ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 18


__ADS_3

Bunda selalu bilang sama Elang, kalau jadi Kakak harus baik sama Adik.


Bunda selalu bilang sama Elang, kalau jadi Kakak harus bisa ngalah sama Adik. Jangan sampai buat Adik nangis.


Bunda selalu bilang sama Elang, kalau jadi Kakak harus akur sama Adik, jangan sampai bertengkar.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


...#Flash back#...


Kala itu, disaat Elang menginjak usia enam tahun. Anak kecil yang masih polos dengan tingkah lakunya yang menggemaskan, serta senyum lucu yang selalu mengembang dikedua sudut bibirnya. Elang yang sangat menyukai mainan mobil-mobilan yang dihadiahkan oleh sang Ayah, dengan ditemani sang Ibunda dalam keadaan perut membesar.


"Perut Bunda kok tambah besar?" tanya Elang dengan polosnya, sembari mengetuk-ngetuk pelan perut Ibunda.


"Emangnya kenapa kalau perut Bunda tambah besar?" tanya balik sang Ibunda kepada Elang, ia tidak bisa menahan kedua tangannya untuk mencubit sepasang pipi chubby milik anak sulungnya itu. Sungguh menggemaskan.


"Hihihi, Bunda tambah gendut," ucap Elang tertawa geli, sehingga menampakkan dua gigi kelinci putih. "Perut Elang gak segendut bunda," sambung Elang sembari memegang perutnya dengan kedua tangan mungilnya.


Elang merangkak perlahan menghampiri Ibunda untuk duduk di sampingnya. "Tuh lihat!" ucap Elang sembari membandingkan perut buncitnya dengan perut milik Bundanya. Sang Ibunda hanya bisa diam, terkekeh kecil melihat kelakuan Elang.


"Emang Bunda makan apa? Kok perutnya bisa jadi besar?" tanya Elang polos seraya menatap lekat mata sang Ibunda.


"Yang ada di dalam perut Bunda ini ada orangnya, dia Adik kamu Elang," balas sang Ibunda sembari mengelus lembut kepala Elang.


"Kok bisa Bunda?" kaget Elang. "Terus, mana anaknya?"


"Nanti, nanti Adik Elang akan lahir. Elang harus jadi Kakak yang baik yah, ajak Adiknya main. Harus akur, jangan berantem!"


"Iyah Bunda," angguk Elang gemas. Dengan perlahan, Elang memeluk perut sang Ibunda lalu mengelusnya lembut menggunakan tangan mungil miliknya. "Adik cepet lahir yah, biar bisa main sama Elang. Kita main mobil-mobilan yang dibeliin sama ayah," ucap Elang seperti membayangkan kalau ia sedang berbicara dengan sang Adik. Dan Elang juga percaya, bahwa Adik yang sedang di dalam perut Ibunda juga mendengarnya.


"Jadi saudara yang baik yah," batin Ibunda merasa senang, ia yakin kalau nanti Elang akan bisa menjadi sesosok Kakak yang bisa menjaga Adiknya.


...********...


"Huwaaa huwaaa huwaaa!!!" jerit suara tangis anak kecil yang cukup keras, membuat Ibunda yang sedang memasak di dapur berlari tergopoh-gopoh untuk lekas menghampiri asal suara jeritan tersebut.


Tepatnya di ruang bermain, Ibunda dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini, lalu menghela napas berat. Ia melihat sang kakak Elang yang sedang menangis, dengan sang adik Alan yang sedang memegang sebuah mainan mobil-mobilan berwarna merah.

__ADS_1


Cukup melihatnya saja, sang Ibunda sudah paham asal sebab suara tangisan ini. Haahh jadi Bunda memang harus super sabar. Pertengkaran antara kakak beradik sudah biasa bukan?


Ibunda berjalan menghampiri Elang yang masih belum berhenti dengan tangisannya, ia ingin menenangkan anak sulungnya terlebih dahulu.


"Elang sayang kenapa? Kok nangis?" tanya Ibunda sembari mengusap lembut air mata di pipi putih chubby Elang.


"Elang pokoknya gak mau punya Adik! Elang gak suka punya Adik! Elang benci sama Adik!" rengek Elang semakin menjadi-jadi.


"Huss Elang sayang, gak boleh ngomong gitu, Alan itu Adik kamu," balas Ibunda yang masih harus sabar, menghadapi tingkah laku kedua putra kecilnya.


"Emang Alan kenapa?" tanya Ibunda.


"Hiks... Alan ambil mobil-mobilan Elang yang dikasih sama Ayah, Bunda," isak Elang dengan bibir melengkung ke atas, semakin menambah kesan gemas ketika melihatnya.


