
-Di kediaman Elang.
Sekretaris Ken yang melihat sebuah mobil memasuki gerbang rumah Tuannya, dengan segera dia pergi keluar untuk menemuinya.
"Tuan Andhika, Tuan Alan. Kenapa hanya ada kalian berdua? Dimana tuan Elang?" tanya sekretaris Ken merasa heran, ia tidak melihat Tuannya Elang pulang bersama mereka.
Mereka berdua hanya diam, Andhika dan Alan tidak bisa menjawab. Sejujurnya, mereka berdua juga tidak mengetahui kemana Elang pergi.
"APA, Tuan Alan! Apa yang telah terjadi dengan anda?!" panik sekretaris Ken setelah melihat banyaknya bercak darah di sekujur tubuh Alan.
"Tenang saja Ken, itu bukan darahnya," jawab Andhika, membuat sekretaris Ken mengangkat satu alisnya.
"Bukan darah Tuan Alan? Lalu ini darah siapa?" tanya sekretaris Ken.
"M-mmm sudahlah, jangan terlalu dibahas! Yang terpenting sekarang bawa Alan masuk ke dalam, ajak dia untuk beristirahat. Aku akan menelpon Elang untuk menanyakan dimana ia sekarang," jawab Andhika mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah tuan," balas sekretaris Ken, lalu segera membawa Alan untuk masuk ke dalam rumah.
"Dimana sekarang kau dasar kutub Utara," gumam Andhika merasa khawatir dengan sahabatnya.
...********...
Sekretaris Ken membantu Alan mendorong kursi rodanya, membawa anak itu menuju ke kamar.
"Kita sudah sampai Tuan," ucap sekretaris Ken yang sudah tiba di dalam kamar Alan.
"Apa anda baik-baik saja Tuan?" tanya sekretaris Ken kepada Alan, karena sedari tadi ia hanya diam tidak berbicara. Sekretaris Ken merasa khawatir akan keadaan Tuannya, ditambah lagi dengan bekas bercak darah di sekujur tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa sekretaris Ken," jawab Alan pelan.
"Pergilah! Aku butuh waktu untuk sendiri."
"Baiklah Tuan, kalau anda membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saya," balas sekretaris Ken, lalu segera pergi meninggalkan kamar Alan.
Seusai keluar dan menutup pintu kamar Alan, sekretaris Ken masih berdiri di sana, ia merasakan sesuatu yang mencurigakan. Seperti ada suatu hal yang dirahasiakan
"Sebenarnya, ini ada apa? Apa yang telah terjadi dengan mereka? Ke emana tuan Elang pergi? Dan darah itu... itu darah siapa?" gumam sekretaris Ken bertanya-tanya, begitu banyak macam pertanyaan yang muncul di dalam pikirannya.
...********...
Sedangkan di dalam kamar Alan, remaja itu masih berada di tempat yang sama. Pikiran dan hatinya masih tidak mau menerima apa yang telah terjadi dengan dirinya sekarang.
Suara dentuman tembakan masih terus-menerus berdengung di kedua telinga Alan, dan bagaimana saat darah itu memuncrat dari tubuh Riza lalu mengenai dirinya. Alan masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas.
"Hiks bodoh bodoh bodoh!!!" kesal Alan sembari memukul-mukul kakinya. "Kenapa aku harus lumpuh Tuhan, kenapa!"
"Kenapa kau harus mengambil kedua kaki ini!" marah Alan kepada dirinya sendiri seraya terus menerus memukul kedua kakinya sangat keras, tapi apa yang Alan rasakan. Hanya mati rasa!
"AAAHHHHH!!!" teriak Alan meluapkan semua amarah. Alan mencoba untuk turun dari kursi rodanya, lalu membantingnya.
Berkali-kali Alan mencoba untuk berdiri menggunakan kedua kaki lumpuhnya. Tapi, apa yang terjadi. Alan hanya bisa terjatuh, jatuh, jatuh, dan jatuh.
"Hiks Aaaaahhh, kenapa aku harus lumpuh Tuhan, kenapa! Kenapa kau harus mengambil kedua kaki ku ini! Kenapa aku tidak bisa hidup bahagia seperti anak-anak yang lain!" saat ini Alan sedang merasakan depresi. Ia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Andai aku tidak memaksa Kak Elang waktu itu, pasti saat ini Riza bisa hidup bahagia bersama Kakaknya, Andai aku tidak memaksa Kak Elang waktu itu, Kakak Elang yang sekarang tidak akan pernah ada."
"Dan.... Hiks dan kedua kakiku tidak akan lumpuh seperti sekarang."
"Maafin aku Riza, Kakak. Aku salah, hiks aku salah, maafin Alan!"
...********...
..."Pada akhirnya, kita hanya bisa menyesali perbuatan kita dimasa lampau. Jika saja, waktu dapat diputar aku akan mencoba untuk memperbaiki itu semua."...
...-Alan Angkasa Putra-...
...********...
Andhika terus menerus mencoba untuk menghubungi ponsel Elang, tapi masih tidak ada jawaban. Hingga pria itu menyusuri kota untuk mencari dimana keberadaan temannya.
"Kau dimana Elang?" decak Andhika merasa kesal, dengan masih berusaha untuk mencari temannya.
