
Sesampainya di kediaman Elang.
"Tuan, kita sudah sampai," ujar sekretaris Ken sembari membukakan pintu mobil untuknya.
"Iyah," jawab Elang, lalu keluar dari dalam mobil tersebut.
Mereka berdua berjalan menuju rumah yang mewah dan megah, rumah yang dibangun sendiri oleh Elang untuk tempat tinggal dirinya dan juga Alan.
Elang dan Alan pisah rumah dengan kedua orang tua mereka. Bukan karena faktor apapun, melainkan ada sebuah perusahaan yang harus ia perhatikan, serta Alan yang ingin hidup bersama Kakaknya.
Akan tetapi, setiap seminggu sekali, mereka selalu mengunjungi kediaman orang tuanya.
...********...
"Selamat datang Tuan!" disaat Elang berjalan masuk ke dalam rumah, bersama sekretaris Ken yang mengikuti di belakangnya, kedatangan mereka langsung disambut hormat oleh para pelayan yang sudah berbaris rapi sembari sedikit menundukkan kepalanya.
"Hm," deham Elang sembari terus berjalan melewati mereka, pandangan lelaki itu tetap lurus ke depan.
"Selamat datang Tuan!" salam seorang wanita paruh baya yang berada di barisan belakang.
Elang memberhentikan langkahnya, menghadap ke arah wanita tua dengan sedikit uban putih menghiasi rambutnya.
"Bi Ana, sudah saya bilang jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan," ucap Elang.
"Tidak apa-apa Tuan Elang, anda atasan saya jadi saya harus bersikap sopan kepada anda," balas Bi Ana.
"Tapi Bi Ana sudah saya anggap seperti orang tua saya sendiri. Dari kami kecil Bi Ana selalu mengurus saya dan Alan ketika ayah dan Bunda pergi."
"Sudahlah Tuan, itu hanyalah masa lalu. Mari tuan saya bawakan jas anda," balas Bi Ana dengan senyum tuanya, mengakibatkan sedikit garis kerutan di sekitar area matanya.
Elang menganggukkan kepala, lalu memberikan jas hitamnya kepada Bi Ana.
"Bi, dimana Alan?" tanya Elang.
"Sekarang Tuan Alan sedang berada di kamarnya Tuan, sejak tuan Elang pergi tadi Adik Tuan belum keluar hingga sekarang."
"Ada apa dengannya? Apa dia masih memikirkan tentang keadaan teman-temannya? Haahh kendalikan sifat baikmu itu Alan," batin Elang.
"Baiklah, Bi tolong siapkan makanan ini, saya dan Alan akan segera pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama," suruh Elang sembari menyodorkan dua kresek putih berisikan makanan kepada Bi Ana.
"Baik tuan," angguk Bi Ana lalu berjalan pergi.
"Ken, pergi bantulah Bi Ana! Aku akan pergi sebentar untuk melihat Alan," suruh Elang lalu pergi menuju kamar Adiknya.
"Baik Tuan," jawab sekretaris Ken.
__ADS_1
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...
-Di depan pintu kamar Alan.
//Tok tok tok// terdengar suara ketukan pintu.
"Alan, apa kau tidur?" panggil Elang sedikit keras. Membuat Alan yang berada di dalam kamar seketika panik, dengan cepat-cepat ia langsung membereskan buku majalah olahraganya.
"Beresin cepet!" panik Alan terburu-buru memasukkan buku-buku majalahnya ke dalam laci meja.
"Tidak ada jawaban," batin Elang mengerutkan kening.
"Alan, Kakak masuk," ucap Elang sembari membuka pintu.
"Gawat!" batin Alan melihat satu bukunya jatuh ke lantai. Alan sudah tidak mempunyai kesempatan untuk mengambilnya, pintu sudah terbuka dan kini Kakaknya sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Ka-kakak," bata Alan, di dalam hatinya terus berdoa agar Elang tidak melihat ke arah bawah.
"Ada apa dengan nada bicaramu Alan?" tanya Elang heran.
"Ti-tidak apa-apa kok kak, oh yah kakak sudah pulang."
"Yah aku sudah pulang, maaf aku sedikit terlambat, rapat tadi lumayan cukup lama," balas Elang sembari mengelus lembut kepala Alan.
"Alan paham kok kak," balas Alan tersenyum.
