ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
eps 16


__ADS_3

Keesokan harinya....


-Perusahaan Andara.


Seorang laki-laki berparas tampan sedang duduk santai di kursi kantornya, ia sibuk berkutik dengan sebuah laptop yang berada di hadapannya, ditemani segelas kopi hitam panas.


"Haah," hela Andhika membuang napas, seraya menyandarkan punggungnya yang terasa panas. Pagi ini dirinya harus disibukkan dengan semua data-data perusahaan yang harus segera ia selesaikan.


Jujur saja, walaupun dirinya merasa jengah dengan ini semua. Tapi, lelaki bermarga Andara itu harus bertanggung jawab dengan perusahaan keluarga yang Ayah Andhika percayakan kepadanya.


"Aku pikir, menjadi anak ke-tiga dari empat bersaudara akan hidup layaknya seperti raja. Ck, tapi apa yang kudapat?" gumam Andhika mendecak, menatap kesal ke arah tumpukan berkas.


Yah, Andhika yang berasal dari keluarga Andara merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia memiliki satu Kakak perempuan dan satu Kakak laki-laki serta satu Adik perempuan yang sudah meninggal dunia.


Tuan Angga Andaresta yang merupakan Ayahanda dari Andhika Andaresta, mempercayakan perusahaan keluarganya kepada anak ketiganya itu. Karna Andhika yang sedari kecil sudah memiliki IQ yang tinggi, serta dirinya yang mahir dalam semua bidang terutama hal tentang mengelola sebuah perusahaan. Itu sebabnya sang Ayahanda mempercayakan perusahaan Andara kepada Andhika.


"Sebaiknya aku menelepon Elang, untuk menanyakan keadaannya," ujar Andhika lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.


...********...


-Perusahaan putra.


Elang yang tengah duduk di kursi kantornya, lalu mendengar nada dering yang berasal dari ponselnya.


Dirinya yang masih sibuk dengan berkas-berkas kantornya menyuruh sekretarisnya Ken untuk mengangkat.


Sekretaris Ken menganggukkan kepala, lalu mengambil ponsel Elang yang terletak di atas meja itu dan mengangkatnya.


/Tut/ mengangkat telepon.


Andhika: "Assalamualaikum Elang!"


^^^Sekretaris Ken: "Waalaikumussalam, Tuan Andhika."^^^


Andhika: "Sekretaris Ken? Bagaimana ponsel Elang bisa ada bersamamu?."


^^^Sekretaris Ken: "Tuan Elang yang menyuruh saya untuk mengangkatnya Tuan! Kini Tuan Elang sedang sibuk dengan pekerjaannya."^^^


^^^Sekretaris Ken: "Ngomong-ngomong, ada perlu apa anda menelpon Tuan Andhika? Apakah ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan?"^^^


Andhika: "Tidak, tidak ada sesuatu yang penting Ken! Aku hanya ingin menanyakan kabar bagaimana kondisi Elang?"


^^^Sekretaris Ken: "Tenang saja Tuan Andhika, Tuan Elang sekarang sudah baik-baik saja, anda tidak perlu khawatir."^^^


Andhika: "Haahh, katakan kepada si kutub Utara, mungkin alasan ia sering tiba-tiba sakit karena kurang kasih sayang wanita. Sampai kapan Elang harus terus sendirian, kenapa tidak mencontoh Andhika sahabatnya yang penuh akan pesona dan mendapat banyak sekali kasih sayang dari para wanita."


"Dasar buaya!" batin Elang merasa kesal dengan perkataan fakta yang penuh akan ledekan dan menusuk ke dalam hati kecilnya, dari Andhika kepada dirinya.


Apa kalian tahu? Selain sibuk dengan semua berkas kantornya, Elang juga sibuk menguping pembicaraan mereka.


Sekretaris Ken: "Tuan Andhika, apa yang anda katakan?"


"Apa anda cari mati tuan," batin sekretaris Ken.


Andhika: "Memangnya kenapa, itu memang fakta."

__ADS_1


"Ken!" lirih Elang tajam, membuat sekretaris Ken yang yang melihatnya bergidik ketakutan. "Aku ingin sekali menjahit mulut si buaya darat itu," pikir Elang sudah merasa geram.


"Berikan ponselnya kepadaku!" sambung Elang menyuruh.


"Ini Tuan!" balas sekretaris Ken seraya memberikan ponsel Tuannya kepada dirinya.


^^^Elang: "Apa mau mu?!"^^^


Andhika: "Eh ada Elang ganteng, sehat bosku?"


^^^Elang: "Jika kau meneleponku hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting, lebih baik ku matikan sekarang."^^^


Andhika: "Kenapa? Temenku yang imut baper yah?"


"Nih anak pengen gua geprek!" batin Elang, kini kedua telinganya mulai memanas.


^^^Elang: "Aku tutup."^^^


Andhika: "Eh jangan!"


Andhika: "Aku cuman mau tanya sesuatu."


