
..."Jadilah pahlawan tanpa menyakiti siapapun."...
...-Alan Angkasa Putra-...
...********...
-Di ruang makan.
Elang duduk seorang diri di sana, dengan semua hidangan yang sudah siap di atas meja. Kedua bola mata dengan manik tajam persis seperti namanya terus tertuju ke arah lorong dihadapannya. Ia menunggu kemunculan Adiknya.
"Dimana Alan?" batin Elang bertanya-tanya, dengan hati yang merasa bersalah karena telah membentaknya.
"Apa perkataan ku tadi terlalu kasar untuknya?" gumam Elang, mengedarkan pandangannya ke seluruh hidangan makanan yang tersedia di atas meja.
Elang tak mempunyai maksud untuk membentak ataupun sampai menyakiti perasaan Alan.
Ia hanya ingin agar Alan sadar dan mau menerima kenyataan, buat apa mengharapkan sesuatu yang memang mustahil untuk digapai. Elang takut kalau sampai nanti Adiknya depresi, hanya karna memikirkan itu semua.
"Seharusnya Tuhan mengambil kaki ku bukan kaki Adikku, seharusnya aku yang duduk di kursi roda itu, bukan Adikku," gumamnya merasa bersalah, mengepal erat kedua tangannya. Ia masih berpikir bahwa dirinya lah yang telah membuat impian Alan hancur.
"Tuan Elang! Tuan Alan sudah datang," ujar sekretaris Ken, berjalan menuju ruang makan sembari membantu mendorong kursi roda Alan.
Elang kembali mengangkat kepalanya, melihat kedatangan sang Adik. Sekretaris Ken menempatkan posisi Alan di samping lelaki itu berada.
"Maafin Alan kak," lirih Alan tak berani menatap wajah Kakaknya.
"Iyah tidak apa-apa, Kakak juga minta maaf karena sudah membentak mu Alan," balas Elang lembut, dengan senyum simpulnya.
//Kriiuuukkk// bunyi perut Alan keroncongan, yang sudah tak sabar untuk menyantap berbagai hidangan makanan yang berjejer di atas meja. Sangat menggiurkan.
"Apa perutmu sudah tidak sabar?" goda Elang tertawa kecil, melihat kepada Alan seperti bayi besar yang kelaparan.
"Mmmm," deham Alan malu dengan pipi yang merah seperti kepiting rebus.
Elang mengambilkan sesendok nasi untuk Adiknya, lalu menyodorkannya ke mulut Alan.
"Ayo buka mulut!" suruh Elang mengarahkan sendok tersebut di depan bibir Alan.
"Eh, Kakak ngapain?" tanya Alan sedikit menjauhkan kepalanya.
"Suapin kamu lah," jawab Elang.
"Ta... tapi, Alan sudah besar kok Kak, bukan anak kecil lagi," protes Alan mengerutkan kening.
"Alan," tegur Elang agar ia segera membuka mulutnya, tangannya mulai terasa pegal sedari tadi harus memegang sendok tersebut.
"Iyah-iyah," angguk Alan pasrah, lalu membuka mulutnya dan memakan suapan pertama dari Elang.
__ADS_1
"Nahhh gitu kan pinter," senang Elang sembari menepuk-nepuk pelan kepala Alan.
"Tapi sekarang gantian!" balas Alan yang langsung ikut mengambilkan sesendok nasi untuk Kakaknya.
"Gak perlu Alan, Kakak sudah besar," tolak Elang.
"Alan juga sudah besar, tapi Kakak tetap maksa buat suapin Alan, itu gak adil namanya," jawab Alan tak terima sembari masih menyodorkan sesendok nasi itu kepada mulut Kakaknya. Karna sang Kakak lebih tinggi, maka Alan harus sedikit mengangkat tangannya.
"Oke deh," angguk Elang, jadi Kakak memang harus mau mengalah sama Adik, itulah yang pernah dikatakan Bunda kepada dirinya.
Elang mulai membuka mulutnya, dan memakan suapan nasi dari Alan.
"Puft, nah gitu dong pinter," tawa Alan sebab melihat ekspresi menggemaskan dari Elang.
"Kakak Elang harus makan yang banyak biar kuat, biar bisa terus jagain Alan," sambung Alan tersenyum lebar sembari menepuk-nepuk punggung Kakaknya.
"Benarkah?" tanya Elang.
"Eh, mak-maksut Alan," senyuman lebar Alan pudar seketika, ia teringat kembali akan ucapannya yang baru saja ia katakan. Ucapan yang sama sekali tidak ingin ia keluarkan.
"Iyah, Kakak berjanji akan selalu menjaga kamh semampu Kakak, Alan," balas Elang tersenyum manis.
