ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 22


__ADS_3

"Dan sejak hari itu gua kesepian, gua sendirian, semua orang yang gua sayang sudah pergi ninggalin gua," ucap Riza menyeka air mata di pipinya. "Lalu, disaat pertama kali gua masuk di SMA Garuda sakti, gua melihat lo dan Kakak lo Alan. Gua sama sekali nggak bisa lupain wajah dia."


"Orang yang telah membunuh Kakak gua dengan bengisnya, bagaimana bisa gua melupakannya dengan mudah," sambung Riza seraya perlahan mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya.


"Itu sebabnya, gua merencanakan ini semua Alan. Mustahil gua bisa membunuh Kakak lo Elang, dia terlalu pintar. Tapi kalau lo Alan, itu terlalu mudah," nada suara Riza mulai berubah, sorotan matanya kini terlihat begitu tajam. Membidik pistolnya tepat di kepala Alan. Sama persis seperti apa yang Elang lakukan kepada Kakaknya dulu.


"Ri... Riza, te-tenanglah!" ucap Ala gemetar, ia merasa ketakutan dengan sebuah pistol yang di bidikkan kepadanya.


"Dengan begini, Kakak gua Indra bisa tenang di sana," ujar Riza sudah siap untuk menarik pelatuknya. Sebentar lagi, sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan.


"Ri-Riza, tenanglah! Apa yang kau mau, aku akan mengabulkannya untukmu."


"Cih apa yang gua mau? Apa lo yakin?" balas Riza tersenyum licik.


"Ten-tentu saja Riza," jawab Alan.


"Hidupkan kembali Kakak gua Indra, kembalikan semua masa kecil gua yang bahagia, apa lo bisa?" ucap Riza mengeluarkan keinginannya, membuat Alan terkejut mendengarnya.


"Meng... menghidupkan kembali Kakaknya?" batin Alan. "Bagaimana bisa, aku menghidupkan kembali orang yang sudah mati."


"Bagaimana? Mustahil bukan."


"Ajal mu sudah dekat Alan, sebaiknya lo jangan banyak bicara," sambung Riza penuh penekanan. Kini keringat membasahi sekujur tubuh Alan, jantung anak itu berdegup kencang, bibirnya terasa keluh.


"Selamat jalan... Alan."


"JAANGAAN!!!" ujar Alan berteriak kencang, menutup kedua matanya rapat-rapat.


//Dor// peluru panas terlepas dari pelatuknya, darah terciprat kemana-mana.


"Hah!" isak Alan langsung membuka kedua matanya. "Aku... aku masih hidup?!" ucap Alan merasa lega yang masih dengan degupan jantung hebat.


"Riza!" kejut Alan melihat ke arah temannya, yang sudah tersungkur di atas tanah dengan darah yang berceceran dimana-mana.


"I... ini, ini darah Riza," sambung Alan baru sadar, seraya melihat ke seluruh badannya. Baju, celana, wajah, tangan, semuanya terkena cipratan darah Riza.


"Si-siapa, siapa yang melakukan ini?" batin Alan bertanya-tanya.


"Apa kau aman Alan?" terdengar suara seseorang yang amat dikenal oleh kedua telinga Alan, ia mengangkat kepalanya menatap wajah pria itu.


"Ka... Kakak," batin Alan melihat Elang yang sudah berdiri di hadapannya. Mata Alan melirik ke arah tangan kanan Elang, ia melihat sebuah pistol di sana.

__ADS_1


"Sudah aku katakan, untuk menjauhi anak ini. Hah, Adik dan Kakak mereka berdua sama saja," ucap Elang menatap jijik ke arah mayat Riza, dengan bekas tembakan di bagian kepala. Sepertinya, peluru itu telah berhasil menembusnya.


"Dia telah membunuhnya Alan, Kakak lo yang bernama Elang sudah membunuh Kakak gua Alan!"


"Apa lo pernah merasakan, betapa sakitnya kehilangan seorang saudara!?"


Tiba-tiba, Alan mengingat kembali apa yang Riza katakan kepada dirinya, perlahan kedua bola matanya kembali melirik ke arah mayat Riza. "Kakak sudah membunuh mereka berdua," batin Alan merasa kasihan, dan keningnya berkerut.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Elang melihat Adiknya yang tertunduk ke bawah, Elang mengangkat tangannya untuk memegang pipi Alan.


"Jangan!" tolak Alan penuh penekanan, membuat tangan Elang terhenti seketika.