Apalagi dengan keadaan Alan yang seperti ini, ia pasti merasa bosan hanya bisa duduk di kursi roda bermain sendiri di rumah sebesar ini.
"Ah apa ini?" ucap Elang menginjak sesuatu, membuat ia menunduk ke bawah, mengambil benda persegi itu. "Alan apa ini bukumu?" tanya Elang dengan memegang sebuah buku di tangannya.
"I... iyah kak," jawab Alan terbata-bata.
"Aku baru tahu, kalau Adikku Alan ternyata suka membaca buku."
"I-iyah kak."
"Jangan dibalik bukunya, plis jangan dibalik," batin Alan ketakutan dengan tangan yang berkeringat. Kalau buku itu sampai terbalik habis sudah riwayatnya.
"Buku apa yang kau baca?" tanya Elang penasaran dengan ukiran senyum dibibirnya, perlahan Elang membalikkan buku itu dan membaca judulnya.
"Majalah olahraga," ucap Elang mengeja judul buku tersebut. Manik mata Elang seketika berubah menjadi tajam. Sebuah buku dengan sampul seorang atlet pelari jarak jauh membuat Elang teringat kembali akan peristiwa kelam tersebut.
"Kenapa kau membaca buku ini Alan?" lirih Elang sembari meremas buku majalah tersebut.
"Aku... aku hanya ingin saja kak," jawab Alan dengan badan gemetar.
__ADS_1
"KENAPA KAU MEMBACA BUKU INI ALAN!" belungsang Elang kepada adiknya.
"Apa kau ingin mengenang peristiwa yang dimana Kakak mu menghancurkan impian mu itu!"
"Apa kau masih ingin berlari dilintasan perlombaan itu lagi!"
"Apa dengan membaca buku majalah ini kakimu yang lumpuh itu bisa sembuh dan dapat berlari sesuka hatimu lagi!"
"Hiks hiks enggak Kak Elang, aku... aku hanya rindu dengan masa-masa itu saja, aku tidak bermaksud lain," balas Alan menangis.
"Masa apa, masa lalu yang pahit tidak ada gunanya untuk dikenang Alan," lirih Elang tajam
"SEKRETARIS KEN!!!" teriak Elang memanggil.
"I-iyah Tuan?" Tanya sekretaris Ken ngos-ngosan.
"Bakar buku ini sampai hangus, dan geledah juga kamar ini, cari buku lain yang sama seperti itu! Aku tidak mau melihat benda itu lagi," suruh Elang sembari membuang buku majalah tersebut, lalu berjalan menuju pintu kamar dan berhenti.
"Alan, cepatlah bersiap! Kita akan makan malam bersama."
"Dan lupakan impian mu yang sudah hancur itu, semakin kau berharap, semakin juga kau tersiksa," sambung Elang tajam, //BRAK// menutup pintu dengan keras.
Sekretaris Ken hanya bisa diam melihat pertengkaran mereka, matanya melirik ke arah buku majalah yang tadi dibuang oleh Tuannya.
"Jadi itu sebabnya," batin sekretaris Ken mulai sedikit mengerti asal mula pertengkaran ini.
"Sekretaris Ken!" panggil Alan pelan.
"Iyah Tuan Alan?" tanya sekretaris Ken merasa empati melihat Alan.
"Kapan... kapan Kakak ku yang dulu bisa kembali?" tanya Alan mengepal erat kedua tangannya.
"Kakak anda melakukan ini semua demi anda Tuan Alan."
"Ini semua salahku, kalau seandainya dulu aku tidak mendesak Kakak untuk menerobos lampu merah itu. pasti sekarang aku sudah menjadi atlet terkenal, dan Kakak Elang yang kasar tidak akan pernah ada," batin Alan menyesal.
"Sebaiknya anda segera bersiap Tuan Alan, Tuan Elang sekarang pasti sudah menunggu anda diruang makan."
"Baiklah," angguk Alan lemas.
"Saya tunggu di luar Tuan, kalau anda membutuhkan sesuatu silahkan panggil saya saja," ujar sekretaris Ken lalu berjalan pergi keluar dari kamar Alan.
...********...
..."Kakak, cukup peluk dan teruslah berada di sampingku. Aku tidak butuh sikap kasar dan ketegasan Kakak hanya demi melindungiku. Alan rindu Kakak Elang yang dulu."...
__ADS_1
...-Alan Angkasa Putra-...
...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...