^^^Elang: "Apa?"^^^


Andhika: "Teman baru Alan, siapa namanya?"


^^^Elang: "Riza, memangnya ada apa?"^^^


"Riza yah," gumam Andhika sembari memegang dagunya, dirinya seperti tengah memikirkan sesuatu.


^^^Elang: "Apa kau mengenalnya?"^^^


^^^Elang: "Benarkah? Apa kau pernah bertemu dengannya?"^^^


Andhika: "Mungkin saja! Tapi untuk memastikan, apa kau mempunyai data tentang anak yang bernama Riza itu?"


^^^Elang: "Ada, kenapa?"^^^


Andhika: "Bisa kau mengirimkan data tentang anak itu kepadaku? Karna aku ingin mengetahui sesuatu."


^^^Elang: "Baiklah, akan segera ku kirim data tentang anak itu kepadamu."^^^


^^^Elang: "Kalau begitu aku tutup dulu, masih ada banyak berkas yang harus ku urus."^^^


Andhika: "Ya ya baiklah, semangat Elang imut, assalamualaikum!"


^^^Elang: "Waalaikumussalam."^^^


/Tut/ menutup telepon.


"Ken, tolong kirimkan data tentang teman Alan kepada Andhika!" suruh Elang.


"Teman Tuan Alan? Apa maksud anda, anak yang bernama Riza itu?"


"Yah, segera kirimkan kepada si buaya darat itu! Aku tidak tahu, sebenarnya apa yang sedang ingin ia ketahui."

__ADS_1


"Baik tuan, akan segera saya kerjakan!" Balas sekretaris Ken, lalu segera pergi meninggalkan ruangan Elang.


"Sekarang, apa yang kau ketahui buaya," batin Elang.


...********...


Dengan segera sekretaris Ken mengirimkan tentang semua data teman Alan (Riza), kepada Andhika.


^^^Sekretaris Ken: "Assalamualaikum Tuan Andhika, apakah datanya sudah masuk kepada anda?"^^^


Andhika: "Waalaikumussalam, sudah Ken, baru saja. terima kasih!"


^^^Sekretaris Ken: "Sama-sama Tuan, kalau begitu saya tutup dulu. Assalamualaikum!"^^^


Andhika: "Waalaikumussalam."


/Tut/ menutup telepon.


"Baiklah, kalau begitu mari kita cari tahu siapa itu Riza," ucap Andhika lalu mengecek data tentang teman Alan di laptopnya, yang baru saja sekretaris Ken kirimkan padanya.


Satu persatu Andhika memeriksa tentang semua data Riza, tapi raut wajahnya tidak menunjukkan rasa kepuasan. Ia belum menemukan apa yang sedang ia cari.


"Data ini kurang lengkap, aku tidak menemukan informasi tentang daftar nama anggota keluarganya," gumam Andhika.


"Sekretaris Jean!" panggil Andhika lumayan keras, membuat seorang lelaki masuk ke dalam ruangan setelah mendengar namanya dipanggil oleh Andhika.


"Iyah Tuan?" tanya sekretaris Jean.


"Tolong carikan data tentang anak ini, aku ingin yang lebih lengkap, sekarang!" pinta Andhika kepada sekretarisnya.


"Baik tuan, segera saya kerjakan."


"Lima menit, apa bisa?"


"Baik Tuan, dalam waktu lima menit semua data tentang anak itu akan selesai," balas sekretaris Jean.


"Baik, aku tunggu," ucap Andhika, lalu melihat sekretarisnya pergi dari ruangannya untuk melaksanakan perintahnya.


"Entah kenapa, seperti ada sesuatu yang membuatku penasaran tentang anak ini," batin Andhika sembari melihat foto Riza yang terdapat dilayar laptopnya.


...********...


Tak lama kemudian....


/Kreeekkk/ bunyi pintu terbuka, nampak sekretaris Jean sedang membawa apa yang Tuannya itu inginkan.


"Ini Tuan! Data yang anda inginkan," ucap sekretaris Jean seraya memberikan beberapa berkas yang berisikan data tentang Riza.


"Terimakasih Jean," balas Andhika dengan senyuman menerima berkas tersebut.


"Sama-sama Tuan."


"Apakah berkas itu sangat penting tuan?" tanya sekretaris Jean sembari melihat tuannya yang tengah membaca berkas tersebut.


"Tidak juga, hanya saja aku tertarik untuk mencarinya," balas Andhika seraya membolak-balikkan halaman, lalu berhenti disebuah bagian nama anggota keluarga, mata Andhika dibuat terkejut dengan sebuah nama yang terpampang di sana. Lalu menyunggingkan senyumnya, akhirnya lelaki itu menemukan apa yang sedang dirinya cari.

__ADS_1


"Aku membawa hadiah untukmu Elang, perasaan Andhika tidak pernah salah," batin Andhika tersenyum puas dengan melihat sebuah nama yang akhirnya ia temukan.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2