/Ciitttt/ seketika Andhika memberhentikan mobilnya, di dekat sebuah lapangan yang luas bergelar rerumputan hijau. Ia memicingkan matanya, menatap punggung seseorang yang sedang duduk sendirian di sana.
"Cih dasar kutub Utara," umpat Andhika lalu tersenyum kecil, ia tahu kalau itu pasti Elang orang yang sedang dirinya cari. Dengan segera, Andhika turun dari dalam mobilnya untuk menghampiri orang yang ia duga itu adalah Elang.
"Jadi sad boy nih!" ledek Andhika kepada Elang, membuat laki-laki itu terkejut langsung menoleh ke belakang.
"Apa yang kau lakukan disini?" lirih Elang menatap kesal ke arah Andhika, padahal sekarang ia ingin sekali untuk menenangkan pikirannya. Tapi malah ada pengganggu yang datang.
"Bersyukurlah karena aku sedang mengkhawatirkan tentang dirimu, aku perhatian loh!" ucap Andhika menempatkan tubuhnya, duduk di samping Elang.
"Aku tidak butuh belas kasihan mu," cetus Elang.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiran ku saja."
"Bagaimana keadaan Alan?"
"Aku sudah mengantarkannya pulang, mungkin sekarang dia sedang beristirahat di kamarnya," jawab Andhika lalu membuat Elang tersenyum kecil.
"Anak itu, dia sudah berubah," ucap Elang sembari menatap ke arah langit malam.
"Kenapa? Apa dia telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati mu?" balas Andhika mencoba menebak.
"Hm, mungkin dia telah membenciku."
"Haha, walaupun Alan membencimu, tapi kau tidak kan? Aku tahu, kau tidak akan pernah bisa membencinya bahkan sampai berhenti melindunginya dirinya. Kau bukanlah orang yang seperti itu Elang, kau itu kuat," jawab Andhika. "Aku yang sekarang, juga karna dirimu tahu." sambungnya.
...#Flash back#...
"Auucchhh sakit!" ringis Andhika merasakan sakit, jatuh tersungkur ke tanah dengan lebam di bagian wajah, disertai luka lecet di kedua lutut dan tangannya. Baju putih berlogo SMP itu sudah lusuh dan kotor terkena tanah.
"Mana uangmu Andhika!" pinta teman Andhika beranggotakan tiga orang, tengah memalak dirinya.
"Aku... aku tidak punya uang," balas Andhika merasa ketakutan, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia sendirian dan sedangkan mereka bertiga.
"Apa?!" ucap salah satu anak mengepalkan kedua tangannya, bersiap-siap untuk melayangkan pukulan. "Bukankah kau anak dari keluarga Andara, berarti kau punya banyak uang bukan?!"
__ADS_1
"Ti-tidak!"
"Jangan banyak bicara, serahkan uangmu sekarang!" titah anak tersebut lalu menghempaskan pukulannya. Akan tetapi berhasil dihentikan.
"Cih, beraninya main keroyokan," lirih Elang tajam menghentikan pukulan anak tersebut, lalu memitingnya.
"Auchs lepaskan, sakit!"
"Pergilah!" titah Elang melepaskan genggamannya kasar.
"Kabur, ayo kabur!" hingga membuat ketiga anak itu berlari terbirit-birit meninggalkan mereka.
"Dasar sampah," umpat Elang sembari melihat punggung punggung mereka yang mulai menjauh.
"Ma... makasih," ujar Andhika mengucapkan kata terima kasih.
"Dan kau anak ingusan!" tambah Elang menunjukkan raut wajah kesal, sembari menunjuk ke arah Andhika.
"Kenapa kau tidak melawan mereka?"
"Me... mereka bertiga, dan sedangkan aku-"
"Kau sendirian?" potong Elang.
"Sendirian ataupun tidak, kau juga punya hak untuk melawan mereka, jangan biarkan harga dirimu diinjak-injak begitu saja. Tidak peduli kau sedang sendirian ataupun tidak, selama kau punya kemauan untuk melawan, mereka juga pasti akan merasa takut kepadamu," sambung Elang lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Andhika.
"Tu-tunggu!" panggil Andhika.
"Apa?" tanya Elang.
"Si-siapa namamu?" tanya Andhika sedikit merasa takut.
"Panggil saja aku Elang, dan kau?"
"Andhika, panggil aku Andhika,"
jawab Andhika senang.
"Baik Andhika, lain kali cobalah untuk berani melawan mereka," sambung Elang dengan senyum simpulnya, lalu pergi melanjutkan langkahnya.
"Yah," angguk Andhika tersenyum lebar.
...********...
"Akibat kata-kata yang kau tujukan kepadaku waktu itu, sejak hari itu juga aku tidak takut lagi untuk melawan mereka, karena.... aku ingin menjadi kuat seperti mu Elang," ucap Andhika dengan mata berbinar, menatap bangga kepada temannya.
"Haahh, kau masih mengingat cerita konyol mu itu anak ingusan," balas Elang menghela, ia bahkan sudah lupa tentang
peristiwa itu.
"Terserah kau mau memanggil ku apa, tapi aku yakin Elang. Aku saja bisa berubah, hanya karena kata-kata sederhana yang keluar dari bibir mu. Pasti Adikmu nantinya juga akan mengerti, akan maksud dari apa yang Kakaknya lakukan untuknya selama ini."
"Hm yah, semoga saja," balas Elang berharap.
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...