Selama Kakak mu masih bernafas.
Aku akan membuatmu hidup bahagia, merasakan layaknya manusia normal. Walaupun tanpa kedua kakimu itu.
"Entah anda juga dapat merasakannya atau tidak Tuan Elang, malam ini akan menjadi kenangan yang indah di antara anda dan Tuan Alan," gumam sekretaris Ken memandang ke arah luar jendela, menatap cahaya bulan dengan gemerlap bintang-bintang.
...********...
Setelah selesai makan malam, Elang mengantarkan Alan menuju ke kamarnya.
-Di dalam kamar Alan.
"Makasih sudah mau nganterin Alan Kak."
"Iyah," jawab Elang singkat.
"Tidurlah, besok sepulang dari sekolah kita akan pergi ke rumah Ayah dan Bunda," sambung Elang sembari menyelimuti tubuh Alan.
"Iyah," angguk Alan.
"Selamat malam Alan!" ucap Elang sembari mematikan lampu, lalu pergi keluar kamar dan menutup pintu.
"Selamat malam juga Kakak," jawabnya dengan perlahan menutup mata.
...********...
Keesokan harinya....
__ADS_1
Alan pergi menuju kelasnya dengan menaiki kursi roda. Keadaan kelas Alan sungguh berisik, riuh akan suara semua anak. Tapi seketika suasana menjadi hening, di saat Alan masuk ke dalam sana.
Mata semua anak tertuju kepada dirinya, bisik-bisikan cemooh satu persatu masuk ke dalam gendang telinganya.
Alan yang tetap diam, pergi menuju tempat duduknya. Ia pura-pura tidak mendengar dengan apa yang sedang mereka bisikkan.
"Kakak apa yang telah kau lakukan dikelas ini waktu itu? Kalau terus menerus seperti ini, kapan Adikmu ini bisa mempunyai teman?" batin Alan sedih.
Sedari kelas 10 sampai sekarang, tidak ada satupun anak yang mau menjadi teman Alan. Selain karna fisik, tetapi juga karena takut dengan sang Kakak, Elang.
Mereka takut kalau sampai menyakiti Alan atau membuat dirinya terluka sedikit saja, maka nyawa mereka akan terancam.
/Kriiingggg/ bel masuk jam pelajaran pertama pun berbunyi, semua anak bergegas menuju ke tempat duduk mereka masing-masing.
Bu guru mulai berjalan memasuki kelas dan memberi salam, "assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh anak-anak!"
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh Bu!" jawab seluruh murid serempak.
"Seperti yang Ibu kemarin katakan, bahwa hari ini Ibu akan memberikan sebuah tugas untuk kalian semua," ucap Bu Yati guru IPA.
"Tugas teroossss!!!" sahut seorang siswa bernama Asep yang duduk dibaris kedua dekat jendela.
"Asep! Berani kamu melawan Ibu!"
"Iyah Bu iyah, maaf."
"Baiklah anak-anak, sebelum Ibu beri tahu apa tugasnya, ayo silahkan kalian membentuk kelompok terlebih dahulu! Minimal dua anak yah," suruh Bu Yati.
Semua anak mengiyakan apa yang Bu Yati katakan. Mereka mulai bergegas untuk mencari pasangan kelompok masing-masing. "Sepertinya aku bakal sendirian lagi," gumam Alan merasa sedikit kecewa.
"Baik, kelompoknya sudah terbentuk, loh Alan kok kamu masih sendirian?" tanya Bu Yati heran yang masih melihat Alan seorang diri di tempat duduknya, sedangkan anak-anak lainnya sudah berkumpul bersama kelompok mereka.
"Saya sendirian aja enggak apa-apa kok Bu," balas Alan dengan senyum kaku.
"Yah gak bisa gitu dong, ini itu tugas kelompok, Rei kamu satu kelompok sama Alan!" suruh Bu Yati menunjuk salah satu anak.
"Enggak deh Bu, saya sama Tio aja," tolak Rei.
"Hani, kamu satu kelompok sama Alan!" suruh Bu Yati lagi.
"Eng-enggak deh Bu, saya sama Sarah aja."
"Huh ya sudah, Do-"
"Sudah Bu jangan dipaksa! Walau Ibu menyuruh satu kelas untuk satu kelompok dengan saya, pasti semua tetap akan menolak. Saya sendiri saja enggak apa-apa kok Bu, saya tidak keberatan," ujar Alan memotong perkataan Bu Yati, ia merasa kecewa sekaligus lelah dengan ini semua.
Semua anak menatap kasihan ke arah Alan, hati mereka merasa tak enak sekaligus merasa bersalah. Bukan benci atau tak suka, ini semua hanya karna mereka merasa takut kepada kakaknya.
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
__ADS_1