ANDAI AKU SEMPURNA

ANDAI AKU SEMPURNA
Eps 36


__ADS_3

"Ya udah, mending sekarang kita duduk dulu aja yah Bunda. Tenangin pikiran Bunda dulu, dan sama-sama kita berdoa semoga Kakak Elang baik-baik saja," ucap Alan berusaha untuk menenangkan Ibundanya itu, sembari menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu.


Cukup lama mereka menunggu di sana dengan perasaan gelisah dan sama sekali tidak bisa tenang, menanti kabar bagaimana kondisi Elang.


Beberapa jam mereka menunggu, hingga....


/Ciitttt/ bunyi decit pintu terbuka, nampak seorang dokter keluar dari kamar pasien Elang. Tanpa pikir panjang, mereka semua langsung berjalan menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan akan kondisi Elang.


"Dok bagaimana keadaan teman saya dok?" tanya Andhika yang sudah merasa tidak sabar.


"Di-dia," jawab sang dokter dengan raut wajah penuh keraguan.


"Dok, tolong katakan bagaimana keadaan anak saya Elang dok!" balas Ibunda tak kalah cemasnya.


"Anak Ibu mmm..."


"Jawab pertanyaan kami dengan jelas dok," sahut Ayah membentak.


"Ck ini dokter kenapa sih," batin Alan merasa kesal, ia mulai geram dengan perlakuan dokter yang sedari tadi tidak mau mengatakan bagaimana kondisi Kakaknya. Alan yang merasa sudah tidak sabar, hingga matanya mengintip ke arah pintu kamar pasien Elang yang sedikit terbuka.


"Dokter, kenapa wajah Kakak saya ditutup kain putih? Itu maksud nya apa?" tanya Alan cukup terkejut dengan apa yang dirinya lihat.


"Haahh, maaf Pak Bu kami sudah berusaha semaksimal mungkin," hela sang dokter menunjukkan raut wajah empati.


"Mak-maksud dokter apa?" balas Ibunda dengan linang air mata.


"Anak ibu, maksud saya Elang. Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya."


"MATI, A-APA MATI!" batin Alan yang hanya bisa berdiri mematung ditempat.


Alan tidak menghiraukan apa yang dokter itu katakan, tanpa pikir panjang dirinya langsung masuk ke dalam kamar pasien Kakaknya. Alan menggoyang-goyangkan tubuh Elang, dirinya terus berteriak memanggil nama Kakaknya.


"Kak Elang, Kakak! Kak bangun Kak!"


Aku tahu Kakak sudah mati.


Bahkan denyut nadinya pun sudah tidak terasa lagi. Tapi entah kenapa, mulut dan tanganku tidak bisa berhenti untuk meneriakkan namanya, tidak bisa berhenti untuk terus berusaha membangunkan dirinya.

__ADS_1


Seperti, aku tidak terima kalau Kakak sudah pergi meninggalkan kami semua.


"Hiks Kakak bangun Kak, tolong bangun kak!"


"Seharusnya di mimpi tadi aku tarik tangan Kakak, harusnya tadi aku paksa Kakak," batin Alan merasa menyesal.


"Udah sayang udah!" ucap Ibunda merasa sedih melihat keadaan kedua putranya yang sekali lagi hancur disaat yang sama.


"Pisau pisau," ujar Alan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, mencari-cari sebuah benda tajam yang ia inginkan.


Mata Alan menangkapnya, sebuah pisau yang terletak di atas meja di samping keranjang buah, Alan langsung bergegas mengambil benda tajam tersebut.


Semua orang merasa bingung dengan apa yang Alan lakukan, untuk apa ia membawa sebuah pisau ditangannya. "Alan itu benda tajam, jangan dibuat mainan!" kecam sang Ayah.


/Sret/ entah ia masih waras atau sudah hilang akal, dengan entengnya Alan menyayat pergelangan tangannya hingga cairan berwarna merah bernamakan darah keluar cukup deras dari sana.


"ALAN!!!" teriak mereka semua terkejut dengan apa yang remaja itu lakukan.


"Kakak Kakak!" panggil Alan kepada Elang, dengan pergelangan tangan yang masih mengucur derasnya darah.


"Lihat Kak, tangan Alan berdarah, tangan Alan terluka Kak," ucap Alan kepada Elang, ia masih tidak bisa menerima akan kepergian Kakaknya.


"Alan, kamu ngapain Nak. Lihat, tangan kamu berdarah," ucap sang Ibunda lalu berusaha untuk menarik lengan Alan mengajaknya untuk pergi dari sana.


