ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 44


__ADS_3

/BRAAAKKKKK/


"HEI APAKAH KAU TIDAK PUNYA MATA!!!"


...********...


"Eh suara apa itu?" tanya Alan mendengar sebuah suara bentakan dan juga hantaman tak jauh dari tempatnya berada.


"Sebaiknya aku pergi untuk memeriksanya," batin Alan lalu segera pergi untuk mencari asal sumber suara tersebut.


Tepatnya di dekat pintu gerbang rumah, Alan melihat satpam rumahnya sedang memarahi seorang pria dengan mengenakan sebuah topi hitam di kepalanya.


Dengan segera, Alan pergi untuk menghampiri mereka berdua untuk mencari tahu asal permasalahan tersebut.


"Pak, ada apa ini?" tanya Alan kepada Pak satpam, di sana dirinya juga melihat sebuah sepeda kayuh yang jatuh dengan beberapa koran yang berserakan.


"Eh Tuan Alan," nada satpam seketika berubah menjadi lebih sopan ketika berhadapan dengan Alan, dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk memberi hormat kepada Tuannya.


"Begini Tuan Alan, pria ini telah menabrak pintu gerbang rumah," ucap satpam itu sedang menjelaskan tentang kronologi permasalahan.


"Tapi tenang saja Tuan, saya telah memarahinya," sambungnya, Alan dengan seksama mendengar semua penjelasan dari satpam rumahnya tersebut, lalu melihat ke arah pintu gerbang yang memang sedikit lecet.


Sedangkan pria bertopi hitam itu tengah sibuk membereskan koran-korannya yang berserakan di tanah, dengan segera Alan turun tangan untuk membantunya.


"Sini Mas, biar saya bantu!" ucap Alan sembari sibuk untuk membantu memunguti koran-koran tersebut.


"Hah, ternyata masih ada orang kaya sepertimu yang masih mau membantu orang kecil seperti ku," lirih pria itu sambil tersenyum sinis. Jujur, Alan masih bisa mendengar perkataan dari pria itu, tapi dirinya lebih memilih untuk diam.


Setelah selesai, akhirnya mereka berdua pun menaruh koran-koran itu di dalam keranjang sepeda kayuh milik pria bertopi hitam tersebut.


"Oh yah Mas, apa anda terluka? Atau ada kerugian yang perlu saya bayar? Saya minta maaf atas perlakuan buruk yang telah satpam saya lakukan kepada anda," ucap Alan kepada pria itu, dirinya merasa bersalah sekaligus kasihan melihat koran-koran miliknya sudah kotor terkena tanah.


"Tuan Alan, untuk apa anda meminta maaf? Anda tidak perlu melakukannya, dia yang salah, dia yang telah terlebih dahulu menabrak pintu gerbang rumah Tuan," sahut pak satpam.


"Sudah cukup Pak!" bentak Alan merasa kesal.


"Apa gerbangnya hancur? Apa gerbangnya rusak parah? Tidak kan. Gerbangnya hanya lecet sedikit."


"Cukup di poles dan di cat sedikit maka gerbangnya bisa kembali seperti semula. tapi bagaimana dengan dirinya, koran-koran itu ia butuhkan untuk mencari makan. Seharusnya Bapak juga mengerti dan membantunya, bukan malah mempersalahkan soal gerbang rumah," sambung Alan menasehati satpam.


"Iyah Tuan, maafkan saya!" balas satpam itu merasa bersalah sambil menundukkan kepalanya.


"Mas, sebagai bentuk permohonan maaf apakah anda mau hadir di acara ulang tahun saya?" tawar Alan kepada pria tersebut.


"Tidak terima kasih, orang biasa seperti ku tidak pantas untuk datang ke acara ulang tahun semewah itu," balas pria tersebut sembari melihat begitu banyak kembang api yang bertaburan menghiasi langit berasal dari rumah Elang.


"Kalau begitu, saya permisi!" sambungnya lalu berjalan pergi sambil menuntun sepeda kayuhnya.


"Oh yah," ucapnya lalu berhenti, dengan menoleh ke arah Alan dan Pak satpam.

__ADS_1


"Lain kali ajari satpam mu itu sopan santun, jangan sampai hanya karna sikap beraninya itu membuat image dan reputasi keluarga mu terancam," pungkas pria tersebut sedikit menyelipkan kata sindiran, lalu kembali berjalan pergi dari sana.


"Baiklah," balas Alan.


"Ngomongnya pedes juga yah," batin Alan.


"Tapi, walaupun pria itu terlihat begitu dingin, tapi aku merasa ada sisi hangat dan lembut di dalam dirinya. Aku berharap bisa bertemu lagi dengan dia," gumam Alan sembari melihat punggung pria itu yang perlahan mulai menjauh.


...*********...


-Di dalam rumah.


"Alan, kamu dari mana aja?" tanya Ibunda menatap kesal ke arah putranya itu.


"Gara-gara kamu semua tamu pada nungguin tuh, kamu kan harus potong kue ulang tahunnya dulu. Yang ulang tahun siapa, yang bingung siapa," sambung Ibunda.


"I-iyah bunda Alan minta maaf, habisnya tadi perut Alan sakit banget bunda," balas Alan mencoba untuk mencari alasan.


"Nah loh Alan, Bunda marah. Kamu sih kelamaan," batinnya.


