah kayaknya udah ditakdirkan nih buat ketemu terus sama Kak Al," ujar Alan lalu tertawa kecil.
"Tuhan, kenapa kau membuat takdirku serumit ini. Dia Adikku, tapi bahkan dirinya tidak tahu bahwa orang yang tengah berdiri di hadapannya saat ini adalah kakak kandungnya sendiri," batin Al sedih.
Akhirnya, aku dipertemukan dengan Adikku. Tetapi dirinya tidak mengenaliku, walaupun aku tidak bisa bersamanya ketika Alan masih kecil, sebagai seorang Kakak aku tetap menyayanginya.
Sebagai seorang kakak aku mencintainya, tapi untuk memiliki mustahil untuk dikatakan. Hubungan kami terlalu asing untuk dikatakan sebagai seorang saudara. Bahkan untuk saat ini dirinya menganggap diriku hanya sebatas teman.
Tetapi aku yakin, Tuhan sudah mentakdirkan kedua kakak beradik yang sudah terpisah lama ini, untuk bertemu kembali.
"Kak Al masih belum selesai yah kerjanya, biar Alan bantuin yah!" ujar Alan hendak mengambil sebuah sapu taman yang bersandar di dinding kelas dekat taman.
"Tidak usah Alan!" tolak Al membuat Alan mengurungkan niatnya.
"Tapi kenapa? Biar pekerjaannya kak Al cepet selesai makanya Alan bantuin, sip!" balas Alan tetap bersikukuh dengan keinginannya untuk membantu Al.
"Alan!" ucap Al dengan nada penuh penekanan dan sorotan matanya yang tajam tertuju kepada Alan.
__ADS_1
"Huft, iyah-iyah Alan nggak bantuin Kak Al deh," balas Alan sembari memanyunkan bibirnya. Dia merasa kesal, "Kenapa sih, setiap kali aku pingin bantu orang selalu aja ditolak," batin Alan.
"Kalau Kak Al sudah selesai Alan tunggu kakak di sana," ujar Alan masih dengan ekspresi sebal lalu pergi duduk di sebuah kursi dekat taman.
"Hm," Deham Al.
"Anak itu sangat susah diatur dan keras kepala," batin Al sembari melihat Alan yang sudah duduk di kursi dekat taman sembari memainkan sebuah handphone.
Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya Al telah selesai melakukan pekerjaannya dan menaruh kembali sapu taman itu di tempatnya. Lalu berjalan menghampiri Alan.
"Lama?" tanya Al kepada Alan yang tengah sibuk memainkan game online.
"Enggak kok, sebentar," jawab Alan dengan menengadah menatap wajah Al yang bercucuran keringat.
"Sini duduk samping Alan!" suruh Alan sembari menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Yah," jawab Al lalu duduk di samping Alan. Laki-laki itu melepaskan topi hitam yang dikenakannya, nampak rambut hitam dengan pucuk-pucuk rambut yang basah akibat keringat, sehingga terlihat mengkilap saat terkena biasan cahaya matahari.
"Memang benar, mata Kak Al terlihat sama seperti punya Kakak Elang," batin Alan mencuri pandang, melirik ke arah kedua mata Al yang tampak lebih jelas ketika melepas topinya.
"Apa yang kau lihat?" ucap Al menangkap basah Alan, dirinya sudah menyadari kalau Alan sedang memperhatikan dirinya sedari tadi.
"Bu-bukan apa-apa," jawab Alan yang langsung memalingkan pandangannya.
"Hem," deham Al tersenyum kecil.
"Apa?" tanya Al tidak mengerti maksud dari Alan.
"Lap keringat Kakak," balas Alan.
"Owh, oke terima kasih!" ujar Al lalu menerima sapu tangan tersebut untuk membersihkan keringat di wajahnya.
Setelah selesai, mereka berdua tidak saling berbincang dan malah memilih untuk diam satu sama lain. Mereka berdua tidak tahu harus memulai percakapan darimana. Suasananya begitu canggung dan sepi, butuh suara jangkrik biar rame dikit.
"Tunggu di sini sebentar!" suruh Al sembari berjalan pergi dari sana untuk mengambil sesuatu.
"Oke," jawab Alan melihat Al mengambil tas waistbag army miliknya di dekat taman sekolah. Dan kembali berjalan menghampiri dirinya dengan membawa tas waistbag army tersebut.
Alan hanya diam menyaksikan apa yang laki-laki itu lakukan, ia membuka resleting tasnya dan mengambil dua bungkus roti dari dalam sana.
"Ini!" ucap Al dengan menyodorkan sebungkus roti coklat kepada Alan.
"Eh eng-enggak usah kok Kak!" tolak Alan.
__ADS_1
"Kenapa? Rejeki nggak boleh ditolak. Udah nih ambil, aku ikhlas kok," balas Al sembari masih menyodorkan sebungkus roti coklat tersebut.
"Ta-tapi Kak, Kakak Al kan pasti capek nyapu taman sekolah. Pasti Kak Al laper kan, udah itu buat Kakak aja. Alan masih kenyang kok," jawab Alan berusaha menolak, dan membuat pria itu menghela napas.
"Tinggal ambil aja repot amat sih!" batin Al.
"Kak Al," belum sempat Alan menyelesaikan kalimatnya, Al langsung memasukkan roti coklat tersebut ke dalam mulut Alan.
"Hump," kejut Alan dengan kedua bola mata membulat.
"Tinggal terima rotinya, terus dibuka, tinggal dimakan apa susahnya sih? Gua cuman ngasih lo roti, gak nyuruh buat bunuh diri. Memangnya kenapa rotinya? Gak beracun kok," ucap Al gemas.
"Alan kan cuman ngerasa gak enak aja Kak," balas Alan lalu mengunyah roti coklat tersebut.
"Hm."
"Kak Al!" panggil Alan.
"Apa?" tanya Al sembari menguyah rotinya.
"Kak Al kemarin kenapa? Kenapa tiba-tiba Kak Al pingin pulang dari rumah Alan?" tanya Alan kepada Al seketika membuat dirinya kehilangan nafsu makan.
"Kemarin ada pekerjaan penting, aku baru ingat waktu udah sampai di rumah kamu," jawab Al membuat alasan.
"Aku minta maaf kalau sikap aku kemarin kurang sopan," sambungnya.
"Tidak apa-apa kok Kak, Alan paham," ujar Alan.
"Eh, sopir Alan sudah nunggu di depan. Alan pamit pulang dulu yah Kak!" pamit Alan yang hendak pergi selepas mendapatkan pesan singkat dari sopirnya.
"Iyah, hati-hati!" balas Al.
"Assalamualaikum Kak Al!" salam Alan kepada Al, lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan laki-laki tersebut.
"Waalaikumussalam," balas Al.
"Eh Alan, sapu tangan kamu ketinggalan!" teriak Al kepada Alan yang masih tidak terlalu jauh.
"BUAT KAKAK AL AJA!!!" balas Alan berteriak.
"Anak itu sungguh merepotkan, tapi juga menyenangkan," gumam Al memikirkan tentang Alan dengan tersenyum simpul.
"Sikap Alan sama seperti Elang waktu kecil," sambungnya.
__ADS_1
"Oh yah, Elang Adik kakak. Bagaimana kabar kamu sekarang? Sudah lama kita tidak bertemu dan bermain bersama. Kakak Garuda rindu Elang," batin Al sembari menatap langit kebiruan.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...