
Akhirnya, Alan pun mengantarkan Angga menunju ke toilet siswa untuk mengganti pakaiannya.
Selang beberapa lama Angga berganti pakaian, sepuluh menit kemudian ia telah selesai dan berjalan keluar dari dalam toilet siswa.
-Di luar toilet siswa.
"Bagaimana Tuan Alan, apakah seragam ini cocok untuk saya?" tanya Angga kepada Alan. Wajah Angga yang terbilang masih muda dan cukup tampan, dengan mengenakan seragam sekolah SMA. Membuat Alan menatapnya gelisah.
"Yah," jawab Alan dengan raut wajah datar.
"Fiks, ini akan menjadi sebuah bencana," batinnya.
Kedua manusia itu pun pergi dari sana, dan segera menunju ke kelas mereka.
Disaat mereka melewati koridor sekolah, banyak sekali pasang mata yang tertuju kepada Angga, dan sebagian besar dari mereka kaum hawa tentunya.
"Eh itu siapa, anak baru yah?" bisik seorang siswi.
"Iyah kali, ganteng yah," balas temannya. Disepanjang perjalanan, suara-suara kecil itu terus-menerus masuk ke dalam gendang telinga mereka berdua. Angga yang mendengarnya sama sekali tidak menghiraukan, ia hanya fokus ke depan sembari membantu mendorong kursi roda Alan.
"Heboh kan, pasti," batin Alan sudah tidak terkejut lagi dengan semua ini. Ia tahu, kalau hal ini pasti akan terjadi.
Sebagai seorang bodyguard, menurut Alan ia terlalu mencolok dan menarik perhatian. Ia pasti akan dibuat kerepotan dengan adanya Angga di sisinya. Belum lagi para kaum wanita yang ada di sekolahnya, "nggak bisa lihat yang cakepan dikit!" Angga baru saja datang dan bersekolah di sini, tapi serasa sudah menjadi idola SMA di hati mereka.
"Kau menyiksa ku Kak," batin Alan merasa pasrah. Mau bagaimana lagi, wajah Angga memang sudah begitu sejak lahir.
...********...
-Kelas 11 B.
Di depan pintu luar kelas.
"Tuan Alan!" panggil Angga kepada Tuannya.
"Iyah?" tanya Alan.
"Saya harus pergi sebentar ke ruang kepala sekolah Tuan, saya harus mengurus urusan kecil di sana."
"Benar juga, Angga masih baru disini," batin Alan.
"Baiklah, hati-hati!" jawab Alan.
"Yah," angguk Angga lalu membalikkan badannya dan mulai melangkahkan kaki pergi menuju ke ruang kepala sekolah.
"Tunggu sebentar!" batinnya tiba-tiba saja berhenti.
"Tuan Alan!" panggil Angga sedikit keras, membuat Alan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Apa?" tanya Alan.
"Saya ingin menanyakan sesuatu kepada anda," jawab Angga yang lalu dibalas anggukan oleh Alan.
"Yah?"
"Kenapa waktu kita berjalan melewati koridor sekolah, banyak sekali pasang mata yang mengarah kepada kita Tuan?"
"A-apa ini karena mereka sudah tahu siapa saya? A-apa mungkin karena ada yang salah dengan seragamnya, tapi sepertinya sama," sambung Angga membuat Alan menatapnya sebal. Tidak perlu ditanya pun, seharusnya ia sudah tahu apa sebabnya bukan?
"Ini semua karena wajah mu Angga," balas Alan.
"Wa-wajah saya? Me-memangnya wajah saya kenapa Tuan?" ucap Angga gelisah sembari memegang wajahnya.
"Gemes gak sih?!" batin Alan sudah dibuat geram, dengan sikap bodyguard barunya itu.
"Sudahlah Angga, cepatlah pergi ke ruang kepala sekolah! Karena sebentar lagi bel masuk jam pertama akan berbunyi."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi," ucap Angga pamit.
...*********...
Akhirnya Elang dan sekretaris Ken telah sampai dan mendarat di negara Z, sekarang kedua pria itu tengah berjalan menuju ke luar bandara.
"Hallo Tuan Elang, selamat datang di negara Z!" ucap seorang pria dengan jas hitamnya, menyambut kedatangan mereka.
"Sekretaris Ken, kau juga datang."