"Udahlah Bunda, yang penting Alan kan sudah datang, gak usah pake ngambek juga kan, nanti cantiknya hilang loh," bujuk sang Ayah kepada istrinya, membuat wanita itu berusaha menahan senyum mendengar rayuan manis dari suaminya itu.


"Astaga ayah," batin Alan menatap heran. Udah tua masih aja jago ngegombal.


"Iyah deh iyah, ayo Alan kamu potong kuenya!" balas Ibunda dengan cepat, berusaha untuk menutupi rasa malu bercampur gugup akibat bujukan maut yang diberikan oleh suami tercinta.


"Tuh kan, jadi baper," batin Alan yang bisa melihat rona merah di pipi Ibundanya.


...********...


Selanjutnya, potongan kue yang kedua ia berikan kepada sang Ayah, dan pria itu membalas nya dengan pelukan hangat.


Acara pun dilanjut dengan pesta yang meriah, lalu berakhir hingga pukul sepuluh malam.


Kini pesta perayaan ulang tahun Alan telah selesai, satu persatu tamu mulai berpamitan untuk pulang. Para pelayan dan pekerja lainnya mulai membereskan dan membersihkan sisa-sisa perayaan tadi, dan Alan kini remaja itu sudah berada di dalam kamarnya untuk beristirahat.


-Di dalam kamar Alan.


Sesudah mandi dan berberes, sekarang Alan tengah duduk di atas ranjang kasur dengan mengenakan baju tidur.


"Haaahhh capek banget," hela Alan sambil meregangkan kedua tangannya, ia merasakan pegal di bagian seluruh tubuhnya. Ngomong-ngomong, tadi Alan sama sekali tidak ada waktu untuk duduk, dan selama pesta dimulai dirinya hanya berdiri.


"Banyak banget kadonya, memang Bunda sama Ayah ngundang tamu berapa," heran Alan menatap ke arah tumpukan kado yang begitu banyak di dekat lemari baju, cukup melihatnya saja Alan merasa enggan untuk membukanya, karena sekarang dirinya terlalu lelah.


/Ddrrtt ddrrtt/ Alan mendengar bunyi getar handphone yang tergeletak di atas laci meja, dengan segera Alan mengambilnya untuk melihat panggilan dari siapa itu.


Kak Andhika is calling you....


...-Kak Andhika-...

__ADS_1


"Eh kak Andhika," ujar Alan memandang layar handphonenya yang terpampang nama Andhika di sana.


"Oh yah, ngomong-ngomong kayaknya tadi kak Andhika nggak dateng ke acara ulang tahun aku," pikirnya lalu mengangkat panggilan tersebut.


^^^Kak Andhika: "Assalamualaikum, Yoo Alan selamat ulang tahun yah!"^^^


Alan: "Waalaikumussalam, iyah Kak Andhika terima kasih."


^^^Kak Andhika: "Maaf yah Alan, Kak Andhika gak bisa datang di acara ulang tahun kamu tadi, sibuk soalnya."^^^


Alan: "Iyah kok kak nggak apa-apa, Alan ngerti kok."


^^^Kak Andhika: "Hm iyah, tapi tenang kok hadiah buat ulang tahun kamu udah Kak Andhika siapin."^^^


Alan: "Beneran Kak? Apa?"


^^^Kak Andhika: "Yah rahasia dong, kalau dikasih tahu sekarang gak seru nanti."^^^


Alan: "Iyah deh iyah."


^^^Kak Andhika: "Oh yah Alan."^^^


Alan: "Iyah Kak?"


^^^Kak Andhika: "Apa kau masih belum bisa melupakan Elang?"^^^


Alan: "Emmm emmm."


^^^Kak Andhika: "Tak apa Alan. Memang terasa berat, ketika disaat acara penting seperti ulang tahun kita, orang yang berharga dan kita sayang tidak bisa hadir di sana untuk merayakannya bersama kita."^^^


^^^Kak Andhika: "Aku tahu, tadi kau pasti merasa sedih dan berharap Elang juga ikut berada di sana bersamamu, memotong kue ulang tahun itu. Tapi mau bagaimana lagi, takdir berkata lain."^^^


^^^Kak Andhika: "Tenang saja Alan, perlahan-lahan kau pasti akan mulai terbiasa. Mungkin Elang telah pergi jauh, tapi masih ada aku di sini, anggap saja aku seperti Kakakmu sendiri."^^^


Alan: "Iyah Kak Andhika, terima kasih!"


^^^Kak Andhika: "Tidak perlu berterima kasih Alan, aku sahabatnya sudah menjadi kewajiban ku untuk menjaga dirimu juga."^^^


^^^Kak Andhika: "Sekarang tidurlah, kau pasti lelah bukan?"^^^


Alan: "Iyah kak."


^^^Kak Andhika: "Aku tutup dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh!"^^^


Alan: "Waalaikumussalam warohmatullahi warohmatullahi."


/Tut Tut Tut/ panggilan diakhiri.


"Kutub, kau tidak perlu merasa khawatir soal keadaan Adikmu disini. Mulai sekarang aku akan menjaganya, walau kasih sayang dan pengorbanan ku tak bisa sebesar dirimu. Tapi aku akan mencobanya semampuku," ujar Andhika sembari fokus mengendarai mobilnya.

__ADS_1


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2