"Lepasin Alan Bunda!" ronta Alan yang langsung menepis tangan Ibunda.


"ALAN!" bentak Ibunda, ia merasa anaknya itu sudah hilang akal.


"Bunda kenapa? Kakak itu masih hidup Bunda, dia masih mendengar apa yang kita bicarakan, Kakak tahu kalau kita ada di sini."


"Kakak.... Kakak itu cuman pura-pura aja."


"Kak Elang, Kak bangun Kak! Ngomong sama Bunda kalau Kakak sebenarnya cuman pura-pura tidur aja kak."


"KAKAK KAMU ITU SUDAH TIADA ALAN!!!" bentak Ibunda sudah tidak tahan dengan kelakuan anak bungsunya.


"Bun-bunda," batin Alan tercengang, dengan mata terbelalak.

__ADS_1


Alan mengerenyitkan dahinya, ia merasa tak terima dengan apa yang Ibundanya itu katakan. "Gak boleh ada yang bilang, kalau kakak Elang sudah meninggal," lirih Alan tajam.


"Dia itu masih hidup, kenapa kalian semua gak percaya? Kakak Elang itu masih hidup, dia gak ninggalin kita semua, dan sebentar lagi juga Kakak Elang pasti bangun," ucap Alan keras kepala.


"Kak Andhika, Kakak percayakan kalau Kak Elang masih hidup?" Sambung Alan kepada Andhika, yang sedari tadi masih saja berdiri memperhatikan Alan. Kehilangan seorang saudara memang tidaklah mudah.


Lalu, dengan langkah kaki perlahan Andhika berjalan menghampiri Alan. "Kak Andhika," ucap Alan tersenyum, dengan Andhika yang sudah berdiri di hadapan dirinya, ia merasa kalau akhirnya ada satu lagi orang yang percaya dan bisa membela dirinya bahwa Kakaknya Elang masih hidup.


Alih-alih memberikan sebuah pembelaan, Andhika malah memberikan sebuah tamparan keras kepada Alan.


"Apa kau sudah gila?" lirih Andhika tajam dengan raut wajah dingin kepada Alan.


"Ka-Kakak," kejut Alan sembari memegang pipi kanannya.


"Tu-Tuan Andhika," gumam sekretaris Ken terkejut dengan apa yang Andhika lakukan.


"Ku tanya sekali lagi, apa kau sudah gila? Menangis di hadapan Elang, menyayat tanganmu sendiri, dan sampai berani melawan ibunda mu sendiri. APA KAU MASIH WARAS!!!"


"Aku bisa mengerti kau sedang merasa sangat sedih dan tidak bisa menerima semua ini, dan kami semua pun sama Alan. Tapi mau bagaimana lagi, apa dengan menangis sampai air matamu kering bisa membawa Elang kembali? Apa dengan menyayat tanganmu sendiri bisa membawa dia kembali hidup? Kalau pun bisa, aku juga akan melakukannya sekarang."


"Terima saja Alan, kalau Elang sudah tiada, dan pergi meninggalkan kita semua," sambungnya.


"Hiks, ta-tapi Kak."


"Tapi sakit. Sakit, Iyah kan?" ucap Andhika memotong perkataan Alan.


"Aku mengerti apa yang kau rasakan Alan, karna aku juga pernah merasakannya. Kehilangan seorang saudara, hati kita sangat sulit untuk menerimanya. Dan sekali lagi, aku merasakan sakit yang sama. Sahabatku pergi meninggalkan diriku untuk selamanya."


"Tapi apa yang bisa kita lakukan, menghidupkannya kembali? Memangnya kita siapa. Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa agar Kakakmu Elang bisa tenang di sana dan belajarlah untuk bisa menerima ini semua," sambung Andhika dan memeluk Alan.


Tangisan Alan seketika pecah di dalam pelukan Andhika, akhirnya ada seseorang yang bisa mengerti akan perasaannya.


"Hiks hiks, tapi Alan gak mau Kak Elang mati Kak, Alan masih butuh Kak Elang," tangis Alan dalam pelukan Andhika.


Andhika hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, sembari mengelus lembut kepalanya. Membiarkan Alan meluapkan semua emosinya.


Mendengar Alan yang mulai cukup tenang, dengan perlahan Andhika melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita keluar, mereka harus mengurus jenazah Elang terlebih dahulu, dan juga kita harus mengobati luka mu itu," ucap Andhika, lalu mengajak Alan dan semuanya untuk segera pergi keluar dari sana.


...°•••|ANDAI AKU SEMPURNA|•••°...


__ADS_2