"Hallo tuan Zen!" balas sekretaris Ken dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Apakah perjalanan kalian menyenangkan? Mari-mari kita bicarakan ini di kantor perusahaan ku saja. Kalian pasti sudah merasa lelah bukan," ucap seorang pria yang bernama Zen itu, mengajak mereka berdua menuju mobilnya.
Perusahaan Avilio, sebuah perusahaan yang cukup sukses milik keluarga Avilio yang kini sedang dipegang oleh Zen Avilio. Perusahaan Putra milik Elang dan perusahaan Avilio milik Zen, mereka sedang merencanakan untuk melakukan bisnis bersama.
"Istirahatlah dulu Tuan Elang dan sekretaris Ken, saya akan segera kembali," ucap Zen kepada mereka berdua mempersilahkannya untuk beristirahat di ruang kantor pribadinya.
Dengan segera Elang mengistirahatkan tubuhnya di sebuah sofa yang terdapat di sana. Badannya begitu lelah, dan lehernya juga terasa pegal.
"Apa perlu saya buatkan minum Tuan?" tawar sekretaris Ken yang tengah berdiri di sampingnya.
"Baiklah," balas Elang memejamkan kedua matanya.
"Apa Alan baik-baik saja di sana? Apa tidak apa-apa jika aku tidak berada di sisinya sekarang?" tanya Elang dengan menatap langit-langit atap.
"Anda telah menyewa seorang bodyguard untuknya Tuan, Tuan Alan pasti baik-baik saja," balas sekretaris Ken.
"Sejujurnya, hatiku tetap merasa tidak tenang walaupun aku telah menyewa seorang bodyguard untuknya, anak itu sering tertimpa masalah bila jauh dariku."
__ADS_1
"Tapi Tuan, saya sedikit merasa khawatir akan bodyguard yang anda sewa, dia terlihat terlalu muda dan juga....."
"Tenang saja Ken," potong Elang sembari menoleh ke arah sekretaris Ken.
"Aku sudah pernah melihatnya sendiri, kau tidak perlu meragukan soal kemampuannya," sambung Elang tersenyum kecil.
...********...
/Kriiingggg/ bel masuk jam pertama berbunyi.
Semua murid bergegas duduk di tempat mereka masing-masing, dan tak lama kemudian Bu guru pun masuk dengan diikuti Angga di belakangnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh anak-anak!" salam Bu guru.
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh Bu!" Jawab seluruh murid.
"Hari ini kelas kalian kedatangan anak baru, dan dia sudah berdiri di samping ibu, Nak silahkan perkenalkan namamu terlebih dahulu!" suruh Bu guru kepada Angga lalu dibalas anggukan olehnya.
"Hallo semua, perkenalkan nama saya Angga, saya harap kita bisa berteman dan belajar bersama. Salam kenal!" ucap Angga memperkenalkan dirinya, lalu diakhiri dengan lemparan senyum manisnya.
"Baiklah Angga, silahkan pilih kamu mau duduk dengan siapa?" tanya Bu guru kepada Angga.
"Saya mau duduk sama...." balas Angga sembari sibuk melihat sekeliling.
"Duduk sama saya aja Bu!" pinta seorang siswi.
"Gimana sih Bel! Kalo lo duduk sama dia terus gua duduk sama siapa?" protes teman sebangkunya.
"Yah lo pergi, cari aja tempat duduk lain!" usir Bella sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kok lo jahat sih sama gua," balas sebal teman sebangkunya.
"Jangan sama Bella Bu, dia gatel mirip ulet bulu! Mending sama saya aja Bu," sahut siswi lain tak mau kalah.
"Jangan Bu, Angga duduk sama saya aja!" suasana kelas semakin riuh dan berisik, hanya untuk memperebutkan Angga agar duduk sebangku dengan mereka. Sedangkan disisi lain, Alan hanya bisa diam memasang wajah datar, "kalo cakep gini yah," batin Alan.
"SUDAH DIAM!!!" bentak Bu guru sudah tak tahan.
"Angga duduk sama Ibu aja yah!" pinta Bu guru menatap Angga dengan memasang wajah genit.
"Wuuuhhhh gitu mah sama aja Bu!"
"Inget umur Bu, jangan mau sama ibu-ibu Angga!"
"Jangan gatel dong Bu, inget anak di rumah Bu butuh uang jajan!" riuh suara sorakan meneriaki Bu guru.
"Yaaahhh, Ibu juga kan gak mau kalah sama kalian," balas Bu guru.
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...