"Jangan sentuh aku!"


"Apa maksudmu Alan?" tanya Elang merasa bingung dengan sikap Adiknya.


"Jangan sentuh aku, dengan tangan kotor mu itu!"


"Dimana kakak Elang ku?"


"A-apa yang sebenarnya kau maksud, aku Elang, aku Kakak mu!" jawab Elang merasa terkejut dengan apa yang Adiknya itu katakan. Ada apa yang sudah terjadi dengan dirinya?


"KAU BUKAN KAKAKKU!!!" sambung Alan membentak.


"A-apa maksudmu?" cengang Elang mendapat bentakan keras dari Alan.


"Kau monster, hiks. KAU ITU MONSTER!!!"


"Mon... monster?" batin Elang merasakan sakit di dalam hatinya, setelah mendengar sebutan itu.


"Kak Elang tidak akan pernah membunuh orang, Kak Elang akan selalu bersikap baik kepada Adiknya, Kak Elang tidak akan pernah menghancurkan kebahagiaan orang lain!"


"Hiks, dimana Kakak Elang ku yang dulu, dimana! Hiks, aku ingin Kak Elang yang dulu, aku rindu Kakak Elang yang dulu," sambung Alan yang masih berderai air mata, Elang hanya bisa diam, mengepal kuat kedua tangannya.


"Kakak mu yang dulu sudah tiada," lirih Elang tajam.


"Kakak Elang mu yang dulu sudah mati dan tidak akan pernah kembali."


"Ini diriku yang baru Alan, dan selalu akan seperti ini," sambung Elang dengan dinginnya, dan hanya disambut dengan raut wajah kesal oleh Alan.


"Yoo bro, dimana bagianku?" tanya Andhika yang sudah datang. Baru ia sampai di sana, sudah merasakan aura yang mencekam.

__ADS_1


"Sepertinya, aku datang diwaktu yang tidak tepat."


"Andhika!" panggil Elang.


"I-iyah?" tanya Andhika, lalu melihat Elang berjalan menghampiri dirinya.


"Antarkan Adikku pulang, dan urus mayatnya," suruh Elang kepada Andhika, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.


"Sudah kuduga, kau hanya akan menyisakan bagian yang paling aku benci," ucap Andhika merasa kesal, melihat ke arah mayat Riza yang tergeletak.


"Ayo Alan, kita pulang!" ajak Andhika kepada Alan sembari membukakan tali ikatan ditangannya.


"Kenapa kehidupan kalian penuh dengan drama," ucap Andhika lalu menghela napas, selesai membukakan tali ikatan di tangan Alan.


"Hm," Deham Alan masih tertunduk ke bawah, kejadian hari ini sungguh diluar dugaannya.


...********...


Elang mengendarai mobilnya tidak menuju arah pulang, ia malah membelokkan kemudinya menuju ke tempat lain.


Elang memberhentikan kendaraan roda empat itu, di tempat lapangan luas yang bergelar rerumputan hijau dekat sungai.


Ia mendudukkan badannya di sana, sembari menatap ke arah langit malam yang gelap, tidak begitu banyak bintang malam ini.


Elang menghirup udara malam, dengan hembusan angin yang sedikit menggoyangkan rambutnya. Walau malam ini terasa begitu dingin, tapi ia tidak mempedulikannya. Yang terpenting, ia bisa menenangkan pikiran.


"Kenapa disaat-saat seperti ini, aku malah menginginkan mati," ucap Elang lalu terkekeh kecil.


"Monster yah," Elang teringat kembali akan julukan yang tadi Alan katakan dan ditujukan kepadanya. Satu kalimat itu, terasa begitu sakit dan menusuk ke dalam hatinya.


"Kakek, apa kau tidak mau memberi cucumu ini nasihat?" tanya Elang sembari menatap bintang. Yah, kini Kakek Elang telah menjadi bintang yang indah.


"Kau selalu mengatakan kepadaku, sebagai Kakak kau harus menjaga Adikmu. Tapi sepertinya cucumu ini sudah gagal Kek, dia membenciku," sambung Elang lalu tersenyum kaku.


...********...


..."Semua telah kulakukan untukmu, semua telah kulakukan untuk melindungi mu. Tapi tak kusangka, sebagai balasannya kau malah memberiku kata 'Monster' atas semua yang telah ku korbankan untukmu, Adikku."...


...-Erlangga Mahesa Putra-...


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...

__ADS_1


__ADS_2