"Iyah," balas Ibunda manggut-manggut paham lalu memutar pandangannya yang kini tertuju kepada anak bungsunya, dengan memegang sebuah mainan mobil-mobilan merah milik Kakaknya itu.


"Alan, Kakak Elang pinjem mainan mobil-mobilannya dulu yah!" pinta Ibunda dengan membuka tangan kanannya.


"Endak!!!" cebik Alan menggeleng cepat dengan menggembungkan pipinya, ia semakin mendekap mainan mobil-mobilan itu, "Ini punya Alan!" sambung Alan, ia tak ingin mainan itu diambil oleh siapapun.


"Kakak Elang kok nangis Bunda?" tanya Alan dengan polosnya, membuat Ibunda menghela napas panjang. Lalu berjalan menghampiri anak bungsunya.


Sang Ibunda mendudukkan Alan di pangkuannya. "Kakak Elang nangis karena dia mau main sama Alan," jawab Ibunda dengan nada lembut.


"Main sama Alan?" balas Alan sambil mendongakkan kepalanya, menatap mata Ibunda.


"Iyah," angguk Ibunda.


"Kakak Elang mau main mobil-mobilannya berdua sama Alan, Kakak Elang mau main bareng sama Alan."


"Itu Kakaknya Alan, kakak Elang sama Alan itu saudara, jangan sampai bertengkar, harus saling berbagi yah!"


"M-mmmm," deham Alan tertunduk, menatap lekat mainan mobil-mobilan merah ditangannya itu. Ia merasa bersalah karena telah membuat Kakaknya menangis.


"Terus Alan harus apa bunda?" tanya Alan.


"Alan minta maaf yah sama Kakak Elang, biar bisa main bareng lagi, yah!"

__ADS_1


"Iyah," balas Alan manggut-manggut.


Anak kecil memang egois, bukan dengan cara kekerasan untuk membuatnya mengerti. Tapi, ucapan lembut dengan diselipi sebuah nasihat itu lebih baik.


Mengingatkan tanpa melukai.


Elang masih menangis di dalam kamarnya, anak itu meringkuk di samping tempat tidur. Ia berpikir bahwa Ibunda tidak berlalu adil kepada dirinya, ia lebih menyayangi Adiknya daripada dirinya, ia lebih membela Alan daripada dirinya.


"Hiks Elang benci sama Alan, Elang gak suka adik!" isak Elang yang masih menangis. Mobil-mobilan berwarna merah kesayangan Elang, mainan pertama yang sang Ayah hadiahkan disaat hari ulang tahunnya. Itu sebabnya, Elang amat menyayangi mainan itu.


"Kakak Elang!" panggil Alan pelan, sembari mengintip dari luar kamar. Ia terlalu takut untuk masuk ke dalam.


Elang tak menyahuti panggilan Adiknya, ia masih merasa kesal dengan dirinya.


"Alan," ucap Bunda di samping Alan mengerjapkan matanya beberapa kali, Alan mengangguk paham.


Akhirnya si Adik bersama sepasang kaki mungil berjalan memasuki kamar, seraya membawa sebuah mainan mobil-mobilan merah milik Kakaknya.


Mata Elang mengintip kedatangan Alan, walau sudah tahu sang Adik sekarang tengah berdiri di hadapannya, Elang tetap saja menundukkan kepala.


"Kakak!" panggil Alan, tapi Elang masih tidak mau menjawab panggilan Adiknya.


"Kakak Elang marah yah sama Alan?" sambung Alan bertanya dengan polosnya. Sedangkan sang Kakak Elang, masih saja diam.


"Hihihi, ini! Alan kembaliin mainannya Kakak!" ucap Alan sembari menyodorkan mainan mobil-mobilan berwarna merah itu. Elang yang mendengarnya langsung antusias, dengan lekas dia mengambil mainan kesayangannya tersebut.


"Maaf yah kak! Alan udah bikin Kakak Elang sedih," pinta Alan melontarkan kata maaf, membuat Elang mengangguk beberapa kali.


"Main sama-sama yuk Dek!" ajak Elang antusias.


"Ayo!" balas Alan yang ikut senang melihat Kakaknya sudah tidak menangis lagi.


Ibunda yang sedari tadi memperhatikan tingkah kedua putranya tersenyum simpul. Ia percaya, kalau Elang akan bisa menjadi Kakak yang baik, dan Alan juga pasti juga akan bisa menjadi Adik yang baik.


Pertengkaran diantara kedua saudara itu sudah biasa. Tanpa itu semua, hubungan mereka tidak akan semakin dekat dan kuat.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2